Sabtu, 14 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                                                               edohaput


Bagian lima belas

     Remi tidak bisa memejamkan mata walaupun badan capai. Kecuali ruang kamar tidur yang tidak biasanya ditiduri juga teringat selalu kejadian menjelang malam tadi. Bu Sarkam yang membangkitkan nafsu birahinya. Bu Sarkam yang membuatnya nikmat. Bu Sarkam yang telah mencumbunya. Ciuman bu Sarkam yang begitu panas menggelora. Jari - jari bu Sarkam yang begitu bisa membuat kemaluannya cepat sekali merasakan nikmat yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Remi pernah bahkan sering juga bermaturbasi tetapi kenikmatan yang seperti ketika bu Sarkam yang mengilik belum pernah dirasakan. Bu Sarkam begitu pintar memainkan jarinya di kemaluannya. 
     Pintu kamar diketuk : " Belum tidur, nduk ?" Sapa bu Sarkam dari luar kamar. " Belum, bu !" Jawab Remi. Bu Sarkam membuka pintu dan langsung masuk dan menutup lagi pintu kamar. Bu Sarkam mendekati Remi yang tetap rebah di ranjang. " Aku temani tidur ya, nduk !" Kata bu Sarkam yang langsung rebah di samping Remi. Remi tidak menjawab. Tubuhnya digeser untuk memberi ruang bu Sarkam yang rebah miring menghadap ke tubuh Remi. Bu Sarkam mengelus rambut kepala Remi. " Nduk ..... ". Bisik bu Sarkam lembut di telingan Remi. Napas hangat dirasakan telinga Remi. Membuat kulit Remi merinding. Dari kepala tangan bu Sarkam terus mengelus punggung Remi. Bergerak mengelus pantat. Dan di pantat Remi tangan bu Sarkam meremas - remas. Remi hanya bisa mendesah. Apalagi yang akan dilakukan bu Sarkam. Tadi menjelang malam ketika mandi bu Sarkam telah memberi kenikmatan luar biasa. Apa sekarang mau diulang lagi ? Remi pasrah. Remi yang sebenarnya ketagihan terhadap kejadian menjelang malam tadi, tanpa ragu - ragu menyediakan tubuhnya untuk terus diraba bu Sarkam. Remi pasrah dan menikmatinya. Tangan bu Sarkam telah berhasil melepaskan celana dalam Remi. " Telanjangi dirimu, nduk. Agar tubuh kita bisa menyatu dan hangat ". Berkata begitu bu Sarkam segera menelanjangi diri dan diiukuti Remi yang juga melepas semua kain yang melekat ditubuhnya. Bu Sarkam telah telanjang begitu juga Remi. 
     Malam terus berjalan. Suasana semakin sepi. Hanya desahan napas yang memburu dua perempuan yang sedang dirasuk birahi yang terdengar. Tubuh bu Sarkam di atas tubuh Remi. Yang dilakukan menggosok - gosokkan payadara di payudara. Kaki Remi yang mengangkang ditindik pinggul bu Sarkam yang berusaha menggosok - gosokkan  kemaluan dengan kemaluan Remi. Remi mengangkat - angkat pantat agar kemaluan saling bersentuhan. Bibir - bibir kemaluan saling bersentuhan dan saling menggosok. Remi merasakan kegelian  yang sangat enak di kemaluannya. Kedua tangan bu Sarkam memeluk erat tubuh Remi. Begitu juga tangan Remi telah dengan kuat memeluk tubuh bu Sarkam sambil terus menikmati kemaluan yang saling menempel dan menggosok. Payudara yang saling menghimpit terus saling digosok - gosokkan. Yang dirasakan Remi kehangatan tubuh bu Sarkam. Buah dada yang saling menekan dan menggosok semakin lama semakin terasa geli yang menyenangkan. Yang membuat pikiran melayang tak tentu arah. Mulut bu Sarkam yang terus melahab bibir Remi, membuat Remi semakin tak tahan. kemaluannya menjadi basah. Begitu juga kemaluan bu Sarkam yang telah juga membasah. Dua kemaluan perempuan yang sedang birahi dan membasah terus saling menekan dan menggosok menimbulkan bunyi .... perect ....percet ....precet ... disela - sela lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut mereka yang tidak berhenti berciuman. Dan tak lama kemudian bu Sarkam menjerit nikmat begitu juga Remi. Kemaluan mereka masing - masing sampai ke puncak kenikmatan. Dan menyemprotkan cairan yang saling membasahi. 
      Bu Sarkam bangkit dari ranjang. Dengan tetap telanjang keluar kamar. Dan masuk ke kamar lagi dengan membawa gelas yang berisi air. Sambil duduk di tepi ranjang bu Sarkam meminum air di gelas. Menyisakan separo dan memberikannya kepada Remi : " Minumlah, nduk !" Tanpa pikir panjang Remi menenggak habis  air dalam gelas. Remi merasakan di lidahnya seperti minum jamu. Baunya wangi. Rasanya pedas - pedas manis. Dan terasa agak panas di mulut. Semenit kemudian Remi merasakan seluruh tubuhnya dirasuki rasa hangat. Rasa hangat terus menjalar ke kemaluannya. Dan dirasakan kemaluannya terasa mengembang pegal dan rasa gatal geli. Terasa kemaluannya ingin sekali disentuh. Payudara menjadi terasa kaku ingin diremas. Dan rasa dibibir panas nyeri ingin dicium. " Gimana, nduk ?" Tanya bu Sarkam yang memperhatikan Remi yang napasnya memburu ingin lagi dicumbu. 
     Bu Sarkam mengambil gelas dari tangan Remi dan segera memeluk Remi yang sedang menanti bu Sarkam mencumbunya lagi. Bu Sarkam segera mencium bibir Remi yang menganga. Dan lidahnya menjulur di mulut Remi dan bermain di segala penjuru di kedalaman mulut Remi. Remi hanya bisa menggeliat. Dan tangan bu Sarkam langsung menerkam kemaluan Remi yang sangat ingin segera disentuh. Jari - jari bu Sarkam langsung mengosok, mengilik dan menerobos masuk di kemaluan Remi. Dan bergerak - gerak bergetar. Remi hanya bisa kembali mendesah - desah, melenguh - lenguh. Remi merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kaki Remi tidak berhenti bergerak menahan kegelian nikmat yang tak terkira. Remi meregang. Remi menendang - nendang. Remi menjerit nimat dan dari kemaluannya mengalir cairan kenikmatan yang banyak sekali. Remi terkulai di pelukan bu Sarkam. 
     Sesaat kemudian Setelah napas Remi mereda.  " Gantian, nduk. Aku juga kepingin nikmat ". Bisik bu Sarkam. Dan bu Sarkam segera telengtang kangkang di samping Remi duduk. Remi memperhatikan tubuh indah bu Sarkam.  Bu Sarkam ini sudah cukup usia. Mengapa tubuhnya masih begini indah. Payudaranya tidak melorot. Pipinya tetap kecang. Kulitnya tak ada yang keriput. Kemaluannya masih begitu menggunung dan berisi. Tidak kempot. Pahanya begitu padat. Remi hanya bisa menduga - duga. Barangkali karena selalu minum ramuan tadi ? Yang juga baru saja dia meminumnya ? Bu Sarkam ini pasti sangat awet muda. Apa ya rahasianya ? " Ayo, nduk lakukan ! Kok malah melamun ". Pinta bu Sarkam yang telah menunggu untuk dicumbu.      
     Remi bergiat. Mula - mula buah dada bu Sarkam yang diciumi Remi. Putingnya diemut - emut berganti - ganti. Tangan Remi ada di selangkangan bu Sarkam dan mengelus - elus kemaluan bu Sarkam yang masih menggunung dengan bibir yang kencang dan kenyal. Bibir kemaluan yang belum lembek. Bibir kemaluan yang membasah halus dan licin. Jari - jari Remi terus bermain. Bu sarkam menggeliat - geliat dan mengangkat - angkat pantatnya. Mulutnya mendesah, melenguh merasakan buah dadanya yang puntingnya digigit - gigit  kecil dan kemaluannya yang terus dikilik jari Remi. Dua jari Remi menerobos liang senggama kemaluan bu Sarkam dan menggosok dinding vagina yang dirasakan bu Sarkam sangat enak dan menyenangkan. Bu Sarkam hanya bisa terus menggeliat dan sebentar - sebentar tubuhnya mengejang. Mulut bu Sarkam yang terus mendesah mengundang bibir Remi untuk menciumnya. Dan Remi melakukannya. Seperti bu Sarkam mencium mulutnya, Remi juga menjulurkan lidahnya dan mengaduk - aduk kedalaman mulut bu Sarkam. Bu Sarkam semakin polah. Semakin meradang. Semakin menggeliat dan tidak kuat lagi menahan kenikmatan puncak untuk meledak. Bu Sarkam mengerang keras dan tubuhnya mengejang. Jari Remi merasakan diguyur air kemaluan bu Sarkam. Sesaat kemudian bu Sarkam lunglai. Lemas di ranjang. 
    " Nduk .... malam ini aku mau wariskan aji awet muda kepadamu, nduk ! Kamu bakal terus awet muda walaupun nanti umurmu telah lanjut. Seperti aku ini. Umurku sudah cukup lanjut tapi kamu lihat sendiri kan ? Tubuhku tetap segar dan muda kan, nduk ? Aku melihatmu rasanya kepadamu aji ini harus diwariskan, nduk ! Mau, nduk ?" Kata bu Sarkam sambil memeluk tubuh telanjang Remi. Remi bingung. Awet muda ? Begitu menyenangkan ! Setiap orang mengidamkannya. Remi mengangguk sambil memeluk tubuh bu Sarkam. Remi tidak tahu aji awet muda itu apakah akan ada akibat - akibatnya. Apakah akan ada larangan - larangannya. Remi tidak memikirkan itu. Yang penting jika benar kata - kata bu Sarkam itu nyata ia akan awet muda. Kenapa harus takut ? Remi tidak tahu juga bagaimana aji awet muda itu diberikan kepada dirinya. Apakah dengan meminum jamu seperti tadi ? Atau dengan cara lain ? Atau dengan mantra - mantra ? Remi menunggu kalimat berikutnya dari bu Sarkam. Kalimat yang ditunggu Remi tidak kunjung muncul. Tetapi bu Sarkam malah terus memeluk erat tubuh telanjang Remi dan menciumi pipi Remi dan ciuman merambat ke bibir dan tangan bu Sarkam lagi - lagi terus menggerayangi lekuk - lekuk tubuh Remi tidak ketinggalan selakangan Remi kembali di serang jari - jari tangan bu Sarkam. Kembali Remi terengah, melenguh dan mendesah.
      Bu Sarkam mengambil posisi sehingga kemaluannya bisa menempel rapat dengan kemaluan Remi. Bibir - bibir kemaluan saling menempel rapat. Remi merasakan getaran di kemaluannya. Getaran semakin terasa dan ada rasa panas di kemaluan Remi. Remi menyeringai. Dan panas di kemaluannya merambat cepat ke seluruh bagian tubuhnya. Tubuh Remi yang dipeluk sangat erat bu Sarkam hanya bisa menegang. Bu Sarkam mendengus - dengus. Dan mulutnya segera mencium mulut Remi. Remi merasakan hawa panas di mulutnya. Rasa panas cepat merambat ke seluruh wajah. Seluruh tubuh Remi menggigil. Remi merasakan ada sesuatu yang masuk di kemaluannya. Memenuhi seluruh rongga kedalaman kemaluannya. Dan sesuatu yang dirasakan ada di dalam kemaluannya bergerak berputar - putar. Panas. Remi meregang - regang. Berkelenjotan di pelukan bu Sarkam yang tubuhnya juga menggigil, bergetar dan panas. Tiba - tiba bu Sarkam menjerit keras dan kemudian lunglai di samping tubuh Remi.
     Remi meraba kemaluannya. Basah. Dari kemaluannya mengalir cairan yang kental dan sangat membasahi seluruh permukaan kemaluannya. Berangsur Remi merasakan tubuhnya sangat segar. Payudaranya mengencang. Kulitnya merinding dan sebentar kemudian terasa dingin yang menyegarkan. Ada perasaan senang mengalir di hati Remi. Remi merasakan tubuhnya begitu ringan. Begitu enak. Remi meraba tubuh telanjangnya. Kulitnya berubah menjadi begitu halus bagai kulit gadis belia. Remi meraba wajahnya teraba begitu halus kencang tak ada keriput. Tak ada yang mengendor.
     " Nduk, aji awet muda telah aku pindahkan ke tubuhmu ". Kata bu Sarkam setelah ketenangan kembali dirasakannya. " Dalam hitungan hari aku akan menjadi tua. Tubuhku tidak akan lagi seperti remaja. Aku sudah bosan menjadi muda, nduk ". Kalimat bu Sarkam diucapkan dengan suara yang parau. Bukan seperti suaranya sebelum bu Sarkam memindahkan ajian awet mudanya. Dan kulit bu Sarkam berangsur berkeriput. Payudara yang sedari tadi menggunung kenyal berangsur melorot. Terjadi sebaliknya di tubuh Remi. Semuanya berangsur berubah menjadi semakin remaja.
     " Begtulah War, ceritanya aku memperoleh ajian awet muda ini " Kata Nyi Ranu mengahkiri ceritanya. Waruni hanya terdiam. Dan terus mengagumi tubuh Nyi Ranu yang memang begitu segar, dengan kulit halus yang tidak ada keriput. Waruni memperhatikan tubuhnya sendiri. Tak seindah tubuh Nyi Ranu. Diam - diam Waruni ingin ajian awet muda itu ada juga di tubuhnya.

                    tamat

  

     



Selasa, 03 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                               edohaput

Bagian empat belas

     Saat itu Nyi Ranu yang bernama kecil Remi masih perawan. Remi bertemu dengan seorang perempuan cantik di pasar. Perempuan tengah baya tapi tubuhnya begitu tampak muda. Wajahnya bersih dan berisi tanpa ada keriput. Postur tubuhnya tinggi semampai.  Remi yang hari itu sedang kebingungan karena pasar sepi dari pembeli. Padahal dagangan sayuran yang susah - susah ia bawa dari dusun sangat banyak. Sayuran kalau tidak hari ini laku pasti akan segera layu dan besuk tidak laku dijual lagi. Hari yang hujan menyebabkan tidak banyak orang pergi berbelanja di pasar. " Pasar sepi ya nduk ?" Sapa perempuan ini kepada Remi. " Iya bu, barangkali hari hujan jadi para pembeli sayuran ogah - ogahan ke pasar ". Jawab Remi sekenanya. " Bagaimana kalau sayuranmu aku borong. Saya beli semua. Tapi syaratnya kamu .... eh siapa namu ? " Perempuan cantik ini memutus kalimatnya untuk menanyakan nama. " Saya Remi, bu " Jawab Remi. " Ya syaratnya nak Remi mengantar sayuran ke rumahku ". Perempuan ini melanjutkan kalimatnya. " Jauh bu, rumah Ibu ?" Remi bertanya. " Ya jauh nduk ... tapi nanti kita naik andong kok nduk " Kata perempuan cantik ini lagi. Remi berpikir. " Gimana nduk, mau ? Kalau mau ayo segera. Mumpung hari belum terlalu siang ". Remi masih terus berpikir. " Sudah boleh apa tidak. Mau apa tidak, nduk !" Perempuan yang disebut Remi dengan sebutan bu ini setengah mengancam Remi yang ragu. Tanpa pikir panjang lagi Remi mengiyakan permintaan perempuan cantik ini. Dari pada dagangan tidak laku, lebih baik diborong tapi terpaksa harus mengantar sampai ke rumah bu cantik ini. 
     Remi kemudian sibuk menata sayuran di atas andong. Andong penuh dengan sayuran dagangan Remi yang di borong perempuan cantik. Andong meninggalkan pasar. Remi duduk berdampingan dengan perempuan cantik yang memborong dagangannya. Hujan belum juga reda. Lepas tengah hari andong baru sampai di rumah bu cantik. Lagi - lagi Remi mendapat penawaran yang menggiurkan. Ia akan dibayar seharga sayuran yang diborong jika Remi mau membantu bu cantik mengolah sayuran yang dibelinya. Bu cantik yang kemudian diketahui oleh Remi bernama bu Sarkam, ternyata membuka warung makan di dusunnya.
     Hari itu pembantu bu Sarkam sedang pulang ke rumah karena orang tuanya sakit. Maka bu Sarkam butuh dibantu. Ke pasarpun bu Sarkam jarang. Karena semua dilakukan pembantunya. Dan hari itu istimewa, bu Sarkam harus ke pasar sendiri. Dan bertemu dengan Remi. Karena bakal mendapat untung, Remi tanpa berpikir pajang menyanggupi permintaan bu Sarkam. Walaupun Remi tahu pekerjaan mengolah sayur itu perlu waktu lama dan pasti ia akan menginap di rumah bu Sarkam. Tidak apalah, yang penting dapat uang. Besuk tidak perlu jualan di pasar karena uang yang didapat bakal cukup.
     Karena keramahan dan keterbukaan bergaul dari bu Sarkam membuat Remi tidak canggung. Perkenalannya dengan bu Sarkam cepat menjadi akrab dan tidak lagi ada basa - basi. Tiba - tiba rasa kedekatannya dengan bu Sarkam begitu terasa. Seolah - olah perkenalan dengan bu Sarkam telah berlasung lama. Remi yang juga mudah bergaul dengan siapa saja membuat hubungannya dengan bu Sarkam cepat terasa dekat. Remi merasakan hari cepat sekali sore. Menjelang matahari tenggelam semua pekerjaan membuat sayur telah selesai. Remi bisa beristirahat. " Nduk kamu mandi sana ! Tu airnya sudah ibu siapkan di kamar mandi ! Baju gantimu juga sudah ibu siapkan. Pakai saja daster ibu !" Berkata begitu bu Sarkam sambil mengansurkan handuk ke tangan Remi. Remi menerima handuk dan melangkah ke kamar mandi yang ditunjuk bu Sarkam. Betapa kagetnya Remi ketika membuka pintu kamar mandi. Di dalam kamar mandi telah ada ember yang kelewat besar ukurannya. Dan di ember itu telah berisi air kembang. Seluruh permukaan air penuh dengan kembang yang berwarna - warni dan wangi. Remi tidak jadi masuk ke kamar mandi. " Kenapa nduk, kok tidak jadi masuk ke kamar mandi ?" Tanya bu Sarkam sambil tersenyum cantik. " Air kembang itu buat apa bu ?" Tanya Remi yang masih belum mengerti keberadaan air kembang itu. " Untuk kamu, nduk ! Guyurlah badanmu dengan air yang ada di bak dan sabuni bersih - bersih badanmu. Lalu setelah itu berendamlah di air kembang itu. Tubuhmu akan wangi. Sewangi kembang - kembang itu " Tutur bu Sarkam sambil tersenyum kepada Remi. Seperti dihipnotis Remi merasakan perasaannya bergitu tenteram mendengar tutur bu Sarkam yang disertai senyum lembutnya. Remi kembali ke kamar mandi dan menutup pintu. Ditatapnya air kembang yang tercium wanginya. Wangi kembang mawar yang terasa menyegarkan. Mengapa bu Sarkam menyiapkan air kembang untuk dirinya ? Apakah bu Sarkam juga sering berendam di air kembang ? Ah ..... peduli apa. Yang penting mandi dan berendam di air kembang. Rasa ingin mencoba berendam di air kembangpun menggoda pikiran Remi.
     Remi menelanjangi diri. Semua yang terbuat dari kain satu - satu dilepasnya dari tubuhnya. Remi terkejut dan setengah mengagumi tubuhnya ketika tubuh telanjangnya tampak di cermin besar yang ada di kamar mandi. Diperhatikannya buah dadanya di cermin. Putih dengan puting merah merona dan menonjol di dadanya. Dirabanya payudara. Kenyal. Diperhatikannya perutnya yang tipis dengan pusar yang kecil. Diperhatikannya juga yang ada di bawah pusarnya. Kemaluannya yang telah ditumbuhi rambut halus dan hitam legam. Dirabanya kemaluannya. Menggunung di tengah selangkangannya. Lalu diperhatikan wajahnya sendiri di cermin. Remi berguman lirih : " Aku ini cantik. Tubuhku indah. Siapa lelaki yang nanti akan menikmatinya ?" Remi mengguyurkan air bak di tubuhnya. Terasa dingin dan segar. Kemudian menyabuni tubuhnyanya. Sambun berputar - putar di buah dadanya. Diperutnya. Di kemaluannya. Remi sesekali meringis ketika rasa geli menyerang ketika sabun ada di buah dada atau di selangkangannya.
     Selesai dengan air bak dan sabun Remi menuruti apa kata bu Sarkam tadi. Seluruh tubuhnya ditenggelamkan di ember besar yang berisi air kembang. Punggungnya disandarkan di bibir ember dan kakinya kangkang ditekuk lutunya. Remi merasakan air kembang yang begitu hangat dan merasuki kulit tubuhnya. kehangatan air yang belum pernah dirasakan. Kehangatan air kembang yang tiba - tiba membuat pikirannya melayang karena tubuhnya dirasuki rasa nikmat. Payudara dan kemaluannya tak pernah terlintas dipikirannya. Tiba - tiba begitu mengganggu pikirannya. Tangannya kepingin sekali merabanya. Dan detak jantungnya tiba - tiba meningkat. Birahinya begitu tiba - tiba muncul dan sangat dirasakannya menyebabkan tangannya tak lagi bisa dicegah untuk segera berada di payudara dan mengelus - elus dengan sedikit meremas - remas, sementara tangan yang satunya telah berada di selangkangan meraba kemaluannya. Remi mendesah. Remi tak mengerti tiba - tiba seluruh tubuhnya dijalari kenikmatan. Remi pernah juga ingin bermaturbasi dan juga pernah melakukannya. Tetapi rasa nikmat yang tiba - tiba ada di rendaman air kembang belum pernah dirasakan. Rasa ingin bermaturbasi yang begitu menggebu seperti kali ini belum pernah dialami. Remi menekan - nekankan telapak tangannya di permukaan kemaluannya. Dan ada rasa nikmat yang luar biasa. Tangannya yang di payudara tak mau berhenti meremas buah dadanya.
     Bu Sarkam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu memasuki kamar mandi. Remi kaget dan buyarlah birahi yang sedang melingkupi perasaan, pikiran dan tubuhnya. Kekagetan Remi menjadi bertambah - tambah ketika tiba - tiba bu Sarkam menelanjangi dirinya di hadapannya yang sedang berendam. Dan kekagetannya semakin menjadi - jadi ketika matanya menatap tubuh telanjang yang ada di hadapannya. Remi hanya bisa melongo. Tubuh bu Sarkam begitu indah. Payudara yang kencang. Tegak berdiri di dadanya. Perut yang rata halus dan mengecil di pinggang. Kemaluan yang menonjol dengan rambut halus lebat. Dan ketika bu Sarkam tersenyum Remi tidak melihat sebagai bu Sarkam melainkan sebagai gadis muda belia. Ada apa bu Sarkam ini ? mengapa masih begitu cantik ? Mengapa tubuhnya masih seperti tubuh gadis belia ? Tubuhku saja kalah indah. Pikir Remi. " Aku juga mau mandi, nduk. Tidak usah kaget ! Kita kan sama - sama perempuan ". Kata bu Sarkam sambil mendekat ke ember yang sedang direndami Remi dan berjongkok di tepi ember. " Segar kan, nduk !" Kata bu Sarkam sambil membasahi tubuhnya dengan air kembang. Tangannya masuk ke ember dan menyentuh kulit Remi. Remi tak bergeming. Bu Sarkam membasahi wajah dan tubuhnya. Tangannya memegangi pundak Remi. Ketika tangan bu Sarkam menyentuh payudaranya Remi lagi - lagi kaget. " Payudaramu bagus, nduk ". Berkata begitu bu Sarkam meremas lembut buah dada Remi. Remi tidak menolak karena enak. Dan tiba - tiba birahi yang tadi sempat buyar ketika bu Sarkam masuk ke kamar mandi dan mengagetkannya mulai merayapi perasaan dan tubuhnya lagi. Dan ketika tangan bu Sarkam terus mengelus dan meremas lembut buah dadanya birahinya semakin menjadi. Tangan Remi yang tenggelam di air menelusur meraba kemaluannya sendiri karena kemaluannya menuntut untuk diraba. Tubuh telanjang bu Sarkam semakin merapat ke ember. Dan kedua tangannya segera masuk ke dalam air. Tangan kanan meramba - raba pantat Remi dan tangan kiri merayap - rayap mengelus paha Remi dan terus menelusur sampai ke selangkangan Remi. Tangan Remi yang baru saja ada di kemaluan segera ditarik untuk memberi kesempatan tangan bu Sarkam yang telah menuju kemaluannya dan terus mengelus, menekan, dan jari - jarinya mulai mengilik. Remi mendesah. Detak jantung semakin menjadi dan napasnya memburu. Remi menggeliat. Mulutnya menganga. Dan segera disergap bibir bu Sarkam. Remi merasakan tubuhnya melayang. Bibirnya terasa hangat nikmat. Bibir yang baru kali ini beradu dengan bibir. Kemaluannya terasa begitu pegal dan meradang. Remi terus menggeliat menimbulkan kecipak air dalam ember. Kakinya terangkat - angkat karena menahan rasa geli nikmat di kemaluan dan rasa geli di dalam mulutnya yang mulai dijuluri lidah bu Sarkam. Dan tiba - tiba kedua tangan Remi memeluk tubuh bu Sarkam dan kakinya menjulur keluar dari ember dan tubuhnya terangkat. Matanya terbeliak dan segera menutup rapat - rapat. Rasa enak di kemaluannya tidak terperikan. Remi sampai di puncak kenikmatan.
     Setelah napas Remi yang terengah mulai mereda, bu Sarkam segera menarik keluar tubuh Remi keluar dari ember. Remi menurut. Berganti bu Sarkam yang berendam di ember. " Lakukan kepadaku, nduk ! Seperti yang aku lakukan kepadamu baru saja !" Kata bu Sarkam setelah tubuh telanjangnya tertelan air kembang di ember. Dan Remi berganti mengambil posisi berjongkok di pinggir ember. Dan tubuhnya mepet dengan bibir ember. Remi mulai menirukan tangan bu Sarkam yang tadi membuatnya nikmat. Mula - mula payudara bu Sarkam. Dan remi begitu kagum dengan buah dada yang sedang diremasnya. Payu dara yang masih begitu kenyal dan kencang. Lebih kenyal dan lebih kencang dari pada miliknya. Tangan Remi yang lain menulusuri lekuk - lekuk tubuh bu Sarkam. Bu Sarkam menggeliat tanda nikmat. Tibalah tangan Remi di kemaluan bu Sarkam. Apa yang tadi dilakukan bu Sarkam terhadap kemaluannya dilakukan juga di kemaluan bu Sarkam. Bu Sarkam menggelijang. Air kembang dalam ember kembali berkecipak. " Nduk, cium bibirku, nduk !" Perintah bu Sarkam sambil menyediakan bibirnya untuk dikulum mulut Remi. Remi melakukan seperti yang dilakukan bu Sarkam. Bu Sarkam terus membuat air dalam ember tumpah - tumpah. Dan seperti halnya Remi tiba - tiba kaki bu Sarkam menjulur keluar dari ember dan tubuh telanjangnya terangkat. Tangan Remi yang ada di kemaluan bu Sarkam terjepit paha. Bu Sarkam menegang dan jari Remi yang ada kemaluan bu Sarkam merasakan cairan hangat mengalirinya.
  
                         bersambung ke bagian lima belas ...................

Minggu, 01 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                         edohaput

Bagian tiga belas

     Waruni diminta Nyi Ranu untuk mandi. Waruni segera melakukannya. Waruni malam nanti pasti Nyi Ranu minta ditemaninya tidur. Wurani sudah bisa membayangkang tubuhnya akan dijilati Nyi Ranu. Tidak luput puting susunya pasti akan jadi bulan - bulanan Nyi Ranu. Kemaluannya akan menjadi barang mainan yang mengasyikan bagi Nyi Ranu. Waruni yang telanjang sambil mengguyurkan air dan menyambuni tubuh  sintalnya yang padat berisi berkulit bersih tiba - tiba merasakan kenikmatan ketika membayangkan Nyi Ranu yang kadang - kadang sangat liar mempermainkan tubuhnya.
     Waruni tak habis pikir Nyi Ranu yang sudah berusia tujuh puluh tahunan tubuhnya tetap sintal. Padat dan kenyal. Pantatnya masih sangat nyendul dan belum melorot. Waruni tahu, pada umumnya wanita seumur Nyi Ranu tubuhnya sudah mengendor. Tetapi payudara Nyi Ranu tidak melorot. Tetap kencang kenyal menggunung. Kulitnya hampir - hampir tidak ada yang mengeriput. Wajah Nyi Ranu selalu tampak bercahaya dan kencang. Mata Nyi Ranu selalu berbinar. Waruni hanya sebatas bisa berpikir saja. Mengapa tubuh Nyi Ranu yang sudah berumur tetap seperti tubuh perawan. Bahkan suatu ketika Waruni sedang diminta mengilik kemaluan Nyi Ranu, Waruni merasakan liang senggama kemaluan Nyi Ranu begitu sempit. Bibir - bibir kemaluan Nyi Ranu masih begitu kencang layaknya bibir kemaluan perawan. Dan yang menjadikan Waruni juga tidak habis pikir rambut kemaluan Nyi Ranu tidak beruban. Begitu rambut yang ada di kepalanya tetap lebat dan hitam legam. Mengapa Nyi Ranu begitu awet muda ? Kapan Nyi Ranu tua ? Wurani pernah juga membanding - bandingkan perutnya dengan perut Nyi Ranu yang tetap rata dan tidak berkeriput. Sedang perutnya yang masih gadis perawan tidak seindah perut Nyi Ranu. 
     Waruni menggerakkan sambun menelusuri lekuk - lekuk tubuhnya. Ketika sampai di buah dadanya sabun diputar - putar. Dirasakan halusnya sabun yang menggelikan susunya. Sabun diputar - putar turun sampai di perut terus ke bawah dan sampai di kemaluannya. Waruni mengambil posisi kangkang dan sabun dielus - eluskan di permukaan kemaluannya. Karena posisi kangkangnya membuat bibir kemaluan sedikit terbuka. Waruni tidak sadar mendesah karena ada rasa geli enak. Dan Waruni terus menggosok kemaluannya dengan sabun. Sementara tangan kirinya meremas - remas payudara sendiri. Waruni telah masuk ke masturbasi. Kemaluannya tiba - tiba terasang hebat. Mulut Waruni menganga dan mengeluarkan desis. Matanya sebentar membuka dan sebentar menutup rapat. Tiba - tiba Waruni menggelinjang. Hampir saja tubuhnya terjatuh rebah kelantai kamar mandi. Waruni orgasme dengan sabun mandi. Waruni menjadi tersadar kalau dirinya baru saja bermasturbasi sambil membayangkan tubuhnya sedang digarap oleh Nyi Ranu.
     Sehabis makan malam Nyi Ranu meminta Waruni masuk ke  kamarnya. Waruni siap. Waruni mengerti kalau Nyi Ranu pasti menginginkan bibirnya, jari - jari tangannya, dan hembusan napas hangatnya. Seperti biasanya Waruni memasuki kamar Nyi Ranu dengan daster yang longgar dan tidak lagi bercelana dalam. Karena dengan bercelana dalam hanya akan membuat ribet ketika Nyi Ranu meraba - rabanya. Toh Nyi Ranu akan meminta celana dalamnya dilepas. Waruni telah mencuci kemaluannya dengan air rendaman daun sirih. Agar bersih dan wangi. Karena Nyi Ranu pasti akan menjilatinya, dan menyedot - nyedotnya, seperti ketika ia menyedot dan menjilati milik Nyi Ranu. Dan disaat - saat  saling menjilat dan menyedot itulah Waruni dan Nyi Ranu sama - sama mengerang karena nikmat yang dirasakannya.
     Di kamar Nyi Ranu juga sudah siap untuk berlaga. Kemaluannya sudah tidak lagi ditutupi celana dalam. Seperti halnya kemaluan Waruni kemaluan Nyi Ranu juga telah mendapatkan air rendaman daun sirih yang membuatnya wangi dan bersih. Nyi Ranu sedang rebahan di ranjang. Tubuhnya terlentang ditutupi daster sutera transparan. Sehingga buah dadanya yang menggunung tampak puntingnya menyembul menekan ke atas kain sutera yang menutupinya. Rambut kemaluan Nyi Ranu tampak membayang di balik kain dasternya yang sangat tipis. Bibir Nyi Ranu merah membasah karena sedang diolesi madu lebah yang dipanen di halaman rumahnya.
     Setelah menutup pintu kamar Waruni langsung mendekati Nyi Ranu. Tanpa kata - kata keluar dari mulutnya yang mungil Waruni terus membungkuk dan memeluk tubuh Nyi Ranu dan mencium bibir Nyi Ranu yang basah oleh madu lebah. Waruni menjadi sangat bersemangat mencium dan mengulum bibir Nyi Ranu. Dirasakan bibir Nyi Ranu manis madu dan wangi. Lidah Waruni segera menjulur ke dalam mulut Nyi Ranu dan seperti biasanya lidah Waruni menekan dan menggesek langit - langit mulut Nyi Ranu. Merasakan lidah Waruni yang terus dengan gencarnya menyerang langit - langit mulutnya Nyi Ranu hanya bisa ah...ah.. dan ...uh....uh... sambil tubuhnya terangkat - angkat karena geli yang membuatnya melayang. Tangan Nyi Ranu mulai gerayangan dan berhenti di buah dada Waruni dan disana dengan kuatnya meremas berganti - ganti buah dada Waruni. Waruni yang buah dadanya diremas dengan ganas oleh Nyi Ranu yang sedang kegelian di mulutnya hanya bisa semakin gencar saja menyerang mulut Nyi Ranu dengan lidahnya. Nyi Ranu yang semakin diserang menjadi semakin kelabakan. Rasa geli enak di langit - langit mulutnya mulai menjalari seluruh tubuhnya. Kulitnya mulai merinding. Syaraf - syarafnya meradang membuat tubuhnya menjadi panas dan berkeringat. Rasa gelinya merambat sampai di kemaluannya. Membuat kemaluannya membasah. Nafsu birahinya semakin menggelora. Napasnya memburu dan dari hidungnya terus mendenguskan napas hangatnya yang menerpai wajah Waruni. Waruni tahu, biasanya kalau Nyi Ranu sudah merinding dan mengeliat - geliat dan juga mulai memburu napasnya serta berkeringat akan segera mencapai orgasme. Maka tangan Waruni segera menggerayang kemaluan Nyi Ranu. Disana jari - jari Waruni mulai menyibak - nyibakan bibir kemaluan Nyi Ranu untuk menemukan liang senggama yang akan dimasuki dua jarinya dan menggosok - gosoknya. Tanpa berhenti mencium bibir Nyi Ranu Waruni seperti biasanya mempermainkan kemaluan Nyi Ranu dengan cara memasukkan dua jarinya dan dikeluar masukkan di liang senggama kemaluan Nyi Ranu sambil digetar - getarkan. Gerakan jari Waruni semakin cepat saja ketika Nyi Ranu semakin meronta - ronta. Kalau sudah begitu Nyi Ranu pasti akan segera sampai. Betul juga tiba - tiba Nyi Ranu melepaskan ciuman Waruni dan berteriak keras : " Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrr ...... !" Polah Nyi Ranu tak karuan. Kakinya yang bergerak - gerak menimbulkan suara gesekan keras antara tumit kakinya dengan alas ranjang. Nyi Ranu sampai ke puncak dengan hebat. Jari - jari tangan Waruni terguyur cairan kenikmatan Nyi Ranu yang tumpah ruah. Waruni menghentikan serangannya dan menjatuhkan diri terlentang di samping Nyi Ranu yang lemas terlentang dan napasnya masih memburu.
     Setelah beberapa saat istirahat dan napas Nyi Ranu kembali normal. Nyi Ranu segera bangkit dari terlentangnya dan tangannya mulai menggerayangi tubuh Waruni. Mulut Nyi Ranu langsung ke puting penthil Waruni yang memang belum tampak karena belum pernah disedot bayi. Dari buah dada mulut Nyi Ranu pindah ke leher Waruni. Leher Waruni yang wangi kembang mawar karena ketika mandi sore telah diboreh kembang mawar terus dijilati Nyi Ranu. Waruni yang merasakan geli di leher mulai menggeliat. Napasnya memburu. Tangan Nyi Ranu yang telah berada di kemaluan Waruni sudah melesakkan jarinya ke liang kemaluan Waruni dan mengilik  bagian - bagian yang membuat Waruni terus menjejak - jejakkan kakinya di speri ranjang. Mulut Nyi Ranu telah beralih ke bibir Waruni. Dan apa yang tadi oleh Waruni dilakukan, dilakukan juga oleh Nyi Ranu. Lidah Nyi Ranu menyerang semua yang ada di mulut Waruni. Terutama bagian langit - langit. Waruni tak berdaya kemaluannya begitu geli. Mulutnya begitu geli dan tubuh Nyi Ranu yang menindihnyapun membuat geli payudaranya yang tergesek - gesek dan tertekan - tekan. Waruni tiba - tiba melenguh hebat dan tubuhnya diangkat - angkat, pantatnya dimaju - majukan agar jari - jari Nyi Ranu semakin menyentuh bagian dalam kemaluannya. " Aaaaaaaauuuuughhhh...... Nyiiiiiiiiiiii..... !! " Waruni tak bisa menahan lagi kenikmatannya. Waruni orgasme hebat. Cairan kenikmatan terkucur membasahi tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Waruni terkulai lemas di pelukan Nyi Ranu. Waruni yang masih terengah masih terus bibirnya diciumi Nyi Ranu. Nyi Ranu ingin Waruni terpuaskan. Seperti dirinya yang selalu dipuaskan oleh Waruni.
     " War ... sudah tiba saatnya aku membuka rahasia yang selama ini aku pendam rapat ". Bisik Nyi Ranu di telinga Waruni. Waruni yang matanya masih terpejam karena ciuman Nyi Ranu tiba - tiba membuka dan menatap mata Nyi Ranu. " Ya War... sudah saatnya. Dan kamulah yang harus mengetahui rahasia ini ". Kata Nyi Ranu yang menatap mata Waruni yang tampak kaget dan heran. " Rahasia apa Nyi ?" Tanya Waruni dengan membuka mulutnya. Melihat mulut Waruni terbuka dan basah karena olesan madu sekali lagi Nyi Ranu menghisapnya. Waruni melenguh. Sesaat kemudian Nyi Ranu melepaskan ciumannya dan bangun dari posisi memeluk tubuh Waruni yang terlentang. Nyi Ranu menarik tangan Waruni agar mengikuti duduk. Mereka duduk bersimpuh di atas ranjang. Tangan Waruni menggapai nampan yang berisi buah jeruk dan diansurkan ke depan Nyi Ranu. " Kupas War... ini jeruk manis banget. Tadi aku beli di kota ". Waruni mengupas jeruk : " Rahasia apa Nyi ? Yang ingin Nyi Ranu mau buka ?" Tanya Waruni sambil mengupas jeruk. " War ... sudah sangat lama aku menyimpan rahasia ini. Dan aku dulu berjanji, jika anakku Darmuto sudah kawin, aku ingin membuka rahasia ini dan mewariskan kepunyaanku ini kepada orang yang mau ". Kalimat ini meluncur dari mulut Nyi Ranu yang sedang mengunyah jeruk. " Dan aku ingin kamulah War... yang akan mewarisnya ". Waruni kaget. Apa yang akan diwariskan Nyi Ranu kepada dirinya ? Ia hanya pembantu Nyi Ranu. Walaupun sebenarnya masih ada hubungan darah dengan Nyi Ranu, tetapi Waruni tak lebih hanya pembantu. Lalu apa yang akan diwariskan Nyi Ranu ? Sebagian kekayaannya ? " War... aku sudah kelewat berumur. Tapi kamu tahu tubuhku tetap bagai perawan. Kamu pernah bertanya kepadaku apa rahasianya aku begitu awet muda. Nah War ... inilah rahasianya. Kamu akan segara mengetahui. Dan harapanku kamulah yang selanjutnya mau memakainya ". Kata Nyi Ranu sambil menatap mata Waruni yang mengerinyitkan dahinya tanda tidak mengerti. " Dengarkan baik - baik ya War... ! " Nyi Ranu mulai bercerita tentang rahasianya. Yang membuat tubuhnya awet muda. Tetap sintal. Tetap kenyal dan padat berisi. Yang membuat wajahnya tetap cantik walaupun usinya telah lanjut.

bersambung ke bagian empat belas .....................