Selasa, 03 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                               edohaput

Bagian empat belas

     Saat itu Nyi Ranu yang bernama kecil Remi masih perawan. Remi bertemu dengan seorang perempuan cantik di pasar. Perempuan tengah baya tapi tubuhnya begitu tampak muda. Wajahnya bersih dan berisi tanpa ada keriput. Postur tubuhnya tinggi semampai.  Remi yang hari itu sedang kebingungan karena pasar sepi dari pembeli. Padahal dagangan sayuran yang susah - susah ia bawa dari dusun sangat banyak. Sayuran kalau tidak hari ini laku pasti akan segera layu dan besuk tidak laku dijual lagi. Hari yang hujan menyebabkan tidak banyak orang pergi berbelanja di pasar. " Pasar sepi ya nduk ?" Sapa perempuan ini kepada Remi. " Iya bu, barangkali hari hujan jadi para pembeli sayuran ogah - ogahan ke pasar ". Jawab Remi sekenanya. " Bagaimana kalau sayuranmu aku borong. Saya beli semua. Tapi syaratnya kamu .... eh siapa namu ? " Perempuan cantik ini memutus kalimatnya untuk menanyakan nama. " Saya Remi, bu " Jawab Remi. " Ya syaratnya nak Remi mengantar sayuran ke rumahku ". Perempuan ini melanjutkan kalimatnya. " Jauh bu, rumah Ibu ?" Remi bertanya. " Ya jauh nduk ... tapi nanti kita naik andong kok nduk " Kata perempuan cantik ini lagi. Remi berpikir. " Gimana nduk, mau ? Kalau mau ayo segera. Mumpung hari belum terlalu siang ". Remi masih terus berpikir. " Sudah boleh apa tidak. Mau apa tidak, nduk !" Perempuan yang disebut Remi dengan sebutan bu ini setengah mengancam Remi yang ragu. Tanpa pikir panjang lagi Remi mengiyakan permintaan perempuan cantik ini. Dari pada dagangan tidak laku, lebih baik diborong tapi terpaksa harus mengantar sampai ke rumah bu cantik ini. 
     Remi kemudian sibuk menata sayuran di atas andong. Andong penuh dengan sayuran dagangan Remi yang di borong perempuan cantik. Andong meninggalkan pasar. Remi duduk berdampingan dengan perempuan cantik yang memborong dagangannya. Hujan belum juga reda. Lepas tengah hari andong baru sampai di rumah bu cantik. Lagi - lagi Remi mendapat penawaran yang menggiurkan. Ia akan dibayar seharga sayuran yang diborong jika Remi mau membantu bu cantik mengolah sayuran yang dibelinya. Bu cantik yang kemudian diketahui oleh Remi bernama bu Sarkam, ternyata membuka warung makan di dusunnya.
     Hari itu pembantu bu Sarkam sedang pulang ke rumah karena orang tuanya sakit. Maka bu Sarkam butuh dibantu. Ke pasarpun bu Sarkam jarang. Karena semua dilakukan pembantunya. Dan hari itu istimewa, bu Sarkam harus ke pasar sendiri. Dan bertemu dengan Remi. Karena bakal mendapat untung, Remi tanpa berpikir pajang menyanggupi permintaan bu Sarkam. Walaupun Remi tahu pekerjaan mengolah sayur itu perlu waktu lama dan pasti ia akan menginap di rumah bu Sarkam. Tidak apalah, yang penting dapat uang. Besuk tidak perlu jualan di pasar karena uang yang didapat bakal cukup.
     Karena keramahan dan keterbukaan bergaul dari bu Sarkam membuat Remi tidak canggung. Perkenalannya dengan bu Sarkam cepat menjadi akrab dan tidak lagi ada basa - basi. Tiba - tiba rasa kedekatannya dengan bu Sarkam begitu terasa. Seolah - olah perkenalan dengan bu Sarkam telah berlasung lama. Remi yang juga mudah bergaul dengan siapa saja membuat hubungannya dengan bu Sarkam cepat terasa dekat. Remi merasakan hari cepat sekali sore. Menjelang matahari tenggelam semua pekerjaan membuat sayur telah selesai. Remi bisa beristirahat. " Nduk kamu mandi sana ! Tu airnya sudah ibu siapkan di kamar mandi ! Baju gantimu juga sudah ibu siapkan. Pakai saja daster ibu !" Berkata begitu bu Sarkam sambil mengansurkan handuk ke tangan Remi. Remi menerima handuk dan melangkah ke kamar mandi yang ditunjuk bu Sarkam. Betapa kagetnya Remi ketika membuka pintu kamar mandi. Di dalam kamar mandi telah ada ember yang kelewat besar ukurannya. Dan di ember itu telah berisi air kembang. Seluruh permukaan air penuh dengan kembang yang berwarna - warni dan wangi. Remi tidak jadi masuk ke kamar mandi. " Kenapa nduk, kok tidak jadi masuk ke kamar mandi ?" Tanya bu Sarkam sambil tersenyum cantik. " Air kembang itu buat apa bu ?" Tanya Remi yang masih belum mengerti keberadaan air kembang itu. " Untuk kamu, nduk ! Guyurlah badanmu dengan air yang ada di bak dan sabuni bersih - bersih badanmu. Lalu setelah itu berendamlah di air kembang itu. Tubuhmu akan wangi. Sewangi kembang - kembang itu " Tutur bu Sarkam sambil tersenyum kepada Remi. Seperti dihipnotis Remi merasakan perasaannya bergitu tenteram mendengar tutur bu Sarkam yang disertai senyum lembutnya. Remi kembali ke kamar mandi dan menutup pintu. Ditatapnya air kembang yang tercium wanginya. Wangi kembang mawar yang terasa menyegarkan. Mengapa bu Sarkam menyiapkan air kembang untuk dirinya ? Apakah bu Sarkam juga sering berendam di air kembang ? Ah ..... peduli apa. Yang penting mandi dan berendam di air kembang. Rasa ingin mencoba berendam di air kembangpun menggoda pikiran Remi.
     Remi menelanjangi diri. Semua yang terbuat dari kain satu - satu dilepasnya dari tubuhnya. Remi terkejut dan setengah mengagumi tubuhnya ketika tubuh telanjangnya tampak di cermin besar yang ada di kamar mandi. Diperhatikannya buah dadanya di cermin. Putih dengan puting merah merona dan menonjol di dadanya. Dirabanya payudara. Kenyal. Diperhatikannya perutnya yang tipis dengan pusar yang kecil. Diperhatikannya juga yang ada di bawah pusarnya. Kemaluannya yang telah ditumbuhi rambut halus dan hitam legam. Dirabanya kemaluannya. Menggunung di tengah selangkangannya. Lalu diperhatikan wajahnya sendiri di cermin. Remi berguman lirih : " Aku ini cantik. Tubuhku indah. Siapa lelaki yang nanti akan menikmatinya ?" Remi mengguyurkan air bak di tubuhnya. Terasa dingin dan segar. Kemudian menyabuni tubuhnyanya. Sambun berputar - putar di buah dadanya. Diperutnya. Di kemaluannya. Remi sesekali meringis ketika rasa geli menyerang ketika sabun ada di buah dada atau di selangkangannya.
     Selesai dengan air bak dan sabun Remi menuruti apa kata bu Sarkam tadi. Seluruh tubuhnya ditenggelamkan di ember besar yang berisi air kembang. Punggungnya disandarkan di bibir ember dan kakinya kangkang ditekuk lutunya. Remi merasakan air kembang yang begitu hangat dan merasuki kulit tubuhnya. kehangatan air yang belum pernah dirasakan. Kehangatan air kembang yang tiba - tiba membuat pikirannya melayang karena tubuhnya dirasuki rasa nikmat. Payudara dan kemaluannya tak pernah terlintas dipikirannya. Tiba - tiba begitu mengganggu pikirannya. Tangannya kepingin sekali merabanya. Dan detak jantungnya tiba - tiba meningkat. Birahinya begitu tiba - tiba muncul dan sangat dirasakannya menyebabkan tangannya tak lagi bisa dicegah untuk segera berada di payudara dan mengelus - elus dengan sedikit meremas - remas, sementara tangan yang satunya telah berada di selangkangan meraba kemaluannya. Remi mendesah. Remi tak mengerti tiba - tiba seluruh tubuhnya dijalari kenikmatan. Remi pernah juga ingin bermaturbasi dan juga pernah melakukannya. Tetapi rasa nikmat yang tiba - tiba ada di rendaman air kembang belum pernah dirasakan. Rasa ingin bermaturbasi yang begitu menggebu seperti kali ini belum pernah dialami. Remi menekan - nekankan telapak tangannya di permukaan kemaluannya. Dan ada rasa nikmat yang luar biasa. Tangannya yang di payudara tak mau berhenti meremas buah dadanya.
     Bu Sarkam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu memasuki kamar mandi. Remi kaget dan buyarlah birahi yang sedang melingkupi perasaan, pikiran dan tubuhnya. Kekagetan Remi menjadi bertambah - tambah ketika tiba - tiba bu Sarkam menelanjangi dirinya di hadapannya yang sedang berendam. Dan kekagetannya semakin menjadi - jadi ketika matanya menatap tubuh telanjang yang ada di hadapannya. Remi hanya bisa melongo. Tubuh bu Sarkam begitu indah. Payudara yang kencang. Tegak berdiri di dadanya. Perut yang rata halus dan mengecil di pinggang. Kemaluan yang menonjol dengan rambut halus lebat. Dan ketika bu Sarkam tersenyum Remi tidak melihat sebagai bu Sarkam melainkan sebagai gadis muda belia. Ada apa bu Sarkam ini ? mengapa masih begitu cantik ? Mengapa tubuhnya masih seperti tubuh gadis belia ? Tubuhku saja kalah indah. Pikir Remi. " Aku juga mau mandi, nduk. Tidak usah kaget ! Kita kan sama - sama perempuan ". Kata bu Sarkam sambil mendekat ke ember yang sedang direndami Remi dan berjongkok di tepi ember. " Segar kan, nduk !" Kata bu Sarkam sambil membasahi tubuhnya dengan air kembang. Tangannya masuk ke ember dan menyentuh kulit Remi. Remi tak bergeming. Bu Sarkam membasahi wajah dan tubuhnya. Tangannya memegangi pundak Remi. Ketika tangan bu Sarkam menyentuh payudaranya Remi lagi - lagi kaget. " Payudaramu bagus, nduk ". Berkata begitu bu Sarkam meremas lembut buah dada Remi. Remi tidak menolak karena enak. Dan tiba - tiba birahi yang tadi sempat buyar ketika bu Sarkam masuk ke kamar mandi dan mengagetkannya mulai merayapi perasaan dan tubuhnya lagi. Dan ketika tangan bu Sarkam terus mengelus dan meremas lembut buah dadanya birahinya semakin menjadi. Tangan Remi yang tenggelam di air menelusur meraba kemaluannya sendiri karena kemaluannya menuntut untuk diraba. Tubuh telanjang bu Sarkam semakin merapat ke ember. Dan kedua tangannya segera masuk ke dalam air. Tangan kanan meramba - raba pantat Remi dan tangan kiri merayap - rayap mengelus paha Remi dan terus menelusur sampai ke selangkangan Remi. Tangan Remi yang baru saja ada di kemaluan segera ditarik untuk memberi kesempatan tangan bu Sarkam yang telah menuju kemaluannya dan terus mengelus, menekan, dan jari - jarinya mulai mengilik. Remi mendesah. Detak jantung semakin menjadi dan napasnya memburu. Remi menggeliat. Mulutnya menganga. Dan segera disergap bibir bu Sarkam. Remi merasakan tubuhnya melayang. Bibirnya terasa hangat nikmat. Bibir yang baru kali ini beradu dengan bibir. Kemaluannya terasa begitu pegal dan meradang. Remi terus menggeliat menimbulkan kecipak air dalam ember. Kakinya terangkat - angkat karena menahan rasa geli nikmat di kemaluan dan rasa geli di dalam mulutnya yang mulai dijuluri lidah bu Sarkam. Dan tiba - tiba kedua tangan Remi memeluk tubuh bu Sarkam dan kakinya menjulur keluar dari ember dan tubuhnya terangkat. Matanya terbeliak dan segera menutup rapat - rapat. Rasa enak di kemaluannya tidak terperikan. Remi sampai di puncak kenikmatan.
     Setelah napas Remi yang terengah mulai mereda, bu Sarkam segera menarik keluar tubuh Remi keluar dari ember. Remi menurut. Berganti bu Sarkam yang berendam di ember. " Lakukan kepadaku, nduk ! Seperti yang aku lakukan kepadamu baru saja !" Kata bu Sarkam setelah tubuh telanjangnya tertelan air kembang di ember. Dan Remi berganti mengambil posisi berjongkok di pinggir ember. Dan tubuhnya mepet dengan bibir ember. Remi mulai menirukan tangan bu Sarkam yang tadi membuatnya nikmat. Mula - mula payudara bu Sarkam. Dan remi begitu kagum dengan buah dada yang sedang diremasnya. Payu dara yang masih begitu kenyal dan kencang. Lebih kenyal dan lebih kencang dari pada miliknya. Tangan Remi yang lain menulusuri lekuk - lekuk tubuh bu Sarkam. Bu Sarkam menggeliat tanda nikmat. Tibalah tangan Remi di kemaluan bu Sarkam. Apa yang tadi dilakukan bu Sarkam terhadap kemaluannya dilakukan juga di kemaluan bu Sarkam. Bu Sarkam menggelijang. Air kembang dalam ember kembali berkecipak. " Nduk, cium bibirku, nduk !" Perintah bu Sarkam sambil menyediakan bibirnya untuk dikulum mulut Remi. Remi melakukan seperti yang dilakukan bu Sarkam. Bu Sarkam terus membuat air dalam ember tumpah - tumpah. Dan seperti halnya Remi tiba - tiba kaki bu Sarkam menjulur keluar dari ember dan tubuh telanjangnya terangkat. Tangan Remi yang ada di kemaluan bu Sarkam terjepit paha. Bu Sarkam menegang dan jari Remi yang ada kemaluan bu Sarkam merasakan cairan hangat mengalirinya.
  
                         bersambung ke bagian lima belas ...................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar