Selasa, 22 November 2011

Bau Lawean


Bau Lawean 


                                                                                          edohaput


Bagian Tujuh 

     Kesenian Tayub adalah kesenian yang paling disukai warga dusun. Kepala dusun yang sedang mempunyai hajadan mengkhitankan anak keduanya menggelar kesenian Tayub. Suara gamelan membedah suasana dusun yang selalu sunyi di malam hari. Warga tumpah di halaman rumah kepala dusun. Ledhek cantik yang berdandan menor mulai menari di atas panggung. Kain jarit membalut ledek cantik hanya sampai di batas dadanya, membuat penonton bisa melihat besarnya payudaranya yang dipoles bedak putih. Dada ledhek yang besar mengkilat tertimpa cahaya lampu - lampu  petromak yang bercahaya sangat terang. Para lelaki tua - muda mulai merangsek ke depan panggung. Mereka semakin ingin dekat melihat ledhek yang pantat besarnya mulai berputar - putar gemulai. 
     Tampilnya ledhek yang menari di panggung dengan memancing - mancing gairah kelelakian mengakhiri tembang - tembang campur sari dan dagelan yang sangat disukai anak - anak dan para perempuan. Saat mulai tampilnya ledhek para wanita dan anak - anak sudah tidak tertarik lagi. Mereka para perempuan berangsur meninggalkan halaman rumah kepala dusun. Kecuali sudah pada ngantuk karena malam sudah semakin larut,  juga karena mereka tidak suka dengan tampilan ledhek. Justru para lelakilah yang mulai panas. Mata mereka hilang kantuknya. Mereka membuka lebar - lebar matanya untuk menikmati keindahan tubuh ledhek yang gemulai menari dengan gaya yang kadang - kadang erotis memancing gairah kelelakian. Sebentar saja para perempuan dan anak - anak telah lenyap dari halaman rumah kepala dusun. Para lelaki mulai ikut berjoget. Dan lelaki yang berduit mulai naik panggung berjoget dengan ledhek. Tangannya melambai - lambaikan lembaran uang yang akan disawerkan ke ledhek. Biasanya para lelaki berduit berjoget dan mencoba mendekat ke tubuh ledhek. Kadang sempat juga mencium pipi ledhek sambil tangannya menelusupkan lembaran uang di belahan dada besar sang ledhek yang bibirnya terus tersenyum menyemangati para lelaki yang akan naik ke panggung untuk menyawer.
     Pak Samino orang terkaya di dusun naik ke panggung. Pak Smino langsung ngibing ledhek. Di tangan pak Samino terlambai - lambaikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Pak Samino terus menari mengitari ledhek. Sang ledhek semakin erotis saja menggoda pak Samino. Sonder atau selendang yang dipergunakan oleh ledhek untuk menambah indahnya gerak tari sudah melingkar di leher pak Samino. Oleh sang ledhek selandang ditarik - tarik sehingga wajah pak Samino semakin dekat dengan wajah sang ledhek. Pak Samino mulai menyawer. Menelusupkan uang lembaran lima puluh ribuan di belahan dada sang ledhek. Pak Samino bisa menyentuh buah dada sang ledhek yang besar menonjol di dadanya. Setiap ada kesempatan dan seirama dengan bunyi gendang dan gamelan pak Samino bisa mencium pipi sang ledhek dan kemudian menyelipkan lembaran uang di dada ledhek.
     Para lelaki yang juga ingin nyawer yang masih ada di bawah panggung tak ada yang berani naik ke panggung selama pak Samino masih berada disana. Mereka yang pada umumnya hanya menyawer dengan lembaran puluhan ribu takut tidak memperoleh tanggapan dari ledhek, karena ledhek pasti hanya melayani pak Samino yang di tangannya ada banyak lembaran lima puluhan ribu. Mereka menunggu pak Samino turun  dengan ledhek dan turun panggung.
     Pak Samino yang terus berjoget ngibing dengan ledhek mulai sudah sangat bergairah dan panas. Cara nyawer pak Samino semakin berani. Ada kalanya sempat pegang pantat. Merangkul, mencium pipi bahkan nekat memeluk ledhek. Sambil tetap berjoget pak Samino mulai menyampaikan maksudnya : " Ni, ayo kita sudahi saja joget kita ini " Kata pak Samino berbisik kepada ledhek yang bernama Parini di sela - sela nyawernya. Parini mengedipkan mata tanda setuju. Ia tahu maksud pak Samino. Pasti akan mengajaknya di tempat gelap. " Ni, nanti habis berjoget ini terus pamit sama kelompokmu kalau mau pipis. Aku sudah bilang Kadus agar kamu diantar ke kamar mandi belakang. Aku sudah menunggu disana ". Parini tidak menjawab hanya matanya berkedip - kedip tanda setuju. Pak Samino lalu turun dari panggung. Parini memberi kode kepada ledhek lain agar menggantikannya berjoget di panggung. Parini turun panggung digantikan ledhek lain yang tak kalah bahenolnya. Melihat pak Samino sudah tidak lagi di panggung para lelaki berebut naik panggung untuk nyawer. Suasana menjadi semakin meriah.
     Pak Samino yang sudah berada di kamar mandi belakang rumah pak kadus sudah melepaskan celananya panjangnya. Tinggal celana kolor yang dipakainya. Ia menunggu ledhek Parini datang. Kamar mandi belakang rumah pak kadus terpisah dengan rumah induk. Dari rumah pak kadus untuk sampai kesana melewati lorong dan halaman belakang rumah. Suasana disana gelap dan  sangat sepi. Tidak berapa lama dengan diantar pak kadus ledhek Parini datang. Pak Samino membukakan pintu kamar mandi untuk Parini. Pak kadus pergi. Pak kadus sangat tahu dengan kebiasaan pak Samino. Bahkan kesenian Tayub yang diselenggarakan ini adalah bekat bantuan sumbangan pak Samino.
     Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu minyak kecil dan berkedip karena tiupan angin, pak Samino langsung memeluk ledhek dan menggerayangi payudaranya. " Sabar, pak. Saya mau pipis dulu ". Sambil berkata begitu Parini ledhek menaikkan kain jarit sampai ke pangkal paha. Pak Samino menjadi bisa melihat paha gempal putih milik ledhek Parini. Pak Samino menelan ludah. Ledhek parini yang tidak mengenakan celana dalam berjongkok dan pipis. Pak Samino yang sudah tak tahan ikut juga berjongkok di depan ledhek Parini dan tangannya langsung menjulur menggerayang pepek ledhek Parini yang sedang mengeluarkan pipisnya. Tangan pak Samino merasakan hangatnya kucuran pipisnya ledhek Parini. Pak Samino menciduk air dengan gayung lalu menyiramkan di pepek ledhek Parini dan tangannya menceboki pepek Parini yang besar menggunung. Ledhek Parini yang berjongkok segera diberdirikan oleh Pak Samino dan di sandarkan di dinding kamar mandi. Dengan cepat dan tak sabar Samino mencopot celana kolornya dan burung yang sudah sangat kaku mengacung mengarah ke selakangan ledhek Parini yang sudah tidak tertutup kain jarit karena kain jarit telah ditarik ke atas sampai di atas pantatnya. Lagi - lagi dengan tidak sabar pak Samino yang bertubuh kekar segera merendahkan pantatnya dan mengarahkan burung ke selangkangan Parini yang sudah membuka. Dengan sekali tancap burung pak Samino telah amblas di pepek ledhek Parini. Burung pak Samino yang besar dan panjangnya di atas rata - rata milik orang pada umumnya, membuat mulut ledhek Parini mendesis dan menganga. Sambil mencengkeram kuat tubuh ledhek Parini dan menciumi bibir dan pipinya pak Samino terus menggenjot pepek ledhek Parini dengan burungnya. Pak Samino memang tidak lagi muda. Usianya sudah kepala enam. Namum pak Samino yang tetap gemar dengan bekerja di sawah ini tetap sehat mengalahkan pemuda yang umurnya belasan tahun dalam urusan senggama. Bahkan dalam semalam pak Samino kuat menggauli dua isterinya. Dan masing - masing isterinya sangat berbahagia karena bisa dipuaskan. Bahkan boleh dikata sangat puas. Pak Samino jago memberi kepuasan pada perempuan yang digaulinya. Ledhek Parini yang dengan gencarnya terus diserang oleh pak Samino hanya bisa melenguh - lenguh, mendesis - desis, dan matanya kadang - kadang terbeliak dan kadang menutup rapat tanda menahan rasa geli enak di pepeknya, di bibirnya , di lehernya, dan di payudaranya yang tanpa ampun diserang pak Samino yang ganas. Belum lima menit ledhek Parini telah dua kali sampai ke puncak. Setiap kali sampai ke puncak ledhek Parini yang tidak ingat sedang disenggamai dimana berteriak mengaduh cukup keras. Sehingga dengan terpaksa pak Samino harus membungkam mulut ledhek Parini dengan bibirnya agar teriakannya tidak didengar orang. Pak Samino juga tidak ingin berlama - lama mengingat tempat ia melakukan senggama bukan tempat semestinya. Pak Samino juga takut akan diketahui orang. Frekwensi genjotan burungnya di pepek ledhek Parini semakin diperapat dan semakin diperkeras. Diperbuat demikian ledhek Parini yang suaminya lumpuh karena stroke menjadi sangat senang dan memperoleh persenggamaan yang luar biasa menikmatkan. Maka dengan semangatnya ledhek Parini mengimbangi gerakan ganas pak Samino dengan menggoyang - goyangkan pantatnya. Pepek Parini yang bergoyang ke kiri ke kanan kadang berputar membuat burung pak Samino ketemu dengan keragaman kenikmatan  di kedalaman pepek ledhek Parini. Tak lama kemudian Pak Samino menggeram dan memeluk tubuh sintal ledhek Parini kuat - kuat dan burungnya  ditekankan kuat masuk sehingga tanpa tersisa masuk semua di dalam pepek dan segera menyemburkan maninya. Di saat itu pula pepek ledhek Parini yang disembur mani yang luar biasa banyak, kental, hangat tak kuasa menahan nikmat. Pepeknya meradang dan bergetar lalu seperti ada yang pecah dan kembali ledhek Parini lupa ia sedang senggama dimana berteriak keras : " Paaaaaaaaaaakkkk ! " Tubuhnya meronta - ronta di pelukan pak Samino.
     Gamelan terus mendayu dan jogetan ledhek di panggung semakin panas. Para lelaki yang nyawer berganti - ganti naik turun ke panggung. Para ledhek semakin malam semakin berani dan semakin membiarkan tangan - tangan lelaki nakal menjamahinya. Yang penting semakin banyak uang yang terselip di belahan buah dadanya. Tayub baru berahkir setelah malam begitu terasa dingin tanda malam telah berlalu jauh dari tengah malam.
     Didalam perjalanan pulang ke rumah dari menonton Tayub Paijo dan Samirin dikejutkan oleh tergeletaknya  tubuh Pardin  di pinggir jalan. Tangan Pardin menggapai - gapai tanda minta tolong. Tubuhnya lemas lunglai tak berdaya. Mulutnya tak lagi kuasa mengeluarkan suara. Paijo dan Samirin yang mendapati Pardin dalam keadaan demikian segera berteriak - teriak meminta pertolongan. Para lelaki yang belum pada sampai ke rumah masing - masing segera pada berlari menuju sumber suara permintaan tolong. Mereka lalu beramai - ramai mengangkat tubuh Pardin yang tak lama kemudian pingsan untuk dibawa ke rumahnya. Tidak lama kemudian setelah memperoleh berbagai pertolongan dan upaya dari warga Pardin yang pingsan tak bisa siuman dan meninggal dunia.
     Semalam warga bersukacita menikmati Tayub, pagi harinya mereka berdukacita. Pardin pemuda yang juga suka bekerja di sawah dan banyak berbuat untuk kemakmuran desun telah tiada. Meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga yang terus bertanya - tanya sebab musabab kematian Pardin, tidak menemukan jawabannya. Warga ahkirnya berkesimpulan Pardin meninggal karena sakit jantung. Seperti meninggalnya Pardan kakaknya. Di tubuh Pardin tidak ditemukan kalau ia dianiaya orang. Tubuhnya lemas lunglai saat ditemukan, seperti ketika Pardan kakaknya meninggal. Tubuh Pardin juga pucat pasi seperti tubuh Pardan ketika meninggal. Seolah Tubuh Pardin tak berdarah. Kulitnya menjadi putih sangat pucat.
     Warga yang mencoba menghubung - hubungkan kematian Pardin dengan kegiatan - kegiatan yang dilakukannya juga tidak menemukan jawaban. Pardin tidak mempunyai musuh. Ia pemuda baik yang selalu rukun dengan pemuda lainnya. Dengan para pemuda tetangga dusunpun Pardin tidak memiliki masalah. Hanya saja Pardin semalam memang tidak lama berada di acara kesenian Tayub. Pardin hanya nampak sebentar saja ketika acara Tayub masih diisi lagu - lagu campursari dan dagelan. Kemana perginya Pardin tak ada yang tahu. Keluarganya juga menyatakan kalau Pardin sejak sore hari sampai tubuhnya ditemukan terkapar di pinggir jalan belum pulang ke rumah. Sejak sore memang Pardin berada di rumah pak kadus ikut membantu mempersiapkan pagelaran kesenian Tayub. Para pemuda juga tidak ada yang merasa diajak omong - omong oleh Pardin malam Tayub itu Pardin mau kemana. Dengan Siapa. Berkegiatan apa. Tidak ada yang tahu.
     Bagi warga yang sudah berkesimpulan meninggalnya Pardin adalah karena sakit jantung tak lagi berpusing - pusing. Pengetahuan warga dusun yang dangkal dan tak banyak mengerti tentang penyakit, selalu mengambil kesimpulan setiap orang yang matinya mendadak adalah karena sakit jantung. Tetapi bagi keluarga meninggalnya Pardin menyusul meninggalnya Pardan kakaknya adalah sebuah misteri. Mengapa Pardan. Dan mengapa sekarang Pardin. Keluarga mencoba introspeksi. Kesalahan apa telah diperbuat keluarga. Tetapi juga tidak menemukan jawaban. Bahkan keluarga juga telah merunut - runut semua keturunan. Ternyata juga tidak pernah ada yang meninggal dengan cara mendadak. Mereka berkesimpulan bahwa di keluarga mereka tidak pernah ada yang sakit jantung. Lalu dari keturunan mana Pardan dan Pardin sakit jantung. Karena sudah mentok tak lagi ada jawaban yang ketemu logika, maka keluarga berkesimpulan meninggalnya Pardan dan Pardin karena diganggu makhluk halus. Itulah satu - satunya kesimpulan yang menyebabkan mereka kemudian pasrah dan segera melaksanakan kegiatan - kegiatan ritual untuk menolak balak yang mungkin akan terjadi lagi.

bersambung ke bagian delapan .....................


     

Minggu, 20 November 2011

Bau Lawean


Bau Lawean 


                                                                                               edohaput


Bagian Enam 

     Mendengar penuturan Murami tentang perlakuan Pardin terhadap dirinya malam itu digubuk Pardan, Damijan sangat marah. Namun kemarahan dipendamnya dalam - dalam. Damijan tidak ingin kemarahannya di ketahui Murami. Malahan dengan lembut Damijan menenteramkan hati Murami yang sangat gundah. Murami sangat menyesal mengapa malam itu ia menuruti kemauan Pardin. Murami takut merahasiakan kejadian malam itu terhadap Damijan. Murami takut apabila satu saat Damijan tahu peristiwa itu tidak dari mulutnya. Bisa - bisa Damijan mengira dirinya mengkhianati cintanya. Apapun resikonya Murami harus menceritakan kejadian malam itu kepada Damijan secara jujur. " Sudahlah, Mi itu bukan salahmu. Aku tahu kok,  kalau kamu tetap mencintai aku. Sudahlah anggap itu tak pernah ada. Tak pernah terjadi. Jangan diingat - ingat. Yang penting kau dan aku tetap saling mencinta ". Kalimat - kalimat Damijan yang lembut sangat menenteramkan hati Murami. " Kang Damijan tidak marah kan, kang ?" Tanya Murami sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Damijan. Damijan mengelus rambut Murami dan mencium rambut Murami yang wangi karena habis dikeramas dengan abu merang dan kembang melati. " Buat apa aku marah, Mi ? Tidak ada gunanya kan ?"  Damijan berbohong. Yang sebenarnya Damijan amat marah. Kekasihnya yang ia cintai dan sayangi dijamah - jamah. Pardin yang sudah mengerti kalau sekarang Murami adalah kekasih hatinya, dengan berbuat begitu berarti Pardin telah menantang keberadaannya sebagai laki - laki. Di mata Damijan, Pardin adalah orang yang patut tidak dikasihani. Di pikiran Damijan, Pardin bukan orang yang memiliki sopan santun berteman. Pardin telah melanggar tatakrama persahabatnya dengan dirinya. Sangat tidak patut Pardin melakukan itu. Apalagi Pardin telah berkata - kata yang sangat tidak pantas di depan Murami. Pardin telah mengatakan kalau dirinya adalah pembunuh Pardan. Pardin telah begitu tega merendahkan dirinya di depan Murami. Murami yang ada dipelukan Damijan dan sedang dielus - elus rambutnya, mendongakkan wajahnya. Damijan melihat air mata Murami mengalir. " Kenapa kamu menangis, Mi ?" Kata Damijan sambil mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya tangan kanannya . " Aku takut, kang. Aku takut kehilangan kang Damijan. Segara lamar aku, kang. Dan kita segera membeli layang ". Mendengar kalimat Murami ini Damijan tidak menjawab. Damijan memberikan senyuman dan menggangguk  yang membuat hati Murami sangat berbahagia. Jari telunjuk Damijan yang tadi mengusap air mata Murami kini berada di bawah dagu Murami dan dengam lembut mengangkat dagu Murami. Yang dagu diangkat menurut dan membuka bibir basahnya, karena Murami tahu Damijan akan mencium bibirnya. Damijan yang disediakan bibir merekah merah basah dengan lembut menyambutnya dengan bibirnya. Mereka berpagut dengan penuh kemesraan. Ciuman saling mencinta. Ciuman sayang dari kedua belah pihak. Murami merasakan kehangat bibir Damijan yang tidak lama kemudian sudah menikmati tambahan kenikmatan ketika lidah Damijan masuk di mulutnya dan menjulur menggelitik langit - langit mulutnya. Rasa geli nikmat di langit - langit mulutnya mengalir keseluruh bagian tubuhnya. Kulit murami menjadi merinding. Rasa geli yang membangkitkan gairah cinta mengalir sampai di kemaluannya. Murami merapat - rapatkan pahanya karena terasa ada yang mau menetes dari kemaluannya yang terasa nikmat. Damijan melepaskan ciumannya di bibir Murami. Dan mendekap tubuh Murami kuat - kuat serasa tak ingin dilepaskan. Murami yang sedang enak - enaknya menikmati ciuman Damijan marah manja ciuman Damijan dilepas. Murami mencubiti punggung Damijan yang dipeluknya. Damijan tahu itu. Kemudian tertawa. " Sebentar sayang, .... nanti aku cium lagi ... " Damijan menggoda Murami. Bibir Murami tetap menganga merekah basah menunggu Damijan menciumnya lagi. Damijan tidak segera mencium lagi Murami. Malah menatap mata Murami penuh cinta dan sayang sambil tersenyum. Murami yang tetap membuka mulutnya  menyediakan bibirnya untuk dicium jadi berganti memberengut dan memukuli manja dada Damijan dengan kepalan tangan kecilnya. Damijan kembali tertawa. Murami semakin memberengut manja. Dan Wajahnya ditundukkan. Rasa sayang Damijan bertambah - tambah apabila Murami sedang marah manja. " Sini aka cium lagi " Kata Damijan sambil mengangkat dagu Murami. Murami pura - pura tidak mau. Damijan kemudian mengelus punggung Murami dan tangan Damijan menyelusup masuk ke kain yang melekat di punggung Murami melalui celah bukaan baju bagian belakang. Damijan terus mengelus. Kehangat di punggung dirasakan Murami. Elusan tangan Damijan membuat kulit tubuhnya lagi - lagi merinding. Murami melenguh karena geli merinding dan mukanya kembali mendongak ke wajah Damijan. Bibirnya kembali disediakan untuk dicium. Damijan kembali menggoda Murami dengan tidak segera menempelkan bibirnya di bibir Murami yang telah terbuka. Kembali Murami marah manja dengan mencubiti punggung Damijan.  Damijan semakin menggoda Murami. Elusan tangannya merambat ke bawah ke pantat Murami. Disana tangan Damijan meremas - remas halus pantat Murami. Yang dielus dan diremas pantatnya menjadi semakin merinding. Murami megangkat sedikit pantatnya dengan maksud tangan Damijan segera berada di bawah pantatnya dan menyentuh kemaluannya. Tetapi Damijan tak segera melakukannya. Kembali Murami mencubiti punggung Damijan. Damijan tahu kalau Murami mengharap kemaluannya segera disentuh. Lagi - lagi Damijan menggoda. Tangan Damijan tidak segera merayap ke bawah pantat Murami  walaupun Murami sudah mengangkat - angkat pantatnya untuk memberi peluang. Murami menjadi sangat gemas. Kedua tangannya yang mendekap punggung Damijan segera beralih ke tengkuk Damijan dan menurunkan kepala dan wajah Damijan menjadi sangat dekat dengan wajahnya dan bibir Damijan menempel di bibirnya. Dengan gemasnya pula Murami menyambut bibir Damijan dengan bibirnya yang langsung melumat bibir Damijan. Dalam hati kasihan juga Damijan kepada Murami yang tadi telah memutus kenikmatan Murami. Lumatan bibir Murami dibalasnya dengan ciuman yang penuh sayang. Kembali langit - langit mulut Murami dirambah - rambah dan digelitik dengan lidahnya. Dan tangan Damijan yang sedari tadi hanya meremas - remas pantat, telah memanfaatkan peluang yang diberikan Murami dengan sedikit mengangkat pantatnya. Tangan Damijan telah berada di kemaluan Murami. Murami menggelinjang ketika kemaluannya telah dielus - elus Damijan dan bibir kemaluannya telah disibak - sibakkan oleh jari - jari Damijan untuk ditemukan liang senggamanya. Jari  Damijan berhasil menemukan liang senggama Murami yang sempit. Disana Jari Damijan menggelitik. Mencarai - cari yang biasanya kalau itu tersentuh jarinya Murami lalu melenguh dan menggelinjang hebat. Dan Damijan rupanya menemukannya.  Murami melenguh dengan tetap bibirnya di tutup oleh bibir Damijan. Murami kembali menggelinjang dan matanya sebentar merapat sebentar terbeliak ketika jari Damijan telah  bertemu dengan yang diinginkannya.  Murami medekap sangat serat tubuh Damijan dan kemaluannya menjadi sangat membasah. Murami orgasme. Damijan tahu itu. Sementara itu burung Damijan yang telah sangat membesar dan sangat kaku disodok - sodok ke paha Murami. Murami tahu kalau Damijan sudah begitu ingin burungnya dipeganggnya dan dikocoknya. Murami balas dendam. Murami menggoda Damijan dengan tidak segera memegangi burung Damijan. Damijan terus menyodokkan burungnya dan ciuman dibibirnya semakin ganas saja. Tetapi Murami sengaja membiarkan burung Damijan disodok - sodokan ke pahanya. Murami merasakan kemaluannya diremas Damijan dengan sedikit kuat. Murami tahu Damijan sedang memerintahnya untuk segera menggenggam burungnya. Murami terus menggoda Damijan dengan tidak segera tangannya ke burung Damijan. Damijan yang burung tidak segera di pegang Murami kelabakan. Dalam hati Murami tersenyum geli kekasihnya kelabakan. Dan Murami merasa senang bisa membalas Damijan yang tadi sempat pula menggodanya. Damijan yang semakin kelabakan segera merebahkan tubuh Murami dan segera ditindihnya. Dan tangan Damijan dengan sigap memelorotkan celana kolornya sendiri dan burungnya mencuat keluar. Murami yang menjadi rebah terlentang segera membuka selangkangannya dengan membuka kedua pahanya. Murami yang juga sudah kembali dirambati lagi gairah cintanya yang sempat tadi telah sekali sampai ke puncak menyediakan kemaluannya untuk burung Damijan. Damijan yang sudah diatas tubuh Murami menempelkan burungnya di kemaluan Murami dari luar celana dalam dan menekan - nekannya. Kehangatan basahnya kemaluan Murami dirasakan ujung burung Damijan. Murami menggoyang - goyangkan pantatnya dengan maksud agar burung Damijan terpeleset di celana dalamnya dan menusuk kemaluannya. Damijan tahu maksud Murami. Tetapi Damijan tidak mau melakukannya. Kemaluan Murami akan ditusuknya nanti di malam pengantin. Maka dengan kakinya Damijan segera merapatkan paha Murami. Dengan demikian maka burung Damijan terjepit oleh paha Murami tetapi masih bisa menyentuh permukaan kemaluan Murami ketika burungnya disodokkan. Damijan merasakan jepitan paha hangat Murami sungguh nikmat. Burung menjadi semakin membengkak dan serasa mau meledak. Mani menumpuk membuat burung berkedut - kedut untuk segera memuntahkan cairan kenikmatannya. Murami yang merasakan geli di pahanya yang tergesek oleh burung Damijan yang bergerak naik turun semakin mengangkat - angkat pantatnya agar permukaan kemaluannya bisa terus tersodok ujung burung Damijan. Kemaluan Murami merasakan sangat enak ketika burung Damijan menyodoknya. Murami merasakan kemaluannya begitu pegal meradang seolah ada yang mau pecah. Begitu Juga Damijan yang burung terjepit paha dan menyentuh - nyentuh celana dalam Murami tepat di permukaan kemluan Murami yang basah, semakin tidak tahan. Burungnya digerakkan semakin cepat dan semakin kuat. Dan Damijan mengejang sambil menekankan kuat - kuat burung dijepitan paha. Dan maninya muncrat meleleh - leleh di permukaan kemaluan Murami yang masih teralasi celana dalam. Kuat sekali Damijan mendekap tubuh Murami karena kenikmatannya tak terperikan. Sementara itu Murami celana dalam Murami yang terguyur oleh mani Damijan tepat di permukaan kemaluannya juga tiba - tiba dengan kuatnya menggelinjang membarengi kejangnyan Damijan. Murami merasakan permukaan kemaluannya sangat hangat oleh mani Damijan dan membuat rasa di kemaluannya yang sedari tadi meradang mau pecah tak lagi tertahankan. Muramai menggeliat - geliat dan mengangkat pantatnya dan mempertemukan kemaluannya yang masih tertutp celana dalam dengan burung Damijan yang masih terus mengucurkan mani. Keduanya saling mendekap. Ciuman bibirnya tak lepas. Masing - masing saling menggelenjotkan kakinya dan menimbulkan suara kresek - resek yang sangat keras di kasur ijuk gubuk Damijan.
     Rembulan yang belum genap separo telah menggelincir ke arah barat. Bintang dilangit abyor berkelip menambah indahnya larut malam. Udara pegunungan menjadi tambah dingin kekes. Dengan dituntun Damijan Murami menapaki pematang sawah untuk pelang ke rumah. Mereka bergandeng tangan. Bergandengan hati. Bergandengan rasa. Bergandengan dengan cinta - cinta yang ada di hati mereka masing - masing. Cinta dan kasih sayang yang menggelora. Yang membuat mereka saling berbahagia. Saling merindukan walau tangan mereka telah bergandengan. Saling ingin berdekat walaupun tubuh mereka telah tidak berjarak. Saling ingin memberi kasih walaupun mereka telah terus saling memberi dan menerima. Cinta mereka bagai laut dengan daratan yang sangat sulit dipisahkan. Cinta mereka sejuk bagai embun malam itu yang membasahi dedaunan tumbuhan di sawah.
     Damijan akan segera melamar Murami. Damijan telah siap segalanya. Rumah ada. Sawah ladan ada dan cukup. Damijan akan selalu membahagiakan Murami. Damijan tidak akan membuat Murami sedih. Damijan tidak akan membuat Murami kekurangan. Damijan  bercita - cita selalu menggembirakan Murami. Damijan akan meneteskan kasih sayang ke Murami yang akan melahirkan  anak - anak mereka di kelak hari nanti. Damijan akan hidup berdampingan selama - lamanya dengan Murami. Membesarkan dan membahagiakan anak - anak mereka. Damijan sungguh berbesar hati dan berbahagia bisa memiliki Murami. Murami tidak boleh lepas dari pelukkannya.
     Damijan sangat takut kehilangan Murami. Pardin teman  yang diakarabinya tiba - tiba telah meracuni Murami agar menjauhi dirinya. Pardin teman sedusun yang selalu bahu -  membahu dengan dirinya memajukan dusun telah mencoba merusak hubungan cintanya dengan Murami. Damijan yang akrab dengan siapa saja, sekarang menjadi membenci Pardin. Pardin yang telah menebar omongan - omongan jahat di depan Murami tentang dirinya tiba - tiba dibencinya. Pardin yang telah mencuri kesempatan ketika dia meninggalkan dusun beberapa hari telah berusaha mempengaruhi Murami agar manjauhinya. Bahkan Pardin telah nekat menjamah - jamah Murami. Wanita yang telah dicintainya. Wanita yang telah menyatu hati dengan hatinya. Dalam pikiran Damijan Pardin akan merusak hubungan dengan Murami. Pardin akan selalu menjahatinya. Pardin akan menjadi duri yang semasa - masa bisa menyakiti dirinya. Pardi adalah batu sandungan yang yang harus disingkirkan.
     Damijan mengantar Murami sampai di depan pintu rumahnya. Damijan memeluk Murami dan mencium pipi Murami dengan lembut dan penuh cinta. Kalimatnya lirih diucapakan : " Mi, jangan dengarkan omongan Pardin. Jangan dekati Pardin. Menjauhlah darinya. Pardin akan menjahati kita. Mi aku cinta padamu. Aku sangat menyayangimu " Sekali lagi Damijan mencium pipi Murami. " Ya, kang. Aku akan mematuhi kang Damijan. Aku selalu kangen kang Damijan. Besuk malam kita ke gubuk lagi kan, kang ?" Jawab Murami yang diahkiri dengan pertanyaan dan diucapkan dengan kemanjaannya sambil tersenyum cantik sekali. " Ya...ya...ya..Mi besuk kita ke gubuk lagi " Jawab Damijan sambil kembali mencium pipi Murami dan segera melepaskan pelukannya kemudian melangkah meninggalkan Murami di depan pintu rumahnya.

bersambung kebagian tujuh .............................