Bau Lawean
edohaput
Bagian lima belas
Remi tidak bisa memejamkan mata walaupun badan capai. Kecuali ruang kamar tidur yang tidak biasanya ditiduri juga teringat selalu kejadian menjelang malam tadi. Bu Sarkam yang membangkitkan nafsu birahinya. Bu Sarkam yang membuatnya nikmat. Bu Sarkam yang telah mencumbunya. Ciuman bu Sarkam yang begitu panas menggelora. Jari - jari bu Sarkam yang begitu bisa membuat kemaluannya cepat sekali merasakan nikmat yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Remi pernah bahkan sering juga bermaturbasi tetapi kenikmatan yang seperti ketika bu Sarkam yang mengilik belum pernah dirasakan. Bu Sarkam begitu pintar memainkan jarinya di kemaluannya.
Pintu kamar diketuk : " Belum tidur, nduk ?" Sapa bu Sarkam dari luar kamar. " Belum, bu !" Jawab Remi. Bu Sarkam membuka pintu dan langsung masuk dan menutup lagi pintu kamar. Bu Sarkam mendekati Remi yang tetap rebah di ranjang. " Aku temani tidur ya, nduk !" Kata bu Sarkam yang langsung rebah di samping Remi. Remi tidak menjawab. Tubuhnya digeser untuk memberi ruang bu Sarkam yang rebah miring menghadap ke tubuh Remi. Bu Sarkam mengelus rambut kepala Remi. " Nduk ..... ". Bisik bu Sarkam lembut di telingan Remi. Napas hangat dirasakan telinga Remi. Membuat kulit Remi merinding. Dari kepala tangan bu Sarkam terus mengelus punggung Remi. Bergerak mengelus pantat. Dan di pantat Remi tangan bu Sarkam meremas - remas. Remi hanya bisa mendesah. Apalagi yang akan dilakukan bu Sarkam. Tadi menjelang malam ketika mandi bu Sarkam telah memberi kenikmatan luar biasa. Apa sekarang mau diulang lagi ? Remi pasrah. Remi yang sebenarnya ketagihan terhadap kejadian menjelang malam tadi, tanpa ragu - ragu menyediakan tubuhnya untuk terus diraba bu Sarkam. Remi pasrah dan menikmatinya. Tangan bu Sarkam telah berhasil melepaskan celana dalam Remi. " Telanjangi dirimu, nduk. Agar tubuh kita bisa menyatu dan hangat ". Berkata begitu bu Sarkam segera menelanjangi diri dan diiukuti Remi yang juga melepas semua kain yang melekat ditubuhnya. Bu Sarkam telah telanjang begitu juga Remi.
Malam terus berjalan. Suasana semakin sepi. Hanya desahan napas yang memburu dua perempuan yang sedang dirasuk birahi yang terdengar. Tubuh bu Sarkam di atas tubuh Remi. Yang dilakukan menggosok - gosokkan payadara di payudara. Kaki Remi yang mengangkang ditindik pinggul bu Sarkam yang berusaha menggosok - gosokkan kemaluan dengan kemaluan Remi. Remi mengangkat - angkat pantat agar kemaluan saling bersentuhan. Bibir - bibir kemaluan saling bersentuhan dan saling menggosok. Remi merasakan kegelian yang sangat enak di kemaluannya. Kedua tangan bu Sarkam memeluk erat tubuh Remi. Begitu juga tangan Remi telah dengan kuat memeluk tubuh bu Sarkam sambil terus menikmati kemaluan yang saling menempel dan menggosok. Payudara yang saling menghimpit terus saling digosok - gosokkan. Yang dirasakan Remi kehangatan tubuh bu Sarkam. Buah dada yang saling menekan dan menggosok semakin lama semakin terasa geli yang menyenangkan. Yang membuat pikiran melayang tak tentu arah. Mulut bu Sarkam yang terus melahab bibir Remi, membuat Remi semakin tak tahan. kemaluannya menjadi basah. Begitu juga kemaluan bu Sarkam yang telah juga membasah. Dua kemaluan perempuan yang sedang birahi dan membasah terus saling menekan dan menggosok menimbulkan bunyi .... perect ....percet ....precet ... disela - sela lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut mereka yang tidak berhenti berciuman. Dan tak lama kemudian bu Sarkam menjerit nikmat begitu juga Remi. Kemaluan mereka masing - masing sampai ke puncak kenikmatan. Dan menyemprotkan cairan yang saling membasahi.
Bu Sarkam bangkit dari ranjang. Dengan tetap telanjang keluar kamar. Dan masuk ke kamar lagi dengan membawa gelas yang berisi air. Sambil duduk di tepi ranjang bu Sarkam meminum air di gelas. Menyisakan separo dan memberikannya kepada Remi : " Minumlah, nduk !" Tanpa pikir panjang Remi menenggak habis air dalam gelas. Remi merasakan di lidahnya seperti minum jamu. Baunya wangi. Rasanya pedas - pedas manis. Dan terasa agak panas di mulut. Semenit kemudian Remi merasakan seluruh tubuhnya dirasuki rasa hangat. Rasa hangat terus menjalar ke kemaluannya. Dan dirasakan kemaluannya terasa mengembang pegal dan rasa gatal geli. Terasa kemaluannya ingin sekali disentuh. Payudara menjadi terasa kaku ingin diremas. Dan rasa dibibir panas nyeri ingin dicium. " Gimana, nduk ?" Tanya bu Sarkam yang memperhatikan Remi yang napasnya memburu ingin lagi dicumbu.
Bu Sarkam mengambil gelas dari tangan Remi dan segera memeluk Remi yang sedang menanti bu Sarkam mencumbunya lagi. Bu Sarkam segera mencium bibir Remi yang menganga. Dan lidahnya menjulur di mulut Remi dan bermain di segala penjuru di kedalaman mulut Remi. Remi hanya bisa menggeliat. Dan tangan bu Sarkam langsung menerkam kemaluan Remi yang sangat ingin segera disentuh. Jari - jari bu Sarkam langsung mengosok, mengilik dan menerobos masuk di kemaluan Remi. Dan bergerak - gerak bergetar. Remi hanya bisa kembali mendesah - desah, melenguh - lenguh. Remi merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kaki Remi tidak berhenti bergerak menahan kegelian nikmat yang tak terkira. Remi meregang. Remi menendang - nendang. Remi menjerit nimat dan dari kemaluannya mengalir cairan kenikmatan yang banyak sekali. Remi terkulai di pelukan bu Sarkam.
Sesaat kemudian Setelah napas Remi mereda. " Gantian, nduk. Aku juga kepingin nikmat ". Bisik bu Sarkam. Dan bu Sarkam segera telengtang kangkang di samping Remi duduk. Remi memperhatikan tubuh indah bu Sarkam. Bu Sarkam ini sudah cukup usia. Mengapa tubuhnya masih begini indah. Payudaranya tidak melorot. Pipinya tetap kecang. Kulitnya tak ada yang keriput. Kemaluannya masih begitu menggunung dan berisi. Tidak kempot. Pahanya begitu padat. Remi hanya bisa menduga - duga. Barangkali karena selalu minum ramuan tadi ? Yang juga baru saja dia meminumnya ? Bu Sarkam ini pasti sangat awet muda. Apa ya rahasianya ? " Ayo, nduk lakukan ! Kok malah melamun ". Pinta bu Sarkam yang telah menunggu untuk dicumbu.
Remi bergiat. Mula - mula buah dada bu Sarkam yang diciumi Remi. Putingnya diemut - emut berganti - ganti. Tangan Remi ada di selangkangan bu Sarkam dan mengelus - elus kemaluan bu Sarkam yang masih menggunung dengan bibir yang kencang dan kenyal. Bibir kemaluan yang belum lembek. Bibir kemaluan yang membasah halus dan licin. Jari - jari Remi terus bermain. Bu sarkam menggeliat - geliat dan mengangkat - angkat pantatnya. Mulutnya mendesah, melenguh merasakan buah dadanya yang puntingnya digigit - gigit kecil dan kemaluannya yang terus dikilik jari Remi. Dua jari Remi menerobos liang senggama kemaluan bu Sarkam dan menggosok dinding vagina yang dirasakan bu Sarkam sangat enak dan menyenangkan. Bu Sarkam hanya bisa terus menggeliat dan sebentar - sebentar tubuhnya mengejang. Mulut bu Sarkam yang terus mendesah mengundang bibir Remi untuk menciumnya. Dan Remi melakukannya. Seperti bu Sarkam mencium mulutnya, Remi juga menjulurkan lidahnya dan mengaduk - aduk kedalaman mulut bu Sarkam. Bu Sarkam semakin polah. Semakin meradang. Semakin menggeliat dan tidak kuat lagi menahan kenikmatan puncak untuk meledak. Bu Sarkam mengerang keras dan tubuhnya mengejang. Jari Remi merasakan diguyur air kemaluan bu Sarkam. Sesaat kemudian bu Sarkam lunglai. Lemas di ranjang.
" Nduk .... malam ini aku mau wariskan aji awet muda kepadamu, nduk ! Kamu bakal terus awet muda walaupun nanti umurmu telah lanjut. Seperti aku ini. Umurku sudah cukup lanjut tapi kamu lihat sendiri kan ? Tubuhku tetap segar dan muda kan, nduk ? Aku melihatmu rasanya kepadamu aji ini harus diwariskan, nduk ! Mau, nduk ?" Kata bu Sarkam sambil memeluk tubuh telanjang Remi. Remi bingung. Awet muda ? Begitu menyenangkan ! Setiap orang mengidamkannya. Remi mengangguk sambil memeluk tubuh bu Sarkam. Remi tidak tahu aji awet muda itu apakah akan ada akibat - akibatnya. Apakah akan ada larangan - larangannya. Remi tidak memikirkan itu. Yang penting jika benar kata - kata bu Sarkam itu nyata ia akan awet muda. Kenapa harus takut ? Remi tidak tahu juga bagaimana aji awet muda itu diberikan kepada dirinya. Apakah dengan meminum jamu seperti tadi ? Atau dengan cara lain ? Atau dengan mantra - mantra ? Remi menunggu kalimat berikutnya dari bu Sarkam. Kalimat yang ditunggu Remi tidak kunjung muncul. Tetapi bu Sarkam malah terus memeluk erat tubuh telanjang Remi dan menciumi pipi Remi dan ciuman merambat ke bibir dan tangan bu Sarkam lagi - lagi terus menggerayangi lekuk - lekuk tubuh Remi tidak ketinggalan selakangan Remi kembali di serang jari - jari tangan bu Sarkam. Kembali Remi terengah, melenguh dan mendesah.
Bu Sarkam mengambil posisi sehingga kemaluannya bisa menempel rapat dengan kemaluan Remi. Bibir - bibir kemaluan saling menempel rapat. Remi merasakan getaran di kemaluannya. Getaran semakin terasa dan ada rasa panas di kemaluan Remi. Remi menyeringai. Dan panas di kemaluannya merambat cepat ke seluruh bagian tubuhnya. Tubuh Remi yang dipeluk sangat erat bu Sarkam hanya bisa menegang. Bu Sarkam mendengus - dengus. Dan mulutnya segera mencium mulut Remi. Remi merasakan hawa panas di mulutnya. Rasa panas cepat merambat ke seluruh wajah. Seluruh tubuh Remi menggigil. Remi merasakan ada sesuatu yang masuk di kemaluannya. Memenuhi seluruh rongga kedalaman kemaluannya. Dan sesuatu yang dirasakan ada di dalam kemaluannya bergerak berputar - putar. Panas. Remi meregang - regang. Berkelenjotan di pelukan bu Sarkam yang tubuhnya juga menggigil, bergetar dan panas. Tiba - tiba bu Sarkam menjerit keras dan kemudian lunglai di samping tubuh Remi.
Remi meraba kemaluannya. Basah. Dari kemaluannya mengalir cairan yang kental dan sangat membasahi seluruh permukaan kemaluannya. Berangsur Remi merasakan tubuhnya sangat segar. Payudaranya mengencang. Kulitnya merinding dan sebentar kemudian terasa dingin yang menyegarkan. Ada perasaan senang mengalir di hati Remi. Remi merasakan tubuhnya begitu ringan. Begitu enak. Remi meraba tubuh telanjangnya. Kulitnya berubah menjadi begitu halus bagai kulit gadis belia. Remi meraba wajahnya teraba begitu halus kencang tak ada keriput. Tak ada yang mengendor.
" Nduk, aji awet muda telah aku pindahkan ke tubuhmu ". Kata bu Sarkam setelah ketenangan kembali dirasakannya. " Dalam hitungan hari aku akan menjadi tua. Tubuhku tidak akan lagi seperti remaja. Aku sudah bosan menjadi muda, nduk ". Kalimat bu Sarkam diucapkan dengan suara yang parau. Bukan seperti suaranya sebelum bu Sarkam memindahkan ajian awet mudanya. Dan kulit bu Sarkam berangsur berkeriput. Payudara yang sedari tadi menggunung kenyal berangsur melorot. Terjadi sebaliknya di tubuh Remi. Semuanya berangsur berubah menjadi semakin remaja.
" Begtulah War, ceritanya aku memperoleh ajian awet muda ini " Kata Nyi Ranu mengahkiri ceritanya. Waruni hanya terdiam. Dan terus mengagumi tubuh Nyi Ranu yang memang begitu segar, dengan kulit halus yang tidak ada keriput. Waruni memperhatikan tubuhnya sendiri. Tak seindah tubuh Nyi Ranu. Diam - diam Waruni ingin ajian awet muda itu ada juga di tubuhnya.
Bu Sarkam mengambil posisi sehingga kemaluannya bisa menempel rapat dengan kemaluan Remi. Bibir - bibir kemaluan saling menempel rapat. Remi merasakan getaran di kemaluannya. Getaran semakin terasa dan ada rasa panas di kemaluan Remi. Remi menyeringai. Dan panas di kemaluannya merambat cepat ke seluruh bagian tubuhnya. Tubuh Remi yang dipeluk sangat erat bu Sarkam hanya bisa menegang. Bu Sarkam mendengus - dengus. Dan mulutnya segera mencium mulut Remi. Remi merasakan hawa panas di mulutnya. Rasa panas cepat merambat ke seluruh wajah. Seluruh tubuh Remi menggigil. Remi merasakan ada sesuatu yang masuk di kemaluannya. Memenuhi seluruh rongga kedalaman kemaluannya. Dan sesuatu yang dirasakan ada di dalam kemaluannya bergerak berputar - putar. Panas. Remi meregang - regang. Berkelenjotan di pelukan bu Sarkam yang tubuhnya juga menggigil, bergetar dan panas. Tiba - tiba bu Sarkam menjerit keras dan kemudian lunglai di samping tubuh Remi.
Remi meraba kemaluannya. Basah. Dari kemaluannya mengalir cairan yang kental dan sangat membasahi seluruh permukaan kemaluannya. Berangsur Remi merasakan tubuhnya sangat segar. Payudaranya mengencang. Kulitnya merinding dan sebentar kemudian terasa dingin yang menyegarkan. Ada perasaan senang mengalir di hati Remi. Remi merasakan tubuhnya begitu ringan. Begitu enak. Remi meraba tubuh telanjangnya. Kulitnya berubah menjadi begitu halus bagai kulit gadis belia. Remi meraba wajahnya teraba begitu halus kencang tak ada keriput. Tak ada yang mengendor.
" Nduk, aji awet muda telah aku pindahkan ke tubuhmu ". Kata bu Sarkam setelah ketenangan kembali dirasakannya. " Dalam hitungan hari aku akan menjadi tua. Tubuhku tidak akan lagi seperti remaja. Aku sudah bosan menjadi muda, nduk ". Kalimat bu Sarkam diucapkan dengan suara yang parau. Bukan seperti suaranya sebelum bu Sarkam memindahkan ajian awet mudanya. Dan kulit bu Sarkam berangsur berkeriput. Payudara yang sedari tadi menggunung kenyal berangsur melorot. Terjadi sebaliknya di tubuh Remi. Semuanya berangsur berubah menjadi semakin remaja.
" Begtulah War, ceritanya aku memperoleh ajian awet muda ini " Kata Nyi Ranu mengahkiri ceritanya. Waruni hanya terdiam. Dan terus mengagumi tubuh Nyi Ranu yang memang begitu segar, dengan kulit halus yang tidak ada keriput. Waruni memperhatikan tubuhnya sendiri. Tak seindah tubuh Nyi Ranu. Diam - diam Waruni ingin ajian awet muda itu ada juga di tubuhnya.
tamat