Bau Lawean
edohaput
Bagian Lima
Mengetahui Murami semakin hari semakin dekat saja dengan Damijan, Pardin adik Pardan kecurigaannya kepada Damijan semakin besar. Apalagi Pardin mendengar selentingan kalau Damijan segera akan melamar Murami, Pardin semakin meyakini kalau yang menyebabkan hilangnya nyawa kakaknya adalah Damijan. Pardin mengetahui kalau Damijan dan Murami hampir tiap malam berpacaran di gubuk. Pardin juga tahu kalau sebenarnya Damijan menyukai Murami sejak lama. Sejak Murami belum menjadi pacar Pardan kakaknya. Bahkan ketika Murami sudah menjadi pacar kakaknya pun Damijan masih terus mengharap Murami menjadi miliknya. Siapa lagi kalau bukan Damijan yang mencederai kakaknya sampai meninggal dunia. Damijan membunuh kakaknya demi mendapatkan Murami. Kecurigaan Pardin terhadap Damijan semakin hari semakin besar saja.
Satu siang Pardin menemui Murami. " Tumben kang Pardin nyari saya, ada apa kang ?" Sapa Murami ketika Pardin sudah duduk di lincak teras rumah Murami. " Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu, Mi " Jawab Pardin dengan muka sedikit masam. " Tapi tidak disini, Mi. Aku mau pembicaraan kita tidak didengar orang lain, Mi ". Lanjut Pardin. " Wah ... kok aku jadi deg - degan saja kang, apa ta yang mau dibicarakan kang Pardin ?" Tanya Murami. " Nanti malam saja, Mi. Kamu saya tunggu di gubuk kang Pardan ". Jawab Pardin serius. " Mbok disini saja sekarang, kang. Tidak ada orang kok. Bapak dan simbok lagi ke sawah kok, kang ". Pinta Murami. " Tidak, Mi. Ini penting. Kamu harus tahu. Nanti saja di gubuk. Tak tunggu ya, Mi, nanti malam ". Berkata begitu Pardin beranjak dari duduk dan segera meninggalkan Murami yang mau menolak ajakan Pardin tapi Pardin segera pergi meninggalkan Murami.
Apa yang akan diomongkan kang Pardin ? Murami penasaran. Sepertinya penting sekali. Tentang kang Pardan yang sudah meninggal ? Atau tentang hubungannya dengan kang Damijan. Atau barangkali justru kang Pardin mau menyukai dirinya ? Kenapa harus diomongkan di gubuk ? Kenapa kang Pardin tadi tidak mau ngomong langsung ? Apakah kang Pardin tahu kalau hari ini kang Damijan sedang pergi beberapa hari ke rumah saudaranya yang sedang mempunyai hajadan ? Sehingga mendapat kesempatan untuk mengajak dirinya ke gubuk ? Apa maksud kang Pardin sesungguhnya ? Untuk menemukan jawabannya dirinya harus datang ke gubuknya kang Pardan malam nanti.
Sore itu sehabis mandi dengan tubuh yang hanya dibalut handuk Murami masuk ke dalam kamarnya untuk ganti Baju. Malam ini ia harus mengenakan baju yang agak tebal agar nanti malam ketika menemui kan Pardin di gubuk tidak kedinginan. Tidak sengaja tiba - tiba handuk terbuka dan melorot ke bawah. Murami sengaja tidak meraih handuknya yang melorot. Tak ada yang melihat. Di dalam kamar sendirian. Murami telanjang. Murami tersenyum ketika melihat dirinya yang utuh telanjang di cermin lemari. Murami mengagumi tubuhnya sendiri. Lengannya panjang. Rambutnya sebahu. Di dadanya ada buah dada yang kecang berdiri menggunung dengan puting yang masih kecil memerah. Murami mengamati perutnya yang rata tanpa ada lipatan kulit sampai di pusarnya. Murami Mebalikkan tubuhnya memperhatikan pantatnya. Pantat yang menyembul dan terbelah. Murami Membungkuk. Terlihat oleh dirinya disela belahan pantatnya kemaluannya yang bibirnya mengatup. Murami membungkuk dan kakinya kangkang. Murami melihat bibir kemaluan sedikit terbuka dan ia melihat kemaluannya sendiri yang menyembul di selangkangan di antara dua belahan pantatnya. Kembali Murami menghadap ke cermin. Ia bisa melihat kemaluannya sendiri yang sudah ditumbuhi rambut. Ia perhatikan juga pahanya yang padat dan panjang. Aku ini cantik ! Pikirnya. Diperhatikan juga hidungnya yang tidak mancung tapi tidak pesek. Diperhatikan bibirnya yang tipis memerah. Ditampakan sebaris giginya yang rapi yang selalu dibersihkan dengan tebu sehabis makan. Kembali matanya ke payudaranya. Payudara yang sudah pernah diremas - remas kang Pardan. Dan sekarang menjadi kesayangan kang Damijan. Murami tersenyum. Tak jemu - jemunya Murami memandangi kencantikkannya sendiri.
Malam mulai merambah dusun. Kegelapan membuat sunyi suasana. Tak lagi ada celoteh anak - anak. Suara kodok dan cengkerik mulai keras terdengar. Lampu - lampu minyak di depan masing - masing rumah tampak berkedip - kedip. Murami keluar dari rumah dengan membawa sentolop. Dengan diterangi lampu sentolop yang sebentar dinyalakan sebentar dipadamkan Murami melewati pematang menuju gubuknya Pardan untuk menemui Pardin.
Pardin menuangkan teh panas yang sengaja dibawa dari rumah dicangkir kaleng dan mengulurkan kepada Murami yang duduk menghadap dirinya. Murami tidak asing dengan gubuknya Pardan yang ketika Pardan masih hidup gubuk inilah saksi bisu cinta mereka berdua. Saksi bisu mengalirnya kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan ketika mereka saling meraba bagian - bagian sensitif di tubuhnya. Murami minum teh panas. Tubuhnya jadi hangat. Rasa dingin udara yang mengenai tubuhnya sedikit terusir. " Aku sudah siap mendengarkan apa yang akan diomongkang kang Pardin, kang. Aku sudah tak sabar untuk tahu, kang. Sebaiknya kang Pardin segera memulai saja ". Murami meminta Pardin agar segera membuka apa yang akan diomongkan. " Begini, Mi " Pardin memulai kalimatnya. " Aku sangat tidak setuju jika kamu berhubungan dengan Damijan. Terus terang aku mencurigai Damijan. Hilangnya nyawa kang Pardan, Damijan-lah yang melakukannya ". Kalimat Pardin ini benar - benar membuat kaget Murami. " Buktinya Mi, begitu kang Pardan meninggal Damijan-lah yang langsung mendekatimu. Bahkan ketika kamu masih berpacaran dengan kang Pardan, Damijan terus tetap mendekati kamu ". Sambil meluncurkan kalimat - kalimat itu Pardin sambil menatap Murami yang wajahnya hanya diterangi lampu minyak di dalam gubuk. " Mi. kang Pardan waktu itu tidak sakit. Kang Pardan selalu sehat dan kuat. Tapi tiba - tiba kang Pardan pulang dari bepergian entah dari mana jatuh tersungkur di depan rumah dan pingsan lalu meninggal. Coba kamu pikirkan kata - kataku ini ". Kemudian Pardin terdiam. Matanya tak lagi menatap wajah Murami tetapi menatap kegelapan di luar gubuk. Mulut Murami terkunci rapat. Tak ada kata - kata yang bisa tersusun menjadi kalimat untuk menanggapi kalimat - kalimat Pardin. Murami bingung. Benarkah kecurigaan kang Pardin itu ? Kalau benar ketemu akal juga. Tetapi mungkinkah orang sebaik kang Damijan tega berbuat begitu terhadap kang Pardan. Rasanya tidak mungkin kang Damijan berbuat demikian. Itu hanya reka - reka pikiran kang Pardin. Tapi lalu siapakah yang mencederai kang Pardan ? Kang Pardan memang tidak pernah mengeluh sakit. Tidak pernah nampak tidak sehat. Benarkah meninggalnya kang Pardan yang begitu mendadak itu karena dicederai orang ? Bukan karena sakit jantung seperti yang dikatakan warga ? Murami menjadi ingat akan sayangnya Pardan pada dirinya. Pardan Begitu mencintainya. Begitu menyanginya. Begitu mengasihinya. Ingat itu Murami tidak bisa menahan menetesnya air mata. Murami hanya bisa menunduk. Air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Melihat Murami tertunduk dan menangis, Pardin menggeser duduknya dan segera memeluk Murami. Yang dipeluk tak merasakan apa - apa. Di dalam pikiran Murami berkecamuk antara Pardan dan Damijan. Pardan yang telah tiada dan yang pernah mencintainya. Damijan yang sekarang memacarinya dan begitu sayang pada dirinya. Dan Damijan yang sekarang dituduh Pardin telah membunuh Pardan yang pernah menjadi kekasihnya. Pikiran dan perasaan yang bercampur bawur mengobok - obok benaknya menyebabkan Murami tak lagi menyadari tubuhnya yang dipeluk Pardin.
Pardin merasakan kehangatan tubuh Murami. Pardin merasakan payudara Murami menyentuh dan menekan dadanya. Pardin yang pernah berpacaran dengan Wunilah dan patah hati karena Wunilah dijodohkan orang tuanya dengan pemuda lain desa, dan pernah pula Pardin punya pengalaman berpacaran dengan Wunilah, Murami yang ada dipelukkanya tiba - tiba menyebabkan gairah kelelakiannya muncul. Pardin kemudian menempelkan bibirnya di pipi Murami. Tangannya mulai merayap menggerayangi buah dada Murami. Murami yang terus memikirkan antara Pardan dan Damijan tidak sadar kalau yang memeluknya adalah Pardin. Pardin yang bukan apa -apanya. Didalam pikirannya yang memeluknya adalah Pardan dan Damijan. Serasa Damijan sedang menyangnya. Sesaat dirasakan Pardan sedang mencium bibirnya. Dirasakannya payudaranya sedang diremas - remas Pardan dan rasanya lehernya sedang di endus - endus Damijan. Murami melenguh. Murami tidak menyadari kalau yang sedang melakukan itu Pardin. Murami begitu pasrah di pelukan Damijan dan tiba - tiba begitu pasrah di pelukan Pardan. Sementara itu Pardin semakin nekat karena Murami begitu pasrah dipelukkannya. Pardin tidak tahu apa yang sedang ada di bawah sadar Murami. Tangannya yang menelusup di dada Murami dan disana meremas - remas mulai turun ke bawah dan menuju selangkang Murami. Murami melebarkan bukaan pahanya untuk memberi kesempatan tangan Damijan menuju kemaluannya. Ketika tangan Pardin telah sampai di selangkangnya, Murami begitu menikmati dalam pikiran bawah sadarnya Pardan sedang mencoba memberi kenikmatan bagi dirinya. Pardin yang sudah mengelus, dan menekan - nekan kemaluan Murami, bahkan sudah sempat jarinya menerobos masuk ke dalam celana dalam dengan gencar terus menggelitik kemaluan Murami. Sementara itu burungnya dipepet - pepetkan di tubuh Murami yang kadang - kadang menggelinjang kenikmatan. Dan semakin lama semakin terasa enak dan berkedut maninya berontak menyentak segera akan keluar. Disaat Murami menggelinjang kedua kalinya disaat itulah Pardin mengejang dan memeluk tubuh Murami kuat - kuat dan burungnya memuntahkan mani di dalam celananya. Pardin yang berteriak menyebut namanya menyadarkan Murami dari keterlenaannya. Murami tersadar. Murami sangat kaget ternyata bukan Pardan yang mencubunya. Ternyata bukan Damijan. Dengan kuat Murami mendorong tubuh Pardin menyebabkan Pardin terjengkang dan jatuh. Murami segera meraih sentolop dan lari meninggalkan Pardin yang kebingungan tetapi puas karena maninya tumpah ruah membasahi celana dan selangkanganya sendiri.
Pardin yang baru saja bisa menikmati tubuh Murami, yang kemarin - kemarin tidak pernah ada rasa dengan Murami, tiba - tiba di hatinya terbit rasa cinta. Pikirannya melayang ingin memiliki Murami. Tiba - tiba jantungnya berdegup. Tiba - tiba ada rasa rindu pada Murami. Tiba - tiba ada rasa sayang yang sangat mendalam kepada Murami.
bersambung kebagian enam ..........................
bersambung kebagian enam ..........................