Rabu, 28 Desember 2011

Bau Lawean


Bau Lawean   

                                                                                            edohaput


Bagian dua belas

     Satu minggu setelah perkenalannya dengan Murami, di hati Darmuto telah bersemayam cinta yang membara. Dan sesuai dengan keinginan ibunya Darmuto telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk meminang Murami. Pinangan Darmuto - pun bersambut. Tanpa pikir - pikir lagi orang tua Murami telah merelakan Murami untuk diperistri Darmuto. Dan hari pernikahannya pun telah ditentukan. Mereka sepakat untuk tidak menunda - nunda. Dan disepakati pula ngunduh mantu ditiadakan. Yang penting nikah syah. Orang tua Murami takut akan kejadian - kejadian sebelumnya. Begitu pula Murami yang tak ingin lagi kehilangan kekasihnya. 
     Hari yang disepakati telah tiba. Dengan sangat sederhana perhelatan pernikahan dilaksanakan di rumah Murami. Hanya tetangga dekat yang hadir menyaksikan pernikahannya. Tidak ada pesta. Tidak ada keramaian. Tidak ada gempita suasana pernikahan seperti yang dulu pernah direncanakan ketika Murami akan dinikahi Pardan ataupun Damijan. Tidak ada kursi yang berjajar di halaman rumah. Tidak ada janur kuning yang melengkung. Walaupun dengan kesederhanan seperti itu tak mengurangi kebahagian Murami  yang tidak memakai baju pengantin. 
     Di sore itu pula seperti keinginan Nyi Ranu, Darmuto langsung memboyong Murami untuk dibawa ke kota. Nyi Ranu, Darmuto dan kedua orang tua Murami takut Murami akan ingat masa lalunya dengan Damijan. Dan kesedihannya akan muncul kembali.  Maka  dengan penuh ikhlas kedua orang tua Murami melepas anaknya untuk berbahagia bersama menantunya. 
      Hampir malam Darmuto dan Murami sampai di kota. Di rumah Darmuto tidak ada penyambutan. Hanya ada dua pembantu laki - laki dan satu pembantu perempuan yang menyambut kedatangan mereka di halaman rumah yang luas. Murami terlongo - longo melihat kemewahan rumah Darmuto yang baru pertama kali dilihatnya. Tak ada bayangan di benak Murami kalau ia bakal tinggal di rumah besar mewah. Murami gadis desa yang memiliki rumah berlantai tanah, tiba - tiba kakinya menginjak lantai berteraso yang berkilau. Murami yang gadis kembang dusun yang biasa hanya melewati pintu kayu yang disana - sini lapuk dimakan rayap, tiba - tiba melewati pintu yang besar, mewah dan berkilau dengan kaca - kaca besar. 
     Selesai mandi di kamar mandi yang belum pernah dilihat begitu mewahnya, dan peralatannya yang serba membingungkan, Murami diajak makan malam oleh Darmuto. Meja yang besar dan peralatan makan yang serba baik dan bermacam - macam membuat Murami kikuk. Murami yang biasa makan dengan piring sederhana. Bahkan sering pula dengan picuk daun, harus menghadapi piring besar, bermacam - macam senduk dan pisau. Murami bingung. Darmuto tersenyum lembut dan membimbing Murami untuk menggunakan alat - alat makan yang tidak terbiasa. 
     Dan lebih terkesima lagi ketika Murami dibawa ke kamar oleh Darmuto. Murami hampir - hampir saja terpekik saking kagumnya. Ranjang yang indah, besar dan tinggi. Mata  Murami menatap sekeliling. Ada Almari besar berkaca lebar. Ada bufet besar berkaca lebar dan disana telah tersusun rapi berbagai kosmetik yang tidak mungkin dalam waktu singkat Murami bisa menggunakannya. Karena yang diketahui Murami hanya bedak wajah yang sederhana dan dibeli dengan harga murah. Murami hanya bisa mengagumi dan tidak bisa berkata - kata. Darmuto terus tersenyum melihat Murami terkagum - kagum. Dalam hati Darmuto begitu bangga bisa membuat isterinya yang begitu mengagumi yang disediakannya. 
     Angin malam yang menyusup melalui lubang ventilasi dirasakan Murami dan Darmuto yang sudah siap untuk menikmati malam pertama. Darmuto meredupkan lampu di dalam kamar dengan remut controlnya. Suasan menjadi begitu teduh. Darmuto mendekati Murami dan memeluknya. Murami yang telah mengenakan baju tidur yang begitu seksi yang sengaja dibeli Darmuto untuk malam pertamanya tanpak begitu cantik. Murami tidak lagi terlihat gadis desa yang lugu. Murami telah nampak sebagai bidadari yang begitu cantik dengan pakaian malammnya. Payudara Murami yang tak berkutang tampak begitu indah di balik baju malamnya. Paha Murami yang padat berisi berkulit bersih begitu menggoda di balik baju malamnya yang begitu indah. Rambut Murami yang sebahu dan terurai berjuntai begitu indah menghiasi pendaknya yang hanya ada tali kecil baju malamnya. Darmuto sangat mengagumi tubuh dan kecantikan Murami. Darmuto tidak mengira kalau Murami dengan baju malamnya akan berubah menjadi bidadari. 
     Darmuto merebahkan tubuh Murami di ranjang. Kemudian kembali memeluk dan mencium bibir Murami yang wangi karena tebu yang telah dikunyahnya. Darmuto tahu kesukaan Murami. Maka ketika makan malam tadi Darmuto minta disediakan potongan - potongan tebu oleh para pembantunya. Ciuman lembut Darmuto mulai panas dan napas birahinya mulai memburu. Ciuman lembut Darmuto di bibir Murami telah berubah ke ciuman yang panas. Dengan lidah yang mulai menggila di mulut Murami. Murami yang dibuat begitu tidak tahan untuk tidak membalas dan meladeni ciuman Darmuto. Dengan aliran birahi yang mulai mengaliri seluruh tubuhnya Murami memeluk erat tubuh Darmuto dan lidahnya menyambut lidah Darmuto yang melilit - lilit dan menyerang bagian - bagian senstif di dalam mulutnya. Tangan Darmuto yang telah berada di buah dada ranumnya membuat semakin melayang. Dirasakannya tangan Darmuto meremas gemas payudaranya berganti - ganti. Dan pahanya yang telah tersingkap dari baju malamnya merasakan sodokan - sodokan burung Darmuto yang dirasakannya telah begitu tegak dan kaku.
     Tangan Darmuto beralih merembat ke bawah menelusuri perut Murami yang datar dengan pusar yang kecil. Di pusar jari Darmuto berhenti sebentar dan mengilik. Murami meronta karena geli. Tangan Darmuto berjalan ke bawah dan sampai di selangkangan Murami. Murami mengangkang pahanya untuk memberi kesempatan tangan Darmuto. Darmuto mengelus kemaluan Murami yang masih terbungkus celana dalam berenda yang belum pernah dikenakan. Lembut Darmuto mengelus kemaluan Murami. Dan dari kelembutan berubah menjadi gemas. Tangan Darmuto menyusup di dalam celana dalam Murami dan menemukan kemaluan Murami yang berambut tipis halus. Dan telah membasah oleh rangsangan ciuman dan remasan payu dara. Jari tengah tangan Darmuto telah berada di belahan kemaluan Murami dan menggeseknya. Murami melenguh diantara ciumannya Darmuto. Dan Mulut Darmuto mulai bergerak turun ke buah dada Murami yang telah menunggun untuk dikulum puting penthilnya. Murami menjadi sangat melayang ketika mulut Darmuto telah menyedot - nyedot puting penthilnya. Dan Jari tangannya telah berhasil berada di liang senggamanya. Murami mendesah. Dan desahan Murami semakin membuat Darmuto bernafsu. Darmuto tidak tahan tangannya segera memelorotkan celana dalam Murami. Murami membantunya dengan mengangkat pantatnya. Dan menggerakkan kakinya untuk mempermudah celana dalam terlepas.
    Dengan kimono tipis yang masih melekat di badannya Darmuto memposisikan pantatnya di antara paha Murami yang telah membuka. Darmuto yang sengaja dari semula tidak mengenakan celana dalam telah mencuatkan burungnya yang besar dan kaku. Darmuto telah siap untuk memerawani Murami. Darmuto memandangi wajah Murami dengan penuh sayang : " Dik Mi.......".  lembut nama Murami disebut Darmuto. Sambil berkaca - kaca mata Murami menatap mata Darmuto dan memancarkan rasa cinta di hatinya. Rasa sayang yang mendalam ke pada Darmuto : " Mas ..... lakukan ....aku isterimu ... ". Darmuto begitu terenyuh mendengar kalimat Murami. Mengalir rasa bahagia di hatinya.
     Darmuto menempelkan ujung burungnya di bibir kemaluan Murami yang membuka dan basah. Dengan perlahan dan ditekan burung Darmuto mulai membelah kemaluan Murami. Murami mendesah. Pertama kali Murami merasakan kemaluannya tertusuk burung. Dan burung perlahan tapi terus maju masuk menusuk liang senggama Murami dan ahkirnya tidak tersisa burung Darmuto telah berada di dalam kemaluan Murami. Murami terbeliak menatap Darmuto yang begitu sayang dan kemudian memejamkan matanya merasakan ada rasa sakit di kemaluannya. " Mi ..... ". Darmuto memanggil Murami dengan kasihnya. " Mas.....". Murami menjawabnya dengan mata yang menatap Darmuto. Darmuto mulai menarik kebelakang pantatnya dan mendorongnya maju lagi. Berulang - ulang. Disaat itulah Murami menjerit lemah karena merasakan robeknya selaput daranya. Murami menitikkan air mata bahagia. " Mas...... " Murami hanya bisa menikmati wajah Darmuto yang mulai merasakan nikmat. Darmuto kembali memeluk Murami dan mencium bibirnya. Dan pantatnya kembali mendorong dan memundurkan burungnya di dalam kemaluan Murami. Rasa sakit di kemaluan dirasakan Murami mulai hilang dan berganti dengan rasa geli nikmat yang sangat enak. Seiring dengan itu burung Darmuto semakin cepat bergerak maju mundur. Dengan perasaan bahagianya sebagai laki - laki Darmuto menikmati kemaluan perawan isterinya yang baru tadi sore dinikahinya. Wajah Murami yang cantik semakin memerah karena sodokan burung Darmuto yang semakin cepat saja. Murami sangat bahagia. Jantungnya semakin berdegup seiring dengan adanya rasa nikmat yang tidak terkirakan di kemaluannya. Murami terus mendesah dan tubuhnya sesekali menggeliat. Saat - saat Murami menggeliat inilah Darmuto merasakan nikmat burungnya yang ada di kedalaman kemaluan Murami nikmatnya semakin bertambah - tambah.
     " Mas .... mas.......aaaaaahhhhhh...... !" Murami orgasme. Darmuto melihat wajah Murami yang begitu cantik dan semakin tambah cantiknya saja ketika sedang mengekpersikan rasa orgasmenya. Darmuto menjadi tambah kasih dan cinta pada Murami. Diciuminya pipi Murami yang memerah. Diciuminya leher Murami yang disana telah tergantung kalung emas bermata berlian pemberian Darmuto. Digigit - gigitnya kecil telingan Murami yang disana telah ada subang bermata intan biru. Bibir Darmuto terus turun dan menciumi puting susu Murami yang masih kecil dan memerah. Semenatara itu masuk keluarnya burungnya di kemaluan Murami semakin gencar saja. " Mas.......mas.....aaaaaddduuuuuhh mas......aku lagi ......maaaaaaasssss..... !" Murami menggelinjang hebat. Karena orgasme yang kedua lebih nikmat dari orgasme yang pertama. Darmuto kembali menikmati wajah yang cantik yang mengekpresikan kenikmatan orgasmenya. Sesaat kemudian Darmuto kembali menciumi bibir Murami. Dan jantung Darmuto semakin berdegup keras. Burungnya telah begitu menggelumbung oleh air mani yang telah sangat siap membasahi untuk pertama kalinya kemaluan Murami. Menjadikan cara menciumi bibir, leher, dan puting susu Murami menjadi semakin liar. Darmuto menjadi lupa akan Murami yang perawan. Genjotan - burungnya di kemaluan Murami menjadi sangat keras dan kuat pula.
" Dik Mi.... dik Mi....terimalah cintakku dik.......diiiiiiikkkk ......aaaaughhhhh......!" Darmuto mengejang. Mengeratkan pelukannya di tubuh Murami. Dan Bibir Murami bagai ditelah oleh Darmuto. Kaki Darmuto berkelenjotan. Maninya tumpah di kemaluan Murami yang perawan. Saat itu pulalah Murami tak bisa menahan kamaluannya untuk lagi - lagi orgasme. Murami mengangkat pantatnya sehingga burung Darmuto semakin masuk di kemaulannya dan menyodok sesuatu yang paling dalam di kedalaman kemaluannya. Murami merasakan tumpahan air cinta yang hangat di kemaluannya. Murami sangat bahagia suaminya terkejang - kejang nikmat di atas tubuhnya. Dan saat itulah kedua kaki Murami menendang - nendang tak karuan saking nikmatnya. Dan Darmuto menuntaskan air cintanya dengan semakin menancapkan burungnya di kedalaman kemaluan isterinya. Mereka menggetarkan ranjang. Saling mengerang memecah kesunyian malam. Saling menumpahkan kebahagiaan. Saling menumpahkan rasa cinta yang menggelora.

                                  bersambung ke bagian tiga belas .......................