Selasa, 15 November 2011

Bau Lawean

cerita dewasa edohaput

Bau Lawean 

                                                                                            edohaput


Bagian empat

     Memenuhi permintaan Murami, dalam dua hari Damijan telah menyelesaikan bangunan gubuknya di sawah. Murami ingin menikmati pacarannya di gubuk, seperti ketika berpacaran dengan Pardan. Damijan menuruti dan memenuhi permintaan Murami. Gubuk di sawah yang dibuat Damijan lebih baik dari gubuk yang dibuat Pardan. Pardan membuat gubuk dengan tujuan untuk istirahat ketika lelah bekerja di sawah. Sementara Damijan membuat gubuk dengan tujuan untuk menikmati pertemuannya dengan Murami. Dengan demikian Damijan melengkapi gubuk dengan kasur ijuk, dan gubuk dibuat lebih dari sekedar gubuk. Gubuk dilengkapi dengan pintu sehingga tidak terbuka seperti gubuk yang dibuat Pardan. Gubuk lebih rapat, dan kuat. Atap gubuk yang dibuat Pardan dibuat dari jerami yang dianyam. Gubuk Damijan beratapkan genting. Gubuk yang dibuat Pardan berangka bambu dan Damijan membuatnya  dengan rangka kayu. 
     Murami pulang dari pasar kecamatan yang jauhnya dari desa  dua puluh lima kilometer. Pardan sengaja menunggu Murami di perempatan jalan desa. " Capai ya, Mi ". Sambut Pardan sambil menerima barang bawaan yang diansurkan Murami ke Damijan agar dibantu membawakan. " Ya capai banget ta, kang. Ini tadi tak ada mobil tumpangan, kang. Jadi dari pasar naik andong. Turun di pasar desa terus jalan kaki , kang ". Murami berceritera. Dari dusun ke pasar desa atau pun ke pasar kecamatan jarang sekali ada kendaraan angkutan. Yang ada hanya ojek, dan andong dan itupun harus dicarter. Kadang - kadang pada ketika hari - hari pasaran ada kendaran bak terbuka pengangkut sayuran turun naik ke desa dari pasar kecamatan. Kendaraan angkutan itulah yang sering dimanfaatkan orang desa dimana Murami tinggal untuk ke pasar kecamatan.  " Ya sudah nanti tak pijeti. Tu gubuknya sudah jadi. Nanti tak pijeti di gubuk ya, Mi ". Damijan menggoda Murami. Yang digoda hanya melirik yang menggoda dan tersenyum cantik sekali. 
      Malam mulai merangkak. Damijan sudah berada di gubuk menunggu kedatangan Murami. Rembulan separo menggantung di atas gunung. Angin malam bertiup perlahan dan hanya bisa sedikit menggoyang - goyangkan pohon jagung manis yang ditanam Damijan. Jagung bakar yang baru saja diangkat dari  api diletakkan Damijan di atas daun jati dan dibawa masuk ke gubuk. Kemudian Damijan menjerang air di atas tungku yang dibuat dari batu - batu yang ditata di samping gubuk. Api kayu bakar yang menyala menerangi gubuk. Terangnya api dilihat Murami dari kejauhan. Murami yang tahu kalau Damijan telah menunggu di gubuk berjalan agak bergegas melewati pematang yang sengaja oleh Damijan telah dibersihkan dari rerumputan. Damijan ingin Murami melawati pematang dengan nyaman. Tidak harus terserimpet rerumputan. Pematang yang bersih dari rumput dijauhi serangga, katak dan ular. Damijan ingin Murami berjalan di pematang tanpa rasa takut - takut. Damijan tidak ingin kaki Murami kena duri perdu putri malu yang banyak tumbuh di pematang yang tidak dipelihara. Damijan tidak ingin ada yang melukai Murami. 
     " Baunya jagung bakar sedep banget lho, kang ". Kata Murami setelah sampai di gubuk dan berdiri di belakang Damijan yang sedang berjongkok membenahi kayu bakar agar menyala besar untuk mendidihkan air. " Tu jagung bakarnya di dalam gubuk. Makan saja, ini airnya segera mendidih nanti tak buatkan teh " Jawab Damijan sambil menoleh ke Murami yang tersenyum manis sekali. Murami masuk ke gubuk yang di dalam diterangi lampu minyak yang menyala terang. Murami duduk dan merasakan empuknya kasur ijuk yang di pasang Damijan. " Kasurnya empuk tenan, kang !" Kata Murami manja dari dalam gubuk. Damijan tidak menanggapi komentar Murami. Ia segera mengangkat cerek dari atas tungku  dan dibawa masuk ke gubuk untuk membuat teh. " Ni, kang. Aku bawakan onde - onde oleh - oleh dari pasar tadi ". Kata Murami sambil membuka bungkusan yang berisi onde - onde. Damijan yang sejak dari kedatangan  Murami tidak begitu memperhatikan Murami, sangat terkesima setelah melihat Murami di dalam gubuk yang terang. Murami sudah melepas kain jaritnya yang tadi membalut tubuhnya bagian atas untuk menahan dininginnya udara gunung. Sehingga Damijan bisa melihat Murami yang memakai kain yang berbahan tipis transparan warna cerah. Murami yang tidak mengenakan kutang begitu terlihat payudaranya yang ada di dalam kain tipisnya. Dua buah dada yang menggunung yang mendorong maju kainnya. Damijan menjadi lupa akan keadaan. Ia menatap agak lama dada Murami. Pikirannya melayang. Ingin rasanya Damijan menutupi payudara itu agar tidak terlihat jelas. Ingin rasanya Damijan menutupkan kain jarik di pundak Murami agar buah dada itu tidak kedinginan. Damijan tidak ingin payudara Murami yang sangat indah di matanya itu dilihat semut - semut yang berbaris di tiang gubuk. Damijan ingin payudara itu hanya dia yang boleh melihatnya. Jangan ada makhluk lain ikut - ikut menikmati pemandangan yang sangat indah ini. " Kenapa kang, ada yang aneh ? " Tanya Murami yang menyadarkan Damijan dari lamunannya. Damijan gelagapan, tidak menjawab kalimat Murami, dan segera membuat teh. 
     Murami menikmati jagung bakar, Damijan menikmati onde - onde sambil sesekali menyerutup teh panas manis. " Mi, besuk Sabtu depan keluargaku akan datang melamarmu ? Gimana Mi, kamu siap ? " Kalimat Damijan memecah kesunyian di dalam gubuk yang sedari tadi hanya terdengar air teh diserutup dan jagung bakar dan onde - onde di kunyah. Yang ditanya begitu hanya tersenyum dan membusungkan dadanya karena jagung bakar yang telah menumpuk di mulut sulit ditelan karena mendengar kalimat yang begitu menyenangkan. Murami yang membusungkan dadanya karena terasa sesak di dada dilihat Damijan begitu cantiknya. Mukanya memerah, matanya terbelalak, mulutnya yang penuh jagung bakar tersenyum, dan payudaranya terangkat. Damijan menjadi melihat puting susu yang begitu mendorong kain tipis Murami. Puting susu yang kecil memerah. " Gimana, Mi ? Kamu siap ? ". Sekali lagi Murami tidak menjawab. Ia berusaha menelan jagung bakar yang di mulut. Dan kemudian menyerutup teh. Murami menatap mata Damijan yang begitu teduh dan mengharapkan jawaban ya dari dirinya. Kembali Murami tersenyum dan dari sudut matanya mengalir air matanya. Air mata kebahagian. Kemudian Murami menunduk. Air matanya meleleh di pipinya yang ranum memerah. Air mata yang tiba - tiba deras mengalir. Ada perasaan yang bahagia di hati Murami. Tetapi ada juga perasaan sedih ketika Murami ingat Pardan yang beberapa bulan yang lalu pernah juga mengucapkan kalimat serupa di dalam gubuknya. Melihat Murami begitu Damijan begitu trenyuh. Rasa sayangnya pada Murami menjadi - jadi. Rasa cintanya begitu menggelembung. Damijan beringut duduknya mendekati Murami yang tertunduk dan sedikit terisak. Damijan kemudian memeluk tubuh Murami. Dab mengusap air mata Murami dengan kain sarungnya. Murami terkulai di pelukan Damijan. Persaannya begitu damai. Begitu tenteram di pelukan lelaki yang menyintainya. " Mi ..... ". Damijan membisikan nama Murami dengan lembut di telinga Murami. Hangatnya napas Damijan dirasakan daun telinga Murami, menjadi tubuh Murami merinding nikmat. Murami mendongakkan wajah dan matanya yang basah menatap mata Damijan. Sorot mata Damijan yang begitu menenteramkan kalbunya. " Murami .... aku cinta padamu ... ".  Kalimat Damijan meluncur menambah sejuknya hati. " Kang .... aku sangat bahagia ...kang... ". Kalimat Murami yang diterjemahkan oleh Damijan sebagai tanda setuju dan siap dilamar membuat Damijan sangat berbesar hati. Maka dengan tanpa ragu - ragu segera diciumnya bibir Murami dengan penuh perasaan sayang dan perasaan cinta. Murami sangat menikmati ciuman Damijan yang dilakukan dengan lembut penuh dengan perasaan. Ingin rasanya Murami berlama - lama berciuman. Ciuman yang nikmatnya mengalir keseluruh bagian tubuhnya. Nikmatnya dirasakan pula di tengkuknya yang menyebabkan bulu romanya berdiri, di payudaranya  yang menyebabkan puting susunya menjadi kaku, bahkan dirasakannya pula di kemaluannya yang serasa bibirnya jadi membuka - buka dan di dalam kemaluannya ada yang bergetar - getar. Murami menjadi begitu terangsangnya birahinya. Murami menarik bibirnya dari mulut Damijan yang terus mengulum dan menyedot - nyedot serta menjulur - njulurkan lidahnya. " Kang aku jadi dipijeti endak kang ? " Berkata begitu Murami sambil tersenyum lebar dan sedikit keluar suara tawanya. Kalimat Murami yang ceria ini tiba - tiba mencairkan kesyahduan yang sempat mengental. Damijan tertawa juga karena ia ingat tadi siang berjanji mau mijeti Murami. Suasana menjadi sangat mencair. " Ya sudah ayo aku pijeti. Sini tengkurep !" Perintah Damijan yang juga terus diikuti dengan tengkurepnya Murami di depan Damijan duduk. Damijan begitu mengagumi pantat Murami yang menyembul. Dan celana dalamnya begitu kentara terlihat di balik kain tipis yang dikenakan Murami. Damijan memijat - mijat pantat Murami. " Lho kok pantat, kang yang dipijet ? " Kata Murami sambi tertawa. " Lho yang persis di depanku kan pantatmu, Mi " Jawab Damijan sambil tertawa. " Ya kaki dulu ta, kang. Baru nanti naik - naik ke pantat ". Kata Murami sambil tertawa juga. Damijan mulai memijit kaki Murami. Setiap ketemu otot yang kaku Damijan memijitnya agak keras. Murami mengaduh dan menggelinjang menyebabkan kain yang dikenakan Murami tersingkap - singkap dan menyebabkan juga pahanya menjadi sangat terbuka. Damijan mengelus elus paha Murami. Murami terangsang. Kemudian membalikkan tubuhnya jadi terlentang di depan Damijan duduk. " Sekarang yang depan, kang ". Pinta Murami manja. Kembali Damijan memijit kaki Murami. Naik, naik, naik ahkirnya sampai ke paha Murami. Tak urung tangan Damijan menyentuh - nyentuh kemaluan Murami yang ada dibalik celana dalamnya. Murami merasakan nikmat. Tubuhnya menggelinjang setiap kali telapak tangan Damijan menekan kemaluannya. Murami terus menggelinjang dan mendesah. Dadanya terangkat - angkat membuat buah dadanya semakin menyembul. Mulutnya mendesah desah dan terbuka basah. Melihat ini Damijan tidak tahan. Damijan segera membungkuk dan menempelkan bibirnya di bibir Murami.  Mereka berpagut penuh dengan gairah birahi bercinta. Damijan terus mencium bibir Murami. Sementara itu jari tangannya telah menelusup ke dalam celana dalam Murami dan menemukan kemaluan Murami yang menggunung kecil. Damijan menusukkan jarinya di liang senggama kemaluan Murami yang sempit dan digerak - gerakkan. Murami terus menggelinjang. Bibir Damijan terus bergerak ke telinga Murami, ke leher, bahkan ke payudara Murami. Tangan Murami yang sudah berada di dalam sarung dan merogoh burung yang sudah membesar menggelembung kaku. Murami mempermainkannya. Murami ingin burung Damijan di tusukkan di selangkangannya. Murami ingin Burung Damijan ada di dalam kemaluannya. Dan menyodok - nyodoknya. Murami yang baru merasakan jari saja nikmatnya bukan kepalang apalagi kalau yang masuk itu burung Damijan pasti nikmat luar biasa. Murami berkelenjotan. Kakinya mengejang dan bergetar. Jari Damijan yang yang ada di dalam kemaluan Murami merasakan kejepit - jepit dan ada yang bergetar - getar. Dan sesaat kemudian kemaluan Murami sangat basah diiringi dengan kaki Murami yang menendang - nendang karena kenikmatannya di kemaluan. " Kang aku sudah kang ....kang ...aku sudah...aduh kang geli banget ... ". Damijan yang merasakan burungnya siap menumpahkan mani terus menciumi Murami dan jarinya semakin gencar saja mengilik kemaluan kekasihnya. Dan tiba - tiba Damijan mengejang dan melenguh. " Mi ..... kapan ....Mi.....aduh .....Miiiiiiiiiii ...!!" Damijan memuntahkan maninya di tangan Murami.  Murami sangat bahagia melihat kekasihnya memeluknya dengan penuh nikmat. Tak urung karena juga kemaluannya terus diserang jari Damijan Murami lagi - lagi orgasme. " Kang ... cepat ...lamar ....aku ....aduh....kaaaaaaaangggg !" Kembali tubuh Murami mengejang merasakan kenikmatan di kemaluannya.

                        bersambung ke bagian lima ...................                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar