Bau Lawean
edohaput
Bagian Enam
Mendengar penuturan Murami tentang perlakuan Pardin terhadap dirinya malam itu digubuk Pardan, Damijan sangat marah. Namun kemarahan dipendamnya dalam - dalam. Damijan tidak ingin kemarahannya di ketahui Murami. Malahan dengan lembut Damijan menenteramkan hati Murami yang sangat gundah. Murami sangat menyesal mengapa malam itu ia menuruti kemauan Pardin. Murami takut merahasiakan kejadian malam itu terhadap Damijan. Murami takut apabila satu saat Damijan tahu peristiwa itu tidak dari mulutnya. Bisa - bisa Damijan mengira dirinya mengkhianati cintanya. Apapun resikonya Murami harus menceritakan kejadian malam itu kepada Damijan secara jujur. " Sudahlah, Mi itu bukan salahmu. Aku tahu kok, kalau kamu tetap mencintai aku. Sudahlah anggap itu tak pernah ada. Tak pernah terjadi. Jangan diingat - ingat. Yang penting kau dan aku tetap saling mencinta ". Kalimat - kalimat Damijan yang lembut sangat menenteramkan hati Murami. " Kang Damijan tidak marah kan, kang ?" Tanya Murami sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Damijan. Damijan mengelus rambut Murami dan mencium rambut Murami yang wangi karena habis dikeramas dengan abu merang dan kembang melati. " Buat apa aku marah, Mi ? Tidak ada gunanya kan ?" Damijan berbohong. Yang sebenarnya Damijan amat marah. Kekasihnya yang ia cintai dan sayangi dijamah - jamah. Pardin yang sudah mengerti kalau sekarang Murami adalah kekasih hatinya, dengan berbuat begitu berarti Pardin telah menantang keberadaannya sebagai laki - laki. Di mata Damijan, Pardin adalah orang yang patut tidak dikasihani. Di pikiran Damijan, Pardin bukan orang yang memiliki sopan santun berteman. Pardin telah melanggar tatakrama persahabatnya dengan dirinya. Sangat tidak patut Pardin melakukan itu. Apalagi Pardin telah berkata - kata yang sangat tidak pantas di depan Murami. Pardin telah mengatakan kalau dirinya adalah pembunuh Pardan. Pardin telah begitu tega merendahkan dirinya di depan Murami. Murami yang ada dipelukan Damijan dan sedang dielus - elus rambutnya, mendongakkan wajahnya. Damijan melihat air mata Murami mengalir. " Kenapa kamu menangis, Mi ?" Kata Damijan sambil mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya tangan kanannya . " Aku takut, kang. Aku takut kehilangan kang Damijan. Segara lamar aku, kang. Dan kita segera membeli layang ". Mendengar kalimat Murami ini Damijan tidak menjawab. Damijan memberikan senyuman dan menggangguk yang membuat hati Murami sangat berbahagia. Jari telunjuk Damijan yang tadi mengusap air mata Murami kini berada di bawah dagu Murami dan dengam lembut mengangkat dagu Murami. Yang dagu diangkat menurut dan membuka bibir basahnya, karena Murami tahu Damijan akan mencium bibirnya. Damijan yang disediakan bibir merekah merah basah dengan lembut menyambutnya dengan bibirnya. Mereka berpagut dengan penuh kemesraan. Ciuman saling mencinta. Ciuman sayang dari kedua belah pihak. Murami merasakan kehangat bibir Damijan yang tidak lama kemudian sudah menikmati tambahan kenikmatan ketika lidah Damijan masuk di mulutnya dan menjulur menggelitik langit - langit mulutnya. Rasa geli nikmat di langit - langit mulutnya mengalir keseluruh bagian tubuhnya. Kulit murami menjadi merinding. Rasa geli yang membangkitkan gairah cinta mengalir sampai di kemaluannya. Murami merapat - rapatkan pahanya karena terasa ada yang mau menetes dari kemaluannya yang terasa nikmat. Damijan melepaskan ciumannya di bibir Murami. Dan mendekap tubuh Murami kuat - kuat serasa tak ingin dilepaskan. Murami yang sedang enak - enaknya menikmati ciuman Damijan marah manja ciuman Damijan dilepas. Murami mencubiti punggung Damijan yang dipeluknya. Damijan tahu itu. Kemudian tertawa. " Sebentar sayang, .... nanti aku cium lagi ... " Damijan menggoda Murami. Bibir Murami tetap menganga merekah basah menunggu Damijan menciumnya lagi. Damijan tidak segera mencium lagi Murami. Malah menatap mata Murami penuh cinta dan sayang sambil tersenyum. Murami yang tetap membuka mulutnya menyediakan bibirnya untuk dicium jadi berganti memberengut dan memukuli manja dada Damijan dengan kepalan tangan kecilnya. Damijan kembali tertawa. Murami semakin memberengut manja. Dan Wajahnya ditundukkan. Rasa sayang Damijan bertambah - tambah apabila Murami sedang marah manja. " Sini aka cium lagi " Kata Damijan sambil mengangkat dagu Murami. Murami pura - pura tidak mau. Damijan kemudian mengelus punggung Murami dan tangan Damijan menyelusup masuk ke kain yang melekat di punggung Murami melalui celah bukaan baju bagian belakang. Damijan terus mengelus. Kehangat di punggung dirasakan Murami. Elusan tangan Damijan membuat kulit tubuhnya lagi - lagi merinding. Murami melenguh karena geli merinding dan mukanya kembali mendongak ke wajah Damijan. Bibirnya kembali disediakan untuk dicium. Damijan kembali menggoda Murami dengan tidak segera menempelkan bibirnya di bibir Murami yang telah terbuka. Kembali Murami marah manja dengan mencubiti punggung Damijan. Damijan semakin menggoda Murami. Elusan tangannya merambat ke bawah ke pantat Murami. Disana tangan Damijan meremas - remas halus pantat Murami. Yang dielus dan diremas pantatnya menjadi semakin merinding. Murami megangkat sedikit pantatnya dengan maksud tangan Damijan segera berada di bawah pantatnya dan menyentuh kemaluannya. Tetapi Damijan tak segera melakukannya. Kembali Murami mencubiti punggung Damijan. Damijan tahu kalau Murami mengharap kemaluannya segera disentuh. Lagi - lagi Damijan menggoda. Tangan Damijan tidak segera merayap ke bawah pantat Murami walaupun Murami sudah mengangkat - angkat pantatnya untuk memberi peluang. Murami menjadi sangat gemas. Kedua tangannya yang mendekap punggung Damijan segera beralih ke tengkuk Damijan dan menurunkan kepala dan wajah Damijan menjadi sangat dekat dengan wajahnya dan bibir Damijan menempel di bibirnya. Dengan gemasnya pula Murami menyambut bibir Damijan dengan bibirnya yang langsung melumat bibir Damijan. Dalam hati kasihan juga Damijan kepada Murami yang tadi telah memutus kenikmatan Murami. Lumatan bibir Murami dibalasnya dengan ciuman yang penuh sayang. Kembali langit - langit mulut Murami dirambah - rambah dan digelitik dengan lidahnya. Dan tangan Damijan yang sedari tadi hanya meremas - remas pantat, telah memanfaatkan peluang yang diberikan Murami dengan sedikit mengangkat pantatnya. Tangan Damijan telah berada di kemaluan Murami. Murami menggelinjang ketika kemaluannya telah dielus - elus Damijan dan bibir kemaluannya telah disibak - sibakkan oleh jari - jari Damijan untuk ditemukan liang senggamanya. Jari Damijan berhasil menemukan liang senggama Murami yang sempit. Disana Jari Damijan menggelitik. Mencarai - cari yang biasanya kalau itu tersentuh jarinya Murami lalu melenguh dan menggelinjang hebat. Dan Damijan rupanya menemukannya. Murami melenguh dengan tetap bibirnya di tutup oleh bibir Damijan. Murami kembali menggelinjang dan matanya sebentar merapat sebentar terbeliak ketika jari Damijan telah bertemu dengan yang diinginkannya. Murami medekap sangat serat tubuh Damijan dan kemaluannya menjadi sangat membasah. Murami orgasme. Damijan tahu itu. Sementara itu burung Damijan yang telah sangat membesar dan sangat kaku disodok - sodok ke paha Murami. Murami tahu kalau Damijan sudah begitu ingin burungnya dipeganggnya dan dikocoknya. Murami balas dendam. Murami menggoda Damijan dengan tidak segera memegangi burung Damijan. Damijan terus menyodokkan burungnya dan ciuman dibibirnya semakin ganas saja. Tetapi Murami sengaja membiarkan burung Damijan disodok - sodokan ke pahanya. Murami merasakan kemaluannya diremas Damijan dengan sedikit kuat. Murami tahu Damijan sedang memerintahnya untuk segera menggenggam burungnya. Murami terus menggoda Damijan dengan tidak segera tangannya ke burung Damijan. Damijan yang burung tidak segera di pegang Murami kelabakan. Dalam hati Murami tersenyum geli kekasihnya kelabakan. Dan Murami merasa senang bisa membalas Damijan yang tadi sempat pula menggodanya. Damijan yang semakin kelabakan segera merebahkan tubuh Murami dan segera ditindihnya. Dan tangan Damijan dengan sigap memelorotkan celana kolornya sendiri dan burungnya mencuat keluar. Murami yang menjadi rebah terlentang segera membuka selangkangannya dengan membuka kedua pahanya. Murami yang juga sudah kembali dirambati lagi gairah cintanya yang sempat tadi telah sekali sampai ke puncak menyediakan kemaluannya untuk burung Damijan. Damijan yang sudah diatas tubuh Murami menempelkan burungnya di kemaluan Murami dari luar celana dalam dan menekan - nekannya. Kehangatan basahnya kemaluan Murami dirasakan ujung burung Damijan. Murami menggoyang - goyangkan pantatnya dengan maksud agar burung Damijan terpeleset di celana dalamnya dan menusuk kemaluannya. Damijan tahu maksud Murami. Tetapi Damijan tidak mau melakukannya. Kemaluan Murami akan ditusuknya nanti di malam pengantin. Maka dengan kakinya Damijan segera merapatkan paha Murami. Dengan demikian maka burung Damijan terjepit oleh paha Murami tetapi masih bisa menyentuh permukaan kemaluan Murami ketika burungnya disodokkan. Damijan merasakan jepitan paha hangat Murami sungguh nikmat. Burung menjadi semakin membengkak dan serasa mau meledak. Mani menumpuk membuat burung berkedut - kedut untuk segera memuntahkan cairan kenikmatannya. Murami yang merasakan geli di pahanya yang tergesek oleh burung Damijan yang bergerak naik turun semakin mengangkat - angkat pantatnya agar permukaan kemaluannya bisa terus tersodok ujung burung Damijan. Kemaluan Murami merasakan sangat enak ketika burung Damijan menyodoknya. Murami merasakan kemaluannya begitu pegal meradang seolah ada yang mau pecah. Begitu Juga Damijan yang burung terjepit paha dan menyentuh - nyentuh celana dalam Murami tepat di permukaan kemluan Murami yang basah, semakin tidak tahan. Burungnya digerakkan semakin cepat dan semakin kuat. Dan Damijan mengejang sambil menekankan kuat - kuat burung dijepitan paha. Dan maninya muncrat meleleh - leleh di permukaan kemaluan Murami yang masih teralasi celana dalam. Kuat sekali Damijan mendekap tubuh Murami karena kenikmatannya tak terperikan. Sementara itu Murami celana dalam Murami yang terguyur oleh mani Damijan tepat di permukaan kemaluannya juga tiba - tiba dengan kuatnya menggelinjang membarengi kejangnyan Damijan. Murami merasakan permukaan kemaluannya sangat hangat oleh mani Damijan dan membuat rasa di kemaluannya yang sedari tadi meradang mau pecah tak lagi tertahankan. Muramai menggeliat - geliat dan mengangkat pantatnya dan mempertemukan kemaluannya yang masih tertutp celana dalam dengan burung Damijan yang masih terus mengucurkan mani. Keduanya saling mendekap. Ciuman bibirnya tak lepas. Masing - masing saling menggelenjotkan kakinya dan menimbulkan suara kresek - resek yang sangat keras di kasur ijuk gubuk Damijan.
Rembulan yang belum genap separo telah menggelincir ke arah barat. Bintang dilangit abyor berkelip menambah indahnya larut malam. Udara pegunungan menjadi tambah dingin kekes. Dengan dituntun Damijan Murami menapaki pematang sawah untuk pelang ke rumah. Mereka bergandeng tangan. Bergandengan hati. Bergandengan rasa. Bergandengan dengan cinta - cinta yang ada di hati mereka masing - masing. Cinta dan kasih sayang yang menggelora. Yang membuat mereka saling berbahagia. Saling merindukan walau tangan mereka telah bergandengan. Saling ingin berdekat walaupun tubuh mereka telah tidak berjarak. Saling ingin memberi kasih walaupun mereka telah terus saling memberi dan menerima. Cinta mereka bagai laut dengan daratan yang sangat sulit dipisahkan. Cinta mereka sejuk bagai embun malam itu yang membasahi dedaunan tumbuhan di sawah.
Damijan akan segera melamar Murami. Damijan telah siap segalanya. Rumah ada. Sawah ladan ada dan cukup. Damijan akan selalu membahagiakan Murami. Damijan tidak akan membuat Murami sedih. Damijan tidak akan membuat Murami kekurangan. Damijan bercita - cita selalu menggembirakan Murami. Damijan akan meneteskan kasih sayang ke Murami yang akan melahirkan anak - anak mereka di kelak hari nanti. Damijan akan hidup berdampingan selama - lamanya dengan Murami. Membesarkan dan membahagiakan anak - anak mereka. Damijan sungguh berbesar hati dan berbahagia bisa memiliki Murami. Murami tidak boleh lepas dari pelukkannya.
Damijan sangat takut kehilangan Murami. Pardin teman yang diakarabinya tiba - tiba telah meracuni Murami agar menjauhi dirinya. Pardin teman sedusun yang selalu bahu - membahu dengan dirinya memajukan dusun telah mencoba merusak hubungan cintanya dengan Murami. Damijan yang akrab dengan siapa saja, sekarang menjadi membenci Pardin. Pardin yang telah menebar omongan - omongan jahat di depan Murami tentang dirinya tiba - tiba dibencinya. Pardin yang telah mencuri kesempatan ketika dia meninggalkan dusun beberapa hari telah berusaha mempengaruhi Murami agar manjauhinya. Bahkan Pardin telah nekat menjamah - jamah Murami. Wanita yang telah dicintainya. Wanita yang telah menyatu hati dengan hatinya. Dalam pikiran Damijan Pardin akan merusak hubungan dengan Murami. Pardin akan selalu menjahatinya. Pardin akan menjadi duri yang semasa - masa bisa menyakiti dirinya. Pardi adalah batu sandungan yang yang harus disingkirkan.
Damijan mengantar Murami sampai di depan pintu rumahnya. Damijan memeluk Murami dan mencium pipi Murami dengan lembut dan penuh cinta. Kalimatnya lirih diucapakan : " Mi, jangan dengarkan omongan Pardin. Jangan dekati Pardin. Menjauhlah darinya. Pardin akan menjahati kita. Mi aku cinta padamu. Aku sangat menyayangimu " Sekali lagi Damijan mencium pipi Murami. " Ya, kang. Aku akan mematuhi kang Damijan. Aku selalu kangen kang Damijan. Besuk malam kita ke gubuk lagi kan, kang ?" Jawab Murami yang diahkiri dengan pertanyaan dan diucapkan dengan kemanjaannya sambil tersenyum cantik sekali. " Ya...ya...ya..Mi besuk kita ke gubuk lagi " Jawab Damijan sambil kembali mencium pipi Murami dan segera melepaskan pelukannya kemudian melangkah meninggalkan Murami di depan pintu rumahnya.
bersambung kebagian tujuh .............................
Rembulan yang belum genap separo telah menggelincir ke arah barat. Bintang dilangit abyor berkelip menambah indahnya larut malam. Udara pegunungan menjadi tambah dingin kekes. Dengan dituntun Damijan Murami menapaki pematang sawah untuk pelang ke rumah. Mereka bergandeng tangan. Bergandengan hati. Bergandengan rasa. Bergandengan dengan cinta - cinta yang ada di hati mereka masing - masing. Cinta dan kasih sayang yang menggelora. Yang membuat mereka saling berbahagia. Saling merindukan walau tangan mereka telah bergandengan. Saling ingin berdekat walaupun tubuh mereka telah tidak berjarak. Saling ingin memberi kasih walaupun mereka telah terus saling memberi dan menerima. Cinta mereka bagai laut dengan daratan yang sangat sulit dipisahkan. Cinta mereka sejuk bagai embun malam itu yang membasahi dedaunan tumbuhan di sawah.
Damijan akan segera melamar Murami. Damijan telah siap segalanya. Rumah ada. Sawah ladan ada dan cukup. Damijan akan selalu membahagiakan Murami. Damijan tidak akan membuat Murami sedih. Damijan tidak akan membuat Murami kekurangan. Damijan bercita - cita selalu menggembirakan Murami. Damijan akan meneteskan kasih sayang ke Murami yang akan melahirkan anak - anak mereka di kelak hari nanti. Damijan akan hidup berdampingan selama - lamanya dengan Murami. Membesarkan dan membahagiakan anak - anak mereka. Damijan sungguh berbesar hati dan berbahagia bisa memiliki Murami. Murami tidak boleh lepas dari pelukkannya.
Damijan sangat takut kehilangan Murami. Pardin teman yang diakarabinya tiba - tiba telah meracuni Murami agar menjauhi dirinya. Pardin teman sedusun yang selalu bahu - membahu dengan dirinya memajukan dusun telah mencoba merusak hubungan cintanya dengan Murami. Damijan yang akrab dengan siapa saja, sekarang menjadi membenci Pardin. Pardin yang telah menebar omongan - omongan jahat di depan Murami tentang dirinya tiba - tiba dibencinya. Pardin yang telah mencuri kesempatan ketika dia meninggalkan dusun beberapa hari telah berusaha mempengaruhi Murami agar manjauhinya. Bahkan Pardin telah nekat menjamah - jamah Murami. Wanita yang telah dicintainya. Wanita yang telah menyatu hati dengan hatinya. Dalam pikiran Damijan Pardin akan merusak hubungan dengan Murami. Pardin akan selalu menjahatinya. Pardin akan menjadi duri yang semasa - masa bisa menyakiti dirinya. Pardi adalah batu sandungan yang yang harus disingkirkan.
Damijan mengantar Murami sampai di depan pintu rumahnya. Damijan memeluk Murami dan mencium pipi Murami dengan lembut dan penuh cinta. Kalimatnya lirih diucapakan : " Mi, jangan dengarkan omongan Pardin. Jangan dekati Pardin. Menjauhlah darinya. Pardin akan menjahati kita. Mi aku cinta padamu. Aku sangat menyayangimu " Sekali lagi Damijan mencium pipi Murami. " Ya, kang. Aku akan mematuhi kang Damijan. Aku selalu kangen kang Damijan. Besuk malam kita ke gubuk lagi kan, kang ?" Jawab Murami yang diahkiri dengan pertanyaan dan diucapkan dengan kemanjaannya sambil tersenyum cantik sekali. " Ya...ya...ya..Mi besuk kita ke gubuk lagi " Jawab Damijan sambil kembali mencium pipi Murami dan segera melepaskan pelukannya kemudian melangkah meninggalkan Murami di depan pintu rumahnya.
bersambung kebagian tujuh .............................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar