Minggu, 06 November 2011

Bau Lawean

cerita dewasa edohaput

Bau Lawean 

                                                                                             edohaput

Bagian tiga 

     Malam itu telah larut. Sepulang dari berpergian Pardan jatuh lemas di teras rumahnnya. Suara ambruknya tubuh Pardan yang menjatuhi tumpukan kayu di teras rumah di dengar Pardin adik Pardan. Pardin bergegas keluar rumah dan mendapati tubuh Pardan terkulai di tumpukan kayu bakar. Pardin segera membangunkan seisi rumah dan bersama - sama menggotong tubuh Pardan untuk dibawa masuk ke rumah. Pardan ditidurkan di tempat tidurnya. Seisi rumah malam itu gaduh. Pardan tidak bisa bicara. Tubuhnya lemas. Sorot matanya kosong. Napasnya satu - satu seperti akan terputus. Kegaduhan di rumah Pardan membangunkan para tetangga termasuk Murami. Murami datang tergopoh - gopoh dan langsung menggoyang - goyang tubuh Pardan yang tidak bergerak dengan mulut yang bergetar. " Kena apa, kang ? Kang Pardan napa, kang ? Ada apa ta, kang ? Bicara, kang ? Omong, kang ! " Murami kebingungan. Pardan hanya bisa menggerakkan manik matanya dan memandang Murami. Kemudian dari kedua matanya melelehkan air mata. Bibirnya  bergerak - gerak, tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Pardan ingin berkata - kata. Tetapi tidak ada kekuatan untuk bersuara. Yang dirasakan Pardan sudah tidak lagi memiliki daya. Semuanya lemah. Pikiran Pardan masih waras, tetapi tenaganya semuanya hilang. Pardan ingin berteriak minta tolong. Pardan ingin berkata - kata. Pardan ingin mengungkapkan sesuatu yang menyebabkan dirinya begini. Tetapi daya tidak ada. Bahkan pandangannya semakin kabur. Murami yang didekatnya yang tadi sempat diliriknya semakin tidak terlihat oleh matanya. Kesadaran Pardan-pun semakin hilang.
     Para tetangga yang datang melihat Pardan pada keheranan. Tubuh Pardan begitu pucat. Pardan yang biasanya kulitnya memerah, kini terlihat pucat pasi seolah tanpa darah. Dan semakin lama semakin membiru. Orang - orang yang mencoba menolong Pardan merasakan tubuh Pardan sangat dingin. Mereka ada yang menyiapkan arang dibakar untuk menghangatkan tubuh Pardan. Ada yang mengompres kaki Pardan dengan air panas. Ada yang berusaha meminumkan air hangat ke mulut Pardan. Pardan tidak bereaksi. Napas Pardan semakin lambat. Murami yang tetap di dekat tubuh Pardan dan berteriak - teriak : " Kang, sadar kang ! Sadar ! Kang omong, kang ! Eling, kang.......eling.....! " Murami terus berteriak - teriak di telinga Pardan. Pardan tidak lagi mendengar suara Murami. Napasnya semakin sulit. Dan tiba - tiba kepala Pardan terkulai dan napasnya berhenti. Murami menjerit : " Kang ......jangan.....kang .....kaaaaaang..... kang.... Pardan.......!" Murami memeluk tubuh Pardan. Tubuh calon suaminya yang sangat dicintainya. Murami menjerit - njerit menangisi tubuh Pardan yang telah tidak bernyawa.
     Kematian Pardan yang begitu mendadak menjadi tanya besar bagi para tetangganya. Pardan yang sehari sebelumnya sehat segar bugar. Pardan yang tidak pernah terdengar mengidap penyakit. Pardan yang tidak suka aneh - aneh, tiba - tiba meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga hanya bisa kebingungan dan saling bertanya - tanya. Saling menerka. Mereka hanya bisa menghubung - hubungkan dengan kejadian - kejadian dan kegiatan - kegiatan Pardan pada ahkir - ahkir menjelang kematiannya. Namun warga tidak bisa menemukan alasan mengapa Pardan begitu mendadak meninggal.  Pardan yang sudah menyelesaikan pembangunan rumah barunya. Pardan yang tinggal sebulan lagi naik ke pelaminan mempersunting Murami.
     Warga sangat menyesalkan meninggalnya Pardan. Pardan dikenal sebagai pemuda dusun yang baik hati. Pardan yang suka menolong. Pemuda yang trampil dan trengginas dalam bekerja. Anak muda yang tidak suka  berbuat aneh - aneh. Remaja dusun yang lugu, yang tekun menggarap sawah ladangnya. Pardan yang selalu tampil di depan ketika dusun sedang punya kerja. Pardan yang telah berhasil memimpin teman - temanya membangun bendungan untuk mengairi sawah - sawah. Warga merasakan sangat kehilangan dengan meninggalnya Pardan. Warga hanya bisa menyesalkan kematian Pardan, tanpa bisa menemukan jawaban penyebab meninggalnya Pardan. Ahkirnya warga hanya bisa ngawur dengan menyimpulkan kematian Pardan karena sakit jantung atau karena angin duduk.
     Warga hanya bisa menduga malam itu Pardan pulang dari sawah mungkin sedang menengok padinya yang sudah menguning. Atau Pardan malam itu seperti biasanya mencari belut di kali. Karena kedinginan Pardan terkena angin duduk. Dan kesimpulan warga atas kematian Pardan itu ahkirnya menyebabkan warga tenang tak banyak lagi menduga yang aneh - aneh. Dan kesimpulan itu juga membuat keluarga Pardan menjadi iklas dan tak banyak mempersoalkan kematiannya. Dusun segera bisa melupakan kematian Pardan.
    
**
     Sebulan lamanya Murami mengurung diri di rumah. Selama sebulan pula Murami tidak menampakkan batang hidungnya di luar rumah. Murami tidak pergi ke sawah. Murami enggan bekerja. Murami lewatkan kesedihannya dengan hanya tidur dan bermalas - malas di rumah. Hasrat hidupnya tak lagi menyala. Harinya hanya diisi dengan meratapi nasibnya yang tidak menyenangkan. Selama sebulan pula Murami tidak menikmati indahnya alam pegunungan yang selalu berkabut di pagi hari, di siang hari penuh celoteh bocah bermain kejar - kejaran,  bahkan di malam hari ketika rembulan sangat indah menggantung di atas gunung. 
     Dusun ada kegiatan pesta paska panen. Pada paska panen inilah dusun mengadakan keramaian sehari semalam. Di siang hari diadakan tumpengan di sawah. Semua warga tanpa kecuali datang ke sawah yang sudah ditentukan untuk berdoa dan berterima kasih ke pada Tuhan atas panen yang berlimpah dan kemudian makan bersama. Di malam harinya diadakan kesenian tayuban. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga terutama para pemuda dan pemudinya. Di saat itulah Murami terpaksa harus keluar rumah,  bersama dengan para perawan dusun lainnya membantu mempersiapkan kegiatan keramaian. Murami merasa terhibur setelah kembali berkumpul dan bercengkerama dengan teman - teman remajanya di dusun. Murami bisa kembali tertawa. Murami beransur bisa melupakan Pardan. 
     Gamelan kesenian Tayub menggema. Dengan jaket tebal karena udara begitu dingin Murami mendatangi tempat keramaian. Ia mendapat jatah mengurusi jamuan makan bagi para tamu undangan seperti pak Lurah, para kepala dusun dan para tokoh masyasarakat yang malam itu hadir ikut menyaksikan Tayub. Malam itu Murami tak lepas dari tatapan mata Damijan yang malam itu menjadi pemimpin para pemuda dan pemudi untuk menyelenggarakan keramaian. Murami ceria dan lincah bersama perawan - perawan lainnya mengerjakan tugasnya. Hanya saja ketika Pardin lewat di depannya, Murami menjadi sekilas ingat Pardan. Namun ingatannya pada Pardan segera hilang ketika guroan teman - temannya memaksa dirinya untuk ikut nimbrung bercengkerama.
     Tayub usai. Malam telah larut. Damijan menawarkan jasa mengantar Murami pulang. Murami menyambut tawaran Damijan. Mereka berjalan melewati jalan yang hanya diterangi lampu panjeran di masing - masing rumah yang rata - rata hanya lima wath. Jalanan sepi, karena warga bubar dan pulang mendahului para remaja yang menjadi panitya kegiatan.  Damijan menggandeng tangan Murami. Yang di gandeng juga erat memegangi tangan Damijan. Hati Damijan berbunga - bunga. Sangat bahagia. Damijan merasakan ada gayung bersambut. Belum pernah sebelumnya Damijan menyentuh tangan Murami sejak mereka dewasa. Rasa cinta dan sayang Damijan kepada Murami mendadak sontak menjadi begitu sangat besar. Damijan membimbing Murami di jalan berbatu yang licin. Damijan merangkul Murami sampai di depan rumah Murami. Mereka berhenti di depan rumah Murami. Udara begitu dingin. " Mi.... aku sangat mencintaimu, Mi ...." Kalimat Damijan begitu berat dan bergetar. Murami membalikkan badan dan memeluk Damijan. Matanya menatap mata Damijan. " Sungguh, kang ? " Murami terus menatap mata Damijan. Damijan ditatap begitu hatinya sungguh trenyuh. " Mi ..... sudah sangat lama aku ingin seperti ini bersamamu. Bukankah aku dulu pernah juga menyatakan cintaku kepadamu, Mi ?"   Berkata begitu kedua tangan Damijan sambil memeluk Murami. Murami menempelkan wajah di dada bidang Damijan. Ada perasaan tenteram di hati Murami. Kesedihannya ditinggal Pardan tertindih oleh rasa bahagia di pelukan Damijan. " Kang .... " Wajah Murami mendongak dan mulutnya tak bisa meneruskan kalimatnya karena keburu dicium Damijan. Murami menikmati hangatnya bibir Damijan. Murami merasakan buah dadanya tergencet dada Damijan yang hangat. Murami menikmati buah dadanya yang tergencet karena Damijan memeluk Murami begitu ketat. Ciuman Damijan semakin menjadi ketika Murami membalas ciuman Damijan dengan menjulurkan lidahnya. Murami merasakan juga tepat di depan pusarnya ada tonjolan yang besar dan kaku yang berasal dari dalam celana Damijan. Murami menjadi nakal. Perutnya digesek - gesekkan tepat dimana ada tonjolan yang kaku. Damijan merasakan kenikmatan di burungnya yang masih di dalam celana karena gesekkan dan gerak perut Murami. Damijan Mengendorkan Pelukan dan tangannya nekat masuk ke dalam rok Murami yang longgar. Damijan langsung ke selangkangan dan menemukan gundukan kecil di dalam celana dalam. Murami melepas ciuman dan : " Kang ...... ". Kalimatnya kembali tak bisa diteruskan karena lagi - lagi Damijan menyerang mulutnya dengan bibir. Tangan Damijan telah berhasil mengelus - elus kemaluan Murami. Karena dijalari rasa nikmat di kemaluannya yang terus dielus dan di tekan - tekan oleh Damijan, maka Murami memepetkan perutnya ke burung Damijan. Damijan yang sejak jadi perjaka baru pertama kali memeluk, mencium perempuan, apalagi yang sedang dipeluknya adalah perempuan yang dirindukannya, maka Damijan tak kuat menahan gejolak dan berontak burungnya. Damijan merasakan burungnya begitu enak, nikmat tak tertahankan. Murami kembali menjauhkan bibirnya dari bibir Damijan dan mendesah karena nikmat di kemaluannya. " Aduuuuuh....kang ....kang.... "  Murami menggoyang - goyangkan pantatnya dan terus menekan burung Damijan dengan perutnya. Tangan Damijan yang di kemaluan Murami merasakan kebasahan Murami. Damijan tahu kalau Murami menikmati. Maka Damijan menjadi nekat. Perut Murami yang menggesek - gesek kelelakiannya dibarengi oleh Damijan dengan semakin menekankan burungnya di perut Murami. Dan Damijan tak kuat menahan muntahnya mani. " Mi ....aku cinta ..... cin...ta.. pada...padumu ......Miiiiiii .... !" Damijan memeluk Murami sangat erat dan maninya tumpuh ruah di dalam celana.
     Angin bertiup dari lembah dan membuat pohon - pohon bergoyang - goyang. Damijan meninggalkan Murami yang telah memperoleh pintu dari maknya. Damijan sangat bahagia. Yang dirindukannya kini telah dekat dengannya. Yang dicintainya kini telah pernah dipeluknya, diciumnya, bahkan dicumbunya. Yang ingin disayangnya telah dapat dielus rambutnya. Damijan sangat bahagia. Rasanya Damijan malam itu tak ingin meninggalkan Murami. Ingin terus memeluknya. Menyayangnya. Dan menatap wajahnya yang selalu membayang dan menggangggu tidurnya. Hati Damijan sangat bahagia. Dalam pikirannya segera akan melamar Murami. Murami harus menjadi isteriny

bersambung kebagian empat .........................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar