Jumat, 09 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                                         edohaput


Bagian sebelas 

     Malam merambat, udara gunung semakin dingin menusuk Tulang. Angin yang merambat dan menerpa beranda rumah membuat Darmuto dan Murami tidak tahan. Murami dibimbing Darmuto memasuki rumah. Mereka kemudian duduk di lantai beralaskan babut tebal. Diterangi lampu yang menyala temaram. Darmuto menarik tangan Murami sehingga Murami menjadi rebah di pangkuan Darmuto. " Gimana dik Mi. Kamu belum menjawab lamaranku. Mau kan kamu menjadi pendampingku ? " Darmuto mengulangi ucapannya ketika di beranda tadi. Kembali Murami tidak menjawab. Hanya matanya yang menatap mata Darmuto dan kembali dari sudut matanya kembali meleleh air matanya. Darmuto menjadi sangat trenyuh. Perasaannya menjadi begitu iba. Ditatapnya wajah Murami yang tengadah di pelukannya. Murami yang cantik. Murami yang bibirnya terbuka dan membasah menampakkan sedikit gigi atasnya yang tersusun rapi. Darmuto menjadi sangat gemas. Ingin sekali mencium bibir yang merekah itu. Bibir yang sangat mempesona dan membangkitkan gairah. Banyak gadis mengelilingi Darmuto di kota. Tetapi belum pernah ada yang begitu menyentuh hatinya. Kali ini baru saja berjumpa tiba - tiba hatinya tergetar. Hatinya teriba - iba melihat wajah cantik yang tiba - tiba memelas. Wajah yang minta dikasihi. Wajah cantik yang ingin disayang. Darmuto tiba - tiba telah jatuh cinta. Cinta yang timbul dari rasa iba. Rasa ingin mengasihi. Rasa ingin menyayang. Cinta yang juga tumbuh kerena kecantikan Murami. Darmuto yang gemas tak tahan untuk tidak mencium bibir Murami. Setelah mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya dengan penuh sayang Darmuto mencium bibir Murami. Dan pelukan Darmuto menjadi semakin erat ketika Murami dengan sangat hati - hati dan sangat lembut membalas ciuman Darmuto.
     Murami merasakan sangat bahagia di pelukan Darmuto. Darmuto yang tampan dan gagah. Darmuto yang tiba - tiba begitu kasih kepada dirinya. Darmuto yang belum pernah dilihatnya. Darmuto yang belum pernah dikenalnya. Darmuto yang tiba - tiba hadir dihatinya yang sepi. Di hatinya yang sangat sakit ketika ditinggal Damijan. Murami merasakan kedamain yang begitu dalam di pelukan Darmuto. Tiba - tiba pula Murami merasa sangat ingin mencintai Darmuto. Sangat ingin melayani Darmuto. Dan sangat ingin pasrah segalanya kepada Darmuto. Ketika tidak sengaja tangan Darmuto menyentuh payudaranya dan sedikit menekan Murami mendesah diantara ciuman yang sedang berpagut.
     Sementara itu di dalam kamar Nyi Ranu. Waruni yang sudah telanjang bulat sedang diciumi buah dadanya oleh Nyi Ranu yang juga sudah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Sementara mulut Nyi Ranu berada di buah dada gadis belia Waruni, tangannya terus menggerayangi paha Waruni. Dan sesekali berada di selangkang Waruni. Waruni hanya bisa  mengejang ketika geli nikmat di payudaranya dan dikemaluannya menyerang syaraf otaknya yang membuat seluruh jaringan syaraf di tubuhnya meradang dan mengakibatkan nikmat di seluruh tubuhnya. Dari payudara bibir Nyi Ranu beralih ke bibir Waruni yang terbuka - buka karena harus mengeluarkan desahan. Dan tangan Nyi Ranu terus bermain di selangkangan Waruni. Ketika lidah Nyi Ranu telah menyentuh sesuatu yang sensitif di dalam mulut Waruni, karena nakal sekali lidah Nyi Ranu berputar - putar di rongga mulut Waruni dan jari tangan Nyi Ranu telah berhasil membuat Waruni tak berdaya karena nakal sekali juga jari Nyi Ranu menyentuhi bagian - bagian sensitif di kemaluannya, Waruni berkelenjotan hebat. Tubuhnya mengejang dan tak lagi kuat menerima ciuman dan permainan lidah Nyi Ranu. Waruni berteriak tertahan. Dari kemaluannya menyemprot cairan kenikmatan dan membasahi jari tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Setelah itu Waruni lemas terkulai dengan napas yang terangah. Nyi Ranu tersenyum bangga bisa membuat Waruni begitu merasakan kenikmatan.
     Beberapa saat  kemudian Waruni bangun dan duduk kemudian mengelus dada Nyi Ranu yang besar dan kencang. Elusan - demi elusan yang disertai remasan dinikmati oleh Nyi Ranu. Licinnya minyak zaitun di payudara Nyi Ranu membuat tangan Waruni dengan mudah mengelus, meremas, dan memelintir punting penthil Nyi Ranu yang semakin kaku karena nikmat dan nafsu yang semakin membara. Bibir Waruni segera menyerang bibir Nyi Ranu. Waruni juga bisa nakal karena memang sudah selalu diajari oleh Nyi Ranu. Lidahnya berputar - putar di rongga mulut Nyi Ranu. Lidah Waruni  yang panjang menyerang ganas langit - langit rongga mulut Nyi Ranu. Nyi Ranu yang dibuat begitu hanya bisa mengangkat - angkat pantatnya sebagai isyarat agar tangan Waruni segera berada di selangkangannya. Waruni tanggap. Dari payudara tangan Waruni menyelusur perut Nyi Ranu yang rata. Terus turun ke bawah dan segera menyentuh kemaluan Nyi Ranu yang telah bibirnya merekah terbuka. Wurani menggerakkan jari - jari tangannya seperti ketika Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya. Serangan Waruni dibibir Nyi Ranu semakin gencar demikian pula jari - jari tangannya yang telah berada di dalam kemaluan Nyi Ranu tak kalah gencarnya. Nyi Ranu-pun menjadi tidak tahan. Dadanya terangkat ke atas dan selangkangannya menekan kebawah sehingga dua jari tangan Waruni yang telah berada di kemaluannya semakin masuk kedalam kemaluan dan menyentuh sesuatu yang dirasakan sangat luar biasa menyenangkan. Nyi Ranu berusaha lepas dari ciuman Waruni yang semakin menggila untuk mengeluarkan teriakan yang tak bisa ditahan. Nyi Ranu berteriak tertahan dan kakinya mengejang kemudian berkelenjotan sambil pahanya dihimpitkan untuk bisa menahan rasa nikmat di kemaluannya. Sesaat kemudian tubuh Nyi Ranu lunglai. Waruni menarik jarinya dari kemaluan Nyi Ranu yang membanjirkan cairan kenikmatan.
     Setelah beberapa saat beristirahat sambil berpelukan dengan Waruni agar tubuh tetap hangat, Nyi Ranu mengansurkan buah terung yang telah terbungkus kondom kepada Murami. Murami bangun dan berjongkok di antara selangkangan Nyi Ranu yang mengangkang. Terung ukuran besar terbungkus kondom oleh Waruni mulai ditekankan di kemaluan Nyi Rani. Perlahan dan terus ditekankan dan berlajan pelah menembus liang senggama kemaluan Nyi Ranu. Nyi Ranu sangat menikmatinya. Dan mulutnya tak berhenti mengaduh, melenguh dan mendesah, apalagi setelah Waruni mulai memaju mundurkan terung. " Percepat, War. cepatkan gerakkannya, War.....aduuuuh....War...aku hampir....War..... !" Nyi Ranu bercerecah sambil menahan nikmat. Waruni-pun tanggap dan dengan gerakan cepatnya memaju mundurkan terung, Waruni membungkuk dan mengulum puting penthil Nyi Ranu yang juga telah mengejang dan bergetar - getar. Tiba - tiba seluruh tubuh Nyi Ranu mengejang, bergetar dan menggelinjang hebat. Mulutnya tak tahan berteriak kuat, mengerang di bawah bantal yang ditutupkan di wajahnya agar erangannya tak sampai keluar kamar.

bersambung kebagian dua belas .......................

Rabu, 07 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                         edohaput


Bagian Sepuluh 

     Malam baru saja tiba. Di beranda rumah Nyi Ranu Murami minum teh ditemani Waruni. Murami telah benar - benar pulih dari lupa ingatannya. Matanya kembali berbinar - binar. Tubuhnya yang kemarin ketika dalam pasungan sebulan lamanya hampir - hampir rusak telah kembali seperti saat - saat sebelum terjadi lupa ingatan. Perasaannya selalu tenteram berada di rumah Nyi Ranu. Pikirannya lagi lagi ingat Damijan yang sudah tiada. Murami tak berniat meninggalkan rumah Nyi Ranu. Murami tak berniat menjumpai kedua orang tuannya, walau jarak rumah Nyi Ranu dengan rumahnya hanya dibatasi rumah - rumah warga. Murami takut perasaan galaunya kembali akan menyakiti dirinya jika pulang ke rumah dan tiba - tiba nanti ingat Damijan. Keluar dari Rumah Nyi Ranu-pun Murami takut. Murami tidak tahu mengapa begitu sangat tenteram perasaannya tinggal di rumah Nyi Ranu. Kedua orang tua Murami lah yang terus setiap kangen anaknya datang menjenguk. Dan Murami tak ingin kedua orang tuannya berlama - lama ketika menjenguknya. Karena ketika berjumpa dengan orang tuanya perasaan Murami menjadi sedih. Murami takut kesedihannya akan membuat dirinya kembali pada sakit ingatannya. 
     Murami telah kembali mengunyah tebu. Murami kembali merawat tubuhnya. Murami kembali mandi dengan air kembang. Murami kembali merawat kewanitaannya dengan air rendaman daun sirih. Murami kembali mengeramas rambutnya yang lebat sebahu dengan abu merang. Murami kembali cantik, wangi, bercahaya, dan mempesona.  " Dik War, kata Nyi Ranu jika aku telah sembuh betul aku mau dijodohkan sama anak Nyi Ranu. Padahal sampai hari ini aku belum pernah bertemu dengannya. Gimana ya, dik War ?" Murami menyapa Waruni dengan sebutan dik. Karena memang dari segi usia Murami lebih tua dua tahun dari Waruni. " Aku juga sudah dibilangi Nyi Ranu kok, Mbak Mi. Kalau Mbak ini mau dijodohkan sama mas Darmuto. Mas Darmuto itu tampan lho, mbak. Kalau nanti mbak Mi ketemu sama mas Dar mbak Mi pasti kepencut " Kalimat Waruni diahkiri dengan tertawa. " Ah kamu ini dik, bisa saja " Timpal Murami sambil tersipu. " Betul mbak, Mas Darmuto itu orangnya tinggi besar dan tegap. Kumisan lagi, wah pokoknya sip banget. Kalau mbak Mi tidak mau biar aku saja yang mau mbak !" Lagi - lagi Waruni menggoda Murami dan tertawa lepas. Kembali Murami tersipu - sipu oleh olah Waruni. " Mas Darmuto itu apa jarang pulang ke rumah ini, dik War ?" Tanya Murami menyelidik.  " Ya jarang banget mbak. Setahun sekali pun belum tentu. Mas Darmuto itu orangnya tidak suka tinggal di desa. Katanya sepi. Tak ada hiburan. Lagian mas Darmuto itu pekerjaannya kan di kota ta mbak !" Waruni mengucapkan kalimatnya dengan nada kenes sambil mengunyah pisang goreng buatannya sendiri. 
     Darmuto adalah anak Nyi Ranu dengan suami pertamanya. Darmuto tidak pernah melihat wajah sang ayah yang meninggal ketika dirinya masih dalam kandungan muda Nyi Ranu. Darmuto hidup di kota bersama Nyi Ranu yang kemudian diperistri pak Ranu warga dusun terkaya. Sejak menjadi isteri pak Ranu, Nyi Ranu tinggal di desa. Tetapi Darmuto yang sudah mulai menginjak dewasa tak mau mengikuti ibunya. Ia memilih tinggal di rumah ayahnya di kota. Tak lama Nyi Ranu kerasan di desa. Nyi Ranu-pun segera membeli toko di kota dan membuka usaha toko kelonthong di kota. Nyi Ranu jarang pulang ke dusun. Justru pak Ranu lah yang mengikuti Nyi Ranu di kota. Belum satu tahun memperistri Nyi Ranu pak Ranu meninggal dunia. Pak Ranu tak mempunyai keturunan. Akibatnya Nyi Ranu lah yang terpaksa harus repot hilir mudik tujuh hari sekali pulang ke dusun untuk merawat rumah besar yang diwariskan pak Ranu. Ahkirnya Waruni lah yang diambil Nyi Ranu untuk merawat dan menjaga rumah di dusun. Waruni masih ada tali darah dengan Nyi Ranu. Maka tak mengherankan jika Waruni yang statusnya hanya sebagai pembantu rumah tangga wajahnya manis. Masih ada kemiripan dengan keayuannya Nyi Ranu. 
     " Jadi mas Darmuto itu orang kota asli ya, dik War ?" Murami bertanya tapi sebenarnya menegaskan pendapatnya. " O iya mbak ! Mas Darmuto itu orangnya bukan kayak pemuda - pemuda di sini. Pokoknya beda mbak dengan pemuda - pemuda dusun. Mas Darmuto itu tegak tenan, mbak !" Kembali Waruni dengan kenesnya menceriterakan Darmuto. " Wah dik, Apa ya mau mas Darmuto itu sama aku yang gadis dusun ini ". Murami merendah. " Lho mbak Murami ini walaupun gadis dusun tapi cuantik banget lho mbak. Kalau mbak Murami ini didandani kayak orang kota pasti akan menjadi lebih cantik lagi. Dan saya tau mbak. Mas Darmuto itu bercita - cita dapat isteri gadis dusun tetapi gadis dusun yang cantik. Pas ....pas... mbak. Mas Darmuto pasti kepincut kalau  melihat mbak Murami !" Kembali Waruni membuat wajah Murami memerah. Waruni  merahasiakan jika sebenarnya malam ini Darmuto bersama Nyi Ranu akan datang ke dusun. Darmuto ingin melihat Murami. Waruni ingin Murami terkejut dan terkesima melihat Darmuto yang tampan. Waruni ingin melihat Murami kelimpungan ketika bertemu dengan Darmuto. Waruni ingin ada adegan yang lucu ketika Murami bertemu dengan Darmuto. Waruni pasti akan melihat betapa malunya Murami nanti ketika Darmuto mendekatinya dan mengajaknya berkenalan. 
     Deru mobil yang sangat jarang terdengar di dusun memecah kesunyian malam yang masih dini. Waruni yang masih mengunyah pisang goreng berlari dan segera membuka pintu gerbang halaman. Sorot lampu mobil menerangi wajah Waruni. Murami terkesima. Siapa yang datang ? Darmuto kah ? Jantung Murami berdegup cepat. Jika benar yang datang Darmuto sudah siapkah ia bertemu dengan Darmuto ? Bagaimana jika ternyata Darmuto tidak menyukai dirinya. Lalu bagaimana ia harus bersikap jika nanti ketemu dengan Darmuto ? Sikap yang bagaimanakah yang harus ditunjukkan dengan Darmuto pemuda kota yang kaya itu ? Bagaimana jadinya nanti jika ia salah bersikap ? Murami yang hanya gadis dusun harus berhadapan dengan pemuda kota yang banyak pengalaman, pinter, pengusaha lagi. Pikiran Murami buntu. Murami pasrah. Murami akan bersikap apa adanya sebagai gadis dusun yang tidak sama sekali memiliki pengalaman kehidupan kota.
     Darmuto turun dari mobil dan berjalan diikuti Nyi Ranu dan Waruni menuju beranda dimana Murami berdiri terpaku. Jantung Murami semakin berdegup ketika melihat kenyataan. Ternyata Darmuto itu pemuda yang gagah, tinggi besar dan berkumis. Darmuto sangat tampan apabila dibandingkan dengan para pemuda dusun. Pardin, Pardan, dan Damijan bukan apa - apanya jika dibandingkan dengan Darmuto. Jantung Murami semakin cepat berdegup. Kakinya tiba - tiba bergetar dan lemas tidak mampu menahan tubuhnya ketika Darmuto menyalami dan menyebutkan namanya sambil tersenyum. Seandainya saja Nyi Ranu tidak memeluk dan mencium pipinya mungkin Murami sudah terkulai di lantai. Dalam hati Waruni terbahak mentertawakan Murami. Mati kamu mbak ! Kena kau mbak ! Murami sangat senang melihat wajah Murami yang tiba - tiba memucat. Beberapa hari sebelumnya Waruni sebenarnya telah diperintah Nyi Ranu agar memberitahu Murami akan kedatangan Darmuto. Tetapi Waruni nakal hal itu tak diberitahukan ke Murami. Demikan juga foto Darmuto yang oleh Nyi Ranu agar diperlihatkan kepada Murami oleh Waruni sengaja tidak diberikan ke Murami. Waruni sengaja ingin mempermainkan Murami. Waruni tersenyum puas bisa membuat Murami kelimpungan. Sambil tertawa Waruni menggandeng tangan Murami masuk ke rumah mengikuti Darmuto dan Nyi Ranu.
     Tiga puluh menit kemudian mereka telah berada di meja makan untuk makan bersama. Waruni terus saja nakal dengan sesekali memperhatikan Murami yang tertunduk dan terus tersipu malu. Ketika padangan mata Waruni tertumbuk dengan mata Murami, Waruni tersenyum geli dan mengedip - ngedipkan mata. Dan ketika Murami mencuri pandang ke arah Darmuto, Waruni tersenyum dan kemudian pura - pura batuk seperti tersedak. Dan sikap Waruni itu mendapat pelototan mata dari Nyi Ranu. Dan yang dipelototi cuma tersenyum nakal. Sementara Darmuto terus melahap makanan tanpa memperhatikan keberadaan Murami. Waruni memperoleh isyarat dari Nyi Ranu agar segera menyelesaikan makannya dan meninggalkan meja makan. Waruni tanggap. Beranjaknya Waruni dari meja makan diikuti Nyi Ranu : " Jangan tergesa - gesa Mi ! Temani masmu Darmuto makan !" Nyi Ranu berlalu dari meja makan. Tinggal Murami dan Darmuto yang masih meneruskan makan. Murami kikuk. Tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ketika Murami mencoba mencuri pandang ke wajah Darmuto dan tertumbuk oleh pandangan mata Darmuto yang sengaja sedang memperhatikan Murami, dan Murami melihat senyum Darmuto kembali untuk yang kesekian kalinya jantung Murami bedegup keras. Murami kembali menunduk dan makan susah sekali tertelan. Darmuto sangat tampan. Wajahnya bersih. Tidak seperti wajah Pardan dan Wajah Damijan yang gelap karena selalu tertimpa matahari panas. Murami merasa sangat tidak sebanding dengan Darmuto.
     Diam - diam Darmuto juga mengagumi kecantikan Murami. Kecantikan gadis dusun yang lugu. Kecantikan asli tanpa make up. Semakin dipandang wajah Murami semakin mempesona Darmuto. Tiba - tiba ada getaran di hati Darmuto. Inikah calon pendampingku ? Aku suka. Aku suka keluguannya. Aku suka kepolosan wajahnya. Murami kau bidadariku !
     Selesai makan Darmuto menggandeng tangan Murami untuk diajak ke beranda rumah. Malam telah sepi. Derik cengkerik dan walang kerik saja yang terdengar. Udara dingin pegunungan mulai merambat terbawa angin dan menerpa dusun. Embun di dedaunan menetes deras ke tanah yang mulai membasah. Rembulan yang tadi menggantung di atas pegunungan telah meninggi. Murami telah berada dalam pelukan Darmuto. Darmuto yang sudah mendengar cerita tetang Murami dari ibunya, Nyi Ranu. Merasa kasihan terhadap nasib Murami. Disamping memang Darmuto tiba - tiba menggumi kecantikan Murami. Maka Darmuto tanpa menunggu besuk atau lusa langsung melamar Murami. Ucapan Darmuto yang memintanya untuk bersedia menjadi isterinya membuat Murami lemas dan tiba - tiba ambruk di dada Darmuto. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang ranum dan tiba - tiba berubah merah merona menambah kecantikannya. Ada perasaan iba mengalir di hati Darmuto. Dipeluknya Murami. Diciumnya pipi Murami yang basah air mata. Diangkatlah dagu Murami agar tengadah menghadap wajahnya. Diciumnya bibir Murami yang merah membasah dan wangi oleh bau jeruk yang tadi dimakannya sehabis bersantap di meja makan bersama Darmuto. Dengan sangat hati - hati dan penuh perasaan yang bercampur baur tak karuan di hatinya dibalasnya ciuman sayang Darmuto.

bersambung ke bagian sebelas ......................
     
     

Minggu, 04 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                                                edohaput


Bagian Sembilan 

     Malam itu tepat kurang tujuh hari saat pernikahannya dengan Murami akan dilangsungkan, Damijan barjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Tubuhnya serasa melayang - layang. Damijan merasakan tubuhnya lemas tak berdaya. Kepalanya pening, matanya berkunang - kunang, dan mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Tenggorokaanya tersekat dan dadanya sangat sesak. Damijan dengan tenaganya yang masih tersisa ingin segera sampai ke rumah. Malam yang telah larut sangat sepi. Udara dingin pegunungan membuat warga enggan keluar rumah. Apalagi malam itu kabut tebal dan sedikit gerimis. Damijan yang terus berusaha berjalan ahkirnya ambruk di pos ronda. Sekilas Damijan masih bisa mengingat Murami. Tetapi setelah itu detak jantung Damijan berhenti. Damijan berhenti bernapas. 
     Pagi harinya warga dibuat geger dengan ditemukannya jasad Damijan yang sudah kaku di pos ronda. Jenasah Damijan segera diusung pulang. Warga terus bertanya. Apa yang menyebabkan Damijan meninggal. Dulu Pardan, terus Pardin sekarang Damijan. Ketiganya meninggal secara misterius. Warga yang pernah berkesimpulan kalau meninggalnya Pardan dan Pardin adalah karena sakit jantung kini menjadi ragu. Mengapa Damijan juga meninggal dengan kulit tubuh memucat dan terdapat bintik - bintik biru - biru seperti jasadnya Pardan dan Pardin. Di tubuh Damijan juga tidak ditemukan adanya tanda - tanda penganiyaan. Damijan pemuda yang sehat. Tak pernah mengeluh sakit. Warga sangat tahu siapa Damijan. Warga dibuat bingung. Para pemuda dusun menjadi takut. Jangan - jangan akan terjadi pula seperti yang menimpa Pardan, Pardin dan Damijan. Mengapa pemuda. Mengapa bukan orang tua. Apa yang sedang terjadi di dusun. Sehingga ada malapetaka yang demikian. 
     Selesai pemakaman jenasah Damijan, malam harinya seluruh pemuda dusun berkumpul di rumah Damijan. Mereka berdiskusi. Saling bertanya dan saling mengemukakan pandapat. Tetapi dirasakan tak ada yang cocok dengan penyebab kematian Damijan. Mereka tidak menemukan jawaban. Ahkirnya seperti halnya keluarga Pardan dan Pardin meninggalnya Damijan juga disimpulkan karena diganggu makhluk halus. Para pemuda semakin mendukung kegiatan ritual yang terus dilakukan oleh keluarga Pardan dan Pardin untuk menolak datangnya balak di dusun itu.

*

     Murami yang schok berat tak kuat menahan rasa pedih dan perasaannya. Kesadarannya  hilang. Ia tak lagi ingat siapa dirinya. Murami terus berteriak - teriak dan tak keruan ucapannya. Kadang menangis meraung - raung, kadang tertawa terbahak - bahak. Murami sudah tak ingat jati dirinya. Berlari kesana - kemari dan tak lagi mau dikenakan baju di tubuhnya. Murami tak lagi merasakan dingin. Tak lagi merasakan panas. Murami membuat repot seluruh warga. Tak ada yang bisa menenangkan Murami. Keluarganya telah kehabisan akal. Murami menjadi tontonan anak - anak. Murami membuat sedih teman - teman gadis dusun sebayanya. Murami yang pernah sedih tak terhingga ketika Pardan meninggal, tidak kuat lagi menahan rasa ketika ditinggal Damijan yang dicintainya. Murami menjadi gila.
      Ahkirnya Murami dipasung. Di pasunganpun Murami terus meronta. Tak mau makan. Tak mau tidur. Yang dilakukannya hanya menangis, berteriak, menyanyi dan tertawa. Memanggil - manggil nama Damijan. Murami telah kehilangan cantiknya. Karena tak lagi mandi. Mulutnya tak lagi mengunyah tebu. Murami kencing di tempat. Berak di tempat. Murami menjadi bau. Murami yang berambut panjang sebahu tak beraturan awut -awutan telah terlihat seperti setan. Murami menakutkan. Tak ada lagi warga yang mau mendekat. Murami sangat membuat susah keluarganya.
      Nyi Ranu warga dusun yang banyak menghabiskan kegiatannya di kota kecamatan sebagai pedagang yang memiliki kios di pasar kecamatan, menemui keluarga Murami. Nyi Ranu berniat membawa Murami ke rumahnya untuk disembuhkan. Nyi Ranu meminta kedua orang tua Murami untuk tidak kawatir ketika Murami berada di rumah Nyi Ranu. Nyi Ranu berjanji Murami akan sembuh. Murami akan pulih seperti sediakala. Nyi Ranu juga meminta kedua orang tua Murami untuk setuju jika nanti Murami telah pulih akan dinikahkan dengan anak laki - laki Nyi Ranu yang sekarang menjadi wiraswastawan di kota. Tanpa ragu - ragu dan sangat suka hati kedua orang tua Murami menyetujui permintaan Nyi Ranu.
     Aneh dan sangat mengejutkan, Murami yang selalu ingin memberontak dan mengancam akan melukai siapa saja yang mendekatinya, luluh di hadapan Nyi Ranu. Murami tidak berdaya di tangan Nyi Ranu. Tatapan mata Nyi Ranu telah meluluhkan perasaan Murami. Bagai diguyur air es Murami tiba - tiba sejuk dan damai ditatap Nyi Ranu. Tanpa mengadakan perlawanan Murami mudah dilepas dari pasungan. Nyi Ranu memandikan Murami dengan air kembang setaman. Murami bersih, wangi dan kembali cantik. Murami dibawa ke rumah Nyi Ranu.
     Nyi Ranu janda kaya. Orang terkaya kedua di dusun setelah pak Samino. Nyi Ranu jarang pulang ke rumah di dusun. Nyi Ranu banyak tinggal di kota kecamatan, di toko kelontongnya. Nyi Ranu memiliki rumah besar di dusun yang dikelilingi tembok tinggi, tidak seperti rumah - rumah warga dusun lainnya yang sederhana dan tidak berpagar tembok. Rumah besar Nyi Ranu terletak di ujung dusun. Tidak banyak warga yang tahu apa yang dikerjakan Nyi Ranu di saat - saat pulang ke dusun. Dan Jarang pula orang tahu kapan Nyi Ranu  berada di dusun. Nyi Ranu tidak banyak bergaul dengan warga. Nyi Ranu pernah bersuami. Suaminya meninggal dunia ketika Nyi Ranu mengandung anaknya. Sejak ditinggal suaminya Nyi Ranu terus menjanda.
     Hari bertambah. Murami kembali sehat. Nyi Ranu merawat Murami dengan kebisaannya. Badan Murami telah pulih. Tidak lagi kurus. Sudah kembali sintal. Murami justru tampak lebih cantik dari sebelumnya. Murami belum diperbolehkan oleh Nyi Ranu ke luar rumah. Warga mengira Murami masih gila. Dan sedang dikurung untuk disembuhkan oleh Nyi Ranu. Di rumah Nyi Ranu Murami ditemani Waruni. Waruni tidak berasal dari dusun dimana Murami tinggal. Waruni dibawa oleh Nyi Ranu dari dusun yang jauh letaknya dari dusun Murami lahir dan tinggal. Waruni sudah sangat lama menjadi pembantu rumah tangganya Nyi Ranu. Waruni dibawa Nyi Ranu sejak gadis belia. Tidak banyak warga dusun yang tahu tentang Waruni. Karena Waruni jarang sekali keluar rumah. Pekerjaan Waruni hanya memasak, mencuci, dan merawat rumah Nyi Ranu yang kelewat besar. Pekerjaan paling pokok Waruni sebenarnya adalah melayani keinginan biologis Nyi Ranu. Saat Nyi Ranu tidak pulang ke rumah, Waruni tinggal sendirian di rumah.
     Waruni yang diambil Nyi Ranu sejak kematian suami Nyi Ranu menjadi gadis belia yang selalu melayani Nyi Ranu apabila Nyi Ranu sedang ingin melampiaskan nafsu biologisnya. Wurani harus memijit seluruh tubuh telanjang Nyi Ranu. Dengan minyak zaitun yang wangi dan licin Waruni harus mengurut tubuh Nyi Ranu yang gempal, padat, dan kencang. Tubuh Nyi Ranu masih saja seperti tubuh perempuan di bawah tiga puluh tahun. Payudaranya masih sangat kenyal bagai buah dada gadis belasan tahun. Menjadi keusukaan Nyi Ranu jika Waruni sedang memijit - mijit buah dada dan meremas - remasnya. Dan apabila Wurani menghentikan meremas payudara Nyi Ranu marah. Nyi Ranu minta terus dan terus payudara dielus dan diremas Waruni. Sementara itu kedua tangan Nyi Ranu berada di kemaluannya sendiri. Disana jari - jari tangan Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya sendiri. Dan pada puncaknya Waruni harus mengulum buah dada Nyi Ranu dan jari - jari tangannya ada di kemaluan Nyi Ranu. Dan ketika itu pula Wurani yang juga telanjang menjadi rabaan liar tangan Nyi Ranu. Tak jarang pula Wurani ikut - ikut menikmati kenikmatan orgasme karena tangan Nyi Ranu yang meraba seluruh tubuh telanjang Waruni. Tak luput kemaluan perawan Waruni juga menjadi sasaran tangan Nyi Ranu yang sangat menggelikan liang senggama kemaluan.
     Satu malam ketika Nyi Ranu tidak tidur di kota, meminta Waruni melayaninya. Waruni yang telah bertelanjang bulat tubuhnya diciumi Nyi Ranu yang juga telah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Payudara Waruni diciuminya dengan ganas. Tak luput pula bibir tipis Waruni juga menjadi sasaran bibir Nyi Ranu yang wangi. Waruni hanya bisa menggeliat - geliat ketika jari - jari tangan Nyi Ranu telah hinggap di kemaluan. Nyi Ranu sangat pintar membuat kemaluan Waruni orgasme. Tahu Waruni telah orgasme Nyi Ranu meminta gantian diraba. " Ni, lakukan seperti aku melakukan tadi ". Kata Nyi Ranu sambil merebahkan dirinya di kasur yang beralas seprei sutra. Sebelum melaksanakan kegiatan Waruni menatap wajah Nyi Ranu. Aneh ! Seharusnya wajah itu sudah ada kerutan dan keriputnya ! Mengapa Wajah Nyi Ranu tetap kencang dan halus ? Bukankah Nyi Ranu telah berumur ? Waruni menelusurkan matanya ke seluruh tubuh Nyi Ranu. Kenapa tubuh itu tetap berisi ? Kenapa kulitnya tak ada keriput ? Ketika Nyi Ranu tersenyum giginya yang rata tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis tak ada yang cacat. Kenapa Nyi Ranu tampak seperti seorang gadis ? " Lho kok malah melamun, Ni. Ayo mulai !" Pinta Nyi Ranu menyadarkan Waruni yang tertegun memandangi tubuh Nyi Ranu. Wurani mulai dari bibir Nyi Ranu yang wangi. Diciumnya dengan penuh nafsu. Nyi Ranu membalas ciuman Waruni. Mereka berpagut dengan ganas. Suara saling sedot lidah terdengar berkecipak. Napas mereka terus memburu. Waruni selesai mencium bibir Nyi Ranu meneruskan kegiatan di buah dada Nyi Ranu yang tidak terlalu besar tetapi sangat menyembul di dadanya. Meremas - remasnya dan menciuminya, menyedot - nyedot putingnya. Nyi Ranu melenguh - lenguh sambil menggelinjang. Pahanya mebuka - buka, ingin jari - jari Waruni yang baru sampai di elusan - elusan paha segera sampai di selangkangannya. " Ni....Ni....ayoo ......Ni.... pepekku ...Ni ... !" Dengus Nyi Ranu tak sabar. Waruni belum mau sampai kesana sebelum benar - benar Nyi Ranu kelabakan. " Aduh ......Ni....ayo.....Ni...pepekku...Ni...segera...!" Nyi Ranu mengangkat - angkat pantatnya. Dalam hati Waruni tertawa geli dengan sikap Nyi Ranu yang terus merengek. Dan setelah tangan Waruni sampai cerecah mulut Nyi Ranu tak mau berhenti. Seandainya rumah Nyi Ranu seperti halnya rumah - rumah yang ada di dusun, cerecahnya pasti  bisa didengar tetangga. " Aduh Ni....getarkan jarimu, Ni ! .....aaahhhh... Ni... masukkan dua jarimu...Ni... ! Kocok ...kocok...Ni....kocok cepat, Ni .....aaaaaaugghh....aaaah... Ni.... masukkan yang dalam Ni.....aaaaaaahhhhh ....Ni... ! Waruni menuruti kemauan Nyi Ranu. Dan tak lama kemudian Nyi Ranu merapatkan pahanya dan mengerang keras sambil menggelengkan kepalanya ke kiri - ke kanan dengan cepat. Mulutnya meringis menampakkan sebaris giginya yang putih utuh. Apabila sedang mencapai orgasme demikan wajah Nyi Ranu Tampa cantik sekali. Wajah yang merah merona dengan pipi - pipi yang padat. Dan dihiasi mata bulat yang terbeliak - beliak. Dan Waruni melihat seorang perempuan muda yang sedang orgasme. Sebentar kemudian Nyi Ranu terkulai lemas dan terengah - engah. Waruni merasakan jari - jarinya yang ada kemaluan Nyi Ranu sangat basah. Sampai disitu belum puas juga Nyi Ranu. Tangannya segera meraih tas yang ada di pinggir ranjang. Tebakan Waruni tidak meleset itu pasti buah terung yang telah dipasangi kondom. Benar ! Benda itu segera berpindah ke tangan Waruni. Nyi Ranu kembali telentang dan pahanya membuka lebar - lebar. " Ayo Ni seperti biasanya ! Masukkan ! " Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Waruni menempelkan buah terung terbungkus kondom di permukaan kemaluan Nyi Rani yang berambut lebat. Waruni menekan buah terung. Dan pelan - pelan masuk di liang senggama Nyi Ranu. Nyi Ranu mengangkat - angkat kaki pertanda geli nikmat. " Kocokan seperti biasanya, Ni !" Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Wurani segera mengocokan buah terung terbungkus kondom dengan kuat dan cepat sambil mulutnya mengulum penthil Nyi Ranu. Nyi Ranu mendekap kuat tubuh telanjang Waruni sambil terus menggelinjang. Dan mulutnya tak berhenti bercerecah dan diahkiri dengan erangan yang sangat keras dan kedua kakinya membuat kain seprei menjadi awut - awutan.

bersambung ke bagian sepuluh ...................