Sabtu, 14 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                                                               edohaput


Bagian lima belas

     Remi tidak bisa memejamkan mata walaupun badan capai. Kecuali ruang kamar tidur yang tidak biasanya ditiduri juga teringat selalu kejadian menjelang malam tadi. Bu Sarkam yang membangkitkan nafsu birahinya. Bu Sarkam yang membuatnya nikmat. Bu Sarkam yang telah mencumbunya. Ciuman bu Sarkam yang begitu panas menggelora. Jari - jari bu Sarkam yang begitu bisa membuat kemaluannya cepat sekali merasakan nikmat yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Remi pernah bahkan sering juga bermaturbasi tetapi kenikmatan yang seperti ketika bu Sarkam yang mengilik belum pernah dirasakan. Bu Sarkam begitu pintar memainkan jarinya di kemaluannya. 
     Pintu kamar diketuk : " Belum tidur, nduk ?" Sapa bu Sarkam dari luar kamar. " Belum, bu !" Jawab Remi. Bu Sarkam membuka pintu dan langsung masuk dan menutup lagi pintu kamar. Bu Sarkam mendekati Remi yang tetap rebah di ranjang. " Aku temani tidur ya, nduk !" Kata bu Sarkam yang langsung rebah di samping Remi. Remi tidak menjawab. Tubuhnya digeser untuk memberi ruang bu Sarkam yang rebah miring menghadap ke tubuh Remi. Bu Sarkam mengelus rambut kepala Remi. " Nduk ..... ". Bisik bu Sarkam lembut di telingan Remi. Napas hangat dirasakan telinga Remi. Membuat kulit Remi merinding. Dari kepala tangan bu Sarkam terus mengelus punggung Remi. Bergerak mengelus pantat. Dan di pantat Remi tangan bu Sarkam meremas - remas. Remi hanya bisa mendesah. Apalagi yang akan dilakukan bu Sarkam. Tadi menjelang malam ketika mandi bu Sarkam telah memberi kenikmatan luar biasa. Apa sekarang mau diulang lagi ? Remi pasrah. Remi yang sebenarnya ketagihan terhadap kejadian menjelang malam tadi, tanpa ragu - ragu menyediakan tubuhnya untuk terus diraba bu Sarkam. Remi pasrah dan menikmatinya. Tangan bu Sarkam telah berhasil melepaskan celana dalam Remi. " Telanjangi dirimu, nduk. Agar tubuh kita bisa menyatu dan hangat ". Berkata begitu bu Sarkam segera menelanjangi diri dan diiukuti Remi yang juga melepas semua kain yang melekat ditubuhnya. Bu Sarkam telah telanjang begitu juga Remi. 
     Malam terus berjalan. Suasana semakin sepi. Hanya desahan napas yang memburu dua perempuan yang sedang dirasuk birahi yang terdengar. Tubuh bu Sarkam di atas tubuh Remi. Yang dilakukan menggosok - gosokkan payadara di payudara. Kaki Remi yang mengangkang ditindik pinggul bu Sarkam yang berusaha menggosok - gosokkan  kemaluan dengan kemaluan Remi. Remi mengangkat - angkat pantat agar kemaluan saling bersentuhan. Bibir - bibir kemaluan saling bersentuhan dan saling menggosok. Remi merasakan kegelian  yang sangat enak di kemaluannya. Kedua tangan bu Sarkam memeluk erat tubuh Remi. Begitu juga tangan Remi telah dengan kuat memeluk tubuh bu Sarkam sambil terus menikmati kemaluan yang saling menempel dan menggosok. Payudara yang saling menghimpit terus saling digosok - gosokkan. Yang dirasakan Remi kehangatan tubuh bu Sarkam. Buah dada yang saling menekan dan menggosok semakin lama semakin terasa geli yang menyenangkan. Yang membuat pikiran melayang tak tentu arah. Mulut bu Sarkam yang terus melahab bibir Remi, membuat Remi semakin tak tahan. kemaluannya menjadi basah. Begitu juga kemaluan bu Sarkam yang telah juga membasah. Dua kemaluan perempuan yang sedang birahi dan membasah terus saling menekan dan menggosok menimbulkan bunyi .... perect ....percet ....precet ... disela - sela lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut mereka yang tidak berhenti berciuman. Dan tak lama kemudian bu Sarkam menjerit nikmat begitu juga Remi. Kemaluan mereka masing - masing sampai ke puncak kenikmatan. Dan menyemprotkan cairan yang saling membasahi. 
      Bu Sarkam bangkit dari ranjang. Dengan tetap telanjang keluar kamar. Dan masuk ke kamar lagi dengan membawa gelas yang berisi air. Sambil duduk di tepi ranjang bu Sarkam meminum air di gelas. Menyisakan separo dan memberikannya kepada Remi : " Minumlah, nduk !" Tanpa pikir panjang Remi menenggak habis  air dalam gelas. Remi merasakan di lidahnya seperti minum jamu. Baunya wangi. Rasanya pedas - pedas manis. Dan terasa agak panas di mulut. Semenit kemudian Remi merasakan seluruh tubuhnya dirasuki rasa hangat. Rasa hangat terus menjalar ke kemaluannya. Dan dirasakan kemaluannya terasa mengembang pegal dan rasa gatal geli. Terasa kemaluannya ingin sekali disentuh. Payudara menjadi terasa kaku ingin diremas. Dan rasa dibibir panas nyeri ingin dicium. " Gimana, nduk ?" Tanya bu Sarkam yang memperhatikan Remi yang napasnya memburu ingin lagi dicumbu. 
     Bu Sarkam mengambil gelas dari tangan Remi dan segera memeluk Remi yang sedang menanti bu Sarkam mencumbunya lagi. Bu Sarkam segera mencium bibir Remi yang menganga. Dan lidahnya menjulur di mulut Remi dan bermain di segala penjuru di kedalaman mulut Remi. Remi hanya bisa menggeliat. Dan tangan bu Sarkam langsung menerkam kemaluan Remi yang sangat ingin segera disentuh. Jari - jari bu Sarkam langsung mengosok, mengilik dan menerobos masuk di kemaluan Remi. Dan bergerak - gerak bergetar. Remi hanya bisa kembali mendesah - desah, melenguh - lenguh. Remi merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kaki Remi tidak berhenti bergerak menahan kegelian nikmat yang tak terkira. Remi meregang. Remi menendang - nendang. Remi menjerit nimat dan dari kemaluannya mengalir cairan kenikmatan yang banyak sekali. Remi terkulai di pelukan bu Sarkam. 
     Sesaat kemudian Setelah napas Remi mereda.  " Gantian, nduk. Aku juga kepingin nikmat ". Bisik bu Sarkam. Dan bu Sarkam segera telengtang kangkang di samping Remi duduk. Remi memperhatikan tubuh indah bu Sarkam.  Bu Sarkam ini sudah cukup usia. Mengapa tubuhnya masih begini indah. Payudaranya tidak melorot. Pipinya tetap kecang. Kulitnya tak ada yang keriput. Kemaluannya masih begitu menggunung dan berisi. Tidak kempot. Pahanya begitu padat. Remi hanya bisa menduga - duga. Barangkali karena selalu minum ramuan tadi ? Yang juga baru saja dia meminumnya ? Bu Sarkam ini pasti sangat awet muda. Apa ya rahasianya ? " Ayo, nduk lakukan ! Kok malah melamun ". Pinta bu Sarkam yang telah menunggu untuk dicumbu.      
     Remi bergiat. Mula - mula buah dada bu Sarkam yang diciumi Remi. Putingnya diemut - emut berganti - ganti. Tangan Remi ada di selangkangan bu Sarkam dan mengelus - elus kemaluan bu Sarkam yang masih menggunung dengan bibir yang kencang dan kenyal. Bibir kemaluan yang belum lembek. Bibir kemaluan yang membasah halus dan licin. Jari - jari Remi terus bermain. Bu sarkam menggeliat - geliat dan mengangkat - angkat pantatnya. Mulutnya mendesah, melenguh merasakan buah dadanya yang puntingnya digigit - gigit  kecil dan kemaluannya yang terus dikilik jari Remi. Dua jari Remi menerobos liang senggama kemaluan bu Sarkam dan menggosok dinding vagina yang dirasakan bu Sarkam sangat enak dan menyenangkan. Bu Sarkam hanya bisa terus menggeliat dan sebentar - sebentar tubuhnya mengejang. Mulut bu Sarkam yang terus mendesah mengundang bibir Remi untuk menciumnya. Dan Remi melakukannya. Seperti bu Sarkam mencium mulutnya, Remi juga menjulurkan lidahnya dan mengaduk - aduk kedalaman mulut bu Sarkam. Bu Sarkam semakin polah. Semakin meradang. Semakin menggeliat dan tidak kuat lagi menahan kenikmatan puncak untuk meledak. Bu Sarkam mengerang keras dan tubuhnya mengejang. Jari Remi merasakan diguyur air kemaluan bu Sarkam. Sesaat kemudian bu Sarkam lunglai. Lemas di ranjang. 
    " Nduk .... malam ini aku mau wariskan aji awet muda kepadamu, nduk ! Kamu bakal terus awet muda walaupun nanti umurmu telah lanjut. Seperti aku ini. Umurku sudah cukup lanjut tapi kamu lihat sendiri kan ? Tubuhku tetap segar dan muda kan, nduk ? Aku melihatmu rasanya kepadamu aji ini harus diwariskan, nduk ! Mau, nduk ?" Kata bu Sarkam sambil memeluk tubuh telanjang Remi. Remi bingung. Awet muda ? Begitu menyenangkan ! Setiap orang mengidamkannya. Remi mengangguk sambil memeluk tubuh bu Sarkam. Remi tidak tahu aji awet muda itu apakah akan ada akibat - akibatnya. Apakah akan ada larangan - larangannya. Remi tidak memikirkan itu. Yang penting jika benar kata - kata bu Sarkam itu nyata ia akan awet muda. Kenapa harus takut ? Remi tidak tahu juga bagaimana aji awet muda itu diberikan kepada dirinya. Apakah dengan meminum jamu seperti tadi ? Atau dengan cara lain ? Atau dengan mantra - mantra ? Remi menunggu kalimat berikutnya dari bu Sarkam. Kalimat yang ditunggu Remi tidak kunjung muncul. Tetapi bu Sarkam malah terus memeluk erat tubuh telanjang Remi dan menciumi pipi Remi dan ciuman merambat ke bibir dan tangan bu Sarkam lagi - lagi terus menggerayangi lekuk - lekuk tubuh Remi tidak ketinggalan selakangan Remi kembali di serang jari - jari tangan bu Sarkam. Kembali Remi terengah, melenguh dan mendesah.
      Bu Sarkam mengambil posisi sehingga kemaluannya bisa menempel rapat dengan kemaluan Remi. Bibir - bibir kemaluan saling menempel rapat. Remi merasakan getaran di kemaluannya. Getaran semakin terasa dan ada rasa panas di kemaluan Remi. Remi menyeringai. Dan panas di kemaluannya merambat cepat ke seluruh bagian tubuhnya. Tubuh Remi yang dipeluk sangat erat bu Sarkam hanya bisa menegang. Bu Sarkam mendengus - dengus. Dan mulutnya segera mencium mulut Remi. Remi merasakan hawa panas di mulutnya. Rasa panas cepat merambat ke seluruh wajah. Seluruh tubuh Remi menggigil. Remi merasakan ada sesuatu yang masuk di kemaluannya. Memenuhi seluruh rongga kedalaman kemaluannya. Dan sesuatu yang dirasakan ada di dalam kemaluannya bergerak berputar - putar. Panas. Remi meregang - regang. Berkelenjotan di pelukan bu Sarkam yang tubuhnya juga menggigil, bergetar dan panas. Tiba - tiba bu Sarkam menjerit keras dan kemudian lunglai di samping tubuh Remi.
     Remi meraba kemaluannya. Basah. Dari kemaluannya mengalir cairan yang kental dan sangat membasahi seluruh permukaan kemaluannya. Berangsur Remi merasakan tubuhnya sangat segar. Payudaranya mengencang. Kulitnya merinding dan sebentar kemudian terasa dingin yang menyegarkan. Ada perasaan senang mengalir di hati Remi. Remi merasakan tubuhnya begitu ringan. Begitu enak. Remi meraba tubuh telanjangnya. Kulitnya berubah menjadi begitu halus bagai kulit gadis belia. Remi meraba wajahnya teraba begitu halus kencang tak ada keriput. Tak ada yang mengendor.
     " Nduk, aji awet muda telah aku pindahkan ke tubuhmu ". Kata bu Sarkam setelah ketenangan kembali dirasakannya. " Dalam hitungan hari aku akan menjadi tua. Tubuhku tidak akan lagi seperti remaja. Aku sudah bosan menjadi muda, nduk ". Kalimat bu Sarkam diucapkan dengan suara yang parau. Bukan seperti suaranya sebelum bu Sarkam memindahkan ajian awet mudanya. Dan kulit bu Sarkam berangsur berkeriput. Payudara yang sedari tadi menggunung kenyal berangsur melorot. Terjadi sebaliknya di tubuh Remi. Semuanya berangsur berubah menjadi semakin remaja.
     " Begtulah War, ceritanya aku memperoleh ajian awet muda ini " Kata Nyi Ranu mengahkiri ceritanya. Waruni hanya terdiam. Dan terus mengagumi tubuh Nyi Ranu yang memang begitu segar, dengan kulit halus yang tidak ada keriput. Waruni memperhatikan tubuhnya sendiri. Tak seindah tubuh Nyi Ranu. Diam - diam Waruni ingin ajian awet muda itu ada juga di tubuhnya.

                    tamat

  

     



Selasa, 03 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                               edohaput

Bagian empat belas

     Saat itu Nyi Ranu yang bernama kecil Remi masih perawan. Remi bertemu dengan seorang perempuan cantik di pasar. Perempuan tengah baya tapi tubuhnya begitu tampak muda. Wajahnya bersih dan berisi tanpa ada keriput. Postur tubuhnya tinggi semampai.  Remi yang hari itu sedang kebingungan karena pasar sepi dari pembeli. Padahal dagangan sayuran yang susah - susah ia bawa dari dusun sangat banyak. Sayuran kalau tidak hari ini laku pasti akan segera layu dan besuk tidak laku dijual lagi. Hari yang hujan menyebabkan tidak banyak orang pergi berbelanja di pasar. " Pasar sepi ya nduk ?" Sapa perempuan ini kepada Remi. " Iya bu, barangkali hari hujan jadi para pembeli sayuran ogah - ogahan ke pasar ". Jawab Remi sekenanya. " Bagaimana kalau sayuranmu aku borong. Saya beli semua. Tapi syaratnya kamu .... eh siapa namu ? " Perempuan cantik ini memutus kalimatnya untuk menanyakan nama. " Saya Remi, bu " Jawab Remi. " Ya syaratnya nak Remi mengantar sayuran ke rumahku ". Perempuan ini melanjutkan kalimatnya. " Jauh bu, rumah Ibu ?" Remi bertanya. " Ya jauh nduk ... tapi nanti kita naik andong kok nduk " Kata perempuan cantik ini lagi. Remi berpikir. " Gimana nduk, mau ? Kalau mau ayo segera. Mumpung hari belum terlalu siang ". Remi masih terus berpikir. " Sudah boleh apa tidak. Mau apa tidak, nduk !" Perempuan yang disebut Remi dengan sebutan bu ini setengah mengancam Remi yang ragu. Tanpa pikir panjang lagi Remi mengiyakan permintaan perempuan cantik ini. Dari pada dagangan tidak laku, lebih baik diborong tapi terpaksa harus mengantar sampai ke rumah bu cantik ini. 
     Remi kemudian sibuk menata sayuran di atas andong. Andong penuh dengan sayuran dagangan Remi yang di borong perempuan cantik. Andong meninggalkan pasar. Remi duduk berdampingan dengan perempuan cantik yang memborong dagangannya. Hujan belum juga reda. Lepas tengah hari andong baru sampai di rumah bu cantik. Lagi - lagi Remi mendapat penawaran yang menggiurkan. Ia akan dibayar seharga sayuran yang diborong jika Remi mau membantu bu cantik mengolah sayuran yang dibelinya. Bu cantik yang kemudian diketahui oleh Remi bernama bu Sarkam, ternyata membuka warung makan di dusunnya.
     Hari itu pembantu bu Sarkam sedang pulang ke rumah karena orang tuanya sakit. Maka bu Sarkam butuh dibantu. Ke pasarpun bu Sarkam jarang. Karena semua dilakukan pembantunya. Dan hari itu istimewa, bu Sarkam harus ke pasar sendiri. Dan bertemu dengan Remi. Karena bakal mendapat untung, Remi tanpa berpikir pajang menyanggupi permintaan bu Sarkam. Walaupun Remi tahu pekerjaan mengolah sayur itu perlu waktu lama dan pasti ia akan menginap di rumah bu Sarkam. Tidak apalah, yang penting dapat uang. Besuk tidak perlu jualan di pasar karena uang yang didapat bakal cukup.
     Karena keramahan dan keterbukaan bergaul dari bu Sarkam membuat Remi tidak canggung. Perkenalannya dengan bu Sarkam cepat menjadi akrab dan tidak lagi ada basa - basi. Tiba - tiba rasa kedekatannya dengan bu Sarkam begitu terasa. Seolah - olah perkenalan dengan bu Sarkam telah berlasung lama. Remi yang juga mudah bergaul dengan siapa saja membuat hubungannya dengan bu Sarkam cepat terasa dekat. Remi merasakan hari cepat sekali sore. Menjelang matahari tenggelam semua pekerjaan membuat sayur telah selesai. Remi bisa beristirahat. " Nduk kamu mandi sana ! Tu airnya sudah ibu siapkan di kamar mandi ! Baju gantimu juga sudah ibu siapkan. Pakai saja daster ibu !" Berkata begitu bu Sarkam sambil mengansurkan handuk ke tangan Remi. Remi menerima handuk dan melangkah ke kamar mandi yang ditunjuk bu Sarkam. Betapa kagetnya Remi ketika membuka pintu kamar mandi. Di dalam kamar mandi telah ada ember yang kelewat besar ukurannya. Dan di ember itu telah berisi air kembang. Seluruh permukaan air penuh dengan kembang yang berwarna - warni dan wangi. Remi tidak jadi masuk ke kamar mandi. " Kenapa nduk, kok tidak jadi masuk ke kamar mandi ?" Tanya bu Sarkam sambil tersenyum cantik. " Air kembang itu buat apa bu ?" Tanya Remi yang masih belum mengerti keberadaan air kembang itu. " Untuk kamu, nduk ! Guyurlah badanmu dengan air yang ada di bak dan sabuni bersih - bersih badanmu. Lalu setelah itu berendamlah di air kembang itu. Tubuhmu akan wangi. Sewangi kembang - kembang itu " Tutur bu Sarkam sambil tersenyum kepada Remi. Seperti dihipnotis Remi merasakan perasaannya bergitu tenteram mendengar tutur bu Sarkam yang disertai senyum lembutnya. Remi kembali ke kamar mandi dan menutup pintu. Ditatapnya air kembang yang tercium wanginya. Wangi kembang mawar yang terasa menyegarkan. Mengapa bu Sarkam menyiapkan air kembang untuk dirinya ? Apakah bu Sarkam juga sering berendam di air kembang ? Ah ..... peduli apa. Yang penting mandi dan berendam di air kembang. Rasa ingin mencoba berendam di air kembangpun menggoda pikiran Remi.
     Remi menelanjangi diri. Semua yang terbuat dari kain satu - satu dilepasnya dari tubuhnya. Remi terkejut dan setengah mengagumi tubuhnya ketika tubuh telanjangnya tampak di cermin besar yang ada di kamar mandi. Diperhatikannya buah dadanya di cermin. Putih dengan puting merah merona dan menonjol di dadanya. Dirabanya payudara. Kenyal. Diperhatikannya perutnya yang tipis dengan pusar yang kecil. Diperhatikannya juga yang ada di bawah pusarnya. Kemaluannya yang telah ditumbuhi rambut halus dan hitam legam. Dirabanya kemaluannya. Menggunung di tengah selangkangannya. Lalu diperhatikan wajahnya sendiri di cermin. Remi berguman lirih : " Aku ini cantik. Tubuhku indah. Siapa lelaki yang nanti akan menikmatinya ?" Remi mengguyurkan air bak di tubuhnya. Terasa dingin dan segar. Kemudian menyabuni tubuhnyanya. Sambun berputar - putar di buah dadanya. Diperutnya. Di kemaluannya. Remi sesekali meringis ketika rasa geli menyerang ketika sabun ada di buah dada atau di selangkangannya.
     Selesai dengan air bak dan sabun Remi menuruti apa kata bu Sarkam tadi. Seluruh tubuhnya ditenggelamkan di ember besar yang berisi air kembang. Punggungnya disandarkan di bibir ember dan kakinya kangkang ditekuk lutunya. Remi merasakan air kembang yang begitu hangat dan merasuki kulit tubuhnya. kehangatan air yang belum pernah dirasakan. Kehangatan air kembang yang tiba - tiba membuat pikirannya melayang karena tubuhnya dirasuki rasa nikmat. Payudara dan kemaluannya tak pernah terlintas dipikirannya. Tiba - tiba begitu mengganggu pikirannya. Tangannya kepingin sekali merabanya. Dan detak jantungnya tiba - tiba meningkat. Birahinya begitu tiba - tiba muncul dan sangat dirasakannya menyebabkan tangannya tak lagi bisa dicegah untuk segera berada di payudara dan mengelus - elus dengan sedikit meremas - remas, sementara tangan yang satunya telah berada di selangkangan meraba kemaluannya. Remi mendesah. Remi tak mengerti tiba - tiba seluruh tubuhnya dijalari kenikmatan. Remi pernah juga ingin bermaturbasi dan juga pernah melakukannya. Tetapi rasa nikmat yang tiba - tiba ada di rendaman air kembang belum pernah dirasakan. Rasa ingin bermaturbasi yang begitu menggebu seperti kali ini belum pernah dialami. Remi menekan - nekankan telapak tangannya di permukaan kemaluannya. Dan ada rasa nikmat yang luar biasa. Tangannya yang di payudara tak mau berhenti meremas buah dadanya.
     Bu Sarkam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu memasuki kamar mandi. Remi kaget dan buyarlah birahi yang sedang melingkupi perasaan, pikiran dan tubuhnya. Kekagetan Remi menjadi bertambah - tambah ketika tiba - tiba bu Sarkam menelanjangi dirinya di hadapannya yang sedang berendam. Dan kekagetannya semakin menjadi - jadi ketika matanya menatap tubuh telanjang yang ada di hadapannya. Remi hanya bisa melongo. Tubuh bu Sarkam begitu indah. Payudara yang kencang. Tegak berdiri di dadanya. Perut yang rata halus dan mengecil di pinggang. Kemaluan yang menonjol dengan rambut halus lebat. Dan ketika bu Sarkam tersenyum Remi tidak melihat sebagai bu Sarkam melainkan sebagai gadis muda belia. Ada apa bu Sarkam ini ? mengapa masih begitu cantik ? Mengapa tubuhnya masih seperti tubuh gadis belia ? Tubuhku saja kalah indah. Pikir Remi. " Aku juga mau mandi, nduk. Tidak usah kaget ! Kita kan sama - sama perempuan ". Kata bu Sarkam sambil mendekat ke ember yang sedang direndami Remi dan berjongkok di tepi ember. " Segar kan, nduk !" Kata bu Sarkam sambil membasahi tubuhnya dengan air kembang. Tangannya masuk ke ember dan menyentuh kulit Remi. Remi tak bergeming. Bu Sarkam membasahi wajah dan tubuhnya. Tangannya memegangi pundak Remi. Ketika tangan bu Sarkam menyentuh payudaranya Remi lagi - lagi kaget. " Payudaramu bagus, nduk ". Berkata begitu bu Sarkam meremas lembut buah dada Remi. Remi tidak menolak karena enak. Dan tiba - tiba birahi yang tadi sempat buyar ketika bu Sarkam masuk ke kamar mandi dan mengagetkannya mulai merayapi perasaan dan tubuhnya lagi. Dan ketika tangan bu Sarkam terus mengelus dan meremas lembut buah dadanya birahinya semakin menjadi. Tangan Remi yang tenggelam di air menelusur meraba kemaluannya sendiri karena kemaluannya menuntut untuk diraba. Tubuh telanjang bu Sarkam semakin merapat ke ember. Dan kedua tangannya segera masuk ke dalam air. Tangan kanan meramba - raba pantat Remi dan tangan kiri merayap - rayap mengelus paha Remi dan terus menelusur sampai ke selangkangan Remi. Tangan Remi yang baru saja ada di kemaluan segera ditarik untuk memberi kesempatan tangan bu Sarkam yang telah menuju kemaluannya dan terus mengelus, menekan, dan jari - jarinya mulai mengilik. Remi mendesah. Detak jantung semakin menjadi dan napasnya memburu. Remi menggeliat. Mulutnya menganga. Dan segera disergap bibir bu Sarkam. Remi merasakan tubuhnya melayang. Bibirnya terasa hangat nikmat. Bibir yang baru kali ini beradu dengan bibir. Kemaluannya terasa begitu pegal dan meradang. Remi terus menggeliat menimbulkan kecipak air dalam ember. Kakinya terangkat - angkat karena menahan rasa geli nikmat di kemaluan dan rasa geli di dalam mulutnya yang mulai dijuluri lidah bu Sarkam. Dan tiba - tiba kedua tangan Remi memeluk tubuh bu Sarkam dan kakinya menjulur keluar dari ember dan tubuhnya terangkat. Matanya terbeliak dan segera menutup rapat - rapat. Rasa enak di kemaluannya tidak terperikan. Remi sampai di puncak kenikmatan.
     Setelah napas Remi yang terengah mulai mereda, bu Sarkam segera menarik keluar tubuh Remi keluar dari ember. Remi menurut. Berganti bu Sarkam yang berendam di ember. " Lakukan kepadaku, nduk ! Seperti yang aku lakukan kepadamu baru saja !" Kata bu Sarkam setelah tubuh telanjangnya tertelan air kembang di ember. Dan Remi berganti mengambil posisi berjongkok di pinggir ember. Dan tubuhnya mepet dengan bibir ember. Remi mulai menirukan tangan bu Sarkam yang tadi membuatnya nikmat. Mula - mula payudara bu Sarkam. Dan remi begitu kagum dengan buah dada yang sedang diremasnya. Payu dara yang masih begitu kenyal dan kencang. Lebih kenyal dan lebih kencang dari pada miliknya. Tangan Remi yang lain menulusuri lekuk - lekuk tubuh bu Sarkam. Bu Sarkam menggeliat tanda nikmat. Tibalah tangan Remi di kemaluan bu Sarkam. Apa yang tadi dilakukan bu Sarkam terhadap kemaluannya dilakukan juga di kemaluan bu Sarkam. Bu Sarkam menggelijang. Air kembang dalam ember kembali berkecipak. " Nduk, cium bibirku, nduk !" Perintah bu Sarkam sambil menyediakan bibirnya untuk dikulum mulut Remi. Remi melakukan seperti yang dilakukan bu Sarkam. Bu Sarkam terus membuat air dalam ember tumpah - tumpah. Dan seperti halnya Remi tiba - tiba kaki bu Sarkam menjulur keluar dari ember dan tubuh telanjangnya terangkat. Tangan Remi yang ada di kemaluan bu Sarkam terjepit paha. Bu Sarkam menegang dan jari Remi yang ada kemaluan bu Sarkam merasakan cairan hangat mengalirinya.
  
                         bersambung ke bagian lima belas ...................

Minggu, 01 Januari 2012

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                         edohaput

Bagian tiga belas

     Waruni diminta Nyi Ranu untuk mandi. Waruni segera melakukannya. Waruni malam nanti pasti Nyi Ranu minta ditemaninya tidur. Wurani sudah bisa membayangkang tubuhnya akan dijilati Nyi Ranu. Tidak luput puting susunya pasti akan jadi bulan - bulanan Nyi Ranu. Kemaluannya akan menjadi barang mainan yang mengasyikan bagi Nyi Ranu. Waruni yang telanjang sambil mengguyurkan air dan menyambuni tubuh  sintalnya yang padat berisi berkulit bersih tiba - tiba merasakan kenikmatan ketika membayangkan Nyi Ranu yang kadang - kadang sangat liar mempermainkan tubuhnya.
     Waruni tak habis pikir Nyi Ranu yang sudah berusia tujuh puluh tahunan tubuhnya tetap sintal. Padat dan kenyal. Pantatnya masih sangat nyendul dan belum melorot. Waruni tahu, pada umumnya wanita seumur Nyi Ranu tubuhnya sudah mengendor. Tetapi payudara Nyi Ranu tidak melorot. Tetap kencang kenyal menggunung. Kulitnya hampir - hampir tidak ada yang mengeriput. Wajah Nyi Ranu selalu tampak bercahaya dan kencang. Mata Nyi Ranu selalu berbinar. Waruni hanya sebatas bisa berpikir saja. Mengapa tubuh Nyi Ranu yang sudah berumur tetap seperti tubuh perawan. Bahkan suatu ketika Waruni sedang diminta mengilik kemaluan Nyi Ranu, Waruni merasakan liang senggama kemaluan Nyi Ranu begitu sempit. Bibir - bibir kemaluan Nyi Ranu masih begitu kencang layaknya bibir kemaluan perawan. Dan yang menjadikan Waruni juga tidak habis pikir rambut kemaluan Nyi Ranu tidak beruban. Begitu rambut yang ada di kepalanya tetap lebat dan hitam legam. Mengapa Nyi Ranu begitu awet muda ? Kapan Nyi Ranu tua ? Wurani pernah juga membanding - bandingkan perutnya dengan perut Nyi Ranu yang tetap rata dan tidak berkeriput. Sedang perutnya yang masih gadis perawan tidak seindah perut Nyi Ranu. 
     Waruni menggerakkan sambun menelusuri lekuk - lekuk tubuhnya. Ketika sampai di buah dadanya sabun diputar - putar. Dirasakan halusnya sabun yang menggelikan susunya. Sabun diputar - putar turun sampai di perut terus ke bawah dan sampai di kemaluannya. Waruni mengambil posisi kangkang dan sabun dielus - eluskan di permukaan kemaluannya. Karena posisi kangkangnya membuat bibir kemaluan sedikit terbuka. Waruni tidak sadar mendesah karena ada rasa geli enak. Dan Waruni terus menggosok kemaluannya dengan sabun. Sementara tangan kirinya meremas - remas payudara sendiri. Waruni telah masuk ke masturbasi. Kemaluannya tiba - tiba terasang hebat. Mulut Waruni menganga dan mengeluarkan desis. Matanya sebentar membuka dan sebentar menutup rapat. Tiba - tiba Waruni menggelinjang. Hampir saja tubuhnya terjatuh rebah kelantai kamar mandi. Waruni orgasme dengan sabun mandi. Waruni menjadi tersadar kalau dirinya baru saja bermasturbasi sambil membayangkan tubuhnya sedang digarap oleh Nyi Ranu.
     Sehabis makan malam Nyi Ranu meminta Waruni masuk ke  kamarnya. Waruni siap. Waruni mengerti kalau Nyi Ranu pasti menginginkan bibirnya, jari - jari tangannya, dan hembusan napas hangatnya. Seperti biasanya Waruni memasuki kamar Nyi Ranu dengan daster yang longgar dan tidak lagi bercelana dalam. Karena dengan bercelana dalam hanya akan membuat ribet ketika Nyi Ranu meraba - rabanya. Toh Nyi Ranu akan meminta celana dalamnya dilepas. Waruni telah mencuci kemaluannya dengan air rendaman daun sirih. Agar bersih dan wangi. Karena Nyi Ranu pasti akan menjilatinya, dan menyedot - nyedotnya, seperti ketika ia menyedot dan menjilati milik Nyi Ranu. Dan disaat - saat  saling menjilat dan menyedot itulah Waruni dan Nyi Ranu sama - sama mengerang karena nikmat yang dirasakannya.
     Di kamar Nyi Ranu juga sudah siap untuk berlaga. Kemaluannya sudah tidak lagi ditutupi celana dalam. Seperti halnya kemaluan Waruni kemaluan Nyi Ranu juga telah mendapatkan air rendaman daun sirih yang membuatnya wangi dan bersih. Nyi Ranu sedang rebahan di ranjang. Tubuhnya terlentang ditutupi daster sutera transparan. Sehingga buah dadanya yang menggunung tampak puntingnya menyembul menekan ke atas kain sutera yang menutupinya. Rambut kemaluan Nyi Ranu tampak membayang di balik kain dasternya yang sangat tipis. Bibir Nyi Ranu merah membasah karena sedang diolesi madu lebah yang dipanen di halaman rumahnya.
     Setelah menutup pintu kamar Waruni langsung mendekati Nyi Ranu. Tanpa kata - kata keluar dari mulutnya yang mungil Waruni terus membungkuk dan memeluk tubuh Nyi Ranu dan mencium bibir Nyi Ranu yang basah oleh madu lebah. Waruni menjadi sangat bersemangat mencium dan mengulum bibir Nyi Ranu. Dirasakan bibir Nyi Ranu manis madu dan wangi. Lidah Waruni segera menjulur ke dalam mulut Nyi Ranu dan seperti biasanya lidah Waruni menekan dan menggesek langit - langit mulut Nyi Ranu. Merasakan lidah Waruni yang terus dengan gencarnya menyerang langit - langit mulutnya Nyi Ranu hanya bisa ah...ah.. dan ...uh....uh... sambil tubuhnya terangkat - angkat karena geli yang membuatnya melayang. Tangan Nyi Ranu mulai gerayangan dan berhenti di buah dada Waruni dan disana dengan kuatnya meremas berganti - ganti buah dada Waruni. Waruni yang buah dadanya diremas dengan ganas oleh Nyi Ranu yang sedang kegelian di mulutnya hanya bisa semakin gencar saja menyerang mulut Nyi Ranu dengan lidahnya. Nyi Ranu yang semakin diserang menjadi semakin kelabakan. Rasa geli enak di langit - langit mulutnya mulai menjalari seluruh tubuhnya. Kulitnya mulai merinding. Syaraf - syarafnya meradang membuat tubuhnya menjadi panas dan berkeringat. Rasa gelinya merambat sampai di kemaluannya. Membuat kemaluannya membasah. Nafsu birahinya semakin menggelora. Napasnya memburu dan dari hidungnya terus mendenguskan napas hangatnya yang menerpai wajah Waruni. Waruni tahu, biasanya kalau Nyi Ranu sudah merinding dan mengeliat - geliat dan juga mulai memburu napasnya serta berkeringat akan segera mencapai orgasme. Maka tangan Waruni segera menggerayang kemaluan Nyi Ranu. Disana jari - jari Waruni mulai menyibak - nyibakan bibir kemaluan Nyi Ranu untuk menemukan liang senggama yang akan dimasuki dua jarinya dan menggosok - gosoknya. Tanpa berhenti mencium bibir Nyi Ranu Waruni seperti biasanya mempermainkan kemaluan Nyi Ranu dengan cara memasukkan dua jarinya dan dikeluar masukkan di liang senggama kemaluan Nyi Ranu sambil digetar - getarkan. Gerakan jari Waruni semakin cepat saja ketika Nyi Ranu semakin meronta - ronta. Kalau sudah begitu Nyi Ranu pasti akan segera sampai. Betul juga tiba - tiba Nyi Ranu melepaskan ciuman Waruni dan berteriak keras : " Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrr ...... !" Polah Nyi Ranu tak karuan. Kakinya yang bergerak - gerak menimbulkan suara gesekan keras antara tumit kakinya dengan alas ranjang. Nyi Ranu sampai ke puncak dengan hebat. Jari - jari tangan Waruni terguyur cairan kenikmatan Nyi Ranu yang tumpah ruah. Waruni menghentikan serangannya dan menjatuhkan diri terlentang di samping Nyi Ranu yang lemas terlentang dan napasnya masih memburu.
     Setelah beberapa saat istirahat dan napas Nyi Ranu kembali normal. Nyi Ranu segera bangkit dari terlentangnya dan tangannya mulai menggerayangi tubuh Waruni. Mulut Nyi Ranu langsung ke puting penthil Waruni yang memang belum tampak karena belum pernah disedot bayi. Dari buah dada mulut Nyi Ranu pindah ke leher Waruni. Leher Waruni yang wangi kembang mawar karena ketika mandi sore telah diboreh kembang mawar terus dijilati Nyi Ranu. Waruni yang merasakan geli di leher mulai menggeliat. Napasnya memburu. Tangan Nyi Ranu yang telah berada di kemaluan Waruni sudah melesakkan jarinya ke liang kemaluan Waruni dan mengilik  bagian - bagian yang membuat Waruni terus menjejak - jejakkan kakinya di speri ranjang. Mulut Nyi Ranu telah beralih ke bibir Waruni. Dan apa yang tadi oleh Waruni dilakukan, dilakukan juga oleh Nyi Ranu. Lidah Nyi Ranu menyerang semua yang ada di mulut Waruni. Terutama bagian langit - langit. Waruni tak berdaya kemaluannya begitu geli. Mulutnya begitu geli dan tubuh Nyi Ranu yang menindihnyapun membuat geli payudaranya yang tergesek - gesek dan tertekan - tekan. Waruni tiba - tiba melenguh hebat dan tubuhnya diangkat - angkat, pantatnya dimaju - majukan agar jari - jari Nyi Ranu semakin menyentuh bagian dalam kemaluannya. " Aaaaaaaauuuuughhhh...... Nyiiiiiiiiiiii..... !! " Waruni tak bisa menahan lagi kenikmatannya. Waruni orgasme hebat. Cairan kenikmatan terkucur membasahi tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Waruni terkulai lemas di pelukan Nyi Ranu. Waruni yang masih terengah masih terus bibirnya diciumi Nyi Ranu. Nyi Ranu ingin Waruni terpuaskan. Seperti dirinya yang selalu dipuaskan oleh Waruni.
     " War ... sudah tiba saatnya aku membuka rahasia yang selama ini aku pendam rapat ". Bisik Nyi Ranu di telinga Waruni. Waruni yang matanya masih terpejam karena ciuman Nyi Ranu tiba - tiba membuka dan menatap mata Nyi Ranu. " Ya War... sudah saatnya. Dan kamulah yang harus mengetahui rahasia ini ". Kata Nyi Ranu yang menatap mata Waruni yang tampak kaget dan heran. " Rahasia apa Nyi ?" Tanya Waruni dengan membuka mulutnya. Melihat mulut Waruni terbuka dan basah karena olesan madu sekali lagi Nyi Ranu menghisapnya. Waruni melenguh. Sesaat kemudian Nyi Ranu melepaskan ciumannya dan bangun dari posisi memeluk tubuh Waruni yang terlentang. Nyi Ranu menarik tangan Waruni agar mengikuti duduk. Mereka duduk bersimpuh di atas ranjang. Tangan Waruni menggapai nampan yang berisi buah jeruk dan diansurkan ke depan Nyi Ranu. " Kupas War... ini jeruk manis banget. Tadi aku beli di kota ". Waruni mengupas jeruk : " Rahasia apa Nyi ? Yang ingin Nyi Ranu mau buka ?" Tanya Waruni sambil mengupas jeruk. " War ... sudah sangat lama aku menyimpan rahasia ini. Dan aku dulu berjanji, jika anakku Darmuto sudah kawin, aku ingin membuka rahasia ini dan mewariskan kepunyaanku ini kepada orang yang mau ". Kalimat ini meluncur dari mulut Nyi Ranu yang sedang mengunyah jeruk. " Dan aku ingin kamulah War... yang akan mewarisnya ". Waruni kaget. Apa yang akan diwariskan Nyi Ranu kepada dirinya ? Ia hanya pembantu Nyi Ranu. Walaupun sebenarnya masih ada hubungan darah dengan Nyi Ranu, tetapi Waruni tak lebih hanya pembantu. Lalu apa yang akan diwariskan Nyi Ranu ? Sebagian kekayaannya ? " War... aku sudah kelewat berumur. Tapi kamu tahu tubuhku tetap bagai perawan. Kamu pernah bertanya kepadaku apa rahasianya aku begitu awet muda. Nah War ... inilah rahasianya. Kamu akan segara mengetahui. Dan harapanku kamulah yang selanjutnya mau memakainya ". Kata Nyi Ranu sambil menatap mata Waruni yang mengerinyitkan dahinya tanda tidak mengerti. " Dengarkan baik - baik ya War... ! " Nyi Ranu mulai bercerita tentang rahasianya. Yang membuat tubuhnya awet muda. Tetap sintal. Tetap kenyal dan padat berisi. Yang membuat wajahnya tetap cantik walaupun usinya telah lanjut.

bersambung ke bagian empat belas .....................
    

     

Rabu, 28 Desember 2011

Bau Lawean


Bau Lawean   

                                                                                            edohaput


Bagian dua belas

     Satu minggu setelah perkenalannya dengan Murami, di hati Darmuto telah bersemayam cinta yang membara. Dan sesuai dengan keinginan ibunya Darmuto telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk meminang Murami. Pinangan Darmuto - pun bersambut. Tanpa pikir - pikir lagi orang tua Murami telah merelakan Murami untuk diperistri Darmuto. Dan hari pernikahannya pun telah ditentukan. Mereka sepakat untuk tidak menunda - nunda. Dan disepakati pula ngunduh mantu ditiadakan. Yang penting nikah syah. Orang tua Murami takut akan kejadian - kejadian sebelumnya. Begitu pula Murami yang tak ingin lagi kehilangan kekasihnya. 
     Hari yang disepakati telah tiba. Dengan sangat sederhana perhelatan pernikahan dilaksanakan di rumah Murami. Hanya tetangga dekat yang hadir menyaksikan pernikahannya. Tidak ada pesta. Tidak ada keramaian. Tidak ada gempita suasana pernikahan seperti yang dulu pernah direncanakan ketika Murami akan dinikahi Pardan ataupun Damijan. Tidak ada kursi yang berjajar di halaman rumah. Tidak ada janur kuning yang melengkung. Walaupun dengan kesederhanan seperti itu tak mengurangi kebahagian Murami  yang tidak memakai baju pengantin. 
     Di sore itu pula seperti keinginan Nyi Ranu, Darmuto langsung memboyong Murami untuk dibawa ke kota. Nyi Ranu, Darmuto dan kedua orang tua Murami takut Murami akan ingat masa lalunya dengan Damijan. Dan kesedihannya akan muncul kembali.  Maka  dengan penuh ikhlas kedua orang tua Murami melepas anaknya untuk berbahagia bersama menantunya. 
      Hampir malam Darmuto dan Murami sampai di kota. Di rumah Darmuto tidak ada penyambutan. Hanya ada dua pembantu laki - laki dan satu pembantu perempuan yang menyambut kedatangan mereka di halaman rumah yang luas. Murami terlongo - longo melihat kemewahan rumah Darmuto yang baru pertama kali dilihatnya. Tak ada bayangan di benak Murami kalau ia bakal tinggal di rumah besar mewah. Murami gadis desa yang memiliki rumah berlantai tanah, tiba - tiba kakinya menginjak lantai berteraso yang berkilau. Murami yang gadis kembang dusun yang biasa hanya melewati pintu kayu yang disana - sini lapuk dimakan rayap, tiba - tiba melewati pintu yang besar, mewah dan berkilau dengan kaca - kaca besar. 
     Selesai mandi di kamar mandi yang belum pernah dilihat begitu mewahnya, dan peralatannya yang serba membingungkan, Murami diajak makan malam oleh Darmuto. Meja yang besar dan peralatan makan yang serba baik dan bermacam - macam membuat Murami kikuk. Murami yang biasa makan dengan piring sederhana. Bahkan sering pula dengan picuk daun, harus menghadapi piring besar, bermacam - macam senduk dan pisau. Murami bingung. Darmuto tersenyum lembut dan membimbing Murami untuk menggunakan alat - alat makan yang tidak terbiasa. 
     Dan lebih terkesima lagi ketika Murami dibawa ke kamar oleh Darmuto. Murami hampir - hampir saja terpekik saking kagumnya. Ranjang yang indah, besar dan tinggi. Mata  Murami menatap sekeliling. Ada Almari besar berkaca lebar. Ada bufet besar berkaca lebar dan disana telah tersusun rapi berbagai kosmetik yang tidak mungkin dalam waktu singkat Murami bisa menggunakannya. Karena yang diketahui Murami hanya bedak wajah yang sederhana dan dibeli dengan harga murah. Murami hanya bisa mengagumi dan tidak bisa berkata - kata. Darmuto terus tersenyum melihat Murami terkagum - kagum. Dalam hati Darmuto begitu bangga bisa membuat isterinya yang begitu mengagumi yang disediakannya. 
     Angin malam yang menyusup melalui lubang ventilasi dirasakan Murami dan Darmuto yang sudah siap untuk menikmati malam pertama. Darmuto meredupkan lampu di dalam kamar dengan remut controlnya. Suasan menjadi begitu teduh. Darmuto mendekati Murami dan memeluknya. Murami yang telah mengenakan baju tidur yang begitu seksi yang sengaja dibeli Darmuto untuk malam pertamanya tanpak begitu cantik. Murami tidak lagi terlihat gadis desa yang lugu. Murami telah nampak sebagai bidadari yang begitu cantik dengan pakaian malammnya. Payudara Murami yang tak berkutang tampak begitu indah di balik baju malamnya. Paha Murami yang padat berisi berkulit bersih begitu menggoda di balik baju malamnya yang begitu indah. Rambut Murami yang sebahu dan terurai berjuntai begitu indah menghiasi pendaknya yang hanya ada tali kecil baju malamnya. Darmuto sangat mengagumi tubuh dan kecantikan Murami. Darmuto tidak mengira kalau Murami dengan baju malamnya akan berubah menjadi bidadari. 
     Darmuto merebahkan tubuh Murami di ranjang. Kemudian kembali memeluk dan mencium bibir Murami yang wangi karena tebu yang telah dikunyahnya. Darmuto tahu kesukaan Murami. Maka ketika makan malam tadi Darmuto minta disediakan potongan - potongan tebu oleh para pembantunya. Ciuman lembut Darmuto mulai panas dan napas birahinya mulai memburu. Ciuman lembut Darmuto di bibir Murami telah berubah ke ciuman yang panas. Dengan lidah yang mulai menggila di mulut Murami. Murami yang dibuat begitu tidak tahan untuk tidak membalas dan meladeni ciuman Darmuto. Dengan aliran birahi yang mulai mengaliri seluruh tubuhnya Murami memeluk erat tubuh Darmuto dan lidahnya menyambut lidah Darmuto yang melilit - lilit dan menyerang bagian - bagian senstif di dalam mulutnya. Tangan Darmuto yang telah berada di buah dada ranumnya membuat semakin melayang. Dirasakannya tangan Darmuto meremas gemas payudaranya berganti - ganti. Dan pahanya yang telah tersingkap dari baju malamnya merasakan sodokan - sodokan burung Darmuto yang dirasakannya telah begitu tegak dan kaku.
     Tangan Darmuto beralih merembat ke bawah menelusuri perut Murami yang datar dengan pusar yang kecil. Di pusar jari Darmuto berhenti sebentar dan mengilik. Murami meronta karena geli. Tangan Darmuto berjalan ke bawah dan sampai di selangkangan Murami. Murami mengangkang pahanya untuk memberi kesempatan tangan Darmuto. Darmuto mengelus kemaluan Murami yang masih terbungkus celana dalam berenda yang belum pernah dikenakan. Lembut Darmuto mengelus kemaluan Murami. Dan dari kelembutan berubah menjadi gemas. Tangan Darmuto menyusup di dalam celana dalam Murami dan menemukan kemaluan Murami yang berambut tipis halus. Dan telah membasah oleh rangsangan ciuman dan remasan payu dara. Jari tengah tangan Darmuto telah berada di belahan kemaluan Murami dan menggeseknya. Murami melenguh diantara ciumannya Darmuto. Dan Mulut Darmuto mulai bergerak turun ke buah dada Murami yang telah menunggun untuk dikulum puting penthilnya. Murami menjadi sangat melayang ketika mulut Darmuto telah menyedot - nyedot puting penthilnya. Dan Jari tangannya telah berhasil berada di liang senggamanya. Murami mendesah. Dan desahan Murami semakin membuat Darmuto bernafsu. Darmuto tidak tahan tangannya segera memelorotkan celana dalam Murami. Murami membantunya dengan mengangkat pantatnya. Dan menggerakkan kakinya untuk mempermudah celana dalam terlepas.
    Dengan kimono tipis yang masih melekat di badannya Darmuto memposisikan pantatnya di antara paha Murami yang telah membuka. Darmuto yang sengaja dari semula tidak mengenakan celana dalam telah mencuatkan burungnya yang besar dan kaku. Darmuto telah siap untuk memerawani Murami. Darmuto memandangi wajah Murami dengan penuh sayang : " Dik Mi.......".  lembut nama Murami disebut Darmuto. Sambil berkaca - kaca mata Murami menatap mata Darmuto dan memancarkan rasa cinta di hatinya. Rasa sayang yang mendalam ke pada Darmuto : " Mas ..... lakukan ....aku isterimu ... ". Darmuto begitu terenyuh mendengar kalimat Murami. Mengalir rasa bahagia di hatinya.
     Darmuto menempelkan ujung burungnya di bibir kemaluan Murami yang membuka dan basah. Dengan perlahan dan ditekan burung Darmuto mulai membelah kemaluan Murami. Murami mendesah. Pertama kali Murami merasakan kemaluannya tertusuk burung. Dan burung perlahan tapi terus maju masuk menusuk liang senggama Murami dan ahkirnya tidak tersisa burung Darmuto telah berada di dalam kemaluan Murami. Murami terbeliak menatap Darmuto yang begitu sayang dan kemudian memejamkan matanya merasakan ada rasa sakit di kemaluannya. " Mi ..... ". Darmuto memanggil Murami dengan kasihnya. " Mas.....". Murami menjawabnya dengan mata yang menatap Darmuto. Darmuto mulai menarik kebelakang pantatnya dan mendorongnya maju lagi. Berulang - ulang. Disaat itulah Murami menjerit lemah karena merasakan robeknya selaput daranya. Murami menitikkan air mata bahagia. " Mas...... " Murami hanya bisa menikmati wajah Darmuto yang mulai merasakan nikmat. Darmuto kembali memeluk Murami dan mencium bibirnya. Dan pantatnya kembali mendorong dan memundurkan burungnya di dalam kemaluan Murami. Rasa sakit di kemaluan dirasakan Murami mulai hilang dan berganti dengan rasa geli nikmat yang sangat enak. Seiring dengan itu burung Darmuto semakin cepat bergerak maju mundur. Dengan perasaan bahagianya sebagai laki - laki Darmuto menikmati kemaluan perawan isterinya yang baru tadi sore dinikahinya. Wajah Murami yang cantik semakin memerah karena sodokan burung Darmuto yang semakin cepat saja. Murami sangat bahagia. Jantungnya semakin berdegup seiring dengan adanya rasa nikmat yang tidak terkirakan di kemaluannya. Murami terus mendesah dan tubuhnya sesekali menggeliat. Saat - saat Murami menggeliat inilah Darmuto merasakan nikmat burungnya yang ada di kedalaman kemaluan Murami nikmatnya semakin bertambah - tambah.
     " Mas .... mas.......aaaaaahhhhhh...... !" Murami orgasme. Darmuto melihat wajah Murami yang begitu cantik dan semakin tambah cantiknya saja ketika sedang mengekpersikan rasa orgasmenya. Darmuto menjadi tambah kasih dan cinta pada Murami. Diciuminya pipi Murami yang memerah. Diciuminya leher Murami yang disana telah tergantung kalung emas bermata berlian pemberian Darmuto. Digigit - gigitnya kecil telingan Murami yang disana telah ada subang bermata intan biru. Bibir Darmuto terus turun dan menciumi puting susu Murami yang masih kecil dan memerah. Semenatara itu masuk keluarnya burungnya di kemaluan Murami semakin gencar saja. " Mas.......mas.....aaaaaddduuuuuhh mas......aku lagi ......maaaaaaasssss..... !" Murami menggelinjang hebat. Karena orgasme yang kedua lebih nikmat dari orgasme yang pertama. Darmuto kembali menikmati wajah yang cantik yang mengekpresikan kenikmatan orgasmenya. Sesaat kemudian Darmuto kembali menciumi bibir Murami. Dan jantung Darmuto semakin berdegup keras. Burungnya telah begitu menggelumbung oleh air mani yang telah sangat siap membasahi untuk pertama kalinya kemaluan Murami. Menjadikan cara menciumi bibir, leher, dan puting susu Murami menjadi semakin liar. Darmuto menjadi lupa akan Murami yang perawan. Genjotan - burungnya di kemaluan Murami menjadi sangat keras dan kuat pula.
" Dik Mi.... dik Mi....terimalah cintakku dik.......diiiiiiikkkk ......aaaaughhhhh......!" Darmuto mengejang. Mengeratkan pelukannya di tubuh Murami. Dan Bibir Murami bagai ditelah oleh Darmuto. Kaki Darmuto berkelenjotan. Maninya tumpah di kemaluan Murami yang perawan. Saat itu pulalah Murami tak bisa menahan kamaluannya untuk lagi - lagi orgasme. Murami mengangkat pantatnya sehingga burung Darmuto semakin masuk di kemaulannya dan menyodok sesuatu yang paling dalam di kedalaman kemaluannya. Murami merasakan tumpahan air cinta yang hangat di kemaluannya. Murami sangat bahagia suaminya terkejang - kejang nikmat di atas tubuhnya. Dan saat itulah kedua kaki Murami menendang - nendang tak karuan saking nikmatnya. Dan Darmuto menuntaskan air cintanya dengan semakin menancapkan burungnya di kedalaman kemaluan isterinya. Mereka menggetarkan ranjang. Saling mengerang memecah kesunyian malam. Saling menumpahkan kebahagiaan. Saling menumpahkan rasa cinta yang menggelora.

                                  bersambung ke bagian tiga belas .......................



Jumat, 09 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                                         edohaput


Bagian sebelas 

     Malam merambat, udara gunung semakin dingin menusuk Tulang. Angin yang merambat dan menerpa beranda rumah membuat Darmuto dan Murami tidak tahan. Murami dibimbing Darmuto memasuki rumah. Mereka kemudian duduk di lantai beralaskan babut tebal. Diterangi lampu yang menyala temaram. Darmuto menarik tangan Murami sehingga Murami menjadi rebah di pangkuan Darmuto. " Gimana dik Mi. Kamu belum menjawab lamaranku. Mau kan kamu menjadi pendampingku ? " Darmuto mengulangi ucapannya ketika di beranda tadi. Kembali Murami tidak menjawab. Hanya matanya yang menatap mata Darmuto dan kembali dari sudut matanya kembali meleleh air matanya. Darmuto menjadi sangat trenyuh. Perasaannya menjadi begitu iba. Ditatapnya wajah Murami yang tengadah di pelukannya. Murami yang cantik. Murami yang bibirnya terbuka dan membasah menampakkan sedikit gigi atasnya yang tersusun rapi. Darmuto menjadi sangat gemas. Ingin sekali mencium bibir yang merekah itu. Bibir yang sangat mempesona dan membangkitkan gairah. Banyak gadis mengelilingi Darmuto di kota. Tetapi belum pernah ada yang begitu menyentuh hatinya. Kali ini baru saja berjumpa tiba - tiba hatinya tergetar. Hatinya teriba - iba melihat wajah cantik yang tiba - tiba memelas. Wajah yang minta dikasihi. Wajah cantik yang ingin disayang. Darmuto tiba - tiba telah jatuh cinta. Cinta yang timbul dari rasa iba. Rasa ingin mengasihi. Rasa ingin menyayang. Cinta yang juga tumbuh kerena kecantikan Murami. Darmuto yang gemas tak tahan untuk tidak mencium bibir Murami. Setelah mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya dengan penuh sayang Darmuto mencium bibir Murami. Dan pelukan Darmuto menjadi semakin erat ketika Murami dengan sangat hati - hati dan sangat lembut membalas ciuman Darmuto.
     Murami merasakan sangat bahagia di pelukan Darmuto. Darmuto yang tampan dan gagah. Darmuto yang tiba - tiba begitu kasih kepada dirinya. Darmuto yang belum pernah dilihatnya. Darmuto yang belum pernah dikenalnya. Darmuto yang tiba - tiba hadir dihatinya yang sepi. Di hatinya yang sangat sakit ketika ditinggal Damijan. Murami merasakan kedamain yang begitu dalam di pelukan Darmuto. Tiba - tiba pula Murami merasa sangat ingin mencintai Darmuto. Sangat ingin melayani Darmuto. Dan sangat ingin pasrah segalanya kepada Darmuto. Ketika tidak sengaja tangan Darmuto menyentuh payudaranya dan sedikit menekan Murami mendesah diantara ciuman yang sedang berpagut.
     Sementara itu di dalam kamar Nyi Ranu. Waruni yang sudah telanjang bulat sedang diciumi buah dadanya oleh Nyi Ranu yang juga sudah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Sementara mulut Nyi Ranu berada di buah dada gadis belia Waruni, tangannya terus menggerayangi paha Waruni. Dan sesekali berada di selangkang Waruni. Waruni hanya bisa  mengejang ketika geli nikmat di payudaranya dan dikemaluannya menyerang syaraf otaknya yang membuat seluruh jaringan syaraf di tubuhnya meradang dan mengakibatkan nikmat di seluruh tubuhnya. Dari payudara bibir Nyi Ranu beralih ke bibir Waruni yang terbuka - buka karena harus mengeluarkan desahan. Dan tangan Nyi Ranu terus bermain di selangkangan Waruni. Ketika lidah Nyi Ranu telah menyentuh sesuatu yang sensitif di dalam mulut Waruni, karena nakal sekali lidah Nyi Ranu berputar - putar di rongga mulut Waruni dan jari tangan Nyi Ranu telah berhasil membuat Waruni tak berdaya karena nakal sekali juga jari Nyi Ranu menyentuhi bagian - bagian sensitif di kemaluannya, Waruni berkelenjotan hebat. Tubuhnya mengejang dan tak lagi kuat menerima ciuman dan permainan lidah Nyi Ranu. Waruni berteriak tertahan. Dari kemaluannya menyemprot cairan kenikmatan dan membasahi jari tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Setelah itu Waruni lemas terkulai dengan napas yang terangah. Nyi Ranu tersenyum bangga bisa membuat Waruni begitu merasakan kenikmatan.
     Beberapa saat  kemudian Waruni bangun dan duduk kemudian mengelus dada Nyi Ranu yang besar dan kencang. Elusan - demi elusan yang disertai remasan dinikmati oleh Nyi Ranu. Licinnya minyak zaitun di payudara Nyi Ranu membuat tangan Waruni dengan mudah mengelus, meremas, dan memelintir punting penthil Nyi Ranu yang semakin kaku karena nikmat dan nafsu yang semakin membara. Bibir Waruni segera menyerang bibir Nyi Ranu. Waruni juga bisa nakal karena memang sudah selalu diajari oleh Nyi Ranu. Lidahnya berputar - putar di rongga mulut Nyi Ranu. Lidah Waruni  yang panjang menyerang ganas langit - langit rongga mulut Nyi Ranu. Nyi Ranu yang dibuat begitu hanya bisa mengangkat - angkat pantatnya sebagai isyarat agar tangan Waruni segera berada di selangkangannya. Waruni tanggap. Dari payudara tangan Waruni menyelusur perut Nyi Ranu yang rata. Terus turun ke bawah dan segera menyentuh kemaluan Nyi Ranu yang telah bibirnya merekah terbuka. Wurani menggerakkan jari - jari tangannya seperti ketika Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya. Serangan Waruni dibibir Nyi Ranu semakin gencar demikian pula jari - jari tangannya yang telah berada di dalam kemaluan Nyi Ranu tak kalah gencarnya. Nyi Ranu-pun menjadi tidak tahan. Dadanya terangkat ke atas dan selangkangannya menekan kebawah sehingga dua jari tangan Waruni yang telah berada di kemaluannya semakin masuk kedalam kemaluan dan menyentuh sesuatu yang dirasakan sangat luar biasa menyenangkan. Nyi Ranu berusaha lepas dari ciuman Waruni yang semakin menggila untuk mengeluarkan teriakan yang tak bisa ditahan. Nyi Ranu berteriak tertahan dan kakinya mengejang kemudian berkelenjotan sambil pahanya dihimpitkan untuk bisa menahan rasa nikmat di kemaluannya. Sesaat kemudian tubuh Nyi Ranu lunglai. Waruni menarik jarinya dari kemaluan Nyi Ranu yang membanjirkan cairan kenikmatan.
     Setelah beberapa saat beristirahat sambil berpelukan dengan Waruni agar tubuh tetap hangat, Nyi Ranu mengansurkan buah terung yang telah terbungkus kondom kepada Murami. Murami bangun dan berjongkok di antara selangkangan Nyi Ranu yang mengangkang. Terung ukuran besar terbungkus kondom oleh Waruni mulai ditekankan di kemaluan Nyi Rani. Perlahan dan terus ditekankan dan berlajan pelah menembus liang senggama kemaluan Nyi Ranu. Nyi Ranu sangat menikmatinya. Dan mulutnya tak berhenti mengaduh, melenguh dan mendesah, apalagi setelah Waruni mulai memaju mundurkan terung. " Percepat, War. cepatkan gerakkannya, War.....aduuuuh....War...aku hampir....War..... !" Nyi Ranu bercerecah sambil menahan nikmat. Waruni-pun tanggap dan dengan gerakan cepatnya memaju mundurkan terung, Waruni membungkuk dan mengulum puting penthil Nyi Ranu yang juga telah mengejang dan bergetar - getar. Tiba - tiba seluruh tubuh Nyi Ranu mengejang, bergetar dan menggelinjang hebat. Mulutnya tak tahan berteriak kuat, mengerang di bawah bantal yang ditutupkan di wajahnya agar erangannya tak sampai keluar kamar.

bersambung kebagian dua belas .......................

Rabu, 07 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                         edohaput


Bagian Sepuluh 

     Malam baru saja tiba. Di beranda rumah Nyi Ranu Murami minum teh ditemani Waruni. Murami telah benar - benar pulih dari lupa ingatannya. Matanya kembali berbinar - binar. Tubuhnya yang kemarin ketika dalam pasungan sebulan lamanya hampir - hampir rusak telah kembali seperti saat - saat sebelum terjadi lupa ingatan. Perasaannya selalu tenteram berada di rumah Nyi Ranu. Pikirannya lagi lagi ingat Damijan yang sudah tiada. Murami tak berniat meninggalkan rumah Nyi Ranu. Murami tak berniat menjumpai kedua orang tuannya, walau jarak rumah Nyi Ranu dengan rumahnya hanya dibatasi rumah - rumah warga. Murami takut perasaan galaunya kembali akan menyakiti dirinya jika pulang ke rumah dan tiba - tiba nanti ingat Damijan. Keluar dari Rumah Nyi Ranu-pun Murami takut. Murami tidak tahu mengapa begitu sangat tenteram perasaannya tinggal di rumah Nyi Ranu. Kedua orang tua Murami lah yang terus setiap kangen anaknya datang menjenguk. Dan Murami tak ingin kedua orang tuannya berlama - lama ketika menjenguknya. Karena ketika berjumpa dengan orang tuanya perasaan Murami menjadi sedih. Murami takut kesedihannya akan membuat dirinya kembali pada sakit ingatannya. 
     Murami telah kembali mengunyah tebu. Murami kembali merawat tubuhnya. Murami kembali mandi dengan air kembang. Murami kembali merawat kewanitaannya dengan air rendaman daun sirih. Murami kembali mengeramas rambutnya yang lebat sebahu dengan abu merang. Murami kembali cantik, wangi, bercahaya, dan mempesona.  " Dik War, kata Nyi Ranu jika aku telah sembuh betul aku mau dijodohkan sama anak Nyi Ranu. Padahal sampai hari ini aku belum pernah bertemu dengannya. Gimana ya, dik War ?" Murami menyapa Waruni dengan sebutan dik. Karena memang dari segi usia Murami lebih tua dua tahun dari Waruni. " Aku juga sudah dibilangi Nyi Ranu kok, Mbak Mi. Kalau Mbak ini mau dijodohkan sama mas Darmuto. Mas Darmuto itu tampan lho, mbak. Kalau nanti mbak Mi ketemu sama mas Dar mbak Mi pasti kepencut " Kalimat Waruni diahkiri dengan tertawa. " Ah kamu ini dik, bisa saja " Timpal Murami sambil tersipu. " Betul mbak, Mas Darmuto itu orangnya tinggi besar dan tegap. Kumisan lagi, wah pokoknya sip banget. Kalau mbak Mi tidak mau biar aku saja yang mau mbak !" Lagi - lagi Waruni menggoda Murami dan tertawa lepas. Kembali Murami tersipu - sipu oleh olah Waruni. " Mas Darmuto itu apa jarang pulang ke rumah ini, dik War ?" Tanya Murami menyelidik.  " Ya jarang banget mbak. Setahun sekali pun belum tentu. Mas Darmuto itu orangnya tidak suka tinggal di desa. Katanya sepi. Tak ada hiburan. Lagian mas Darmuto itu pekerjaannya kan di kota ta mbak !" Waruni mengucapkan kalimatnya dengan nada kenes sambil mengunyah pisang goreng buatannya sendiri. 
     Darmuto adalah anak Nyi Ranu dengan suami pertamanya. Darmuto tidak pernah melihat wajah sang ayah yang meninggal ketika dirinya masih dalam kandungan muda Nyi Ranu. Darmuto hidup di kota bersama Nyi Ranu yang kemudian diperistri pak Ranu warga dusun terkaya. Sejak menjadi isteri pak Ranu, Nyi Ranu tinggal di desa. Tetapi Darmuto yang sudah mulai menginjak dewasa tak mau mengikuti ibunya. Ia memilih tinggal di rumah ayahnya di kota. Tak lama Nyi Ranu kerasan di desa. Nyi Ranu-pun segera membeli toko di kota dan membuka usaha toko kelonthong di kota. Nyi Ranu jarang pulang ke dusun. Justru pak Ranu lah yang mengikuti Nyi Ranu di kota. Belum satu tahun memperistri Nyi Ranu pak Ranu meninggal dunia. Pak Ranu tak mempunyai keturunan. Akibatnya Nyi Ranu lah yang terpaksa harus repot hilir mudik tujuh hari sekali pulang ke dusun untuk merawat rumah besar yang diwariskan pak Ranu. Ahkirnya Waruni lah yang diambil Nyi Ranu untuk merawat dan menjaga rumah di dusun. Waruni masih ada tali darah dengan Nyi Ranu. Maka tak mengherankan jika Waruni yang statusnya hanya sebagai pembantu rumah tangga wajahnya manis. Masih ada kemiripan dengan keayuannya Nyi Ranu. 
     " Jadi mas Darmuto itu orang kota asli ya, dik War ?" Murami bertanya tapi sebenarnya menegaskan pendapatnya. " O iya mbak ! Mas Darmuto itu orangnya bukan kayak pemuda - pemuda di sini. Pokoknya beda mbak dengan pemuda - pemuda dusun. Mas Darmuto itu tegak tenan, mbak !" Kembali Waruni dengan kenesnya menceriterakan Darmuto. " Wah dik, Apa ya mau mas Darmuto itu sama aku yang gadis dusun ini ". Murami merendah. " Lho mbak Murami ini walaupun gadis dusun tapi cuantik banget lho mbak. Kalau mbak Murami ini didandani kayak orang kota pasti akan menjadi lebih cantik lagi. Dan saya tau mbak. Mas Darmuto itu bercita - cita dapat isteri gadis dusun tetapi gadis dusun yang cantik. Pas ....pas... mbak. Mas Darmuto pasti kepincut kalau  melihat mbak Murami !" Kembali Waruni membuat wajah Murami memerah. Waruni  merahasiakan jika sebenarnya malam ini Darmuto bersama Nyi Ranu akan datang ke dusun. Darmuto ingin melihat Murami. Waruni ingin Murami terkejut dan terkesima melihat Darmuto yang tampan. Waruni ingin melihat Murami kelimpungan ketika bertemu dengan Darmuto. Waruni ingin ada adegan yang lucu ketika Murami bertemu dengan Darmuto. Waruni pasti akan melihat betapa malunya Murami nanti ketika Darmuto mendekatinya dan mengajaknya berkenalan. 
     Deru mobil yang sangat jarang terdengar di dusun memecah kesunyian malam yang masih dini. Waruni yang masih mengunyah pisang goreng berlari dan segera membuka pintu gerbang halaman. Sorot lampu mobil menerangi wajah Waruni. Murami terkesima. Siapa yang datang ? Darmuto kah ? Jantung Murami berdegup cepat. Jika benar yang datang Darmuto sudah siapkah ia bertemu dengan Darmuto ? Bagaimana jika ternyata Darmuto tidak menyukai dirinya. Lalu bagaimana ia harus bersikap jika nanti ketemu dengan Darmuto ? Sikap yang bagaimanakah yang harus ditunjukkan dengan Darmuto pemuda kota yang kaya itu ? Bagaimana jadinya nanti jika ia salah bersikap ? Murami yang hanya gadis dusun harus berhadapan dengan pemuda kota yang banyak pengalaman, pinter, pengusaha lagi. Pikiran Murami buntu. Murami pasrah. Murami akan bersikap apa adanya sebagai gadis dusun yang tidak sama sekali memiliki pengalaman kehidupan kota.
     Darmuto turun dari mobil dan berjalan diikuti Nyi Ranu dan Waruni menuju beranda dimana Murami berdiri terpaku. Jantung Murami semakin berdegup ketika melihat kenyataan. Ternyata Darmuto itu pemuda yang gagah, tinggi besar dan berkumis. Darmuto sangat tampan apabila dibandingkan dengan para pemuda dusun. Pardin, Pardan, dan Damijan bukan apa - apanya jika dibandingkan dengan Darmuto. Jantung Murami semakin cepat berdegup. Kakinya tiba - tiba bergetar dan lemas tidak mampu menahan tubuhnya ketika Darmuto menyalami dan menyebutkan namanya sambil tersenyum. Seandainya saja Nyi Ranu tidak memeluk dan mencium pipinya mungkin Murami sudah terkulai di lantai. Dalam hati Waruni terbahak mentertawakan Murami. Mati kamu mbak ! Kena kau mbak ! Murami sangat senang melihat wajah Murami yang tiba - tiba memucat. Beberapa hari sebelumnya Waruni sebenarnya telah diperintah Nyi Ranu agar memberitahu Murami akan kedatangan Darmuto. Tetapi Waruni nakal hal itu tak diberitahukan ke Murami. Demikan juga foto Darmuto yang oleh Nyi Ranu agar diperlihatkan kepada Murami oleh Waruni sengaja tidak diberikan ke Murami. Waruni sengaja ingin mempermainkan Murami. Waruni tersenyum puas bisa membuat Murami kelimpungan. Sambil tertawa Waruni menggandeng tangan Murami masuk ke rumah mengikuti Darmuto dan Nyi Ranu.
     Tiga puluh menit kemudian mereka telah berada di meja makan untuk makan bersama. Waruni terus saja nakal dengan sesekali memperhatikan Murami yang tertunduk dan terus tersipu malu. Ketika padangan mata Waruni tertumbuk dengan mata Murami, Waruni tersenyum geli dan mengedip - ngedipkan mata. Dan ketika Murami mencuri pandang ke arah Darmuto, Waruni tersenyum dan kemudian pura - pura batuk seperti tersedak. Dan sikap Waruni itu mendapat pelototan mata dari Nyi Ranu. Dan yang dipelototi cuma tersenyum nakal. Sementara Darmuto terus melahap makanan tanpa memperhatikan keberadaan Murami. Waruni memperoleh isyarat dari Nyi Ranu agar segera menyelesaikan makannya dan meninggalkan meja makan. Waruni tanggap. Beranjaknya Waruni dari meja makan diikuti Nyi Ranu : " Jangan tergesa - gesa Mi ! Temani masmu Darmuto makan !" Nyi Ranu berlalu dari meja makan. Tinggal Murami dan Darmuto yang masih meneruskan makan. Murami kikuk. Tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ketika Murami mencoba mencuri pandang ke wajah Darmuto dan tertumbuk oleh pandangan mata Darmuto yang sengaja sedang memperhatikan Murami, dan Murami melihat senyum Darmuto kembali untuk yang kesekian kalinya jantung Murami bedegup keras. Murami kembali menunduk dan makan susah sekali tertelan. Darmuto sangat tampan. Wajahnya bersih. Tidak seperti wajah Pardan dan Wajah Damijan yang gelap karena selalu tertimpa matahari panas. Murami merasa sangat tidak sebanding dengan Darmuto.
     Diam - diam Darmuto juga mengagumi kecantikan Murami. Kecantikan gadis dusun yang lugu. Kecantikan asli tanpa make up. Semakin dipandang wajah Murami semakin mempesona Darmuto. Tiba - tiba ada getaran di hati Darmuto. Inikah calon pendampingku ? Aku suka. Aku suka keluguannya. Aku suka kepolosan wajahnya. Murami kau bidadariku !
     Selesai makan Darmuto menggandeng tangan Murami untuk diajak ke beranda rumah. Malam telah sepi. Derik cengkerik dan walang kerik saja yang terdengar. Udara dingin pegunungan mulai merambat terbawa angin dan menerpa dusun. Embun di dedaunan menetes deras ke tanah yang mulai membasah. Rembulan yang tadi menggantung di atas pegunungan telah meninggi. Murami telah berada dalam pelukan Darmuto. Darmuto yang sudah mendengar cerita tetang Murami dari ibunya, Nyi Ranu. Merasa kasihan terhadap nasib Murami. Disamping memang Darmuto tiba - tiba menggumi kecantikan Murami. Maka Darmuto tanpa menunggu besuk atau lusa langsung melamar Murami. Ucapan Darmuto yang memintanya untuk bersedia menjadi isterinya membuat Murami lemas dan tiba - tiba ambruk di dada Darmuto. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang ranum dan tiba - tiba berubah merah merona menambah kecantikannya. Ada perasaan iba mengalir di hati Darmuto. Dipeluknya Murami. Diciumnya pipi Murami yang basah air mata. Diangkatlah dagu Murami agar tengadah menghadap wajahnya. Diciumnya bibir Murami yang merah membasah dan wangi oleh bau jeruk yang tadi dimakannya sehabis bersantap di meja makan bersama Darmuto. Dengan sangat hati - hati dan penuh perasaan yang bercampur baur tak karuan di hatinya dibalasnya ciuman sayang Darmuto.

bersambung ke bagian sebelas ......................
     
     

Minggu, 04 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                                                edohaput


Bagian Sembilan 

     Malam itu tepat kurang tujuh hari saat pernikahannya dengan Murami akan dilangsungkan, Damijan barjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Tubuhnya serasa melayang - layang. Damijan merasakan tubuhnya lemas tak berdaya. Kepalanya pening, matanya berkunang - kunang, dan mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Tenggorokaanya tersekat dan dadanya sangat sesak. Damijan dengan tenaganya yang masih tersisa ingin segera sampai ke rumah. Malam yang telah larut sangat sepi. Udara dingin pegunungan membuat warga enggan keluar rumah. Apalagi malam itu kabut tebal dan sedikit gerimis. Damijan yang terus berusaha berjalan ahkirnya ambruk di pos ronda. Sekilas Damijan masih bisa mengingat Murami. Tetapi setelah itu detak jantung Damijan berhenti. Damijan berhenti bernapas. 
     Pagi harinya warga dibuat geger dengan ditemukannya jasad Damijan yang sudah kaku di pos ronda. Jenasah Damijan segera diusung pulang. Warga terus bertanya. Apa yang menyebabkan Damijan meninggal. Dulu Pardan, terus Pardin sekarang Damijan. Ketiganya meninggal secara misterius. Warga yang pernah berkesimpulan kalau meninggalnya Pardan dan Pardin adalah karena sakit jantung kini menjadi ragu. Mengapa Damijan juga meninggal dengan kulit tubuh memucat dan terdapat bintik - bintik biru - biru seperti jasadnya Pardan dan Pardin. Di tubuh Damijan juga tidak ditemukan adanya tanda - tanda penganiyaan. Damijan pemuda yang sehat. Tak pernah mengeluh sakit. Warga sangat tahu siapa Damijan. Warga dibuat bingung. Para pemuda dusun menjadi takut. Jangan - jangan akan terjadi pula seperti yang menimpa Pardan, Pardin dan Damijan. Mengapa pemuda. Mengapa bukan orang tua. Apa yang sedang terjadi di dusun. Sehingga ada malapetaka yang demikian. 
     Selesai pemakaman jenasah Damijan, malam harinya seluruh pemuda dusun berkumpul di rumah Damijan. Mereka berdiskusi. Saling bertanya dan saling mengemukakan pandapat. Tetapi dirasakan tak ada yang cocok dengan penyebab kematian Damijan. Mereka tidak menemukan jawaban. Ahkirnya seperti halnya keluarga Pardan dan Pardin meninggalnya Damijan juga disimpulkan karena diganggu makhluk halus. Para pemuda semakin mendukung kegiatan ritual yang terus dilakukan oleh keluarga Pardan dan Pardin untuk menolak datangnya balak di dusun itu.

*

     Murami yang schok berat tak kuat menahan rasa pedih dan perasaannya. Kesadarannya  hilang. Ia tak lagi ingat siapa dirinya. Murami terus berteriak - teriak dan tak keruan ucapannya. Kadang menangis meraung - raung, kadang tertawa terbahak - bahak. Murami sudah tak ingat jati dirinya. Berlari kesana - kemari dan tak lagi mau dikenakan baju di tubuhnya. Murami tak lagi merasakan dingin. Tak lagi merasakan panas. Murami membuat repot seluruh warga. Tak ada yang bisa menenangkan Murami. Keluarganya telah kehabisan akal. Murami menjadi tontonan anak - anak. Murami membuat sedih teman - teman gadis dusun sebayanya. Murami yang pernah sedih tak terhingga ketika Pardan meninggal, tidak kuat lagi menahan rasa ketika ditinggal Damijan yang dicintainya. Murami menjadi gila.
      Ahkirnya Murami dipasung. Di pasunganpun Murami terus meronta. Tak mau makan. Tak mau tidur. Yang dilakukannya hanya menangis, berteriak, menyanyi dan tertawa. Memanggil - manggil nama Damijan. Murami telah kehilangan cantiknya. Karena tak lagi mandi. Mulutnya tak lagi mengunyah tebu. Murami kencing di tempat. Berak di tempat. Murami menjadi bau. Murami yang berambut panjang sebahu tak beraturan awut -awutan telah terlihat seperti setan. Murami menakutkan. Tak ada lagi warga yang mau mendekat. Murami sangat membuat susah keluarganya.
      Nyi Ranu warga dusun yang banyak menghabiskan kegiatannya di kota kecamatan sebagai pedagang yang memiliki kios di pasar kecamatan, menemui keluarga Murami. Nyi Ranu berniat membawa Murami ke rumahnya untuk disembuhkan. Nyi Ranu meminta kedua orang tua Murami untuk tidak kawatir ketika Murami berada di rumah Nyi Ranu. Nyi Ranu berjanji Murami akan sembuh. Murami akan pulih seperti sediakala. Nyi Ranu juga meminta kedua orang tua Murami untuk setuju jika nanti Murami telah pulih akan dinikahkan dengan anak laki - laki Nyi Ranu yang sekarang menjadi wiraswastawan di kota. Tanpa ragu - ragu dan sangat suka hati kedua orang tua Murami menyetujui permintaan Nyi Ranu.
     Aneh dan sangat mengejutkan, Murami yang selalu ingin memberontak dan mengancam akan melukai siapa saja yang mendekatinya, luluh di hadapan Nyi Ranu. Murami tidak berdaya di tangan Nyi Ranu. Tatapan mata Nyi Ranu telah meluluhkan perasaan Murami. Bagai diguyur air es Murami tiba - tiba sejuk dan damai ditatap Nyi Ranu. Tanpa mengadakan perlawanan Murami mudah dilepas dari pasungan. Nyi Ranu memandikan Murami dengan air kembang setaman. Murami bersih, wangi dan kembali cantik. Murami dibawa ke rumah Nyi Ranu.
     Nyi Ranu janda kaya. Orang terkaya kedua di dusun setelah pak Samino. Nyi Ranu jarang pulang ke rumah di dusun. Nyi Ranu banyak tinggal di kota kecamatan, di toko kelontongnya. Nyi Ranu memiliki rumah besar di dusun yang dikelilingi tembok tinggi, tidak seperti rumah - rumah warga dusun lainnya yang sederhana dan tidak berpagar tembok. Rumah besar Nyi Ranu terletak di ujung dusun. Tidak banyak warga yang tahu apa yang dikerjakan Nyi Ranu di saat - saat pulang ke dusun. Dan Jarang pula orang tahu kapan Nyi Ranu  berada di dusun. Nyi Ranu tidak banyak bergaul dengan warga. Nyi Ranu pernah bersuami. Suaminya meninggal dunia ketika Nyi Ranu mengandung anaknya. Sejak ditinggal suaminya Nyi Ranu terus menjanda.
     Hari bertambah. Murami kembali sehat. Nyi Ranu merawat Murami dengan kebisaannya. Badan Murami telah pulih. Tidak lagi kurus. Sudah kembali sintal. Murami justru tampak lebih cantik dari sebelumnya. Murami belum diperbolehkan oleh Nyi Ranu ke luar rumah. Warga mengira Murami masih gila. Dan sedang dikurung untuk disembuhkan oleh Nyi Ranu. Di rumah Nyi Ranu Murami ditemani Waruni. Waruni tidak berasal dari dusun dimana Murami tinggal. Waruni dibawa oleh Nyi Ranu dari dusun yang jauh letaknya dari dusun Murami lahir dan tinggal. Waruni sudah sangat lama menjadi pembantu rumah tangganya Nyi Ranu. Waruni dibawa Nyi Ranu sejak gadis belia. Tidak banyak warga dusun yang tahu tentang Waruni. Karena Waruni jarang sekali keluar rumah. Pekerjaan Waruni hanya memasak, mencuci, dan merawat rumah Nyi Ranu yang kelewat besar. Pekerjaan paling pokok Waruni sebenarnya adalah melayani keinginan biologis Nyi Ranu. Saat Nyi Ranu tidak pulang ke rumah, Waruni tinggal sendirian di rumah.
     Waruni yang diambil Nyi Ranu sejak kematian suami Nyi Ranu menjadi gadis belia yang selalu melayani Nyi Ranu apabila Nyi Ranu sedang ingin melampiaskan nafsu biologisnya. Wurani harus memijit seluruh tubuh telanjang Nyi Ranu. Dengan minyak zaitun yang wangi dan licin Waruni harus mengurut tubuh Nyi Ranu yang gempal, padat, dan kencang. Tubuh Nyi Ranu masih saja seperti tubuh perempuan di bawah tiga puluh tahun. Payudaranya masih sangat kenyal bagai buah dada gadis belasan tahun. Menjadi keusukaan Nyi Ranu jika Waruni sedang memijit - mijit buah dada dan meremas - remasnya. Dan apabila Wurani menghentikan meremas payudara Nyi Ranu marah. Nyi Ranu minta terus dan terus payudara dielus dan diremas Waruni. Sementara itu kedua tangan Nyi Ranu berada di kemaluannya sendiri. Disana jari - jari tangan Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya sendiri. Dan pada puncaknya Waruni harus mengulum buah dada Nyi Ranu dan jari - jari tangannya ada di kemaluan Nyi Ranu. Dan ketika itu pula Wurani yang juga telanjang menjadi rabaan liar tangan Nyi Ranu. Tak jarang pula Wurani ikut - ikut menikmati kenikmatan orgasme karena tangan Nyi Ranu yang meraba seluruh tubuh telanjang Waruni. Tak luput kemaluan perawan Waruni juga menjadi sasaran tangan Nyi Ranu yang sangat menggelikan liang senggama kemaluan.
     Satu malam ketika Nyi Ranu tidak tidur di kota, meminta Waruni melayaninya. Waruni yang telah bertelanjang bulat tubuhnya diciumi Nyi Ranu yang juga telah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Payudara Waruni diciuminya dengan ganas. Tak luput pula bibir tipis Waruni juga menjadi sasaran bibir Nyi Ranu yang wangi. Waruni hanya bisa menggeliat - geliat ketika jari - jari tangan Nyi Ranu telah hinggap di kemaluan. Nyi Ranu sangat pintar membuat kemaluan Waruni orgasme. Tahu Waruni telah orgasme Nyi Ranu meminta gantian diraba. " Ni, lakukan seperti aku melakukan tadi ". Kata Nyi Ranu sambil merebahkan dirinya di kasur yang beralas seprei sutra. Sebelum melaksanakan kegiatan Waruni menatap wajah Nyi Ranu. Aneh ! Seharusnya wajah itu sudah ada kerutan dan keriputnya ! Mengapa Wajah Nyi Ranu tetap kencang dan halus ? Bukankah Nyi Ranu telah berumur ? Waruni menelusurkan matanya ke seluruh tubuh Nyi Ranu. Kenapa tubuh itu tetap berisi ? Kenapa kulitnya tak ada keriput ? Ketika Nyi Ranu tersenyum giginya yang rata tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis tak ada yang cacat. Kenapa Nyi Ranu tampak seperti seorang gadis ? " Lho kok malah melamun, Ni. Ayo mulai !" Pinta Nyi Ranu menyadarkan Waruni yang tertegun memandangi tubuh Nyi Ranu. Wurani mulai dari bibir Nyi Ranu yang wangi. Diciumnya dengan penuh nafsu. Nyi Ranu membalas ciuman Waruni. Mereka berpagut dengan ganas. Suara saling sedot lidah terdengar berkecipak. Napas mereka terus memburu. Waruni selesai mencium bibir Nyi Ranu meneruskan kegiatan di buah dada Nyi Ranu yang tidak terlalu besar tetapi sangat menyembul di dadanya. Meremas - remasnya dan menciuminya, menyedot - nyedot putingnya. Nyi Ranu melenguh - lenguh sambil menggelinjang. Pahanya mebuka - buka, ingin jari - jari Waruni yang baru sampai di elusan - elusan paha segera sampai di selangkangannya. " Ni....Ni....ayoo ......Ni.... pepekku ...Ni ... !" Dengus Nyi Ranu tak sabar. Waruni belum mau sampai kesana sebelum benar - benar Nyi Ranu kelabakan. " Aduh ......Ni....ayo.....Ni...pepekku...Ni...segera...!" Nyi Ranu mengangkat - angkat pantatnya. Dalam hati Waruni tertawa geli dengan sikap Nyi Ranu yang terus merengek. Dan setelah tangan Waruni sampai cerecah mulut Nyi Ranu tak mau berhenti. Seandainya rumah Nyi Ranu seperti halnya rumah - rumah yang ada di dusun, cerecahnya pasti  bisa didengar tetangga. " Aduh Ni....getarkan jarimu, Ni ! .....aaahhhh... Ni... masukkan dua jarimu...Ni... ! Kocok ...kocok...Ni....kocok cepat, Ni .....aaaaaaugghh....aaaah... Ni.... masukkan yang dalam Ni.....aaaaaaahhhhh ....Ni... ! Waruni menuruti kemauan Nyi Ranu. Dan tak lama kemudian Nyi Ranu merapatkan pahanya dan mengerang keras sambil menggelengkan kepalanya ke kiri - ke kanan dengan cepat. Mulutnya meringis menampakkan sebaris giginya yang putih utuh. Apabila sedang mencapai orgasme demikan wajah Nyi Ranu Tampa cantik sekali. Wajah yang merah merona dengan pipi - pipi yang padat. Dan dihiasi mata bulat yang terbeliak - beliak. Dan Waruni melihat seorang perempuan muda yang sedang orgasme. Sebentar kemudian Nyi Ranu terkulai lemas dan terengah - engah. Waruni merasakan jari - jarinya yang ada kemaluan Nyi Ranu sangat basah. Sampai disitu belum puas juga Nyi Ranu. Tangannya segera meraih tas yang ada di pinggir ranjang. Tebakan Waruni tidak meleset itu pasti buah terung yang telah dipasangi kondom. Benar ! Benda itu segera berpindah ke tangan Waruni. Nyi Ranu kembali telentang dan pahanya membuka lebar - lebar. " Ayo Ni seperti biasanya ! Masukkan ! " Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Waruni menempelkan buah terung terbungkus kondom di permukaan kemaluan Nyi Rani yang berambut lebat. Waruni menekan buah terung. Dan pelan - pelan masuk di liang senggama Nyi Ranu. Nyi Ranu mengangkat - angkat kaki pertanda geli nikmat. " Kocokan seperti biasanya, Ni !" Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Wurani segera mengocokan buah terung terbungkus kondom dengan kuat dan cepat sambil mulutnya mengulum penthil Nyi Ranu. Nyi Ranu mendekap kuat tubuh telanjang Waruni sambil terus menggelinjang. Dan mulutnya tak berhenti bercerecah dan diahkiri dengan erangan yang sangat keras dan kedua kakinya membuat kain seprei menjadi awut - awutan.

bersambung ke bagian sepuluh ...................