Rabu, 02 November 2011

Bau Lawean

cerita dewasa edohaput - edohaput

Bau Lawean 

                                                                                                 edohaput

Bagian Dua

      Damijan yang sudah lama mememdam rasa cinta kepada Murami dengan semakin dekatnya acara nikahan antara Murami dengan Pardan perasaannya semakin nelangsa. Cintanya kepada Murami yang lama terpendam tak kesampaian. Walaupun Damijan telah banyak melakukan pendekatan dengan Murami, tetapi tak pernah mendapat sambutan. Bahkan lama sebelum Pardan melamar Murami, Damijan juga pernah menyatakan cintanya kepada Murami. Tetapi Murami tak pernah menanggapi maksud Damijan. Murami telah menjatuhkan pilihannya. Dan Pardan-lah yang dicintai Murami. Damijan bertepuk sebelah tangan. Damijan sangat sadar kalau apa yang dicita - citakan hidup berdampingan dengan Murami tidak mungkin terlaksana. Tetapi cintanya pada Murami, sukanya pada Murami,  inginnya selalu melihat Murami, dan harapannya bisa mendampingi Murami selama - lamanya menghilangkan akal sehatnya. Sudah sangat jelas hanya menunggu hitungan bulan Murami bakal naik ke pelaminan bersama Pardan, masih saja Damijan punya harapan untuk bisa hidup bersama Murami. Damijan ingin sekali nikahan antara Murami dan Pardan batal. Damijan ingin sekali Murami kecewa terhadap Pardan yang tidak lebih kaya dari dirinya. Damijan pernah menghitung - hitung kekayaan Pardan tidak melebihi separuh kekayaannya. 
     Damijan begitu mengagumi Murami. Murami yang terus ada di dalam pikirannya. Murami yang cantik. Murami memiliki mata bulat, hidung mancung, bibir tipis selalu memerah basah. Murami yang memilki wajah bersih tanpa jerawat. Murami yang berambut pajang sebahu. Murami yang bertubuh semampai dengan buah dada yang menonjol. Murami yang memiliki pantat gempal padat. Murami yang memiliki kaki panjang. Murami yang manja. Murami yang mudah tersenyum. Jauh sebelum Murami menjadi pacar Pardan, Damijan pernah mengutarakan cintanya. Murami tidak secara terang - terangan menolak cinta Damijan, tetapi Murami juga tidak pernah memberi harapan pada Damijan. Sikap Murami yang demikian itu menyebabkan Damijan selalu menaruh harapan. 
       Seperti halnya Pardan, Damijan juga hanya tetangga rumah dengan Murami. Sehingga Damijan selalu bisa melihat kegiatan sehari - hari yang dilakukan Murami. Apa yang dilakukan Murami, Damijan banyak tahu. Bahkan berapa pakaian yang dimilki Murami-pun Damijan hafal. Berapa celana dalam Murami yang berwarna hitam, putih, biru dan kuning, Damijan bisa menghitungnya karena Damijan selalu melihat jemuran di belakang rumah Murami. Bahkan ukuran beha Muramipun Damijan bisa memperkirakan.
     Siang bolong panas Murami berada di depan rumah, sedang mengawasi jemuran padi yang selalu diganggu ayam tetangga dan ayamnya sendiri. Karena hari panas Murami sengaja mengenakan pakain yang longgar agar tubuhnya bisa mudah kena angin. Murami tidak mengenakan beha. Murami duduk dengan posisi seenaknya sehingga pahanya dapat terlihat. Roknya yang longgar menyingkap sampai ke pangkal paha. Kemunculan Damijan yang biasa lewat di depan rumahnya tidak disadari Murami. Murami yang sedang membungkuk mengambil batu kecil untuk dilemparkan ke ayam yang mendekati jemuran padinya dilihat Damijan. Pada saat Murami membungkuk itulah Damijan bisa melihat payudara Murami yang berada dibalik roknya yang longgar. Dan sebelumnya mata Damijan telah sesaat sempat pula menikmati paha Murami yang tampak sampai ke pangkal. Sehingga Damijan bisa melihat celana dalam Murami. Jantung Damijan berdegup keras. Begitu menyadari Damijan lewat Murami gugup membetulkan sikapnya. Berdiri tegak dan menyapa Damijan : " Siang - siang kemana, kang. Ke sawah, ya ? " Damijan yang jantungnya terkesiap dan berdegup keras hanya menjawab sambil berlalu : " Ya, Mi. Mau dangir kacang ". Damijan seolah tak melihat apa - apa pada diri Murami. Damijan terus berjalan. Tetapi pikirannya terus memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Tak urung kelelakiannya menggeliat. Mengembang dan membesar. Damijan bernafsu. Sampai di sawah pun bayangan payudara dan paha serta celana dalam Murami terus mengganggunya. Dan kelelakiannya tak mau diam. Terus meronta dan membesar kaku. Pikiran Damijan menjadi kacau. Damijan tak bisa melupakan apa yang baru saja dilihat. Sabit digerakkan untuk motong rumput. Dilihatnya rumput yang menghijau. Pikirannya mencoba lari menjauh dari ingatannya tentang Murami. Tidak bisa. Burungnya malah semakin kaku dan mendesak celana kolornya. Tak urung celana kolornya bagian depan menjadi terdorong. Damijan ke parit di pinggir sawahnya. Berjongkok dan mengeluarkan burungnya dari balik celana kolornya. Diguyurkan air di burungnya. Maksud Damijan agar burung mau mengecil. Tidak berhasil. Apa yang ada di pikirannya tak bisa dibuang. Damijan memutuskan untuk onani. Ia segera mencari tempat tersembunyi. Darman menemukan tumpukan jerami. Di situ Damijan lalu merebahkan diri. Dikeluarkan burungnya dari balik celana. Kemudian digenggamnya burungnya, lalu tangannya mulai mengocok. Semakin dikocok burung semakin mengembang. Ujung burungnya semakin memerah. Damijan membayangkan sedang menyentuhkan burungnya pada paha Murami yang tadi dilihatnya. Dibayangkan pula burungnya sedang disodokan di kemaluan Murami. Tangannya terus mengocok dan ketika dirasakan ada rasa enak yang bertambah - tambah di burungnya Damijan semakin cepat mengocok. Damijan berkhayal burungnya telah masuk di kemaluan Murami. Dan Damijan tak mampu lagi menahan mani yang sudah memenuhi saluran. Dengan kuat dan cepat burungnya dikocok. " Murami ....Mur....Murami .......Miiiiiiiiiii ...aku cinta ....Mur....aku cinta kamu ....Mur... Muramiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii ..... !" Damijan berteriak tertahan. Maninya mucrat - muncrat membasahi jerami. Damijan jatuh rebah di tumpukan jerami. Seiring dengan mengecilnya burung yang sudah terpuaskan oleh kocokkan. Damijan beransur bisa melupakan paha, payudara, dan celana dalam Murami. Sesuatu yang tadi membuat kacau pikirannya sudah tidak lagi mengganggu. Damijan perjaka ting ting. Belum pernah merasakan nikmatnya burung berada di dalam kemaluan perempuan. Setiap kali hasratnya menggebu bayangan Murami-lah yang ia pakai berkhayal bersama kegiatan onaninya. Damijan cukup puas dengan onani saja. Ia bercita - cita perjakanya akan dipersembahkan buat isterinya nanti. Ia sangat mendambakan Murami-lah nantinya yang akan menerima perjakanya.
     Damijan tidak pernah berputus asa walaupun Murami telah dipacar Pardan. Bahkan dalam hitungan bulan Murami sudah akan disanding Pardan di pelaminan. Sepertinya sudah tidak mungkin Damijan bersanding dengan Murami. Tetapi aneh dipikiran Damijan. Ia sabar dan menunggu keajaiban. Keajaiban yang membatalkan pernikahan Murami dengan Pardan. Mungkinkah ? Damijan tidak berharap. Tetapi Damijan akan menunggu itu terjadi. Pernikahan belum terjadi. Siapa tahu bisa batal. Mungkinkah ? Damijan tidak tahu. Tetapi di alam pikirannya ia akan bisa mempersembahkan perjaka kepada Murami yang selalu dirindukannya. Murami begitu lekat di hatinya. Begitu menempel di benaknya. Dan begitu menggaggu di kala - kala sepi. Begitu menggoda ketika akan berangkat tidur. Dan di dalam mimpinyapun Murami-lah yang selalu menghiasnya.
     Gadis dusun tidak hanya Murami. Ada Raminem, ada Tuminah, Rujiyah, dan lain - lain. Dan gadis - gadis itu juga sebaya dengan Murami. Dari segi wajah Tuminah malahan lebih cantik dari Murami. Tuminah tubuhnya tinggi. kakinya panjang. Hanya saja Tuminah ini tidak memiliki payudara seperti Murami. Pantat Tuminah tidak sebahenol kaya punya Murami. Payudara Tuminah kecil.
     Raminem juga gadis seusia Murami. Ia tidak lebih cantik dari Murami. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Murami. Tetapi payudara dan pantatnya tak kalah seksi dengan punya Murami. Raminem memiliki buah dada yang begitu menonjol. Buah dada yang jarang dikenakan kutang, tetapi tidak menggantung dan lembek tetap menggunung tegak di dadanya. Pantatnya yang padat sintal sangat menggoda perjaka ketika Raminem berjalan. Suatu ketika ketika Raminem membungkuk karena sedang mengambil air di kali sempat juga membuat Damijan menelan ludah melihat bokong Raminem yang begitu gempal sintal. Dibayangkan oleh Damijan di dekat pantat itu juga pasti ada sesuatu yang sangat indah. Seandainya saja waktu itu Raminem tidak mengenakan kain ketika membungkuk, pasti sesuatu yang sangat indah itu nampak walaupun Damijan ada di belakangnya. Tetapi Damijan tidak tertarik terhadap Raminem. Ia hanya sebatas mengaguminya saja. Murami-lah segala - galanya bagi Damijan.
     Lain lagi dengan Rujiyah. Rujiyah yang selalu mukanya memerah jika sedang bekerja di sawah. Rujiyah tinggi besar. Dada lebar dengan buah dada sedang. kaki dan lengan panjang. Kulit cenderung putih. Rambut juga sebahu seperti rambut Murami. Satu hari ketika Rujiyah sedang membersihkan badan di pancuran sawah setelah bekerja menanam padi, sempat pula membuat jantung Damijan berdegup. Damijan yang tidak sengaja melewati sawah Rujiyah menyaksikan Rujiyah yang sedang setengah telanjang. Hanya bagian dada kebawahlah yang tertutup kain. Itu saja hanya sampai ke pinggul. Sehingga pahanya bisa menjadi santapan mata Damijan. Damijan dengan leluasa bisa melihat payudara Rujiyah. Buah dada Rujiyah yang masih perawan. Saat itu Damijan juga membayangkan milik Rujiyah yang berada di antara pangkal kedua pahanya. Milik Rujiyah juga pasti indah seperti milik perawan - perawan dusun lainnya. Tetapi Damijan tidak pernah tertarik dengan Rujiyah. Ketertarikannya telah terlanjur dijatuhkan pada Murami. Murami yang mencintai Pardan. Murami yang menganggap Damijan sebagai teman biasa.
     Lain lagi dengan Tuminah. Tuminah memang tidak lebih cantik dari Murami. Tuminah yang memilki kemancungan hidung di atas rata - rata gadis dusun pada umumnya ini, bertubuh semampai. Kulitnya hitam manis. Matanya bulat lebar. Bibirnya agak tebal tetapi sangat menggoda karena selalu basah memerah terutama sehabis Tuminah makan sambel. Rambutnya yang lebat sengaja dipotong pendek. Damijan juga pernah dibuat kelabakan ketika Tuminah mandi telanjang dan berenang - renang di kali yang airnya tenang bening. Damijan dengan penuh kagum melihat tubuh perawan telanjang berenang di air kali yang transparan. Tidak ada bagian tubuh Tuminah yang tidak disaksikan Damijan. Rambut yang tumbuh subur di bawah pusarpun bisa dilihat Damijan. Gundukan di bawah pusar dan tertutup rambut yang terbuka - buka ketika Tuminah berenang dan menggerakkan kaki pun dapat dilihat dengan jelas oleh Damijan. Saat itu kelelakian Damijan menjadi tegak berdiri kaku. Damijan sangat berhasrat. Ahkirnya Damijan tak mampu menahan gejolak. Nafsunya ia lampiaskan dengan onani sambil terus melihat tubuh telanjang Tuminah. Tetapi Damijan tidak bisa tertarik untuk menyayangi Tuminah. Ia hanya sebatas bernafsu melihat tubuh telanjangnya.

                                       bersambung kebagian tiga ........................