Bau Lawean
Bagian Sembilan
Malam itu tepat kurang tujuh hari saat pernikahannya dengan Murami akan dilangsungkan, Damijan barjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Tubuhnya serasa melayang - layang. Damijan merasakan tubuhnya lemas tak berdaya. Kepalanya pening, matanya berkunang - kunang, dan mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Tenggorokaanya tersekat dan dadanya sangat sesak. Damijan dengan tenaganya yang masih tersisa ingin segera sampai ke rumah. Malam yang telah larut sangat sepi. Udara dingin pegunungan membuat warga enggan keluar rumah. Apalagi malam itu kabut tebal dan sedikit gerimis. Damijan yang terus berusaha berjalan ahkirnya ambruk di pos ronda. Sekilas Damijan masih bisa mengingat Murami. Tetapi setelah itu detak jantung Damijan berhenti. Damijan berhenti bernapas.
Pagi harinya warga dibuat geger dengan ditemukannya jasad Damijan yang sudah kaku di pos ronda. Jenasah Damijan segera diusung pulang. Warga terus bertanya. Apa yang menyebabkan Damijan meninggal. Dulu Pardan, terus Pardin sekarang Damijan. Ketiganya meninggal secara misterius. Warga yang pernah berkesimpulan kalau meninggalnya Pardan dan Pardin adalah karena sakit jantung kini menjadi ragu. Mengapa Damijan juga meninggal dengan kulit tubuh memucat dan terdapat bintik - bintik biru - biru seperti jasadnya Pardan dan Pardin. Di tubuh Damijan juga tidak ditemukan adanya tanda - tanda penganiyaan. Damijan pemuda yang sehat. Tak pernah mengeluh sakit. Warga sangat tahu siapa Damijan. Warga dibuat bingung. Para pemuda dusun menjadi takut. Jangan - jangan akan terjadi pula seperti yang menimpa Pardan, Pardin dan Damijan. Mengapa pemuda. Mengapa bukan orang tua. Apa yang sedang terjadi di dusun. Sehingga ada malapetaka yang demikian.
Selesai pemakaman jenasah Damijan, malam harinya seluruh pemuda dusun berkumpul di rumah Damijan. Mereka berdiskusi. Saling bertanya dan saling mengemukakan pandapat. Tetapi dirasakan tak ada yang cocok dengan penyebab kematian Damijan. Mereka tidak menemukan jawaban. Ahkirnya seperti halnya keluarga Pardan dan Pardin meninggalnya Damijan juga disimpulkan karena diganggu makhluk halus. Para pemuda semakin mendukung kegiatan ritual yang terus dilakukan oleh keluarga Pardan dan Pardin untuk menolak datangnya balak di dusun itu.
*
Murami yang schok berat tak kuat menahan rasa pedih dan perasaannya. Kesadarannya hilang. Ia tak lagi ingat siapa dirinya. Murami terus berteriak - teriak dan tak keruan ucapannya. Kadang menangis meraung - raung, kadang tertawa terbahak - bahak. Murami sudah tak ingat jati dirinya. Berlari kesana - kemari dan tak lagi mau dikenakan baju di tubuhnya. Murami tak lagi merasakan dingin. Tak lagi merasakan panas. Murami membuat repot seluruh warga. Tak ada yang bisa menenangkan Murami. Keluarganya telah kehabisan akal. Murami menjadi tontonan anak - anak. Murami membuat sedih teman - teman gadis dusun sebayanya. Murami yang pernah sedih tak terhingga ketika Pardan meninggal, tidak kuat lagi menahan rasa ketika ditinggal Damijan yang dicintainya. Murami menjadi gila.
Ahkirnya Murami dipasung. Di pasunganpun Murami terus meronta. Tak mau makan. Tak mau tidur. Yang dilakukannya hanya menangis, berteriak, menyanyi dan tertawa. Memanggil - manggil nama Damijan. Murami telah kehilangan cantiknya. Karena tak lagi mandi. Mulutnya tak lagi mengunyah tebu. Murami kencing di tempat. Berak di tempat. Murami menjadi bau. Murami yang berambut panjang sebahu tak beraturan awut -awutan telah terlihat seperti setan. Murami menakutkan. Tak ada lagi warga yang mau mendekat. Murami sangat membuat susah keluarganya.
Ahkirnya Murami dipasung. Di pasunganpun Murami terus meronta. Tak mau makan. Tak mau tidur. Yang dilakukannya hanya menangis, berteriak, menyanyi dan tertawa. Memanggil - manggil nama Damijan. Murami telah kehilangan cantiknya. Karena tak lagi mandi. Mulutnya tak lagi mengunyah tebu. Murami kencing di tempat. Berak di tempat. Murami menjadi bau. Murami yang berambut panjang sebahu tak beraturan awut -awutan telah terlihat seperti setan. Murami menakutkan. Tak ada lagi warga yang mau mendekat. Murami sangat membuat susah keluarganya.
Nyi Ranu warga dusun yang banyak menghabiskan kegiatannya di kota kecamatan sebagai pedagang yang memiliki kios di pasar kecamatan, menemui keluarga Murami. Nyi Ranu berniat membawa Murami ke rumahnya untuk disembuhkan. Nyi Ranu meminta kedua orang tua Murami untuk tidak kawatir ketika Murami berada di rumah Nyi Ranu. Nyi Ranu berjanji Murami akan sembuh. Murami akan pulih seperti sediakala. Nyi Ranu juga meminta kedua orang tua Murami untuk setuju jika nanti Murami telah pulih akan dinikahkan dengan anak laki - laki Nyi Ranu yang sekarang menjadi wiraswastawan di kota. Tanpa ragu - ragu dan sangat suka hati kedua orang tua Murami menyetujui permintaan Nyi Ranu.
Aneh dan sangat mengejutkan, Murami yang selalu ingin memberontak dan mengancam akan melukai siapa saja yang mendekatinya, luluh di hadapan Nyi Ranu. Murami tidak berdaya di tangan Nyi Ranu. Tatapan mata Nyi Ranu telah meluluhkan perasaan Murami. Bagai diguyur air es Murami tiba - tiba sejuk dan damai ditatap Nyi Ranu. Tanpa mengadakan perlawanan Murami mudah dilepas dari pasungan. Nyi Ranu memandikan Murami dengan air kembang setaman. Murami bersih, wangi dan kembali cantik. Murami dibawa ke rumah Nyi Ranu.
Nyi Ranu janda kaya. Orang terkaya kedua di dusun setelah pak Samino. Nyi Ranu jarang pulang ke rumah di dusun. Nyi Ranu banyak tinggal di kota kecamatan, di toko kelontongnya. Nyi Ranu memiliki rumah besar di dusun yang dikelilingi tembok tinggi, tidak seperti rumah - rumah warga dusun lainnya yang sederhana dan tidak berpagar tembok. Rumah besar Nyi Ranu terletak di ujung dusun. Tidak banyak warga yang tahu apa yang dikerjakan Nyi Ranu di saat - saat pulang ke dusun. Dan Jarang pula orang tahu kapan Nyi Ranu berada di dusun. Nyi Ranu tidak banyak bergaul dengan warga. Nyi Ranu pernah bersuami. Suaminya meninggal dunia ketika Nyi Ranu mengandung anaknya. Sejak ditinggal suaminya Nyi Ranu terus menjanda.
Hari bertambah. Murami kembali sehat. Nyi Ranu merawat Murami dengan kebisaannya. Badan Murami telah pulih. Tidak lagi kurus. Sudah kembali sintal. Murami justru tampak lebih cantik dari sebelumnya. Murami belum diperbolehkan oleh Nyi Ranu ke luar rumah. Warga mengira Murami masih gila. Dan sedang dikurung untuk disembuhkan oleh Nyi Ranu. Di rumah Nyi Ranu Murami ditemani Waruni. Waruni tidak berasal dari dusun dimana Murami tinggal. Waruni dibawa oleh Nyi Ranu dari dusun yang jauh letaknya dari dusun Murami lahir dan tinggal. Waruni sudah sangat lama menjadi pembantu rumah tangganya Nyi Ranu. Waruni dibawa Nyi Ranu sejak gadis belia. Tidak banyak warga dusun yang tahu tentang Waruni. Karena Waruni jarang sekali keluar rumah. Pekerjaan Waruni hanya memasak, mencuci, dan merawat rumah Nyi Ranu yang kelewat besar. Pekerjaan paling pokok Waruni sebenarnya adalah melayani keinginan biologis Nyi Ranu. Saat Nyi Ranu tidak pulang ke rumah, Waruni tinggal sendirian di rumah.
Waruni yang diambil Nyi Ranu sejak kematian suami Nyi Ranu menjadi gadis belia yang selalu melayani Nyi Ranu apabila Nyi Ranu sedang ingin melampiaskan nafsu biologisnya. Wurani harus memijit seluruh tubuh telanjang Nyi Ranu. Dengan minyak zaitun yang wangi dan licin Waruni harus mengurut tubuh Nyi Ranu yang gempal, padat, dan kencang. Tubuh Nyi Ranu masih saja seperti tubuh perempuan di bawah tiga puluh tahun. Payudaranya masih sangat kenyal bagai buah dada gadis belasan tahun. Menjadi keusukaan Nyi Ranu jika Waruni sedang memijit - mijit buah dada dan meremas - remasnya. Dan apabila Wurani menghentikan meremas payudara Nyi Ranu marah. Nyi Ranu minta terus dan terus payudara dielus dan diremas Waruni. Sementara itu kedua tangan Nyi Ranu berada di kemaluannya sendiri. Disana jari - jari tangan Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya sendiri. Dan pada puncaknya Waruni harus mengulum buah dada Nyi Ranu dan jari - jari tangannya ada di kemaluan Nyi Ranu. Dan ketika itu pula Wurani yang juga telanjang menjadi rabaan liar tangan Nyi Ranu. Tak jarang pula Wurani ikut - ikut menikmati kenikmatan orgasme karena tangan Nyi Ranu yang meraba seluruh tubuh telanjang Waruni. Tak luput kemaluan perawan Waruni juga menjadi sasaran tangan Nyi Ranu yang sangat menggelikan liang senggama kemaluan.
Satu malam ketika Nyi Ranu tidak tidur di kota, meminta Waruni melayaninya. Waruni yang telah bertelanjang bulat tubuhnya diciumi Nyi Ranu yang juga telah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Payudara Waruni diciuminya dengan ganas. Tak luput pula bibir tipis Waruni juga menjadi sasaran bibir Nyi Ranu yang wangi. Waruni hanya bisa menggeliat - geliat ketika jari - jari tangan Nyi Ranu telah hinggap di kemaluan. Nyi Ranu sangat pintar membuat kemaluan Waruni orgasme. Tahu Waruni telah orgasme Nyi Ranu meminta gantian diraba. " Ni, lakukan seperti aku melakukan tadi ". Kata Nyi Ranu sambil merebahkan dirinya di kasur yang beralas seprei sutra. Sebelum melaksanakan kegiatan Waruni menatap wajah Nyi Ranu. Aneh ! Seharusnya wajah itu sudah ada kerutan dan keriputnya ! Mengapa Wajah Nyi Ranu tetap kencang dan halus ? Bukankah Nyi Ranu telah berumur ? Waruni menelusurkan matanya ke seluruh tubuh Nyi Ranu. Kenapa tubuh itu tetap berisi ? Kenapa kulitnya tak ada keriput ? Ketika Nyi Ranu tersenyum giginya yang rata tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis tak ada yang cacat. Kenapa Nyi Ranu tampak seperti seorang gadis ? " Lho kok malah melamun, Ni. Ayo mulai !" Pinta Nyi Ranu menyadarkan Waruni yang tertegun memandangi tubuh Nyi Ranu. Wurani mulai dari bibir Nyi Ranu yang wangi. Diciumnya dengan penuh nafsu. Nyi Ranu membalas ciuman Waruni. Mereka berpagut dengan ganas. Suara saling sedot lidah terdengar berkecipak. Napas mereka terus memburu. Waruni selesai mencium bibir Nyi Ranu meneruskan kegiatan di buah dada Nyi Ranu yang tidak terlalu besar tetapi sangat menyembul di dadanya. Meremas - remasnya dan menciuminya, menyedot - nyedot putingnya. Nyi Ranu melenguh - lenguh sambil menggelinjang. Pahanya mebuka - buka, ingin jari - jari Waruni yang baru sampai di elusan - elusan paha segera sampai di selangkangannya. " Ni....Ni....ayoo ......Ni.... pepekku ...Ni ... !" Dengus Nyi Ranu tak sabar. Waruni belum mau sampai kesana sebelum benar - benar Nyi Ranu kelabakan. " Aduh ......Ni....ayo.....Ni...pepekku...Ni...segera...!" Nyi Ranu mengangkat - angkat pantatnya. Dalam hati Waruni tertawa geli dengan sikap Nyi Ranu yang terus merengek. Dan setelah tangan Waruni sampai cerecah mulut Nyi Ranu tak mau berhenti. Seandainya rumah Nyi Ranu seperti halnya rumah - rumah yang ada di dusun, cerecahnya pasti bisa didengar tetangga. " Aduh Ni....getarkan jarimu, Ni ! .....aaahhhh... Ni... masukkan dua jarimu...Ni... ! Kocok ...kocok...Ni....kocok cepat, Ni .....aaaaaaugghh....aaaah... Ni.... masukkan yang dalam Ni.....aaaaaaahhhhh ....Ni... ! Waruni menuruti kemauan Nyi Ranu. Dan tak lama kemudian Nyi Ranu merapatkan pahanya dan mengerang keras sambil menggelengkan kepalanya ke kiri - ke kanan dengan cepat. Mulutnya meringis menampakkan sebaris giginya yang putih utuh. Apabila sedang mencapai orgasme demikan wajah Nyi Ranu Tampa cantik sekali. Wajah yang merah merona dengan pipi - pipi yang padat. Dan dihiasi mata bulat yang terbeliak - beliak. Dan Waruni melihat seorang perempuan muda yang sedang orgasme. Sebentar kemudian Nyi Ranu terkulai lemas dan terengah - engah. Waruni merasakan jari - jarinya yang ada kemaluan Nyi Ranu sangat basah. Sampai disitu belum puas juga Nyi Ranu. Tangannya segera meraih tas yang ada di pinggir ranjang. Tebakan Waruni tidak meleset itu pasti buah terung yang telah dipasangi kondom. Benar ! Benda itu segera berpindah ke tangan Waruni. Nyi Ranu kembali telentang dan pahanya membuka lebar - lebar. " Ayo Ni seperti biasanya ! Masukkan ! " Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Waruni menempelkan buah terung terbungkus kondom di permukaan kemaluan Nyi Rani yang berambut lebat. Waruni menekan buah terung. Dan pelan - pelan masuk di liang senggama Nyi Ranu. Nyi Ranu mengangkat - angkat kaki pertanda geli nikmat. " Kocokan seperti biasanya, Ni !" Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Wurani segera mengocokan buah terung terbungkus kondom dengan kuat dan cepat sambil mulutnya mengulum penthil Nyi Ranu. Nyi Ranu mendekap kuat tubuh telanjang Waruni sambil terus menggelinjang. Dan mulutnya tak berhenti bercerecah dan diahkiri dengan erangan yang sangat keras dan kedua kakinya membuat kain seprei menjadi awut - awutan.
bersambung ke bagian sepuluh ...................
Aneh dan sangat mengejutkan, Murami yang selalu ingin memberontak dan mengancam akan melukai siapa saja yang mendekatinya, luluh di hadapan Nyi Ranu. Murami tidak berdaya di tangan Nyi Ranu. Tatapan mata Nyi Ranu telah meluluhkan perasaan Murami. Bagai diguyur air es Murami tiba - tiba sejuk dan damai ditatap Nyi Ranu. Tanpa mengadakan perlawanan Murami mudah dilepas dari pasungan. Nyi Ranu memandikan Murami dengan air kembang setaman. Murami bersih, wangi dan kembali cantik. Murami dibawa ke rumah Nyi Ranu.
Nyi Ranu janda kaya. Orang terkaya kedua di dusun setelah pak Samino. Nyi Ranu jarang pulang ke rumah di dusun. Nyi Ranu banyak tinggal di kota kecamatan, di toko kelontongnya. Nyi Ranu memiliki rumah besar di dusun yang dikelilingi tembok tinggi, tidak seperti rumah - rumah warga dusun lainnya yang sederhana dan tidak berpagar tembok. Rumah besar Nyi Ranu terletak di ujung dusun. Tidak banyak warga yang tahu apa yang dikerjakan Nyi Ranu di saat - saat pulang ke dusun. Dan Jarang pula orang tahu kapan Nyi Ranu berada di dusun. Nyi Ranu tidak banyak bergaul dengan warga. Nyi Ranu pernah bersuami. Suaminya meninggal dunia ketika Nyi Ranu mengandung anaknya. Sejak ditinggal suaminya Nyi Ranu terus menjanda.
Hari bertambah. Murami kembali sehat. Nyi Ranu merawat Murami dengan kebisaannya. Badan Murami telah pulih. Tidak lagi kurus. Sudah kembali sintal. Murami justru tampak lebih cantik dari sebelumnya. Murami belum diperbolehkan oleh Nyi Ranu ke luar rumah. Warga mengira Murami masih gila. Dan sedang dikurung untuk disembuhkan oleh Nyi Ranu. Di rumah Nyi Ranu Murami ditemani Waruni. Waruni tidak berasal dari dusun dimana Murami tinggal. Waruni dibawa oleh Nyi Ranu dari dusun yang jauh letaknya dari dusun Murami lahir dan tinggal. Waruni sudah sangat lama menjadi pembantu rumah tangganya Nyi Ranu. Waruni dibawa Nyi Ranu sejak gadis belia. Tidak banyak warga dusun yang tahu tentang Waruni. Karena Waruni jarang sekali keluar rumah. Pekerjaan Waruni hanya memasak, mencuci, dan merawat rumah Nyi Ranu yang kelewat besar. Pekerjaan paling pokok Waruni sebenarnya adalah melayani keinginan biologis Nyi Ranu. Saat Nyi Ranu tidak pulang ke rumah, Waruni tinggal sendirian di rumah.
Waruni yang diambil Nyi Ranu sejak kematian suami Nyi Ranu menjadi gadis belia yang selalu melayani Nyi Ranu apabila Nyi Ranu sedang ingin melampiaskan nafsu biologisnya. Wurani harus memijit seluruh tubuh telanjang Nyi Ranu. Dengan minyak zaitun yang wangi dan licin Waruni harus mengurut tubuh Nyi Ranu yang gempal, padat, dan kencang. Tubuh Nyi Ranu masih saja seperti tubuh perempuan di bawah tiga puluh tahun. Payudaranya masih sangat kenyal bagai buah dada gadis belasan tahun. Menjadi keusukaan Nyi Ranu jika Waruni sedang memijit - mijit buah dada dan meremas - remasnya. Dan apabila Wurani menghentikan meremas payudara Nyi Ranu marah. Nyi Ranu minta terus dan terus payudara dielus dan diremas Waruni. Sementara itu kedua tangan Nyi Ranu berada di kemaluannya sendiri. Disana jari - jari tangan Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya sendiri. Dan pada puncaknya Waruni harus mengulum buah dada Nyi Ranu dan jari - jari tangannya ada di kemaluan Nyi Ranu. Dan ketika itu pula Wurani yang juga telanjang menjadi rabaan liar tangan Nyi Ranu. Tak jarang pula Wurani ikut - ikut menikmati kenikmatan orgasme karena tangan Nyi Ranu yang meraba seluruh tubuh telanjang Waruni. Tak luput kemaluan perawan Waruni juga menjadi sasaran tangan Nyi Ranu yang sangat menggelikan liang senggama kemaluan.
Satu malam ketika Nyi Ranu tidak tidur di kota, meminta Waruni melayaninya. Waruni yang telah bertelanjang bulat tubuhnya diciumi Nyi Ranu yang juga telah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Payudara Waruni diciuminya dengan ganas. Tak luput pula bibir tipis Waruni juga menjadi sasaran bibir Nyi Ranu yang wangi. Waruni hanya bisa menggeliat - geliat ketika jari - jari tangan Nyi Ranu telah hinggap di kemaluan. Nyi Ranu sangat pintar membuat kemaluan Waruni orgasme. Tahu Waruni telah orgasme Nyi Ranu meminta gantian diraba. " Ni, lakukan seperti aku melakukan tadi ". Kata Nyi Ranu sambil merebahkan dirinya di kasur yang beralas seprei sutra. Sebelum melaksanakan kegiatan Waruni menatap wajah Nyi Ranu. Aneh ! Seharusnya wajah itu sudah ada kerutan dan keriputnya ! Mengapa Wajah Nyi Ranu tetap kencang dan halus ? Bukankah Nyi Ranu telah berumur ? Waruni menelusurkan matanya ke seluruh tubuh Nyi Ranu. Kenapa tubuh itu tetap berisi ? Kenapa kulitnya tak ada keriput ? Ketika Nyi Ranu tersenyum giginya yang rata tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis tak ada yang cacat. Kenapa Nyi Ranu tampak seperti seorang gadis ? " Lho kok malah melamun, Ni. Ayo mulai !" Pinta Nyi Ranu menyadarkan Waruni yang tertegun memandangi tubuh Nyi Ranu. Wurani mulai dari bibir Nyi Ranu yang wangi. Diciumnya dengan penuh nafsu. Nyi Ranu membalas ciuman Waruni. Mereka berpagut dengan ganas. Suara saling sedot lidah terdengar berkecipak. Napas mereka terus memburu. Waruni selesai mencium bibir Nyi Ranu meneruskan kegiatan di buah dada Nyi Ranu yang tidak terlalu besar tetapi sangat menyembul di dadanya. Meremas - remasnya dan menciuminya, menyedot - nyedot putingnya. Nyi Ranu melenguh - lenguh sambil menggelinjang. Pahanya mebuka - buka, ingin jari - jari Waruni yang baru sampai di elusan - elusan paha segera sampai di selangkangannya. " Ni....Ni....ayoo ......Ni.... pepekku ...Ni ... !" Dengus Nyi Ranu tak sabar. Waruni belum mau sampai kesana sebelum benar - benar Nyi Ranu kelabakan. " Aduh ......Ni....ayo.....Ni...pepekku...Ni...segera...!" Nyi Ranu mengangkat - angkat pantatnya. Dalam hati Waruni tertawa geli dengan sikap Nyi Ranu yang terus merengek. Dan setelah tangan Waruni sampai cerecah mulut Nyi Ranu tak mau berhenti. Seandainya rumah Nyi Ranu seperti halnya rumah - rumah yang ada di dusun, cerecahnya pasti bisa didengar tetangga. " Aduh Ni....getarkan jarimu, Ni ! .....aaahhhh... Ni... masukkan dua jarimu...Ni... ! Kocok ...kocok...Ni....kocok cepat, Ni .....aaaaaaugghh....aaaah... Ni.... masukkan yang dalam Ni.....aaaaaaahhhhh ....Ni... ! Waruni menuruti kemauan Nyi Ranu. Dan tak lama kemudian Nyi Ranu merapatkan pahanya dan mengerang keras sambil menggelengkan kepalanya ke kiri - ke kanan dengan cepat. Mulutnya meringis menampakkan sebaris giginya yang putih utuh. Apabila sedang mencapai orgasme demikan wajah Nyi Ranu Tampa cantik sekali. Wajah yang merah merona dengan pipi - pipi yang padat. Dan dihiasi mata bulat yang terbeliak - beliak. Dan Waruni melihat seorang perempuan muda yang sedang orgasme. Sebentar kemudian Nyi Ranu terkulai lemas dan terengah - engah. Waruni merasakan jari - jarinya yang ada kemaluan Nyi Ranu sangat basah. Sampai disitu belum puas juga Nyi Ranu. Tangannya segera meraih tas yang ada di pinggir ranjang. Tebakan Waruni tidak meleset itu pasti buah terung yang telah dipasangi kondom. Benar ! Benda itu segera berpindah ke tangan Waruni. Nyi Ranu kembali telentang dan pahanya membuka lebar - lebar. " Ayo Ni seperti biasanya ! Masukkan ! " Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Waruni menempelkan buah terung terbungkus kondom di permukaan kemaluan Nyi Rani yang berambut lebat. Waruni menekan buah terung. Dan pelan - pelan masuk di liang senggama Nyi Ranu. Nyi Ranu mengangkat - angkat kaki pertanda geli nikmat. " Kocokan seperti biasanya, Ni !" Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Wurani segera mengocokan buah terung terbungkus kondom dengan kuat dan cepat sambil mulutnya mengulum penthil Nyi Ranu. Nyi Ranu mendekap kuat tubuh telanjang Waruni sambil terus menggelinjang. Dan mulutnya tak berhenti bercerecah dan diahkiri dengan erangan yang sangat keras dan kedua kakinya membuat kain seprei menjadi awut - awutan.
bersambung ke bagian sepuluh ...................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar