Bau Lawean
edohaput
Bagian Tujuh
Kesenian Tayub adalah kesenian yang paling disukai warga dusun. Kepala dusun yang sedang mempunyai hajadan mengkhitankan anak keduanya menggelar kesenian Tayub. Suara gamelan membedah suasana dusun yang selalu sunyi di malam hari. Warga tumpah di halaman rumah kepala dusun. Ledhek cantik yang berdandan menor mulai menari di atas panggung. Kain jarit membalut ledek cantik hanya sampai di batas dadanya, membuat penonton bisa melihat besarnya payudaranya yang dipoles bedak putih. Dada ledhek yang besar mengkilat tertimpa cahaya lampu - lampu petromak yang bercahaya sangat terang. Para lelaki tua - muda mulai merangsek ke depan panggung. Mereka semakin ingin dekat melihat ledhek yang pantat besarnya mulai berputar - putar gemulai.
Tampilnya ledhek yang menari di panggung dengan memancing - mancing gairah kelelakian mengakhiri tembang - tembang campur sari dan dagelan yang sangat disukai anak - anak dan para perempuan. Saat mulai tampilnya ledhek para wanita dan anak - anak sudah tidak tertarik lagi. Mereka para perempuan berangsur meninggalkan halaman rumah kepala dusun. Kecuali sudah pada ngantuk karena malam sudah semakin larut, juga karena mereka tidak suka dengan tampilan ledhek. Justru para lelakilah yang mulai panas. Mata mereka hilang kantuknya. Mereka membuka lebar - lebar matanya untuk menikmati keindahan tubuh ledhek yang gemulai menari dengan gaya yang kadang - kadang erotis memancing gairah kelelakian. Sebentar saja para perempuan dan anak - anak telah lenyap dari halaman rumah kepala dusun. Para lelaki mulai ikut berjoget. Dan lelaki yang berduit mulai naik panggung berjoget dengan ledhek. Tangannya melambai - lambaikan lembaran uang yang akan disawerkan ke ledhek. Biasanya para lelaki berduit berjoget dan mencoba mendekat ke tubuh ledhek. Kadang sempat juga mencium pipi ledhek sambil tangannya menelusupkan lembaran uang di belahan dada besar sang ledhek yang bibirnya terus tersenyum menyemangati para lelaki yang akan naik ke panggung untuk menyawer.
Pak Samino orang terkaya di dusun naik ke panggung. Pak Smino langsung ngibing ledhek. Di tangan pak Samino terlambai - lambaikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Pak Samino terus menari mengitari ledhek. Sang ledhek semakin erotis saja menggoda pak Samino. Sonder atau selendang yang dipergunakan oleh ledhek untuk menambah indahnya gerak tari sudah melingkar di leher pak Samino. Oleh sang ledhek selandang ditarik - tarik sehingga wajah pak Samino semakin dekat dengan wajah sang ledhek. Pak Samino mulai menyawer. Menelusupkan uang lembaran lima puluh ribuan di belahan dada sang ledhek. Pak Samino bisa menyentuh buah dada sang ledhek yang besar menonjol di dadanya. Setiap ada kesempatan dan seirama dengan bunyi gendang dan gamelan pak Samino bisa mencium pipi sang ledhek dan kemudian menyelipkan lembaran uang di dada ledhek.
Para lelaki yang juga ingin nyawer yang masih ada di bawah panggung tak ada yang berani naik ke panggung selama pak Samino masih berada disana. Mereka yang pada umumnya hanya menyawer dengan lembaran puluhan ribu takut tidak memperoleh tanggapan dari ledhek, karena ledhek pasti hanya melayani pak Samino yang di tangannya ada banyak lembaran lima puluhan ribu. Mereka menunggu pak Samino turun dengan ledhek dan turun panggung.
Pak Samino yang terus berjoget ngibing dengan ledhek mulai sudah sangat bergairah dan panas. Cara nyawer pak Samino semakin berani. Ada kalanya sempat pegang pantat. Merangkul, mencium pipi bahkan nekat memeluk ledhek. Sambil tetap berjoget pak Samino mulai menyampaikan maksudnya : " Ni, ayo kita sudahi saja joget kita ini " Kata pak Samino berbisik kepada ledhek yang bernama Parini di sela - sela nyawernya. Parini mengedipkan mata tanda setuju. Ia tahu maksud pak Samino. Pasti akan mengajaknya di tempat gelap. " Ni, nanti habis berjoget ini terus pamit sama kelompokmu kalau mau pipis. Aku sudah bilang Kadus agar kamu diantar ke kamar mandi belakang. Aku sudah menunggu disana ". Parini tidak menjawab hanya matanya berkedip - kedip tanda setuju. Pak Samino lalu turun dari panggung. Parini memberi kode kepada ledhek lain agar menggantikannya berjoget di panggung. Parini turun panggung digantikan ledhek lain yang tak kalah bahenolnya. Melihat pak Samino sudah tidak lagi di panggung para lelaki berebut naik panggung untuk nyawer. Suasana menjadi semakin meriah.
Pak Samino yang sudah berada di kamar mandi belakang rumah pak kadus sudah melepaskan celananya panjangnya. Tinggal celana kolor yang dipakainya. Ia menunggu ledhek Parini datang. Kamar mandi belakang rumah pak kadus terpisah dengan rumah induk. Dari rumah pak kadus untuk sampai kesana melewati lorong dan halaman belakang rumah. Suasana disana gelap dan sangat sepi. Tidak berapa lama dengan diantar pak kadus ledhek Parini datang. Pak Samino membukakan pintu kamar mandi untuk Parini. Pak kadus pergi. Pak kadus sangat tahu dengan kebiasaan pak Samino. Bahkan kesenian Tayub yang diselenggarakan ini adalah bekat bantuan sumbangan pak Samino.
Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu minyak kecil dan berkedip karena tiupan angin, pak Samino langsung memeluk ledhek dan menggerayangi payudaranya. " Sabar, pak. Saya mau pipis dulu ". Sambil berkata begitu Parini ledhek menaikkan kain jarit sampai ke pangkal paha. Pak Samino menjadi bisa melihat paha gempal putih milik ledhek Parini. Pak Samino menelan ludah. Ledhek parini yang tidak mengenakan celana dalam berjongkok dan pipis. Pak Samino yang sudah tak tahan ikut juga berjongkok di depan ledhek Parini dan tangannya langsung menjulur menggerayang pepek ledhek Parini yang sedang mengeluarkan pipisnya. Tangan pak Samino merasakan hangatnya kucuran pipisnya ledhek Parini. Pak Samino menciduk air dengan gayung lalu menyiramkan di pepek ledhek Parini dan tangannya menceboki pepek Parini yang besar menggunung. Ledhek Parini yang berjongkok segera diberdirikan oleh Pak Samino dan di sandarkan di dinding kamar mandi. Dengan cepat dan tak sabar Samino mencopot celana kolornya dan burung yang sudah sangat kaku mengacung mengarah ke selakangan ledhek Parini yang sudah tidak tertutup kain jarit karena kain jarit telah ditarik ke atas sampai di atas pantatnya. Lagi - lagi dengan tidak sabar pak Samino yang bertubuh kekar segera merendahkan pantatnya dan mengarahkan burung ke selangkangan Parini yang sudah membuka. Dengan sekali tancap burung pak Samino telah amblas di pepek ledhek Parini. Burung pak Samino yang besar dan panjangnya di atas rata - rata milik orang pada umumnya, membuat mulut ledhek Parini mendesis dan menganga. Sambil mencengkeram kuat tubuh ledhek Parini dan menciumi bibir dan pipinya pak Samino terus menggenjot pepek ledhek Parini dengan burungnya. Pak Samino memang tidak lagi muda. Usianya sudah kepala enam. Namum pak Samino yang tetap gemar dengan bekerja di sawah ini tetap sehat mengalahkan pemuda yang umurnya belasan tahun dalam urusan senggama. Bahkan dalam semalam pak Samino kuat menggauli dua isterinya. Dan masing - masing isterinya sangat berbahagia karena bisa dipuaskan. Bahkan boleh dikata sangat puas. Pak Samino jago memberi kepuasan pada perempuan yang digaulinya. Ledhek Parini yang dengan gencarnya terus diserang oleh pak Samino hanya bisa melenguh - lenguh, mendesis - desis, dan matanya kadang - kadang terbeliak dan kadang menutup rapat tanda menahan rasa geli enak di pepeknya, di bibirnya , di lehernya, dan di payudaranya yang tanpa ampun diserang pak Samino yang ganas. Belum lima menit ledhek Parini telah dua kali sampai ke puncak. Setiap kali sampai ke puncak ledhek Parini yang tidak ingat sedang disenggamai dimana berteriak mengaduh cukup keras. Sehingga dengan terpaksa pak Samino harus membungkam mulut ledhek Parini dengan bibirnya agar teriakannya tidak didengar orang. Pak Samino juga tidak ingin berlama - lama mengingat tempat ia melakukan senggama bukan tempat semestinya. Pak Samino juga takut akan diketahui orang. Frekwensi genjotan burungnya di pepek ledhek Parini semakin diperapat dan semakin diperkeras. Diperbuat demikian ledhek Parini yang suaminya lumpuh karena stroke menjadi sangat senang dan memperoleh persenggamaan yang luar biasa menikmatkan. Maka dengan semangatnya ledhek Parini mengimbangi gerakan ganas pak Samino dengan menggoyang - goyangkan pantatnya. Pepek Parini yang bergoyang ke kiri ke kanan kadang berputar membuat burung pak Samino ketemu dengan keragaman kenikmatan di kedalaman pepek ledhek Parini. Tak lama kemudian Pak Samino menggeram dan memeluk tubuh sintal ledhek Parini kuat - kuat dan burungnya ditekankan kuat masuk sehingga tanpa tersisa masuk semua di dalam pepek dan segera menyemburkan maninya. Di saat itu pula pepek ledhek Parini yang disembur mani yang luar biasa banyak, kental, hangat tak kuasa menahan nikmat. Pepeknya meradang dan bergetar lalu seperti ada yang pecah dan kembali ledhek Parini lupa ia sedang senggama dimana berteriak keras : " Paaaaaaaaaaakkkk ! " Tubuhnya meronta - ronta di pelukan pak Samino.
Gamelan terus mendayu dan jogetan ledhek di panggung semakin panas. Para lelaki yang nyawer berganti - ganti naik turun ke panggung. Para ledhek semakin malam semakin berani dan semakin membiarkan tangan - tangan lelaki nakal menjamahinya. Yang penting semakin banyak uang yang terselip di belahan buah dadanya. Tayub baru berahkir setelah malam begitu terasa dingin tanda malam telah berlalu jauh dari tengah malam.
Didalam perjalanan pulang ke rumah dari menonton Tayub Paijo dan Samirin dikejutkan oleh tergeletaknya tubuh Pardin di pinggir jalan. Tangan Pardin menggapai - gapai tanda minta tolong. Tubuhnya lemas lunglai tak berdaya. Mulutnya tak lagi kuasa mengeluarkan suara. Paijo dan Samirin yang mendapati Pardin dalam keadaan demikian segera berteriak - teriak meminta pertolongan. Para lelaki yang belum pada sampai ke rumah masing - masing segera pada berlari menuju sumber suara permintaan tolong. Mereka lalu beramai - ramai mengangkat tubuh Pardin yang tak lama kemudian pingsan untuk dibawa ke rumahnya. Tidak lama kemudian setelah memperoleh berbagai pertolongan dan upaya dari warga Pardin yang pingsan tak bisa siuman dan meninggal dunia.
Semalam warga bersukacita menikmati Tayub, pagi harinya mereka berdukacita. Pardin pemuda yang juga suka bekerja di sawah dan banyak berbuat untuk kemakmuran desun telah tiada. Meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga yang terus bertanya - tanya sebab musabab kematian Pardin, tidak menemukan jawabannya. Warga ahkirnya berkesimpulan Pardin meninggal karena sakit jantung. Seperti meninggalnya Pardan kakaknya. Di tubuh Pardin tidak ditemukan kalau ia dianiaya orang. Tubuhnya lemas lunglai saat ditemukan, seperti ketika Pardan kakaknya meninggal. Tubuh Pardin juga pucat pasi seperti tubuh Pardan ketika meninggal. Seolah Tubuh Pardin tak berdarah. Kulitnya menjadi putih sangat pucat.
Warga yang mencoba menghubung - hubungkan kematian Pardin dengan kegiatan - kegiatan yang dilakukannya juga tidak menemukan jawaban. Pardin tidak mempunyai musuh. Ia pemuda baik yang selalu rukun dengan pemuda lainnya. Dengan para pemuda tetangga dusunpun Pardin tidak memiliki masalah. Hanya saja Pardin semalam memang tidak lama berada di acara kesenian Tayub. Pardin hanya nampak sebentar saja ketika acara Tayub masih diisi lagu - lagu campursari dan dagelan. Kemana perginya Pardin tak ada yang tahu. Keluarganya juga menyatakan kalau Pardin sejak sore hari sampai tubuhnya ditemukan terkapar di pinggir jalan belum pulang ke rumah. Sejak sore memang Pardin berada di rumah pak kadus ikut membantu mempersiapkan pagelaran kesenian Tayub. Para pemuda juga tidak ada yang merasa diajak omong - omong oleh Pardin malam Tayub itu Pardin mau kemana. Dengan Siapa. Berkegiatan apa. Tidak ada yang tahu.
Bagi warga yang sudah berkesimpulan meninggalnya Pardin adalah karena sakit jantung tak lagi berpusing - pusing. Pengetahuan warga dusun yang dangkal dan tak banyak mengerti tentang penyakit, selalu mengambil kesimpulan setiap orang yang matinya mendadak adalah karena sakit jantung. Tetapi bagi keluarga meninggalnya Pardin menyusul meninggalnya Pardan kakaknya adalah sebuah misteri. Mengapa Pardan. Dan mengapa sekarang Pardin. Keluarga mencoba introspeksi. Kesalahan apa telah diperbuat keluarga. Tetapi juga tidak menemukan jawaban. Bahkan keluarga juga telah merunut - runut semua keturunan. Ternyata juga tidak pernah ada yang meninggal dengan cara mendadak. Mereka berkesimpulan bahwa di keluarga mereka tidak pernah ada yang sakit jantung. Lalu dari keturunan mana Pardan dan Pardin sakit jantung. Karena sudah mentok tak lagi ada jawaban yang ketemu logika, maka keluarga berkesimpulan meninggalnya Pardan dan Pardin karena diganggu makhluk halus. Itulah satu - satunya kesimpulan yang menyebabkan mereka kemudian pasrah dan segera melaksanakan kegiatan - kegiatan ritual untuk menolak balak yang mungkin akan terjadi lagi.
bersambung ke bagian delapan .....................
Pak Samino orang terkaya di dusun naik ke panggung. Pak Smino langsung ngibing ledhek. Di tangan pak Samino terlambai - lambaikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Pak Samino terus menari mengitari ledhek. Sang ledhek semakin erotis saja menggoda pak Samino. Sonder atau selendang yang dipergunakan oleh ledhek untuk menambah indahnya gerak tari sudah melingkar di leher pak Samino. Oleh sang ledhek selandang ditarik - tarik sehingga wajah pak Samino semakin dekat dengan wajah sang ledhek. Pak Samino mulai menyawer. Menelusupkan uang lembaran lima puluh ribuan di belahan dada sang ledhek. Pak Samino bisa menyentuh buah dada sang ledhek yang besar menonjol di dadanya. Setiap ada kesempatan dan seirama dengan bunyi gendang dan gamelan pak Samino bisa mencium pipi sang ledhek dan kemudian menyelipkan lembaran uang di dada ledhek.
Para lelaki yang juga ingin nyawer yang masih ada di bawah panggung tak ada yang berani naik ke panggung selama pak Samino masih berada disana. Mereka yang pada umumnya hanya menyawer dengan lembaran puluhan ribu takut tidak memperoleh tanggapan dari ledhek, karena ledhek pasti hanya melayani pak Samino yang di tangannya ada banyak lembaran lima puluhan ribu. Mereka menunggu pak Samino turun dengan ledhek dan turun panggung.
Pak Samino yang terus berjoget ngibing dengan ledhek mulai sudah sangat bergairah dan panas. Cara nyawer pak Samino semakin berani. Ada kalanya sempat pegang pantat. Merangkul, mencium pipi bahkan nekat memeluk ledhek. Sambil tetap berjoget pak Samino mulai menyampaikan maksudnya : " Ni, ayo kita sudahi saja joget kita ini " Kata pak Samino berbisik kepada ledhek yang bernama Parini di sela - sela nyawernya. Parini mengedipkan mata tanda setuju. Ia tahu maksud pak Samino. Pasti akan mengajaknya di tempat gelap. " Ni, nanti habis berjoget ini terus pamit sama kelompokmu kalau mau pipis. Aku sudah bilang Kadus agar kamu diantar ke kamar mandi belakang. Aku sudah menunggu disana ". Parini tidak menjawab hanya matanya berkedip - kedip tanda setuju. Pak Samino lalu turun dari panggung. Parini memberi kode kepada ledhek lain agar menggantikannya berjoget di panggung. Parini turun panggung digantikan ledhek lain yang tak kalah bahenolnya. Melihat pak Samino sudah tidak lagi di panggung para lelaki berebut naik panggung untuk nyawer. Suasana menjadi semakin meriah.
Pak Samino yang sudah berada di kamar mandi belakang rumah pak kadus sudah melepaskan celananya panjangnya. Tinggal celana kolor yang dipakainya. Ia menunggu ledhek Parini datang. Kamar mandi belakang rumah pak kadus terpisah dengan rumah induk. Dari rumah pak kadus untuk sampai kesana melewati lorong dan halaman belakang rumah. Suasana disana gelap dan sangat sepi. Tidak berapa lama dengan diantar pak kadus ledhek Parini datang. Pak Samino membukakan pintu kamar mandi untuk Parini. Pak kadus pergi. Pak kadus sangat tahu dengan kebiasaan pak Samino. Bahkan kesenian Tayub yang diselenggarakan ini adalah bekat bantuan sumbangan pak Samino.
Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu minyak kecil dan berkedip karena tiupan angin, pak Samino langsung memeluk ledhek dan menggerayangi payudaranya. " Sabar, pak. Saya mau pipis dulu ". Sambil berkata begitu Parini ledhek menaikkan kain jarit sampai ke pangkal paha. Pak Samino menjadi bisa melihat paha gempal putih milik ledhek Parini. Pak Samino menelan ludah. Ledhek parini yang tidak mengenakan celana dalam berjongkok dan pipis. Pak Samino yang sudah tak tahan ikut juga berjongkok di depan ledhek Parini dan tangannya langsung menjulur menggerayang pepek ledhek Parini yang sedang mengeluarkan pipisnya. Tangan pak Samino merasakan hangatnya kucuran pipisnya ledhek Parini. Pak Samino menciduk air dengan gayung lalu menyiramkan di pepek ledhek Parini dan tangannya menceboki pepek Parini yang besar menggunung. Ledhek Parini yang berjongkok segera diberdirikan oleh Pak Samino dan di sandarkan di dinding kamar mandi. Dengan cepat dan tak sabar Samino mencopot celana kolornya dan burung yang sudah sangat kaku mengacung mengarah ke selakangan ledhek Parini yang sudah tidak tertutup kain jarit karena kain jarit telah ditarik ke atas sampai di atas pantatnya. Lagi - lagi dengan tidak sabar pak Samino yang bertubuh kekar segera merendahkan pantatnya dan mengarahkan burung ke selangkangan Parini yang sudah membuka. Dengan sekali tancap burung pak Samino telah amblas di pepek ledhek Parini. Burung pak Samino yang besar dan panjangnya di atas rata - rata milik orang pada umumnya, membuat mulut ledhek Parini mendesis dan menganga. Sambil mencengkeram kuat tubuh ledhek Parini dan menciumi bibir dan pipinya pak Samino terus menggenjot pepek ledhek Parini dengan burungnya. Pak Samino memang tidak lagi muda. Usianya sudah kepala enam. Namum pak Samino yang tetap gemar dengan bekerja di sawah ini tetap sehat mengalahkan pemuda yang umurnya belasan tahun dalam urusan senggama. Bahkan dalam semalam pak Samino kuat menggauli dua isterinya. Dan masing - masing isterinya sangat berbahagia karena bisa dipuaskan. Bahkan boleh dikata sangat puas. Pak Samino jago memberi kepuasan pada perempuan yang digaulinya. Ledhek Parini yang dengan gencarnya terus diserang oleh pak Samino hanya bisa melenguh - lenguh, mendesis - desis, dan matanya kadang - kadang terbeliak dan kadang menutup rapat tanda menahan rasa geli enak di pepeknya, di bibirnya , di lehernya, dan di payudaranya yang tanpa ampun diserang pak Samino yang ganas. Belum lima menit ledhek Parini telah dua kali sampai ke puncak. Setiap kali sampai ke puncak ledhek Parini yang tidak ingat sedang disenggamai dimana berteriak mengaduh cukup keras. Sehingga dengan terpaksa pak Samino harus membungkam mulut ledhek Parini dengan bibirnya agar teriakannya tidak didengar orang. Pak Samino juga tidak ingin berlama - lama mengingat tempat ia melakukan senggama bukan tempat semestinya. Pak Samino juga takut akan diketahui orang. Frekwensi genjotan burungnya di pepek ledhek Parini semakin diperapat dan semakin diperkeras. Diperbuat demikian ledhek Parini yang suaminya lumpuh karena stroke menjadi sangat senang dan memperoleh persenggamaan yang luar biasa menikmatkan. Maka dengan semangatnya ledhek Parini mengimbangi gerakan ganas pak Samino dengan menggoyang - goyangkan pantatnya. Pepek Parini yang bergoyang ke kiri ke kanan kadang berputar membuat burung pak Samino ketemu dengan keragaman kenikmatan di kedalaman pepek ledhek Parini. Tak lama kemudian Pak Samino menggeram dan memeluk tubuh sintal ledhek Parini kuat - kuat dan burungnya ditekankan kuat masuk sehingga tanpa tersisa masuk semua di dalam pepek dan segera menyemburkan maninya. Di saat itu pula pepek ledhek Parini yang disembur mani yang luar biasa banyak, kental, hangat tak kuasa menahan nikmat. Pepeknya meradang dan bergetar lalu seperti ada yang pecah dan kembali ledhek Parini lupa ia sedang senggama dimana berteriak keras : " Paaaaaaaaaaakkkk ! " Tubuhnya meronta - ronta di pelukan pak Samino.
Gamelan terus mendayu dan jogetan ledhek di panggung semakin panas. Para lelaki yang nyawer berganti - ganti naik turun ke panggung. Para ledhek semakin malam semakin berani dan semakin membiarkan tangan - tangan lelaki nakal menjamahinya. Yang penting semakin banyak uang yang terselip di belahan buah dadanya. Tayub baru berahkir setelah malam begitu terasa dingin tanda malam telah berlalu jauh dari tengah malam.
Didalam perjalanan pulang ke rumah dari menonton Tayub Paijo dan Samirin dikejutkan oleh tergeletaknya tubuh Pardin di pinggir jalan. Tangan Pardin menggapai - gapai tanda minta tolong. Tubuhnya lemas lunglai tak berdaya. Mulutnya tak lagi kuasa mengeluarkan suara. Paijo dan Samirin yang mendapati Pardin dalam keadaan demikian segera berteriak - teriak meminta pertolongan. Para lelaki yang belum pada sampai ke rumah masing - masing segera pada berlari menuju sumber suara permintaan tolong. Mereka lalu beramai - ramai mengangkat tubuh Pardin yang tak lama kemudian pingsan untuk dibawa ke rumahnya. Tidak lama kemudian setelah memperoleh berbagai pertolongan dan upaya dari warga Pardin yang pingsan tak bisa siuman dan meninggal dunia.
Semalam warga bersukacita menikmati Tayub, pagi harinya mereka berdukacita. Pardin pemuda yang juga suka bekerja di sawah dan banyak berbuat untuk kemakmuran desun telah tiada. Meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga yang terus bertanya - tanya sebab musabab kematian Pardin, tidak menemukan jawabannya. Warga ahkirnya berkesimpulan Pardin meninggal karena sakit jantung. Seperti meninggalnya Pardan kakaknya. Di tubuh Pardin tidak ditemukan kalau ia dianiaya orang. Tubuhnya lemas lunglai saat ditemukan, seperti ketika Pardan kakaknya meninggal. Tubuh Pardin juga pucat pasi seperti tubuh Pardan ketika meninggal. Seolah Tubuh Pardin tak berdarah. Kulitnya menjadi putih sangat pucat.
Warga yang mencoba menghubung - hubungkan kematian Pardin dengan kegiatan - kegiatan yang dilakukannya juga tidak menemukan jawaban. Pardin tidak mempunyai musuh. Ia pemuda baik yang selalu rukun dengan pemuda lainnya. Dengan para pemuda tetangga dusunpun Pardin tidak memiliki masalah. Hanya saja Pardin semalam memang tidak lama berada di acara kesenian Tayub. Pardin hanya nampak sebentar saja ketika acara Tayub masih diisi lagu - lagu campursari dan dagelan. Kemana perginya Pardin tak ada yang tahu. Keluarganya juga menyatakan kalau Pardin sejak sore hari sampai tubuhnya ditemukan terkapar di pinggir jalan belum pulang ke rumah. Sejak sore memang Pardin berada di rumah pak kadus ikut membantu mempersiapkan pagelaran kesenian Tayub. Para pemuda juga tidak ada yang merasa diajak omong - omong oleh Pardin malam Tayub itu Pardin mau kemana. Dengan Siapa. Berkegiatan apa. Tidak ada yang tahu.
Bagi warga yang sudah berkesimpulan meninggalnya Pardin adalah karena sakit jantung tak lagi berpusing - pusing. Pengetahuan warga dusun yang dangkal dan tak banyak mengerti tentang penyakit, selalu mengambil kesimpulan setiap orang yang matinya mendadak adalah karena sakit jantung. Tetapi bagi keluarga meninggalnya Pardin menyusul meninggalnya Pardan kakaknya adalah sebuah misteri. Mengapa Pardan. Dan mengapa sekarang Pardin. Keluarga mencoba introspeksi. Kesalahan apa telah diperbuat keluarga. Tetapi juga tidak menemukan jawaban. Bahkan keluarga juga telah merunut - runut semua keturunan. Ternyata juga tidak pernah ada yang meninggal dengan cara mendadak. Mereka berkesimpulan bahwa di keluarga mereka tidak pernah ada yang sakit jantung. Lalu dari keturunan mana Pardan dan Pardin sakit jantung. Karena sudah mentok tak lagi ada jawaban yang ketemu logika, maka keluarga berkesimpulan meninggalnya Pardan dan Pardin karena diganggu makhluk halus. Itulah satu - satunya kesimpulan yang menyebabkan mereka kemudian pasrah dan segera melaksanakan kegiatan - kegiatan ritual untuk menolak balak yang mungkin akan terjadi lagi.
bersambung ke bagian delapan .....................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar