Bau Lawean
Bagian sebelas
Malam merambat, udara gunung semakin dingin menusuk Tulang. Angin yang merambat dan menerpa beranda rumah membuat Darmuto dan Murami tidak tahan. Murami dibimbing Darmuto memasuki rumah. Mereka kemudian duduk di lantai beralaskan babut tebal. Diterangi lampu yang menyala temaram. Darmuto menarik tangan Murami sehingga Murami menjadi rebah di pangkuan Darmuto. " Gimana dik Mi. Kamu belum menjawab lamaranku. Mau kan kamu menjadi pendampingku ? " Darmuto mengulangi ucapannya ketika di beranda tadi. Kembali Murami tidak menjawab. Hanya matanya yang menatap mata Darmuto dan kembali dari sudut matanya kembali meleleh air matanya. Darmuto menjadi sangat trenyuh. Perasaannya menjadi begitu iba. Ditatapnya wajah Murami yang tengadah di pelukannya. Murami yang cantik. Murami yang bibirnya terbuka dan membasah menampakkan sedikit gigi atasnya yang tersusun rapi. Darmuto menjadi sangat gemas. Ingin sekali mencium bibir yang merekah itu. Bibir yang sangat mempesona dan membangkitkan gairah. Banyak gadis mengelilingi Darmuto di kota. Tetapi belum pernah ada yang begitu menyentuh hatinya. Kali ini baru saja berjumpa tiba - tiba hatinya tergetar. Hatinya teriba - iba melihat wajah cantik yang tiba - tiba memelas. Wajah yang minta dikasihi. Wajah cantik yang ingin disayang. Darmuto tiba - tiba telah jatuh cinta. Cinta yang timbul dari rasa iba. Rasa ingin mengasihi. Rasa ingin menyayang. Cinta yang juga tumbuh kerena kecantikan Murami. Darmuto yang gemas tak tahan untuk tidak mencium bibir Murami. Setelah mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya dengan penuh sayang Darmuto mencium bibir Murami. Dan pelukan Darmuto menjadi semakin erat ketika Murami dengan sangat hati - hati dan sangat lembut membalas ciuman Darmuto.
Murami merasakan sangat bahagia di pelukan Darmuto. Darmuto yang tampan dan gagah. Darmuto yang tiba - tiba begitu kasih kepada dirinya. Darmuto yang belum pernah dilihatnya. Darmuto yang belum pernah dikenalnya. Darmuto yang tiba - tiba hadir dihatinya yang sepi. Di hatinya yang sangat sakit ketika ditinggal Damijan. Murami merasakan kedamain yang begitu dalam di pelukan Darmuto. Tiba - tiba pula Murami merasa sangat ingin mencintai Darmuto. Sangat ingin melayani Darmuto. Dan sangat ingin pasrah segalanya kepada Darmuto. Ketika tidak sengaja tangan Darmuto menyentuh payudaranya dan sedikit menekan Murami mendesah diantara ciuman yang sedang berpagut.
Sementara itu di dalam kamar Nyi Ranu. Waruni yang sudah telanjang bulat sedang diciumi buah dadanya oleh Nyi Ranu yang juga sudah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Sementara mulut Nyi Ranu berada di buah dada gadis belia Waruni, tangannya terus menggerayangi paha Waruni. Dan sesekali berada di selangkang Waruni. Waruni hanya bisa mengejang ketika geli nikmat di payudaranya dan dikemaluannya menyerang syaraf otaknya yang membuat seluruh jaringan syaraf di tubuhnya meradang dan mengakibatkan nikmat di seluruh tubuhnya. Dari payudara bibir Nyi Ranu beralih ke bibir Waruni yang terbuka - buka karena harus mengeluarkan desahan. Dan tangan Nyi Ranu terus bermain di selangkangan Waruni. Ketika lidah Nyi Ranu telah menyentuh sesuatu yang sensitif di dalam mulut Waruni, karena nakal sekali lidah Nyi Ranu berputar - putar di rongga mulut Waruni dan jari tangan Nyi Ranu telah berhasil membuat Waruni tak berdaya karena nakal sekali juga jari Nyi Ranu menyentuhi bagian - bagian sensitif di kemaluannya, Waruni berkelenjotan hebat. Tubuhnya mengejang dan tak lagi kuat menerima ciuman dan permainan lidah Nyi Ranu. Waruni berteriak tertahan. Dari kemaluannya menyemprot cairan kenikmatan dan membasahi jari tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Setelah itu Waruni lemas terkulai dengan napas yang terangah. Nyi Ranu tersenyum bangga bisa membuat Waruni begitu merasakan kenikmatan.
Beberapa saat kemudian Waruni bangun dan duduk kemudian mengelus dada Nyi Ranu yang besar dan kencang. Elusan - demi elusan yang disertai remasan dinikmati oleh Nyi Ranu. Licinnya minyak zaitun di payudara Nyi Ranu membuat tangan Waruni dengan mudah mengelus, meremas, dan memelintir punting penthil Nyi Ranu yang semakin kaku karena nikmat dan nafsu yang semakin membara. Bibir Waruni segera menyerang bibir Nyi Ranu. Waruni juga bisa nakal karena memang sudah selalu diajari oleh Nyi Ranu. Lidahnya berputar - putar di rongga mulut Nyi Ranu. Lidah Waruni yang panjang menyerang ganas langit - langit rongga mulut Nyi Ranu. Nyi Ranu yang dibuat begitu hanya bisa mengangkat - angkat pantatnya sebagai isyarat agar tangan Waruni segera berada di selangkangannya. Waruni tanggap. Dari payudara tangan Waruni menyelusur perut Nyi Ranu yang rata. Terus turun ke bawah dan segera menyentuh kemaluan Nyi Ranu yang telah bibirnya merekah terbuka. Wurani menggerakkan jari - jari tangannya seperti ketika Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya. Serangan Waruni dibibir Nyi Ranu semakin gencar demikian pula jari - jari tangannya yang telah berada di dalam kemaluan Nyi Ranu tak kalah gencarnya. Nyi Ranu-pun menjadi tidak tahan. Dadanya terangkat ke atas dan selangkangannya menekan kebawah sehingga dua jari tangan Waruni yang telah berada di kemaluannya semakin masuk kedalam kemaluan dan menyentuh sesuatu yang dirasakan sangat luar biasa menyenangkan. Nyi Ranu berusaha lepas dari ciuman Waruni yang semakin menggila untuk mengeluarkan teriakan yang tak bisa ditahan. Nyi Ranu berteriak tertahan dan kakinya mengejang kemudian berkelenjotan sambil pahanya dihimpitkan untuk bisa menahan rasa nikmat di kemaluannya. Sesaat kemudian tubuh Nyi Ranu lunglai. Waruni menarik jarinya dari kemaluan Nyi Ranu yang membanjirkan cairan kenikmatan.
Setelah beberapa saat beristirahat sambil berpelukan dengan Waruni agar tubuh tetap hangat, Nyi Ranu mengansurkan buah terung yang telah terbungkus kondom kepada Murami. Murami bangun dan berjongkok di antara selangkangan Nyi Ranu yang mengangkang. Terung ukuran besar terbungkus kondom oleh Waruni mulai ditekankan di kemaluan Nyi Rani. Perlahan dan terus ditekankan dan berlajan pelah menembus liang senggama kemaluan Nyi Ranu. Nyi Ranu sangat menikmatinya. Dan mulutnya tak berhenti mengaduh, melenguh dan mendesah, apalagi setelah Waruni mulai memaju mundurkan terung. " Percepat, War. cepatkan gerakkannya, War.....aduuuuh....War...aku hampir....War..... !" Nyi Ranu bercerecah sambil menahan nikmat. Waruni-pun tanggap dan dengan gerakan cepatnya memaju mundurkan terung, Waruni membungkuk dan mengulum puting penthil Nyi Ranu yang juga telah mengejang dan bergetar - getar. Tiba - tiba seluruh tubuh Nyi Ranu mengejang, bergetar dan menggelinjang hebat. Mulutnya tak tahan berteriak kuat, mengerang di bawah bantal yang ditutupkan di wajahnya agar erangannya tak sampai keluar kamar.
bersambung kebagian dua belas .......................
Murami merasakan sangat bahagia di pelukan Darmuto. Darmuto yang tampan dan gagah. Darmuto yang tiba - tiba begitu kasih kepada dirinya. Darmuto yang belum pernah dilihatnya. Darmuto yang belum pernah dikenalnya. Darmuto yang tiba - tiba hadir dihatinya yang sepi. Di hatinya yang sangat sakit ketika ditinggal Damijan. Murami merasakan kedamain yang begitu dalam di pelukan Darmuto. Tiba - tiba pula Murami merasa sangat ingin mencintai Darmuto. Sangat ingin melayani Darmuto. Dan sangat ingin pasrah segalanya kepada Darmuto. Ketika tidak sengaja tangan Darmuto menyentuh payudaranya dan sedikit menekan Murami mendesah diantara ciuman yang sedang berpagut.
Sementara itu di dalam kamar Nyi Ranu. Waruni yang sudah telanjang bulat sedang diciumi buah dadanya oleh Nyi Ranu yang juga sudah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Sementara mulut Nyi Ranu berada di buah dada gadis belia Waruni, tangannya terus menggerayangi paha Waruni. Dan sesekali berada di selangkang Waruni. Waruni hanya bisa mengejang ketika geli nikmat di payudaranya dan dikemaluannya menyerang syaraf otaknya yang membuat seluruh jaringan syaraf di tubuhnya meradang dan mengakibatkan nikmat di seluruh tubuhnya. Dari payudara bibir Nyi Ranu beralih ke bibir Waruni yang terbuka - buka karena harus mengeluarkan desahan. Dan tangan Nyi Ranu terus bermain di selangkangan Waruni. Ketika lidah Nyi Ranu telah menyentuh sesuatu yang sensitif di dalam mulut Waruni, karena nakal sekali lidah Nyi Ranu berputar - putar di rongga mulut Waruni dan jari tangan Nyi Ranu telah berhasil membuat Waruni tak berdaya karena nakal sekali juga jari Nyi Ranu menyentuhi bagian - bagian sensitif di kemaluannya, Waruni berkelenjotan hebat. Tubuhnya mengejang dan tak lagi kuat menerima ciuman dan permainan lidah Nyi Ranu. Waruni berteriak tertahan. Dari kemaluannya menyemprot cairan kenikmatan dan membasahi jari tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Setelah itu Waruni lemas terkulai dengan napas yang terangah. Nyi Ranu tersenyum bangga bisa membuat Waruni begitu merasakan kenikmatan.
Beberapa saat kemudian Waruni bangun dan duduk kemudian mengelus dada Nyi Ranu yang besar dan kencang. Elusan - demi elusan yang disertai remasan dinikmati oleh Nyi Ranu. Licinnya minyak zaitun di payudara Nyi Ranu membuat tangan Waruni dengan mudah mengelus, meremas, dan memelintir punting penthil Nyi Ranu yang semakin kaku karena nikmat dan nafsu yang semakin membara. Bibir Waruni segera menyerang bibir Nyi Ranu. Waruni juga bisa nakal karena memang sudah selalu diajari oleh Nyi Ranu. Lidahnya berputar - putar di rongga mulut Nyi Ranu. Lidah Waruni yang panjang menyerang ganas langit - langit rongga mulut Nyi Ranu. Nyi Ranu yang dibuat begitu hanya bisa mengangkat - angkat pantatnya sebagai isyarat agar tangan Waruni segera berada di selangkangannya. Waruni tanggap. Dari payudara tangan Waruni menyelusur perut Nyi Ranu yang rata. Terus turun ke bawah dan segera menyentuh kemaluan Nyi Ranu yang telah bibirnya merekah terbuka. Wurani menggerakkan jari - jari tangannya seperti ketika Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya. Serangan Waruni dibibir Nyi Ranu semakin gencar demikian pula jari - jari tangannya yang telah berada di dalam kemaluan Nyi Ranu tak kalah gencarnya. Nyi Ranu-pun menjadi tidak tahan. Dadanya terangkat ke atas dan selangkangannya menekan kebawah sehingga dua jari tangan Waruni yang telah berada di kemaluannya semakin masuk kedalam kemaluan dan menyentuh sesuatu yang dirasakan sangat luar biasa menyenangkan. Nyi Ranu berusaha lepas dari ciuman Waruni yang semakin menggila untuk mengeluarkan teriakan yang tak bisa ditahan. Nyi Ranu berteriak tertahan dan kakinya mengejang kemudian berkelenjotan sambil pahanya dihimpitkan untuk bisa menahan rasa nikmat di kemaluannya. Sesaat kemudian tubuh Nyi Ranu lunglai. Waruni menarik jarinya dari kemaluan Nyi Ranu yang membanjirkan cairan kenikmatan.
Setelah beberapa saat beristirahat sambil berpelukan dengan Waruni agar tubuh tetap hangat, Nyi Ranu mengansurkan buah terung yang telah terbungkus kondom kepada Murami. Murami bangun dan berjongkok di antara selangkangan Nyi Ranu yang mengangkang. Terung ukuran besar terbungkus kondom oleh Waruni mulai ditekankan di kemaluan Nyi Rani. Perlahan dan terus ditekankan dan berlajan pelah menembus liang senggama kemaluan Nyi Ranu. Nyi Ranu sangat menikmatinya. Dan mulutnya tak berhenti mengaduh, melenguh dan mendesah, apalagi setelah Waruni mulai memaju mundurkan terung. " Percepat, War. cepatkan gerakkannya, War.....aduuuuh....War...aku hampir....War..... !" Nyi Ranu bercerecah sambil menahan nikmat. Waruni-pun tanggap dan dengan gerakan cepatnya memaju mundurkan terung, Waruni membungkuk dan mengulum puting penthil Nyi Ranu yang juga telah mengejang dan bergetar - getar. Tiba - tiba seluruh tubuh Nyi Ranu mengejang, bergetar dan menggelinjang hebat. Mulutnya tak tahan berteriak kuat, mengerang di bawah bantal yang ditutupkan di wajahnya agar erangannya tak sampai keluar kamar.
bersambung kebagian dua belas .......................