Bau Lawean
edohaput
Bagian Sepuluh
Malam baru saja tiba. Di beranda rumah Nyi Ranu Murami minum teh ditemani Waruni. Murami telah benar - benar pulih dari lupa ingatannya. Matanya kembali berbinar - binar. Tubuhnya yang kemarin ketika dalam pasungan sebulan lamanya hampir - hampir rusak telah kembali seperti saat - saat sebelum terjadi lupa ingatan. Perasaannya selalu tenteram berada di rumah Nyi Ranu. Pikirannya lagi lagi ingat Damijan yang sudah tiada. Murami tak berniat meninggalkan rumah Nyi Ranu. Murami tak berniat menjumpai kedua orang tuannya, walau jarak rumah Nyi Ranu dengan rumahnya hanya dibatasi rumah - rumah warga. Murami takut perasaan galaunya kembali akan menyakiti dirinya jika pulang ke rumah dan tiba - tiba nanti ingat Damijan. Keluar dari Rumah Nyi Ranu-pun Murami takut. Murami tidak tahu mengapa begitu sangat tenteram perasaannya tinggal di rumah Nyi Ranu. Kedua orang tua Murami lah yang terus setiap kangen anaknya datang menjenguk. Dan Murami tak ingin kedua orang tuannya berlama - lama ketika menjenguknya. Karena ketika berjumpa dengan orang tuanya perasaan Murami menjadi sedih. Murami takut kesedihannya akan membuat dirinya kembali pada sakit ingatannya.
Murami telah kembali mengunyah tebu. Murami kembali merawat tubuhnya. Murami kembali mandi dengan air kembang. Murami kembali merawat kewanitaannya dengan air rendaman daun sirih. Murami kembali mengeramas rambutnya yang lebat sebahu dengan abu merang. Murami kembali cantik, wangi, bercahaya, dan mempesona. " Dik War, kata Nyi Ranu jika aku telah sembuh betul aku mau dijodohkan sama anak Nyi Ranu. Padahal sampai hari ini aku belum pernah bertemu dengannya. Gimana ya, dik War ?" Murami menyapa Waruni dengan sebutan dik. Karena memang dari segi usia Murami lebih tua dua tahun dari Waruni. " Aku juga sudah dibilangi Nyi Ranu kok, Mbak Mi. Kalau Mbak ini mau dijodohkan sama mas Darmuto. Mas Darmuto itu tampan lho, mbak. Kalau nanti mbak Mi ketemu sama mas Dar mbak Mi pasti kepencut " Kalimat Waruni diahkiri dengan tertawa. " Ah kamu ini dik, bisa saja " Timpal Murami sambil tersipu. " Betul mbak, Mas Darmuto itu orangnya tinggi besar dan tegap. Kumisan lagi, wah pokoknya sip banget. Kalau mbak Mi tidak mau biar aku saja yang mau mbak !" Lagi - lagi Waruni menggoda Murami dan tertawa lepas. Kembali Murami tersipu - sipu oleh olah Waruni. " Mas Darmuto itu apa jarang pulang ke rumah ini, dik War ?" Tanya Murami menyelidik. " Ya jarang banget mbak. Setahun sekali pun belum tentu. Mas Darmuto itu orangnya tidak suka tinggal di desa. Katanya sepi. Tak ada hiburan. Lagian mas Darmuto itu pekerjaannya kan di kota ta mbak !" Waruni mengucapkan kalimatnya dengan nada kenes sambil mengunyah pisang goreng buatannya sendiri.
Darmuto adalah anak Nyi Ranu dengan suami pertamanya. Darmuto tidak pernah melihat wajah sang ayah yang meninggal ketika dirinya masih dalam kandungan muda Nyi Ranu. Darmuto hidup di kota bersama Nyi Ranu yang kemudian diperistri pak Ranu warga dusun terkaya. Sejak menjadi isteri pak Ranu, Nyi Ranu tinggal di desa. Tetapi Darmuto yang sudah mulai menginjak dewasa tak mau mengikuti ibunya. Ia memilih tinggal di rumah ayahnya di kota. Tak lama Nyi Ranu kerasan di desa. Nyi Ranu-pun segera membeli toko di kota dan membuka usaha toko kelonthong di kota. Nyi Ranu jarang pulang ke dusun. Justru pak Ranu lah yang mengikuti Nyi Ranu di kota. Belum satu tahun memperistri Nyi Ranu pak Ranu meninggal dunia. Pak Ranu tak mempunyai keturunan. Akibatnya Nyi Ranu lah yang terpaksa harus repot hilir mudik tujuh hari sekali pulang ke dusun untuk merawat rumah besar yang diwariskan pak Ranu. Ahkirnya Waruni lah yang diambil Nyi Ranu untuk merawat dan menjaga rumah di dusun. Waruni masih ada tali darah dengan Nyi Ranu. Maka tak mengherankan jika Waruni yang statusnya hanya sebagai pembantu rumah tangga wajahnya manis. Masih ada kemiripan dengan keayuannya Nyi Ranu.
" Jadi mas Darmuto itu orang kota asli ya, dik War ?" Murami bertanya tapi sebenarnya menegaskan pendapatnya. " O iya mbak ! Mas Darmuto itu orangnya bukan kayak pemuda - pemuda di sini. Pokoknya beda mbak dengan pemuda - pemuda dusun. Mas Darmuto itu tegak tenan, mbak !" Kembali Waruni dengan kenesnya menceriterakan Darmuto. " Wah dik, Apa ya mau mas Darmuto itu sama aku yang gadis dusun ini ". Murami merendah. " Lho mbak Murami ini walaupun gadis dusun tapi cuantik banget lho mbak. Kalau mbak Murami ini didandani kayak orang kota pasti akan menjadi lebih cantik lagi. Dan saya tau mbak. Mas Darmuto itu bercita - cita dapat isteri gadis dusun tetapi gadis dusun yang cantik. Pas ....pas... mbak. Mas Darmuto pasti kepincut kalau melihat mbak Murami !" Kembali Waruni membuat wajah Murami memerah. Waruni merahasiakan jika sebenarnya malam ini Darmuto bersama Nyi Ranu akan datang ke dusun. Darmuto ingin melihat Murami. Waruni ingin Murami terkejut dan terkesima melihat Darmuto yang tampan. Waruni ingin melihat Murami kelimpungan ketika bertemu dengan Darmuto. Waruni ingin ada adegan yang lucu ketika Murami bertemu dengan Darmuto. Waruni pasti akan melihat betapa malunya Murami nanti ketika Darmuto mendekatinya dan mengajaknya berkenalan.
Deru mobil yang sangat jarang terdengar di dusun memecah kesunyian malam yang masih dini. Waruni yang masih mengunyah pisang goreng berlari dan segera membuka pintu gerbang halaman. Sorot lampu mobil menerangi wajah Waruni. Murami terkesima. Siapa yang datang ? Darmuto kah ? Jantung Murami berdegup cepat. Jika benar yang datang Darmuto sudah siapkah ia bertemu dengan Darmuto ? Bagaimana jika ternyata Darmuto tidak menyukai dirinya. Lalu bagaimana ia harus bersikap jika nanti ketemu dengan Darmuto ? Sikap yang bagaimanakah yang harus ditunjukkan dengan Darmuto pemuda kota yang kaya itu ? Bagaimana jadinya nanti jika ia salah bersikap ? Murami yang hanya gadis dusun harus berhadapan dengan pemuda kota yang banyak pengalaman, pinter, pengusaha lagi. Pikiran Murami buntu. Murami pasrah. Murami akan bersikap apa adanya sebagai gadis dusun yang tidak sama sekali memiliki pengalaman kehidupan kota.
Darmuto turun dari mobil dan berjalan diikuti Nyi Ranu dan Waruni menuju beranda dimana Murami berdiri terpaku. Jantung Murami semakin berdegup ketika melihat kenyataan. Ternyata Darmuto itu pemuda yang gagah, tinggi besar dan berkumis. Darmuto sangat tampan apabila dibandingkan dengan para pemuda dusun. Pardin, Pardan, dan Damijan bukan apa - apanya jika dibandingkan dengan Darmuto. Jantung Murami semakin cepat berdegup. Kakinya tiba - tiba bergetar dan lemas tidak mampu menahan tubuhnya ketika Darmuto menyalami dan menyebutkan namanya sambil tersenyum. Seandainya saja Nyi Ranu tidak memeluk dan mencium pipinya mungkin Murami sudah terkulai di lantai. Dalam hati Waruni terbahak mentertawakan Murami. Mati kamu mbak ! Kena kau mbak ! Murami sangat senang melihat wajah Murami yang tiba - tiba memucat. Beberapa hari sebelumnya Waruni sebenarnya telah diperintah Nyi Ranu agar memberitahu Murami akan kedatangan Darmuto. Tetapi Waruni nakal hal itu tak diberitahukan ke Murami. Demikan juga foto Darmuto yang oleh Nyi Ranu agar diperlihatkan kepada Murami oleh Waruni sengaja tidak diberikan ke Murami. Waruni sengaja ingin mempermainkan Murami. Waruni tersenyum puas bisa membuat Murami kelimpungan. Sambil tertawa Waruni menggandeng tangan Murami masuk ke rumah mengikuti Darmuto dan Nyi Ranu.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah berada di meja makan untuk makan bersama. Waruni terus saja nakal dengan sesekali memperhatikan Murami yang tertunduk dan terus tersipu malu. Ketika padangan mata Waruni tertumbuk dengan mata Murami, Waruni tersenyum geli dan mengedip - ngedipkan mata. Dan ketika Murami mencuri pandang ke arah Darmuto, Waruni tersenyum dan kemudian pura - pura batuk seperti tersedak. Dan sikap Waruni itu mendapat pelototan mata dari Nyi Ranu. Dan yang dipelototi cuma tersenyum nakal. Sementara Darmuto terus melahap makanan tanpa memperhatikan keberadaan Murami. Waruni memperoleh isyarat dari Nyi Ranu agar segera menyelesaikan makannya dan meninggalkan meja makan. Waruni tanggap. Beranjaknya Waruni dari meja makan diikuti Nyi Ranu : " Jangan tergesa - gesa Mi ! Temani masmu Darmuto makan !" Nyi Ranu berlalu dari meja makan. Tinggal Murami dan Darmuto yang masih meneruskan makan. Murami kikuk. Tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ketika Murami mencoba mencuri pandang ke wajah Darmuto dan tertumbuk oleh pandangan mata Darmuto yang sengaja sedang memperhatikan Murami, dan Murami melihat senyum Darmuto kembali untuk yang kesekian kalinya jantung Murami bedegup keras. Murami kembali menunduk dan makan susah sekali tertelan. Darmuto sangat tampan. Wajahnya bersih. Tidak seperti wajah Pardan dan Wajah Damijan yang gelap karena selalu tertimpa matahari panas. Murami merasa sangat tidak sebanding dengan Darmuto.
Diam - diam Darmuto juga mengagumi kecantikan Murami. Kecantikan gadis dusun yang lugu. Kecantikan asli tanpa make up. Semakin dipandang wajah Murami semakin mempesona Darmuto. Tiba - tiba ada getaran di hati Darmuto. Inikah calon pendampingku ? Aku suka. Aku suka keluguannya. Aku suka kepolosan wajahnya. Murami kau bidadariku !
Selesai makan Darmuto menggandeng tangan Murami untuk diajak ke beranda rumah. Malam telah sepi. Derik cengkerik dan walang kerik saja yang terdengar. Udara dingin pegunungan mulai merambat terbawa angin dan menerpa dusun. Embun di dedaunan menetes deras ke tanah yang mulai membasah. Rembulan yang tadi menggantung di atas pegunungan telah meninggi. Murami telah berada dalam pelukan Darmuto. Darmuto yang sudah mendengar cerita tetang Murami dari ibunya, Nyi Ranu. Merasa kasihan terhadap nasib Murami. Disamping memang Darmuto tiba - tiba menggumi kecantikan Murami. Maka Darmuto tanpa menunggu besuk atau lusa langsung melamar Murami. Ucapan Darmuto yang memintanya untuk bersedia menjadi isterinya membuat Murami lemas dan tiba - tiba ambruk di dada Darmuto. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang ranum dan tiba - tiba berubah merah merona menambah kecantikannya. Ada perasaan iba mengalir di hati Darmuto. Dipeluknya Murami. Diciumnya pipi Murami yang basah air mata. Diangkatlah dagu Murami agar tengadah menghadap wajahnya. Diciumnya bibir Murami yang merah membasah dan wangi oleh bau jeruk yang tadi dimakannya sehabis bersantap di meja makan bersama Darmuto. Dengan sangat hati - hati dan penuh perasaan yang bercampur baur tak karuan di hatinya dibalasnya ciuman sayang Darmuto.
bersambung ke bagian sebelas ......................
Darmuto turun dari mobil dan berjalan diikuti Nyi Ranu dan Waruni menuju beranda dimana Murami berdiri terpaku. Jantung Murami semakin berdegup ketika melihat kenyataan. Ternyata Darmuto itu pemuda yang gagah, tinggi besar dan berkumis. Darmuto sangat tampan apabila dibandingkan dengan para pemuda dusun. Pardin, Pardan, dan Damijan bukan apa - apanya jika dibandingkan dengan Darmuto. Jantung Murami semakin cepat berdegup. Kakinya tiba - tiba bergetar dan lemas tidak mampu menahan tubuhnya ketika Darmuto menyalami dan menyebutkan namanya sambil tersenyum. Seandainya saja Nyi Ranu tidak memeluk dan mencium pipinya mungkin Murami sudah terkulai di lantai. Dalam hati Waruni terbahak mentertawakan Murami. Mati kamu mbak ! Kena kau mbak ! Murami sangat senang melihat wajah Murami yang tiba - tiba memucat. Beberapa hari sebelumnya Waruni sebenarnya telah diperintah Nyi Ranu agar memberitahu Murami akan kedatangan Darmuto. Tetapi Waruni nakal hal itu tak diberitahukan ke Murami. Demikan juga foto Darmuto yang oleh Nyi Ranu agar diperlihatkan kepada Murami oleh Waruni sengaja tidak diberikan ke Murami. Waruni sengaja ingin mempermainkan Murami. Waruni tersenyum puas bisa membuat Murami kelimpungan. Sambil tertawa Waruni menggandeng tangan Murami masuk ke rumah mengikuti Darmuto dan Nyi Ranu.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah berada di meja makan untuk makan bersama. Waruni terus saja nakal dengan sesekali memperhatikan Murami yang tertunduk dan terus tersipu malu. Ketika padangan mata Waruni tertumbuk dengan mata Murami, Waruni tersenyum geli dan mengedip - ngedipkan mata. Dan ketika Murami mencuri pandang ke arah Darmuto, Waruni tersenyum dan kemudian pura - pura batuk seperti tersedak. Dan sikap Waruni itu mendapat pelototan mata dari Nyi Ranu. Dan yang dipelototi cuma tersenyum nakal. Sementara Darmuto terus melahap makanan tanpa memperhatikan keberadaan Murami. Waruni memperoleh isyarat dari Nyi Ranu agar segera menyelesaikan makannya dan meninggalkan meja makan. Waruni tanggap. Beranjaknya Waruni dari meja makan diikuti Nyi Ranu : " Jangan tergesa - gesa Mi ! Temani masmu Darmuto makan !" Nyi Ranu berlalu dari meja makan. Tinggal Murami dan Darmuto yang masih meneruskan makan. Murami kikuk. Tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ketika Murami mencoba mencuri pandang ke wajah Darmuto dan tertumbuk oleh pandangan mata Darmuto yang sengaja sedang memperhatikan Murami, dan Murami melihat senyum Darmuto kembali untuk yang kesekian kalinya jantung Murami bedegup keras. Murami kembali menunduk dan makan susah sekali tertelan. Darmuto sangat tampan. Wajahnya bersih. Tidak seperti wajah Pardan dan Wajah Damijan yang gelap karena selalu tertimpa matahari panas. Murami merasa sangat tidak sebanding dengan Darmuto.
Diam - diam Darmuto juga mengagumi kecantikan Murami. Kecantikan gadis dusun yang lugu. Kecantikan asli tanpa make up. Semakin dipandang wajah Murami semakin mempesona Darmuto. Tiba - tiba ada getaran di hati Darmuto. Inikah calon pendampingku ? Aku suka. Aku suka keluguannya. Aku suka kepolosan wajahnya. Murami kau bidadariku !
Selesai makan Darmuto menggandeng tangan Murami untuk diajak ke beranda rumah. Malam telah sepi. Derik cengkerik dan walang kerik saja yang terdengar. Udara dingin pegunungan mulai merambat terbawa angin dan menerpa dusun. Embun di dedaunan menetes deras ke tanah yang mulai membasah. Rembulan yang tadi menggantung di atas pegunungan telah meninggi. Murami telah berada dalam pelukan Darmuto. Darmuto yang sudah mendengar cerita tetang Murami dari ibunya, Nyi Ranu. Merasa kasihan terhadap nasib Murami. Disamping memang Darmuto tiba - tiba menggumi kecantikan Murami. Maka Darmuto tanpa menunggu besuk atau lusa langsung melamar Murami. Ucapan Darmuto yang memintanya untuk bersedia menjadi isterinya membuat Murami lemas dan tiba - tiba ambruk di dada Darmuto. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang ranum dan tiba - tiba berubah merah merona menambah kecantikannya. Ada perasaan iba mengalir di hati Darmuto. Dipeluknya Murami. Diciumnya pipi Murami yang basah air mata. Diangkatlah dagu Murami agar tengadah menghadap wajahnya. Diciumnya bibir Murami yang merah membasah dan wangi oleh bau jeruk yang tadi dimakannya sehabis bersantap di meja makan bersama Darmuto. Dengan sangat hati - hati dan penuh perasaan yang bercampur baur tak karuan di hatinya dibalasnya ciuman sayang Darmuto.
bersambung ke bagian sebelas ......................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar