Bau Lawean
edohaput
Bagian delapan
Damijan telah melamar Murami. Bahkan keluarga Damijan dan keluarga Murami telah menentukan hari pernikahan antara Damijan dan Murami. Hari baik telah dipilih dan disepakati kedua keluarga. Hari baik itu akan segera sampai. Tinggal menunggu hitungan hari. Masing - masing keluarga telah siap mengadakan hajadan pernikahan. Di keluarga Murami hajadan pernikahan akan dilaksanakan semeriah mungkin. Keluarga Murami telah menghubungi pengusaha layar tancap. Layar tancap akan digelar semalaman untuk memeriahkan malam pernikahan Murami dengan Damijan. Dua judul film yang akan diputar pada malam pernikahan nanti telah ditentukan. Telah dipilih Nyi Blorong dan Bernapas Dalam Lumpur yang masing - masing dibintangi oleh Suzana. Layar tancap adalah hiburan mewah bagi warga dusun. Akan digelarnya layar tancap pada malam pernikahan Murami telah tersiar sampai di tetangga dusun. Warga pasti akan tumpah ruah di halaman rumah Murami yang luas bagai lapangan untuk menyaksikan film yang disorotkan di layar tancap. Lima hari kemudian setelah hajadan dilaksanakan oleh keluarga Murami, di keluarga Damijan bakal tak kalah meriahnya dalam acara ngunduh mantunya. Keluarga Damijan akan menggelar pertunjukan ketoprak semalam suntuk. Kelompok ketoprak dari kota telah pula dihubungi oleh keluarga Damijan. Pada hari - hari pernikahan Damijan dan Murami dusun akan gegap gempita oleh tontonan.
Murami yang sangat berbahagia hari pernikahannya akan segera sampai merasakan hari - hari yang dilalui sangat berjalan lambat. Murami ingin hari - hari berjalan cepat. Murami ingin pagi segera berganti siang dan berganti sore dan kemudian malam dan seterusnya. Semakin hari - hari menunggu diharapkan cepat berlalu, semakin lambat rasanya hari berganti. Disiang hari Murami banyak gelisah, dan dimalam hari tidak bisa tidur. Satu - satu yang bisa membuat perasaannya tenang apabila sedang bersama Damijan. Dan ketika berpisah dengan Damijan lagi - lagi Murami gelisah dan ada perasaan was - was yang tidak beralasan. Dengan semakin dekatnya dengan hari pernikahan justru Damijan jarang menemui Murami. Ketika hari pernikahan belum ditentukan setiap dua hari sekali Damijan pasti menemui Murami dan mengajaknya ke gubuk. Tetapi menjelang hari pernikahannya karena Damijan memang disibukan oleh berbenah di rumahnya, maka kesempatan untuk menemui Murami menjadi tertunda. Apalagi Damijan jadi sering ke kota bersama keluarganya untuk ini dan itu terkait dengan hari pernikahannya nanti.
Perasaan was -was yang tidak beralasan selalu mengganggu Murami ketika akan berangkat tidur. Kegelisahan Murami yang semakin menjadi - jadi saat malam tiba sangat menghantuinya. Bila sedang merasakan begitu Murami ingin malam cepat berlalu. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Malam berjalan lambat. Rasa kantuk tiba - tiba hilang. Berganti dengan perasaan yang gundah. Pikirannya hanya pada Damijan. Damijan sedang melakukan apa. Damijan sedang ada dimana. Jika sudah demikian rasanya Murami ingin berlari menemui Damijan. Tetapi itu tidak mungkin dilakukan.
Pagi hari cerah. Matahari bersinar tanpa tertutup kabut yang biasanya menyelimuti pedusunan. Murami dan Damijan di rumah Murami menunggu kedatangan juru rias pengantin dari kota yang memerlukan datang ke rumah Murami untuk menemui Murami dan Damijan agar bisa memilih pakaian pengantin mana yang nanti akan dikenakan pada hari pernikahan. Juru rias pengantin akan memperlihatkan foto - foto pakain pengantin yang bermacam - macam bentuk dan modelnya. Murami dan Damijan akan memilih yang cocok dengan selera mereka. Juru rias akan datang jam sepuluh. Murami dan Damijan menunggu sambil menikmati kue serabi yang dibuat Raminem mboknya Murami. " Kang, perasaanku kok selalu aneh bila aku jauh dari kang Damijan ". Kata Murami serius sambil mengunyah serabi. " Aneh gimana ta, Mi ? " Tanya Damijan yang juga sambil menguyah kue serabi yang empuk dah gurih. " Aku tu kalau lagi jauh sama kang Damijan ada perasaan was - was. Kayak mau kehilangan kang Damijan, gitu lho, kang ". Jawab Murami sambil membenahi sikap duduknya dari bersimpuh menjadi bersila. Dengan demikian maka roknya jadi tertarik ke atas pangkal paha. Sehingga Damijan yang duduk di depannya menjadi bisa melihat celana dalam Murami yang putih bersih. Dan di balik celana dalam itu ada sesuatu yang membusung dan terbelah di tengah. " Halah gitu saja kok aneh ta, Mi. Ya lumrah saja ta. Karena pernikahan kita tinggal menunggu hitungan hari dan kamu memikirkan aku terus ya itulah yang kemudian ada di pikiranmu. Was - was ". Kalimat Damijan menjadi panjang. " Iya ya, kang. Karena aku tiap detik mikirkan kang Damijan jadi aku was - was ya, kang. Tapi anehnya was - wasku itu kok rasanya aku ini mau ditinggalkan kang Damijan selama - lamanya ta, kang ". Kalimat Murami juga menjadi panjang juga. " Hus ...! Tidak usah aneh - aneh, Mi !". Damijan ingin menyudahi percakapan yang tidak mengenakan rasa.
Juru rias yang cantik dan bahenol datang bersama pak Samino. Sudah lama juru rias pengantin yang cantik ini menjanda. Kemudian menjadi gendakannya pak Samino. Bagi warga dusun yang menyelenggarakan acara pernikahan pasti juru riasnya bu Sarinti ini. Selain murah pakaian dan dandanan temantennya sangat banyak macamnya. Pak Samino selalu mempromosikan bu Sarinti kemana - mana. Semakin banyak order diterima bu Sarinti semakin banyak pula kesempatan bagi pak Samino untuk bersama bu Sarinti. Bahkan pak Samino-lah yang menyuplai modal untuk bu Sarinti. Bu Sarinti yang berpayudara besar, berpantat sintal, berkulit kuning langsap, dan berparas cantik ini menjadi gula - gula pak Samino. Pak Samino sangat menyayangi bu Sarinti. Selain cantik dan selalu memberikan kepuasan, bu Sarinti tidak banyak merepotkan pak Samino. Bu Sarinti terampil mencari rejeki. Tanpa banyak keluar uang pak Samino sudah bisa mendapatkan mainan yang sangat menyenangkan.
Pak Samino sangat dipuaskan oleh bu Sarinti dalam hal persenggamaan. Karena selain tubuh bu Sarinti yang memang aduhai juga bu Sarinti sangat pintar melayani lelaki. Pak Samino sangat ketagihan. Tiga hari tak ketemu dan bermain dengan bu Sarinti pak Samino sudah kelabakan. Isteri - isteri pak Samino yang rata - rata sudah berusia di atas lima puluh tahun tak lagi menjadi pemuas pak Samino yang masih sangat menggebu.
Murami dan Damijan segera sibuk dengan melihat foto - foto pakaian pengantin yang macam dan gayanya banyak sekali. Murami dan Damijan yang hanya akan mengenakan satu macam pakaian sempat bingung memilih. " Sudah pilih yang mana jangan bingung, Mi ". Kata pak Samino yang duduk dempet dengan bu Sarinti. " Yang ini saja, Mi ". Kata Damijan sambil menunjuk foto pakaian temantin. " Ya sudah aku manut kang Damijan ". Kata Murami. " Nah gitu, jadi cepet rampung. Ini Bu Sarinti dan aku segera akan pergi lagi ". Kata pak Samino sambil tersenyum. " Pergi kemana pak ? " Tanya Murami. " Ah ...kamu Mi...Mi...mau tahu saja ....". Jawab pak Samino sambil tertawa lebar. Bu Sarinti menimpali : " Mas Samino ini kalau sudah tiga hari dak tak layani bingung, Mi ". Pak Samino yang dibuka rahasianya malah tertawa semakin lebar. Lalu katanya : " Maka kamu nanti kalau sudah menjadi isteri Damijan, jangan lupa layani terus Damijan sampai puas, Mi ". Kalimat Pak Samino ini membuat seisi ruangan menjadi tertawa lepas.
Pak Samino dan bu Sarinti meninggalkan rumah Murami. Mereka berbocengan sepeda motor melaju meninggalkan dusun.
Murami dan Damijan yang mengantar kepergian pak Samino dan Bu Sarinti di halaman segera kembali masuk ke rumah. Murami langsung menarik tangan Damijan dan diajak masuk ke kamar Murami. " Tenang kang, ini simbok dan bapak baru akan pulang siang nanti, ayo kang ! " Murami manja. Di dalam kamar mereka segera berpelukan. Damijan mencium Murami dengan lembut dan sayang. Tangan Damijan yang mengelus rambut Murami oleh Murami diturunkan ke arah dadanya. Dan tangan Murami yang satunya membuka kancing baju yang menutup dadanya. Dengan demikian dengan mudah tangan Damijan menelusup ke kain yang di kenakan Murami di bagian dada. Damijan segera mengelus dan meremas lembut payudara Murami berganti - ganti. Beberapa saat tangan Damijan di dada Murami segera meluncur turun ke arah paha Murami. Murami yang menaikkan kainnya setinggi paha dan mengambil posisi ngangkang. Membuat tangan Damijan mudah sekali menemukan kemaluan Murami yang sedikit belahan bibirnya membuka karena mengangkang. Jari tangan Damijan bermain di kemaluan Murami. Murami merasakan keenakan. Tangan Muramipun segera gerayangan mencari milik Damijan yang masih ada di dalam sangkarnya. Reutsliting celana Damijan di buka Murami. Dan Murami berhasil merogoh burung Damijan dan mengeluarkannya dari celana. Burung yang kaku mencuat dari dalam celana menjadi mainan Murami yang mengasyikan. Karena burungnya terus dielus, dan diremas oleh tangan yang hangat dan lembut dan dirasakan sungguh nikmat, Damijan pun semakin gencar mempermainkan bibir, kelentit, dan liang kemaluan Murami. Murami hanya bisa terus melenguh nikmat. Sementara itu bibir mereka terus berpagut. Dan saling merasakan nikmat di kemaluannya masing. Burung Damijan mulai meneteskan madi. Madi adalah air mani yang pertama keluar sebelum air mani yang dibelakangnya menyemprot. Burung Damijan menjadi licin. Murami menjadi semakin asyik mempermainkannya. Begitu juga kemaluan Murami yang terus membasah membuat Damijan semakin terangsang untuk menggosok dan mengiliknya. Kedua menjadi semakin tidak tahan terhadap kenikmatan yang dirasakan. Mani Damijan menyemprot seiring dengan kedutan burungnya. Saat itu pula dua jari Damijan yang ada di dalam kemaluan Murami menekan semakin dalam dan menyentuh susuatu yang dirasakan Murami luar biasa enaknya. Maka Murami-pun segera matanya terbeliak dan kemudian mengatup rapat dan bibirnya menyedot kuat lidah Damijan dan segera melenguh hebat " Eeeeeeeemmmmmmmhhhhhhhgggg ......... ! " Dan kedua pahanya dirapatkan sehingga menjepit tangan Damijan. Mereka segera ambruk di ranjang dan terengah - engah. Mereka berdua sangat bahagia bisa melepas rindu. Melepas rasa ingin selalu dekat. Melepas hasrat yang selalu menggebu.
bersambung ke bagian sembilan .........................
Juru rias yang cantik dan bahenol datang bersama pak Samino. Sudah lama juru rias pengantin yang cantik ini menjanda. Kemudian menjadi gendakannya pak Samino. Bagi warga dusun yang menyelenggarakan acara pernikahan pasti juru riasnya bu Sarinti ini. Selain murah pakaian dan dandanan temantennya sangat banyak macamnya. Pak Samino selalu mempromosikan bu Sarinti kemana - mana. Semakin banyak order diterima bu Sarinti semakin banyak pula kesempatan bagi pak Samino untuk bersama bu Sarinti. Bahkan pak Samino-lah yang menyuplai modal untuk bu Sarinti. Bu Sarinti yang berpayudara besar, berpantat sintal, berkulit kuning langsap, dan berparas cantik ini menjadi gula - gula pak Samino. Pak Samino sangat menyayangi bu Sarinti. Selain cantik dan selalu memberikan kepuasan, bu Sarinti tidak banyak merepotkan pak Samino. Bu Sarinti terampil mencari rejeki. Tanpa banyak keluar uang pak Samino sudah bisa mendapatkan mainan yang sangat menyenangkan.
Pak Samino sangat dipuaskan oleh bu Sarinti dalam hal persenggamaan. Karena selain tubuh bu Sarinti yang memang aduhai juga bu Sarinti sangat pintar melayani lelaki. Pak Samino sangat ketagihan. Tiga hari tak ketemu dan bermain dengan bu Sarinti pak Samino sudah kelabakan. Isteri - isteri pak Samino yang rata - rata sudah berusia di atas lima puluh tahun tak lagi menjadi pemuas pak Samino yang masih sangat menggebu.
Murami dan Damijan segera sibuk dengan melihat foto - foto pakaian pengantin yang macam dan gayanya banyak sekali. Murami dan Damijan yang hanya akan mengenakan satu macam pakaian sempat bingung memilih. " Sudah pilih yang mana jangan bingung, Mi ". Kata pak Samino yang duduk dempet dengan bu Sarinti. " Yang ini saja, Mi ". Kata Damijan sambil menunjuk foto pakaian temantin. " Ya sudah aku manut kang Damijan ". Kata Murami. " Nah gitu, jadi cepet rampung. Ini Bu Sarinti dan aku segera akan pergi lagi ". Kata pak Samino sambil tersenyum. " Pergi kemana pak ? " Tanya Murami. " Ah ...kamu Mi...Mi...mau tahu saja ....". Jawab pak Samino sambil tertawa lebar. Bu Sarinti menimpali : " Mas Samino ini kalau sudah tiga hari dak tak layani bingung, Mi ". Pak Samino yang dibuka rahasianya malah tertawa semakin lebar. Lalu katanya : " Maka kamu nanti kalau sudah menjadi isteri Damijan, jangan lupa layani terus Damijan sampai puas, Mi ". Kalimat Pak Samino ini membuat seisi ruangan menjadi tertawa lepas.
Pak Samino dan bu Sarinti meninggalkan rumah Murami. Mereka berbocengan sepeda motor melaju meninggalkan dusun.
Murami dan Damijan yang mengantar kepergian pak Samino dan Bu Sarinti di halaman segera kembali masuk ke rumah. Murami langsung menarik tangan Damijan dan diajak masuk ke kamar Murami. " Tenang kang, ini simbok dan bapak baru akan pulang siang nanti, ayo kang ! " Murami manja. Di dalam kamar mereka segera berpelukan. Damijan mencium Murami dengan lembut dan sayang. Tangan Damijan yang mengelus rambut Murami oleh Murami diturunkan ke arah dadanya. Dan tangan Murami yang satunya membuka kancing baju yang menutup dadanya. Dengan demikian dengan mudah tangan Damijan menelusup ke kain yang di kenakan Murami di bagian dada. Damijan segera mengelus dan meremas lembut payudara Murami berganti - ganti. Beberapa saat tangan Damijan di dada Murami segera meluncur turun ke arah paha Murami. Murami yang menaikkan kainnya setinggi paha dan mengambil posisi ngangkang. Membuat tangan Damijan mudah sekali menemukan kemaluan Murami yang sedikit belahan bibirnya membuka karena mengangkang. Jari tangan Damijan bermain di kemaluan Murami. Murami merasakan keenakan. Tangan Muramipun segera gerayangan mencari milik Damijan yang masih ada di dalam sangkarnya. Reutsliting celana Damijan di buka Murami. Dan Murami berhasil merogoh burung Damijan dan mengeluarkannya dari celana. Burung yang kaku mencuat dari dalam celana menjadi mainan Murami yang mengasyikan. Karena burungnya terus dielus, dan diremas oleh tangan yang hangat dan lembut dan dirasakan sungguh nikmat, Damijan pun semakin gencar mempermainkan bibir, kelentit, dan liang kemaluan Murami. Murami hanya bisa terus melenguh nikmat. Sementara itu bibir mereka terus berpagut. Dan saling merasakan nikmat di kemaluannya masing. Burung Damijan mulai meneteskan madi. Madi adalah air mani yang pertama keluar sebelum air mani yang dibelakangnya menyemprot. Burung Damijan menjadi licin. Murami menjadi semakin asyik mempermainkannya. Begitu juga kemaluan Murami yang terus membasah membuat Damijan semakin terangsang untuk menggosok dan mengiliknya. Kedua menjadi semakin tidak tahan terhadap kenikmatan yang dirasakan. Mani Damijan menyemprot seiring dengan kedutan burungnya. Saat itu pula dua jari Damijan yang ada di dalam kemaluan Murami menekan semakin dalam dan menyentuh susuatu yang dirasakan Murami luar biasa enaknya. Maka Murami-pun segera matanya terbeliak dan kemudian mengatup rapat dan bibirnya menyedot kuat lidah Damijan dan segera melenguh hebat " Eeeeeeeemmmmmmmhhhhhhhgggg ......... ! " Dan kedua pahanya dirapatkan sehingga menjepit tangan Damijan. Mereka segera ambruk di ranjang dan terengah - engah. Mereka berdua sangat bahagia bisa melepas rindu. Melepas rasa ingin selalu dekat. Melepas hasrat yang selalu menggebu.
bersambung ke bagian sembilan .........................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar