Bau Lawean
edohaput
Bagian Satu
Rembulan menyembul dari balik gunung. Udara dingin menusuk tulang. Murami berjalan menyusuri pematang yang berumput tipis. Yang dituju Murami gubuk yang ada di tengah persawahan. Murami tahu Pardan sudah berada disana menunggu kedatangannya. Kain jaritnya diselimutkan di tubuhnya untuk mengurangi dinginnya udara gunung di malam purnama. Murami berjalan hanya diterangi cahaya rembulan dan ribuan kunang - kunang yang berkelip di pohon padi gaga di kiri - kanan pematang. Padi gaga yang ditanam Pardan. Pardan pemuda tani yang rajin menggarap sawah ladangnya. Yang mencintai Murami lebih dari segala - galanya.
Murami tergolong cantik untuk ukuran gadis desa di lereng gunung. Murami berkulit tidak putih tetapi bersih. Murami rajin merawat kulit tubuhnya dengan ramuan kunyit, daun sirih dan minyak mawar yang dilulurkan di tubuhnya yang sedang tumbuh keremajaannya. Tidak mustahil jika tubuh Murami selalu bersih dan wangi. Rambut Murami yang panjang sampai ke punggung selalu dirawatnya dengan merang yang dibakar dan abunya dicampur kembang melati untuk keramas, maka tak ayal jika rambut Murami selalu mengembang dan wangi. Murami gadis gunung yang mengerti merawat diri. Merawat keremajaan tubuhnya. Giginya yang tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis selalu dirawatnya dengan mengunyah tebu dan berkumur dengan air rendaman buah jambe. Itulah yang menyebabkan napas Murami yang jarang mengenal sikat gigi dan dental selalu wangi dan sedap.
Pardan yang menunggu kedatangan Murami membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Di atas api unggun Pardan menggantungkan buah sukun. Tercium bau wangi dan gurih sukun bakar. Sukun bakar sangat nikmat di makan dimalam dingin sambil menikmati rembulan purnama. Buah sukun yang merekah putih, gurih akan semakin nikmat jika ada teh pahitnya dan gula kelapanya. Saat rembulan muncul Pardan dan Murami selalu menghabiskan malam dengan menikmati sukun bakar di gubuk sambil bercengkerama.
Murami meletakan tas kresek yang berisi teko teh pahit dan bungkusan gula kelapa. " Ini teh paitnya dan gula jawanya, kang. Sukunnya sudah mateng belum, kang ". Sapa Murami kepada Pardan yang sedang asyik dengan api unggun dan sukunnya. " Belum, Mi. sebentar lagi ". Jawab Pardan menoleh ke Murami sambil tersenyum. Murami yang masih berdiri di dekat Pardan yang berjongkok di dekat api juga menyambut senyuman Pardan dengan senyuman yang sangat manis di mata Pardan. Senyuman sang kekasih yang setiap hari bahkan setiap saat dirindukannya. Senyuman yang membuat hati Pardan menjadi teduh, damai dan menentramkan. Murami duduk di atas bale - bale gubuk yang beralaskan anyaman jerami. Pantatnya yang kedinginan terasa hangat menempel di anyaman jerami yang empuk. Murami menuang teh pahit panas. Dan memotong - motong gula jawa. Pardan mengangkat buah sukun bakar dan diletakkan di atas lembaran daun pisang. Daun pisang yang kena buah sukun bakar panas menebarkan uap wangi daun. Pardan dan Murami menikmati sukun bakar, teh pahit, gula kelapa. Malam purnama yang sangat menyenangkan bagi mereka berdua.
Pardan dan Murami sudah dua tahun saling menyukai, saling mencinta, saling merindukan bila saat berjauhan, dan saling sangat menyayang jika berdekatan. Mereka tidak berniat segera membeli layang. Membeli layang adalah istilah nikahan. Murami sabar tidak segera dikahi Pardan. Selain setiap hari bisa bertemu, Murami tahu Pardan tidak segera menikahinya karena menunggu rumahnya yang sedang dibangun baru setengah jadi akan segera seluruhnya jadi. Pardan ingin setelah rumah yang dibangun seratus persen jadi dan nikahan dengan Murami segera akan dilaksanakan. Mereka berdua sepakat bersabar. Toh tidak akan lama lagi mereka akan duduk di pelaminan. Pardan telah membeli kain untuk setelan jas. Murami telah membeli beberapa potong kain kebaya dan beberapa potong kain jarit. Persiapan - persiapan menuju hajadan pernikahan dari kedua belah pihak keluarga telah dilakukan. Tidak akan lebih lama dari tiga bulan mereka akan membeli layang dan duduk di pelaminan sebagai pasangan pengantin yang akan disaksikan seluruh warga di acara hajadan. Untuk membuat suasana kemeriahan hajadan nanti keluarga Murami telah menghubungi kelompok Jathilan yang akan digelar siang hari saat setelah Murami dan Pardan dinikahkan. Sedangkan kelompok kesenian Topeng Ireng akan digelar malam harinya. Suasana hajadan di keluarga Murami akan sangat meriah. Karena Pardan dan Murami hanya tetangga rumah maka di keluarga Pardan tidak menyelenggarakan keramaian. Semua keramaian hajadan dipusatkan di rumah Murami.
Malam semakin larut. Langit cerah diterangi rembulan bulat. Udara semakin dingin. Murami telah berada di pelukan Pardan. Mereka berdua telah masuk di satu kain sarung Pardan. Hanya kepala mereka saja yang tampak. Kedua tubuh telah menyatu di dalam kain sarung. Murami merasakan kehangtan tubuhnya Pardan. Murami merasan sangat tentram di pelukan Pardan. Parda sangat bahagia bisa terus memeluk kekasih yang sangat dicintainya. " Ya jangan dipeluk saja aku ta, kang. Aku diraba - raba seperti biasanya itu lho, kang ". Pinta Murami manja. Pardan tersenyum lalu menjawab permintaan Murami dengan menggerakkan tangannya menuju ke arah buah dada Murami. Murami kemudian sedikit beringsut dan agak melonggarkan pepetannya di tubuh Pardan. Murami bermaksud memudahkan tangan Pardan yang segera akan membuka kancing baju bagian dadanya dan segera menelusurkan telapak tangannya di buah dadanya. Tangan Pardan telah sampai dengan lembutnya mengelus buah dada Murami yang menggunung. Remasan - remasan lembut di buah dada dirasaka Murami begitu menyenangkan. Hangatnya tangan Pardan mampu mengusir rasa dingin di tubuhnya. Murami mendongakkan wajahnya dan merintih : " aduh.....kang..... ". Pardan mencium pipi Murami dan semakin mengeratkan pelukkannya. Miliknya yang ada di dalam celana kolor menggeliat menegang. Karena pantat Murami begitu mepet dengan selangkang Pardan, maka Murami merasakan pantatnya ada yang menyodoknya. Kembali Murami beringsut dan agak melonggarkan pantatnya di selangkangan Pardan yang disana ada sseuatu yang sudah kaku. Maksud Murami agar dia bisa menyelusupkan tangannya masuk di dalam celana kolor Pardan. Pardan juga sedikit beringsut untuk memudahkan tangan Murami sampai di miliknya yang sudah kaku. Setelah tangannya berhasil menggenggam milik Pardan Murami dengan majanya berkata : " Kang ini mlikku saja lho, kang. Jangan dikasih ke orang lain ". Berkata begitu Murami dengan gemasnya meremas - remas halus milik kekasihnya. Yang merasakan miliknya diremas, dimanjakan hanya bisa menahan napas karena enak. " Iya ..iya....Mi...itu milikmu. Nanti di malam pengantin akan kugunakan untukmu, Mi ". Kalimat Pardan diselingi napas yang tersengal karena enaknya di miliknya. Tangan Murami halus, hangat dan lembut memanjakan miliknya. " Tangan kang Pardan jangan di situ terus ta, kang. Pindah, ..masak meremas ini terus ". Kata Murami lagi - lagi dengan manjanya sambil membusungkan dadanya dan sedikit sentakan mengusir tangan Pardan agar pindah dari situ. Pardan sangat tahu maksud Murami. Murami paling senang kalau miliknya yang terjepit di selangkangan dielus - elus, ditekan - tekan dan di remas - remas halus. Maka tangan Pardan segera meluncur ke arah selangkang Murami yang telah dengan sengaja dibuka lebar oleh Murami. Tangan Pardan sampai. Menemukan gundukan kecil di dalam celana dalam. Pardan mengelusnya. Menekan - nekan dengan telapak tangannya. Rasa dimiliknya yang terus diremas Murami, menyebabkan Pardan juga sangat gemas dengan milik Murami. Disibakan celana dalam Murami dengan jari tangannya. Pardan menemukan sesuatu yang terbelah, hangat dan sedikit basah. Jari Pardan membuka belahan dan sedikit menusuk dibagian yang lembut. Murami yang dibegitukan menggeliat karena geli enak. Dan tangan Murami menjadi semakin kuat menggenggam milik pardan yang semakin mengeras dan menggelembung karena saluran telah dipenuhi mani yang mendesak - desak dan membuat miliknya terasa pegal. " Aduh ...kang .....aduh.....kang.....kang.....aaadduuuuh....." Kalimat desahan Murami melantun sambil tubuhnya terus menggeliat di pelukan Pardan. Pardan menusukkan jari tengahnya ke liang milik Murami dan menggerak - gerakkannya. Seperti biasanya kalau dibegitukan Murami tak bakalan tahan lama. Pasti akan segera merintih - rintih dan kemudian miliknya menjadi membasah. " Aduh kang .....aduuuuuuuh.....kalau ....milik kang Pardan yang masuk .....aduh kang.....pasti.....aduh....enak....sekali ya....aduhhhh ...ya kang......aduh...aduuuuuuuh...kaaaaaaaang ...... !". Murami menggeliat dan mengeratkan pelukanya di tubuh Pardan. Tangannya menggenggam kuat milik Pardan. Murami sampai, dan miliknya menjadi membasah. Pardan tak mau berhenti di milik kekasihnya. Terus dan terus menggelitik. Murami semakin menggeliat. Pardan gemas dengan tubuh kekasihnya yang terus meronta. Sementara miliknya terus dipermainkan tangan Murami yang menggenggam dan bergerak naik turun disepanjang miliknya. Pardan pun tak lagi kuat menahan. Dipeluknya tubuh kekasihnya dengan sangat erat. Diciumnya bibirnya kekasihnya yang terus merintih. Dan dengan hentakan - hentakkannya Pardan menggerak - gerakkan pantatnya. " Mur....Murami....Mi....Mi...aku cinta ...cinta pa...padamu....Miiiiiiiiiiii !" Pardan menggoyang - goyang tubuhnya . Maninya tumpah di tangan Murami.
Rembulan sudah meninggi. Sepasang kekasih saling memeluk dalam kepuasan. Udara yang dingin semakin mempererat pelukan mereka. Mereka bersatu dalam cinta. Murami merasakan kedamaian yang sangat dalam berada di pelukan Pardan yang tidak akan lama lagi menjadi suaminya. Sebaliknya Pardan sangat bahagia bisa memeluk calon isterinya yang sangat disayangi dan dicintainya.
Angin gunung semilir berhembus menebarkan wanginya rerumputan. Kerlap - kerlip ribuan kunang - kunang yang tertimpa cahaya rembulan membuat indah alam malam di gunung. Seindah cinta Murami dan Pardan. Cinta yang telah lama tumbuh dan bersemi. Cinta yang telah begitu lekat tak terpisahkan.
bersambung ke bagian dua ........
Murami tergolong cantik untuk ukuran gadis desa di lereng gunung. Murami berkulit tidak putih tetapi bersih. Murami rajin merawat kulit tubuhnya dengan ramuan kunyit, daun sirih dan minyak mawar yang dilulurkan di tubuhnya yang sedang tumbuh keremajaannya. Tidak mustahil jika tubuh Murami selalu bersih dan wangi. Rambut Murami yang panjang sampai ke punggung selalu dirawatnya dengan merang yang dibakar dan abunya dicampur kembang melati untuk keramas, maka tak ayal jika rambut Murami selalu mengembang dan wangi. Murami gadis gunung yang mengerti merawat diri. Merawat keremajaan tubuhnya. Giginya yang tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis selalu dirawatnya dengan mengunyah tebu dan berkumur dengan air rendaman buah jambe. Itulah yang menyebabkan napas Murami yang jarang mengenal sikat gigi dan dental selalu wangi dan sedap.
Pardan yang menunggu kedatangan Murami membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Di atas api unggun Pardan menggantungkan buah sukun. Tercium bau wangi dan gurih sukun bakar. Sukun bakar sangat nikmat di makan dimalam dingin sambil menikmati rembulan purnama. Buah sukun yang merekah putih, gurih akan semakin nikmat jika ada teh pahitnya dan gula kelapanya. Saat rembulan muncul Pardan dan Murami selalu menghabiskan malam dengan menikmati sukun bakar di gubuk sambil bercengkerama.
Murami meletakan tas kresek yang berisi teko teh pahit dan bungkusan gula kelapa. " Ini teh paitnya dan gula jawanya, kang. Sukunnya sudah mateng belum, kang ". Sapa Murami kepada Pardan yang sedang asyik dengan api unggun dan sukunnya. " Belum, Mi. sebentar lagi ". Jawab Pardan menoleh ke Murami sambil tersenyum. Murami yang masih berdiri di dekat Pardan yang berjongkok di dekat api juga menyambut senyuman Pardan dengan senyuman yang sangat manis di mata Pardan. Senyuman sang kekasih yang setiap hari bahkan setiap saat dirindukannya. Senyuman yang membuat hati Pardan menjadi teduh, damai dan menentramkan. Murami duduk di atas bale - bale gubuk yang beralaskan anyaman jerami. Pantatnya yang kedinginan terasa hangat menempel di anyaman jerami yang empuk. Murami menuang teh pahit panas. Dan memotong - motong gula jawa. Pardan mengangkat buah sukun bakar dan diletakkan di atas lembaran daun pisang. Daun pisang yang kena buah sukun bakar panas menebarkan uap wangi daun. Pardan dan Murami menikmati sukun bakar, teh pahit, gula kelapa. Malam purnama yang sangat menyenangkan bagi mereka berdua.
Pardan dan Murami sudah dua tahun saling menyukai, saling mencinta, saling merindukan bila saat berjauhan, dan saling sangat menyayang jika berdekatan. Mereka tidak berniat segera membeli layang. Membeli layang adalah istilah nikahan. Murami sabar tidak segera dikahi Pardan. Selain setiap hari bisa bertemu, Murami tahu Pardan tidak segera menikahinya karena menunggu rumahnya yang sedang dibangun baru setengah jadi akan segera seluruhnya jadi. Pardan ingin setelah rumah yang dibangun seratus persen jadi dan nikahan dengan Murami segera akan dilaksanakan. Mereka berdua sepakat bersabar. Toh tidak akan lama lagi mereka akan duduk di pelaminan. Pardan telah membeli kain untuk setelan jas. Murami telah membeli beberapa potong kain kebaya dan beberapa potong kain jarit. Persiapan - persiapan menuju hajadan pernikahan dari kedua belah pihak keluarga telah dilakukan. Tidak akan lebih lama dari tiga bulan mereka akan membeli layang dan duduk di pelaminan sebagai pasangan pengantin yang akan disaksikan seluruh warga di acara hajadan. Untuk membuat suasana kemeriahan hajadan nanti keluarga Murami telah menghubungi kelompok Jathilan yang akan digelar siang hari saat setelah Murami dan Pardan dinikahkan. Sedangkan kelompok kesenian Topeng Ireng akan digelar malam harinya. Suasana hajadan di keluarga Murami akan sangat meriah. Karena Pardan dan Murami hanya tetangga rumah maka di keluarga Pardan tidak menyelenggarakan keramaian. Semua keramaian hajadan dipusatkan di rumah Murami.
Malam semakin larut. Langit cerah diterangi rembulan bulat. Udara semakin dingin. Murami telah berada di pelukan Pardan. Mereka berdua telah masuk di satu kain sarung Pardan. Hanya kepala mereka saja yang tampak. Kedua tubuh telah menyatu di dalam kain sarung. Murami merasakan kehangtan tubuhnya Pardan. Murami merasan sangat tentram di pelukan Pardan. Parda sangat bahagia bisa terus memeluk kekasih yang sangat dicintainya. " Ya jangan dipeluk saja aku ta, kang. Aku diraba - raba seperti biasanya itu lho, kang ". Pinta Murami manja. Pardan tersenyum lalu menjawab permintaan Murami dengan menggerakkan tangannya menuju ke arah buah dada Murami. Murami kemudian sedikit beringsut dan agak melonggarkan pepetannya di tubuh Pardan. Murami bermaksud memudahkan tangan Pardan yang segera akan membuka kancing baju bagian dadanya dan segera menelusurkan telapak tangannya di buah dadanya. Tangan Pardan telah sampai dengan lembutnya mengelus buah dada Murami yang menggunung. Remasan - remasan lembut di buah dada dirasaka Murami begitu menyenangkan. Hangatnya tangan Pardan mampu mengusir rasa dingin di tubuhnya. Murami mendongakkan wajahnya dan merintih : " aduh.....kang..... ". Pardan mencium pipi Murami dan semakin mengeratkan pelukkannya. Miliknya yang ada di dalam celana kolor menggeliat menegang. Karena pantat Murami begitu mepet dengan selangkang Pardan, maka Murami merasakan pantatnya ada yang menyodoknya. Kembali Murami beringsut dan agak melonggarkan pantatnya di selangkangan Pardan yang disana ada sseuatu yang sudah kaku. Maksud Murami agar dia bisa menyelusupkan tangannya masuk di dalam celana kolor Pardan. Pardan juga sedikit beringsut untuk memudahkan tangan Murami sampai di miliknya yang sudah kaku. Setelah tangannya berhasil menggenggam milik Pardan Murami dengan majanya berkata : " Kang ini mlikku saja lho, kang. Jangan dikasih ke orang lain ". Berkata begitu Murami dengan gemasnya meremas - remas halus milik kekasihnya. Yang merasakan miliknya diremas, dimanjakan hanya bisa menahan napas karena enak. " Iya ..iya....Mi...itu milikmu. Nanti di malam pengantin akan kugunakan untukmu, Mi ". Kalimat Pardan diselingi napas yang tersengal karena enaknya di miliknya. Tangan Murami halus, hangat dan lembut memanjakan miliknya. " Tangan kang Pardan jangan di situ terus ta, kang. Pindah, ..masak meremas ini terus ". Kata Murami lagi - lagi dengan manjanya sambil membusungkan dadanya dan sedikit sentakan mengusir tangan Pardan agar pindah dari situ. Pardan sangat tahu maksud Murami. Murami paling senang kalau miliknya yang terjepit di selangkangan dielus - elus, ditekan - tekan dan di remas - remas halus. Maka tangan Pardan segera meluncur ke arah selangkang Murami yang telah dengan sengaja dibuka lebar oleh Murami. Tangan Pardan sampai. Menemukan gundukan kecil di dalam celana dalam. Pardan mengelusnya. Menekan - nekan dengan telapak tangannya. Rasa dimiliknya yang terus diremas Murami, menyebabkan Pardan juga sangat gemas dengan milik Murami. Disibakan celana dalam Murami dengan jari tangannya. Pardan menemukan sesuatu yang terbelah, hangat dan sedikit basah. Jari Pardan membuka belahan dan sedikit menusuk dibagian yang lembut. Murami yang dibegitukan menggeliat karena geli enak. Dan tangan Murami menjadi semakin kuat menggenggam milik pardan yang semakin mengeras dan menggelembung karena saluran telah dipenuhi mani yang mendesak - desak dan membuat miliknya terasa pegal. " Aduh ...kang .....aduh.....kang.....kang.....aaadduuuuh....." Kalimat desahan Murami melantun sambil tubuhnya terus menggeliat di pelukan Pardan. Pardan menusukkan jari tengahnya ke liang milik Murami dan menggerak - gerakkannya. Seperti biasanya kalau dibegitukan Murami tak bakalan tahan lama. Pasti akan segera merintih - rintih dan kemudian miliknya menjadi membasah. " Aduh kang .....aduuuuuuuh.....kalau ....milik kang Pardan yang masuk .....aduh kang.....pasti.....aduh....enak....sekali ya....aduhhhh ...ya kang......aduh...aduuuuuuuh...kaaaaaaaang ...... !". Murami menggeliat dan mengeratkan pelukanya di tubuh Pardan. Tangannya menggenggam kuat milik Pardan. Murami sampai, dan miliknya menjadi membasah. Pardan tak mau berhenti di milik kekasihnya. Terus dan terus menggelitik. Murami semakin menggeliat. Pardan gemas dengan tubuh kekasihnya yang terus meronta. Sementara miliknya terus dipermainkan tangan Murami yang menggenggam dan bergerak naik turun disepanjang miliknya. Pardan pun tak lagi kuat menahan. Dipeluknya tubuh kekasihnya dengan sangat erat. Diciumnya bibirnya kekasihnya yang terus merintih. Dan dengan hentakan - hentakkannya Pardan menggerak - gerakkan pantatnya. " Mur....Murami....Mi....Mi...aku cinta ...cinta pa...padamu....Miiiiiiiiiiii !" Pardan menggoyang - goyang tubuhnya . Maninya tumpah di tangan Murami.
Rembulan sudah meninggi. Sepasang kekasih saling memeluk dalam kepuasan. Udara yang dingin semakin mempererat pelukan mereka. Mereka bersatu dalam cinta. Murami merasakan kedamaian yang sangat dalam berada di pelukan Pardan yang tidak akan lama lagi menjadi suaminya. Sebaliknya Pardan sangat bahagia bisa memeluk calon isterinya yang sangat disayangi dan dicintainya.
Angin gunung semilir berhembus menebarkan wanginya rerumputan. Kerlap - kerlip ribuan kunang - kunang yang tertimpa cahaya rembulan membuat indah alam malam di gunung. Seindah cinta Murami dan Pardan. Cinta yang telah lama tumbuh dan bersemi. Cinta yang telah begitu lekat tak terpisahkan.
bersambung ke bagian dua ........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar