Rabu, 28 Desember 2011

Bau Lawean


Bau Lawean   

                                                                                            edohaput


Bagian dua belas

     Satu minggu setelah perkenalannya dengan Murami, di hati Darmuto telah bersemayam cinta yang membara. Dan sesuai dengan keinginan ibunya Darmuto telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk meminang Murami. Pinangan Darmuto - pun bersambut. Tanpa pikir - pikir lagi orang tua Murami telah merelakan Murami untuk diperistri Darmuto. Dan hari pernikahannya pun telah ditentukan. Mereka sepakat untuk tidak menunda - nunda. Dan disepakati pula ngunduh mantu ditiadakan. Yang penting nikah syah. Orang tua Murami takut akan kejadian - kejadian sebelumnya. Begitu pula Murami yang tak ingin lagi kehilangan kekasihnya. 
     Hari yang disepakati telah tiba. Dengan sangat sederhana perhelatan pernikahan dilaksanakan di rumah Murami. Hanya tetangga dekat yang hadir menyaksikan pernikahannya. Tidak ada pesta. Tidak ada keramaian. Tidak ada gempita suasana pernikahan seperti yang dulu pernah direncanakan ketika Murami akan dinikahi Pardan ataupun Damijan. Tidak ada kursi yang berjajar di halaman rumah. Tidak ada janur kuning yang melengkung. Walaupun dengan kesederhanan seperti itu tak mengurangi kebahagian Murami  yang tidak memakai baju pengantin. 
     Di sore itu pula seperti keinginan Nyi Ranu, Darmuto langsung memboyong Murami untuk dibawa ke kota. Nyi Ranu, Darmuto dan kedua orang tua Murami takut Murami akan ingat masa lalunya dengan Damijan. Dan kesedihannya akan muncul kembali.  Maka  dengan penuh ikhlas kedua orang tua Murami melepas anaknya untuk berbahagia bersama menantunya. 
      Hampir malam Darmuto dan Murami sampai di kota. Di rumah Darmuto tidak ada penyambutan. Hanya ada dua pembantu laki - laki dan satu pembantu perempuan yang menyambut kedatangan mereka di halaman rumah yang luas. Murami terlongo - longo melihat kemewahan rumah Darmuto yang baru pertama kali dilihatnya. Tak ada bayangan di benak Murami kalau ia bakal tinggal di rumah besar mewah. Murami gadis desa yang memiliki rumah berlantai tanah, tiba - tiba kakinya menginjak lantai berteraso yang berkilau. Murami yang gadis kembang dusun yang biasa hanya melewati pintu kayu yang disana - sini lapuk dimakan rayap, tiba - tiba melewati pintu yang besar, mewah dan berkilau dengan kaca - kaca besar. 
     Selesai mandi di kamar mandi yang belum pernah dilihat begitu mewahnya, dan peralatannya yang serba membingungkan, Murami diajak makan malam oleh Darmuto. Meja yang besar dan peralatan makan yang serba baik dan bermacam - macam membuat Murami kikuk. Murami yang biasa makan dengan piring sederhana. Bahkan sering pula dengan picuk daun, harus menghadapi piring besar, bermacam - macam senduk dan pisau. Murami bingung. Darmuto tersenyum lembut dan membimbing Murami untuk menggunakan alat - alat makan yang tidak terbiasa. 
     Dan lebih terkesima lagi ketika Murami dibawa ke kamar oleh Darmuto. Murami hampir - hampir saja terpekik saking kagumnya. Ranjang yang indah, besar dan tinggi. Mata  Murami menatap sekeliling. Ada Almari besar berkaca lebar. Ada bufet besar berkaca lebar dan disana telah tersusun rapi berbagai kosmetik yang tidak mungkin dalam waktu singkat Murami bisa menggunakannya. Karena yang diketahui Murami hanya bedak wajah yang sederhana dan dibeli dengan harga murah. Murami hanya bisa mengagumi dan tidak bisa berkata - kata. Darmuto terus tersenyum melihat Murami terkagum - kagum. Dalam hati Darmuto begitu bangga bisa membuat isterinya yang begitu mengagumi yang disediakannya. 
     Angin malam yang menyusup melalui lubang ventilasi dirasakan Murami dan Darmuto yang sudah siap untuk menikmati malam pertama. Darmuto meredupkan lampu di dalam kamar dengan remut controlnya. Suasan menjadi begitu teduh. Darmuto mendekati Murami dan memeluknya. Murami yang telah mengenakan baju tidur yang begitu seksi yang sengaja dibeli Darmuto untuk malam pertamanya tanpak begitu cantik. Murami tidak lagi terlihat gadis desa yang lugu. Murami telah nampak sebagai bidadari yang begitu cantik dengan pakaian malammnya. Payudara Murami yang tak berkutang tampak begitu indah di balik baju malamnya. Paha Murami yang padat berisi berkulit bersih begitu menggoda di balik baju malamnya yang begitu indah. Rambut Murami yang sebahu dan terurai berjuntai begitu indah menghiasi pendaknya yang hanya ada tali kecil baju malamnya. Darmuto sangat mengagumi tubuh dan kecantikan Murami. Darmuto tidak mengira kalau Murami dengan baju malamnya akan berubah menjadi bidadari. 
     Darmuto merebahkan tubuh Murami di ranjang. Kemudian kembali memeluk dan mencium bibir Murami yang wangi karena tebu yang telah dikunyahnya. Darmuto tahu kesukaan Murami. Maka ketika makan malam tadi Darmuto minta disediakan potongan - potongan tebu oleh para pembantunya. Ciuman lembut Darmuto mulai panas dan napas birahinya mulai memburu. Ciuman lembut Darmuto di bibir Murami telah berubah ke ciuman yang panas. Dengan lidah yang mulai menggila di mulut Murami. Murami yang dibuat begitu tidak tahan untuk tidak membalas dan meladeni ciuman Darmuto. Dengan aliran birahi yang mulai mengaliri seluruh tubuhnya Murami memeluk erat tubuh Darmuto dan lidahnya menyambut lidah Darmuto yang melilit - lilit dan menyerang bagian - bagian senstif di dalam mulutnya. Tangan Darmuto yang telah berada di buah dada ranumnya membuat semakin melayang. Dirasakannya tangan Darmuto meremas gemas payudaranya berganti - ganti. Dan pahanya yang telah tersingkap dari baju malamnya merasakan sodokan - sodokan burung Darmuto yang dirasakannya telah begitu tegak dan kaku.
     Tangan Darmuto beralih merembat ke bawah menelusuri perut Murami yang datar dengan pusar yang kecil. Di pusar jari Darmuto berhenti sebentar dan mengilik. Murami meronta karena geli. Tangan Darmuto berjalan ke bawah dan sampai di selangkangan Murami. Murami mengangkang pahanya untuk memberi kesempatan tangan Darmuto. Darmuto mengelus kemaluan Murami yang masih terbungkus celana dalam berenda yang belum pernah dikenakan. Lembut Darmuto mengelus kemaluan Murami. Dan dari kelembutan berubah menjadi gemas. Tangan Darmuto menyusup di dalam celana dalam Murami dan menemukan kemaluan Murami yang berambut tipis halus. Dan telah membasah oleh rangsangan ciuman dan remasan payu dara. Jari tengah tangan Darmuto telah berada di belahan kemaluan Murami dan menggeseknya. Murami melenguh diantara ciumannya Darmuto. Dan Mulut Darmuto mulai bergerak turun ke buah dada Murami yang telah menunggun untuk dikulum puting penthilnya. Murami menjadi sangat melayang ketika mulut Darmuto telah menyedot - nyedot puting penthilnya. Dan Jari tangannya telah berhasil berada di liang senggamanya. Murami mendesah. Dan desahan Murami semakin membuat Darmuto bernafsu. Darmuto tidak tahan tangannya segera memelorotkan celana dalam Murami. Murami membantunya dengan mengangkat pantatnya. Dan menggerakkan kakinya untuk mempermudah celana dalam terlepas.
    Dengan kimono tipis yang masih melekat di badannya Darmuto memposisikan pantatnya di antara paha Murami yang telah membuka. Darmuto yang sengaja dari semula tidak mengenakan celana dalam telah mencuatkan burungnya yang besar dan kaku. Darmuto telah siap untuk memerawani Murami. Darmuto memandangi wajah Murami dengan penuh sayang : " Dik Mi.......".  lembut nama Murami disebut Darmuto. Sambil berkaca - kaca mata Murami menatap mata Darmuto dan memancarkan rasa cinta di hatinya. Rasa sayang yang mendalam ke pada Darmuto : " Mas ..... lakukan ....aku isterimu ... ". Darmuto begitu terenyuh mendengar kalimat Murami. Mengalir rasa bahagia di hatinya.
     Darmuto menempelkan ujung burungnya di bibir kemaluan Murami yang membuka dan basah. Dengan perlahan dan ditekan burung Darmuto mulai membelah kemaluan Murami. Murami mendesah. Pertama kali Murami merasakan kemaluannya tertusuk burung. Dan burung perlahan tapi terus maju masuk menusuk liang senggama Murami dan ahkirnya tidak tersisa burung Darmuto telah berada di dalam kemaluan Murami. Murami terbeliak menatap Darmuto yang begitu sayang dan kemudian memejamkan matanya merasakan ada rasa sakit di kemaluannya. " Mi ..... ". Darmuto memanggil Murami dengan kasihnya. " Mas.....". Murami menjawabnya dengan mata yang menatap Darmuto. Darmuto mulai menarik kebelakang pantatnya dan mendorongnya maju lagi. Berulang - ulang. Disaat itulah Murami menjerit lemah karena merasakan robeknya selaput daranya. Murami menitikkan air mata bahagia. " Mas...... " Murami hanya bisa menikmati wajah Darmuto yang mulai merasakan nikmat. Darmuto kembali memeluk Murami dan mencium bibirnya. Dan pantatnya kembali mendorong dan memundurkan burungnya di dalam kemaluan Murami. Rasa sakit di kemaluan dirasakan Murami mulai hilang dan berganti dengan rasa geli nikmat yang sangat enak. Seiring dengan itu burung Darmuto semakin cepat bergerak maju mundur. Dengan perasaan bahagianya sebagai laki - laki Darmuto menikmati kemaluan perawan isterinya yang baru tadi sore dinikahinya. Wajah Murami yang cantik semakin memerah karena sodokan burung Darmuto yang semakin cepat saja. Murami sangat bahagia. Jantungnya semakin berdegup seiring dengan adanya rasa nikmat yang tidak terkirakan di kemaluannya. Murami terus mendesah dan tubuhnya sesekali menggeliat. Saat - saat Murami menggeliat inilah Darmuto merasakan nikmat burungnya yang ada di kedalaman kemaluan Murami nikmatnya semakin bertambah - tambah.
     " Mas .... mas.......aaaaaahhhhhh...... !" Murami orgasme. Darmuto melihat wajah Murami yang begitu cantik dan semakin tambah cantiknya saja ketika sedang mengekpersikan rasa orgasmenya. Darmuto menjadi tambah kasih dan cinta pada Murami. Diciuminya pipi Murami yang memerah. Diciuminya leher Murami yang disana telah tergantung kalung emas bermata berlian pemberian Darmuto. Digigit - gigitnya kecil telingan Murami yang disana telah ada subang bermata intan biru. Bibir Darmuto terus turun dan menciumi puting susu Murami yang masih kecil dan memerah. Semenatara itu masuk keluarnya burungnya di kemaluan Murami semakin gencar saja. " Mas.......mas.....aaaaaddduuuuuhh mas......aku lagi ......maaaaaaasssss..... !" Murami menggelinjang hebat. Karena orgasme yang kedua lebih nikmat dari orgasme yang pertama. Darmuto kembali menikmati wajah yang cantik yang mengekpresikan kenikmatan orgasmenya. Sesaat kemudian Darmuto kembali menciumi bibir Murami. Dan jantung Darmuto semakin berdegup keras. Burungnya telah begitu menggelumbung oleh air mani yang telah sangat siap membasahi untuk pertama kalinya kemaluan Murami. Menjadikan cara menciumi bibir, leher, dan puting susu Murami menjadi semakin liar. Darmuto menjadi lupa akan Murami yang perawan. Genjotan - burungnya di kemaluan Murami menjadi sangat keras dan kuat pula.
" Dik Mi.... dik Mi....terimalah cintakku dik.......diiiiiiikkkk ......aaaaughhhhh......!" Darmuto mengejang. Mengeratkan pelukannya di tubuh Murami. Dan Bibir Murami bagai ditelah oleh Darmuto. Kaki Darmuto berkelenjotan. Maninya tumpah di kemaluan Murami yang perawan. Saat itu pulalah Murami tak bisa menahan kamaluannya untuk lagi - lagi orgasme. Murami mengangkat pantatnya sehingga burung Darmuto semakin masuk di kemaulannya dan menyodok sesuatu yang paling dalam di kedalaman kemaluannya. Murami merasakan tumpahan air cinta yang hangat di kemaluannya. Murami sangat bahagia suaminya terkejang - kejang nikmat di atas tubuhnya. Dan saat itulah kedua kaki Murami menendang - nendang tak karuan saking nikmatnya. Dan Darmuto menuntaskan air cintanya dengan semakin menancapkan burungnya di kedalaman kemaluan isterinya. Mereka menggetarkan ranjang. Saling mengerang memecah kesunyian malam. Saling menumpahkan kebahagiaan. Saling menumpahkan rasa cinta yang menggelora.

                                  bersambung ke bagian tiga belas .......................



Jumat, 09 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                                         edohaput


Bagian sebelas 

     Malam merambat, udara gunung semakin dingin menusuk Tulang. Angin yang merambat dan menerpa beranda rumah membuat Darmuto dan Murami tidak tahan. Murami dibimbing Darmuto memasuki rumah. Mereka kemudian duduk di lantai beralaskan babut tebal. Diterangi lampu yang menyala temaram. Darmuto menarik tangan Murami sehingga Murami menjadi rebah di pangkuan Darmuto. " Gimana dik Mi. Kamu belum menjawab lamaranku. Mau kan kamu menjadi pendampingku ? " Darmuto mengulangi ucapannya ketika di beranda tadi. Kembali Murami tidak menjawab. Hanya matanya yang menatap mata Darmuto dan kembali dari sudut matanya kembali meleleh air matanya. Darmuto menjadi sangat trenyuh. Perasaannya menjadi begitu iba. Ditatapnya wajah Murami yang tengadah di pelukannya. Murami yang cantik. Murami yang bibirnya terbuka dan membasah menampakkan sedikit gigi atasnya yang tersusun rapi. Darmuto menjadi sangat gemas. Ingin sekali mencium bibir yang merekah itu. Bibir yang sangat mempesona dan membangkitkan gairah. Banyak gadis mengelilingi Darmuto di kota. Tetapi belum pernah ada yang begitu menyentuh hatinya. Kali ini baru saja berjumpa tiba - tiba hatinya tergetar. Hatinya teriba - iba melihat wajah cantik yang tiba - tiba memelas. Wajah yang minta dikasihi. Wajah cantik yang ingin disayang. Darmuto tiba - tiba telah jatuh cinta. Cinta yang timbul dari rasa iba. Rasa ingin mengasihi. Rasa ingin menyayang. Cinta yang juga tumbuh kerena kecantikan Murami. Darmuto yang gemas tak tahan untuk tidak mencium bibir Murami. Setelah mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya dengan penuh sayang Darmuto mencium bibir Murami. Dan pelukan Darmuto menjadi semakin erat ketika Murami dengan sangat hati - hati dan sangat lembut membalas ciuman Darmuto.
     Murami merasakan sangat bahagia di pelukan Darmuto. Darmuto yang tampan dan gagah. Darmuto yang tiba - tiba begitu kasih kepada dirinya. Darmuto yang belum pernah dilihatnya. Darmuto yang belum pernah dikenalnya. Darmuto yang tiba - tiba hadir dihatinya yang sepi. Di hatinya yang sangat sakit ketika ditinggal Damijan. Murami merasakan kedamain yang begitu dalam di pelukan Darmuto. Tiba - tiba pula Murami merasa sangat ingin mencintai Darmuto. Sangat ingin melayani Darmuto. Dan sangat ingin pasrah segalanya kepada Darmuto. Ketika tidak sengaja tangan Darmuto menyentuh payudaranya dan sedikit menekan Murami mendesah diantara ciuman yang sedang berpagut.
     Sementara itu di dalam kamar Nyi Ranu. Waruni yang sudah telanjang bulat sedang diciumi buah dadanya oleh Nyi Ranu yang juga sudah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Sementara mulut Nyi Ranu berada di buah dada gadis belia Waruni, tangannya terus menggerayangi paha Waruni. Dan sesekali berada di selangkang Waruni. Waruni hanya bisa  mengejang ketika geli nikmat di payudaranya dan dikemaluannya menyerang syaraf otaknya yang membuat seluruh jaringan syaraf di tubuhnya meradang dan mengakibatkan nikmat di seluruh tubuhnya. Dari payudara bibir Nyi Ranu beralih ke bibir Waruni yang terbuka - buka karena harus mengeluarkan desahan. Dan tangan Nyi Ranu terus bermain di selangkangan Waruni. Ketika lidah Nyi Ranu telah menyentuh sesuatu yang sensitif di dalam mulut Waruni, karena nakal sekali lidah Nyi Ranu berputar - putar di rongga mulut Waruni dan jari tangan Nyi Ranu telah berhasil membuat Waruni tak berdaya karena nakal sekali juga jari Nyi Ranu menyentuhi bagian - bagian sensitif di kemaluannya, Waruni berkelenjotan hebat. Tubuhnya mengejang dan tak lagi kuat menerima ciuman dan permainan lidah Nyi Ranu. Waruni berteriak tertahan. Dari kemaluannya menyemprot cairan kenikmatan dan membasahi jari tangan Nyi Ranu yang sedang mempermainkannya. Setelah itu Waruni lemas terkulai dengan napas yang terangah. Nyi Ranu tersenyum bangga bisa membuat Waruni begitu merasakan kenikmatan.
     Beberapa saat  kemudian Waruni bangun dan duduk kemudian mengelus dada Nyi Ranu yang besar dan kencang. Elusan - demi elusan yang disertai remasan dinikmati oleh Nyi Ranu. Licinnya minyak zaitun di payudara Nyi Ranu membuat tangan Waruni dengan mudah mengelus, meremas, dan memelintir punting penthil Nyi Ranu yang semakin kaku karena nikmat dan nafsu yang semakin membara. Bibir Waruni segera menyerang bibir Nyi Ranu. Waruni juga bisa nakal karena memang sudah selalu diajari oleh Nyi Ranu. Lidahnya berputar - putar di rongga mulut Nyi Ranu. Lidah Waruni  yang panjang menyerang ganas langit - langit rongga mulut Nyi Ranu. Nyi Ranu yang dibuat begitu hanya bisa mengangkat - angkat pantatnya sebagai isyarat agar tangan Waruni segera berada di selangkangannya. Waruni tanggap. Dari payudara tangan Waruni menyelusur perut Nyi Ranu yang rata. Terus turun ke bawah dan segera menyentuh kemaluan Nyi Ranu yang telah bibirnya merekah terbuka. Wurani menggerakkan jari - jari tangannya seperti ketika Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya. Serangan Waruni dibibir Nyi Ranu semakin gencar demikian pula jari - jari tangannya yang telah berada di dalam kemaluan Nyi Ranu tak kalah gencarnya. Nyi Ranu-pun menjadi tidak tahan. Dadanya terangkat ke atas dan selangkangannya menekan kebawah sehingga dua jari tangan Waruni yang telah berada di kemaluannya semakin masuk kedalam kemaluan dan menyentuh sesuatu yang dirasakan sangat luar biasa menyenangkan. Nyi Ranu berusaha lepas dari ciuman Waruni yang semakin menggila untuk mengeluarkan teriakan yang tak bisa ditahan. Nyi Ranu berteriak tertahan dan kakinya mengejang kemudian berkelenjotan sambil pahanya dihimpitkan untuk bisa menahan rasa nikmat di kemaluannya. Sesaat kemudian tubuh Nyi Ranu lunglai. Waruni menarik jarinya dari kemaluan Nyi Ranu yang membanjirkan cairan kenikmatan.
     Setelah beberapa saat beristirahat sambil berpelukan dengan Waruni agar tubuh tetap hangat, Nyi Ranu mengansurkan buah terung yang telah terbungkus kondom kepada Murami. Murami bangun dan berjongkok di antara selangkangan Nyi Ranu yang mengangkang. Terung ukuran besar terbungkus kondom oleh Waruni mulai ditekankan di kemaluan Nyi Rani. Perlahan dan terus ditekankan dan berlajan pelah menembus liang senggama kemaluan Nyi Ranu. Nyi Ranu sangat menikmatinya. Dan mulutnya tak berhenti mengaduh, melenguh dan mendesah, apalagi setelah Waruni mulai memaju mundurkan terung. " Percepat, War. cepatkan gerakkannya, War.....aduuuuh....War...aku hampir....War..... !" Nyi Ranu bercerecah sambil menahan nikmat. Waruni-pun tanggap dan dengan gerakan cepatnya memaju mundurkan terung, Waruni membungkuk dan mengulum puting penthil Nyi Ranu yang juga telah mengejang dan bergetar - getar. Tiba - tiba seluruh tubuh Nyi Ranu mengejang, bergetar dan menggelinjang hebat. Mulutnya tak tahan berteriak kuat, mengerang di bawah bantal yang ditutupkan di wajahnya agar erangannya tak sampai keluar kamar.

bersambung kebagian dua belas .......................

Rabu, 07 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                         edohaput


Bagian Sepuluh 

     Malam baru saja tiba. Di beranda rumah Nyi Ranu Murami minum teh ditemani Waruni. Murami telah benar - benar pulih dari lupa ingatannya. Matanya kembali berbinar - binar. Tubuhnya yang kemarin ketika dalam pasungan sebulan lamanya hampir - hampir rusak telah kembali seperti saat - saat sebelum terjadi lupa ingatan. Perasaannya selalu tenteram berada di rumah Nyi Ranu. Pikirannya lagi lagi ingat Damijan yang sudah tiada. Murami tak berniat meninggalkan rumah Nyi Ranu. Murami tak berniat menjumpai kedua orang tuannya, walau jarak rumah Nyi Ranu dengan rumahnya hanya dibatasi rumah - rumah warga. Murami takut perasaan galaunya kembali akan menyakiti dirinya jika pulang ke rumah dan tiba - tiba nanti ingat Damijan. Keluar dari Rumah Nyi Ranu-pun Murami takut. Murami tidak tahu mengapa begitu sangat tenteram perasaannya tinggal di rumah Nyi Ranu. Kedua orang tua Murami lah yang terus setiap kangen anaknya datang menjenguk. Dan Murami tak ingin kedua orang tuannya berlama - lama ketika menjenguknya. Karena ketika berjumpa dengan orang tuanya perasaan Murami menjadi sedih. Murami takut kesedihannya akan membuat dirinya kembali pada sakit ingatannya. 
     Murami telah kembali mengunyah tebu. Murami kembali merawat tubuhnya. Murami kembali mandi dengan air kembang. Murami kembali merawat kewanitaannya dengan air rendaman daun sirih. Murami kembali mengeramas rambutnya yang lebat sebahu dengan abu merang. Murami kembali cantik, wangi, bercahaya, dan mempesona.  " Dik War, kata Nyi Ranu jika aku telah sembuh betul aku mau dijodohkan sama anak Nyi Ranu. Padahal sampai hari ini aku belum pernah bertemu dengannya. Gimana ya, dik War ?" Murami menyapa Waruni dengan sebutan dik. Karena memang dari segi usia Murami lebih tua dua tahun dari Waruni. " Aku juga sudah dibilangi Nyi Ranu kok, Mbak Mi. Kalau Mbak ini mau dijodohkan sama mas Darmuto. Mas Darmuto itu tampan lho, mbak. Kalau nanti mbak Mi ketemu sama mas Dar mbak Mi pasti kepencut " Kalimat Waruni diahkiri dengan tertawa. " Ah kamu ini dik, bisa saja " Timpal Murami sambil tersipu. " Betul mbak, Mas Darmuto itu orangnya tinggi besar dan tegap. Kumisan lagi, wah pokoknya sip banget. Kalau mbak Mi tidak mau biar aku saja yang mau mbak !" Lagi - lagi Waruni menggoda Murami dan tertawa lepas. Kembali Murami tersipu - sipu oleh olah Waruni. " Mas Darmuto itu apa jarang pulang ke rumah ini, dik War ?" Tanya Murami menyelidik.  " Ya jarang banget mbak. Setahun sekali pun belum tentu. Mas Darmuto itu orangnya tidak suka tinggal di desa. Katanya sepi. Tak ada hiburan. Lagian mas Darmuto itu pekerjaannya kan di kota ta mbak !" Waruni mengucapkan kalimatnya dengan nada kenes sambil mengunyah pisang goreng buatannya sendiri. 
     Darmuto adalah anak Nyi Ranu dengan suami pertamanya. Darmuto tidak pernah melihat wajah sang ayah yang meninggal ketika dirinya masih dalam kandungan muda Nyi Ranu. Darmuto hidup di kota bersama Nyi Ranu yang kemudian diperistri pak Ranu warga dusun terkaya. Sejak menjadi isteri pak Ranu, Nyi Ranu tinggal di desa. Tetapi Darmuto yang sudah mulai menginjak dewasa tak mau mengikuti ibunya. Ia memilih tinggal di rumah ayahnya di kota. Tak lama Nyi Ranu kerasan di desa. Nyi Ranu-pun segera membeli toko di kota dan membuka usaha toko kelonthong di kota. Nyi Ranu jarang pulang ke dusun. Justru pak Ranu lah yang mengikuti Nyi Ranu di kota. Belum satu tahun memperistri Nyi Ranu pak Ranu meninggal dunia. Pak Ranu tak mempunyai keturunan. Akibatnya Nyi Ranu lah yang terpaksa harus repot hilir mudik tujuh hari sekali pulang ke dusun untuk merawat rumah besar yang diwariskan pak Ranu. Ahkirnya Waruni lah yang diambil Nyi Ranu untuk merawat dan menjaga rumah di dusun. Waruni masih ada tali darah dengan Nyi Ranu. Maka tak mengherankan jika Waruni yang statusnya hanya sebagai pembantu rumah tangga wajahnya manis. Masih ada kemiripan dengan keayuannya Nyi Ranu. 
     " Jadi mas Darmuto itu orang kota asli ya, dik War ?" Murami bertanya tapi sebenarnya menegaskan pendapatnya. " O iya mbak ! Mas Darmuto itu orangnya bukan kayak pemuda - pemuda di sini. Pokoknya beda mbak dengan pemuda - pemuda dusun. Mas Darmuto itu tegak tenan, mbak !" Kembali Waruni dengan kenesnya menceriterakan Darmuto. " Wah dik, Apa ya mau mas Darmuto itu sama aku yang gadis dusun ini ". Murami merendah. " Lho mbak Murami ini walaupun gadis dusun tapi cuantik banget lho mbak. Kalau mbak Murami ini didandani kayak orang kota pasti akan menjadi lebih cantik lagi. Dan saya tau mbak. Mas Darmuto itu bercita - cita dapat isteri gadis dusun tetapi gadis dusun yang cantik. Pas ....pas... mbak. Mas Darmuto pasti kepincut kalau  melihat mbak Murami !" Kembali Waruni membuat wajah Murami memerah. Waruni  merahasiakan jika sebenarnya malam ini Darmuto bersama Nyi Ranu akan datang ke dusun. Darmuto ingin melihat Murami. Waruni ingin Murami terkejut dan terkesima melihat Darmuto yang tampan. Waruni ingin melihat Murami kelimpungan ketika bertemu dengan Darmuto. Waruni ingin ada adegan yang lucu ketika Murami bertemu dengan Darmuto. Waruni pasti akan melihat betapa malunya Murami nanti ketika Darmuto mendekatinya dan mengajaknya berkenalan. 
     Deru mobil yang sangat jarang terdengar di dusun memecah kesunyian malam yang masih dini. Waruni yang masih mengunyah pisang goreng berlari dan segera membuka pintu gerbang halaman. Sorot lampu mobil menerangi wajah Waruni. Murami terkesima. Siapa yang datang ? Darmuto kah ? Jantung Murami berdegup cepat. Jika benar yang datang Darmuto sudah siapkah ia bertemu dengan Darmuto ? Bagaimana jika ternyata Darmuto tidak menyukai dirinya. Lalu bagaimana ia harus bersikap jika nanti ketemu dengan Darmuto ? Sikap yang bagaimanakah yang harus ditunjukkan dengan Darmuto pemuda kota yang kaya itu ? Bagaimana jadinya nanti jika ia salah bersikap ? Murami yang hanya gadis dusun harus berhadapan dengan pemuda kota yang banyak pengalaman, pinter, pengusaha lagi. Pikiran Murami buntu. Murami pasrah. Murami akan bersikap apa adanya sebagai gadis dusun yang tidak sama sekali memiliki pengalaman kehidupan kota.
     Darmuto turun dari mobil dan berjalan diikuti Nyi Ranu dan Waruni menuju beranda dimana Murami berdiri terpaku. Jantung Murami semakin berdegup ketika melihat kenyataan. Ternyata Darmuto itu pemuda yang gagah, tinggi besar dan berkumis. Darmuto sangat tampan apabila dibandingkan dengan para pemuda dusun. Pardin, Pardan, dan Damijan bukan apa - apanya jika dibandingkan dengan Darmuto. Jantung Murami semakin cepat berdegup. Kakinya tiba - tiba bergetar dan lemas tidak mampu menahan tubuhnya ketika Darmuto menyalami dan menyebutkan namanya sambil tersenyum. Seandainya saja Nyi Ranu tidak memeluk dan mencium pipinya mungkin Murami sudah terkulai di lantai. Dalam hati Waruni terbahak mentertawakan Murami. Mati kamu mbak ! Kena kau mbak ! Murami sangat senang melihat wajah Murami yang tiba - tiba memucat. Beberapa hari sebelumnya Waruni sebenarnya telah diperintah Nyi Ranu agar memberitahu Murami akan kedatangan Darmuto. Tetapi Waruni nakal hal itu tak diberitahukan ke Murami. Demikan juga foto Darmuto yang oleh Nyi Ranu agar diperlihatkan kepada Murami oleh Waruni sengaja tidak diberikan ke Murami. Waruni sengaja ingin mempermainkan Murami. Waruni tersenyum puas bisa membuat Murami kelimpungan. Sambil tertawa Waruni menggandeng tangan Murami masuk ke rumah mengikuti Darmuto dan Nyi Ranu.
     Tiga puluh menit kemudian mereka telah berada di meja makan untuk makan bersama. Waruni terus saja nakal dengan sesekali memperhatikan Murami yang tertunduk dan terus tersipu malu. Ketika padangan mata Waruni tertumbuk dengan mata Murami, Waruni tersenyum geli dan mengedip - ngedipkan mata. Dan ketika Murami mencuri pandang ke arah Darmuto, Waruni tersenyum dan kemudian pura - pura batuk seperti tersedak. Dan sikap Waruni itu mendapat pelototan mata dari Nyi Ranu. Dan yang dipelototi cuma tersenyum nakal. Sementara Darmuto terus melahap makanan tanpa memperhatikan keberadaan Murami. Waruni memperoleh isyarat dari Nyi Ranu agar segera menyelesaikan makannya dan meninggalkan meja makan. Waruni tanggap. Beranjaknya Waruni dari meja makan diikuti Nyi Ranu : " Jangan tergesa - gesa Mi ! Temani masmu Darmuto makan !" Nyi Ranu berlalu dari meja makan. Tinggal Murami dan Darmuto yang masih meneruskan makan. Murami kikuk. Tidak tahu harus bagaimana bersikap. Ketika Murami mencoba mencuri pandang ke wajah Darmuto dan tertumbuk oleh pandangan mata Darmuto yang sengaja sedang memperhatikan Murami, dan Murami melihat senyum Darmuto kembali untuk yang kesekian kalinya jantung Murami bedegup keras. Murami kembali menunduk dan makan susah sekali tertelan. Darmuto sangat tampan. Wajahnya bersih. Tidak seperti wajah Pardan dan Wajah Damijan yang gelap karena selalu tertimpa matahari panas. Murami merasa sangat tidak sebanding dengan Darmuto.
     Diam - diam Darmuto juga mengagumi kecantikan Murami. Kecantikan gadis dusun yang lugu. Kecantikan asli tanpa make up. Semakin dipandang wajah Murami semakin mempesona Darmuto. Tiba - tiba ada getaran di hati Darmuto. Inikah calon pendampingku ? Aku suka. Aku suka keluguannya. Aku suka kepolosan wajahnya. Murami kau bidadariku !
     Selesai makan Darmuto menggandeng tangan Murami untuk diajak ke beranda rumah. Malam telah sepi. Derik cengkerik dan walang kerik saja yang terdengar. Udara dingin pegunungan mulai merambat terbawa angin dan menerpa dusun. Embun di dedaunan menetes deras ke tanah yang mulai membasah. Rembulan yang tadi menggantung di atas pegunungan telah meninggi. Murami telah berada dalam pelukan Darmuto. Darmuto yang sudah mendengar cerita tetang Murami dari ibunya, Nyi Ranu. Merasa kasihan terhadap nasib Murami. Disamping memang Darmuto tiba - tiba menggumi kecantikan Murami. Maka Darmuto tanpa menunggu besuk atau lusa langsung melamar Murami. Ucapan Darmuto yang memintanya untuk bersedia menjadi isterinya membuat Murami lemas dan tiba - tiba ambruk di dada Darmuto. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang ranum dan tiba - tiba berubah merah merona menambah kecantikannya. Ada perasaan iba mengalir di hati Darmuto. Dipeluknya Murami. Diciumnya pipi Murami yang basah air mata. Diangkatlah dagu Murami agar tengadah menghadap wajahnya. Diciumnya bibir Murami yang merah membasah dan wangi oleh bau jeruk yang tadi dimakannya sehabis bersantap di meja makan bersama Darmuto. Dengan sangat hati - hati dan penuh perasaan yang bercampur baur tak karuan di hatinya dibalasnya ciuman sayang Darmuto.

bersambung ke bagian sebelas ......................
     
     

Minggu, 04 Desember 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 

                                                                                                edohaput


Bagian Sembilan 

     Malam itu tepat kurang tujuh hari saat pernikahannya dengan Murami akan dilangsungkan, Damijan barjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Tubuhnya serasa melayang - layang. Damijan merasakan tubuhnya lemas tak berdaya. Kepalanya pening, matanya berkunang - kunang, dan mulutnya tak mampu mengeluarkan suara. Tenggorokaanya tersekat dan dadanya sangat sesak. Damijan dengan tenaganya yang masih tersisa ingin segera sampai ke rumah. Malam yang telah larut sangat sepi. Udara dingin pegunungan membuat warga enggan keluar rumah. Apalagi malam itu kabut tebal dan sedikit gerimis. Damijan yang terus berusaha berjalan ahkirnya ambruk di pos ronda. Sekilas Damijan masih bisa mengingat Murami. Tetapi setelah itu detak jantung Damijan berhenti. Damijan berhenti bernapas. 
     Pagi harinya warga dibuat geger dengan ditemukannya jasad Damijan yang sudah kaku di pos ronda. Jenasah Damijan segera diusung pulang. Warga terus bertanya. Apa yang menyebabkan Damijan meninggal. Dulu Pardan, terus Pardin sekarang Damijan. Ketiganya meninggal secara misterius. Warga yang pernah berkesimpulan kalau meninggalnya Pardan dan Pardin adalah karena sakit jantung kini menjadi ragu. Mengapa Damijan juga meninggal dengan kulit tubuh memucat dan terdapat bintik - bintik biru - biru seperti jasadnya Pardan dan Pardin. Di tubuh Damijan juga tidak ditemukan adanya tanda - tanda penganiyaan. Damijan pemuda yang sehat. Tak pernah mengeluh sakit. Warga sangat tahu siapa Damijan. Warga dibuat bingung. Para pemuda dusun menjadi takut. Jangan - jangan akan terjadi pula seperti yang menimpa Pardan, Pardin dan Damijan. Mengapa pemuda. Mengapa bukan orang tua. Apa yang sedang terjadi di dusun. Sehingga ada malapetaka yang demikian. 
     Selesai pemakaman jenasah Damijan, malam harinya seluruh pemuda dusun berkumpul di rumah Damijan. Mereka berdiskusi. Saling bertanya dan saling mengemukakan pandapat. Tetapi dirasakan tak ada yang cocok dengan penyebab kematian Damijan. Mereka tidak menemukan jawaban. Ahkirnya seperti halnya keluarga Pardan dan Pardin meninggalnya Damijan juga disimpulkan karena diganggu makhluk halus. Para pemuda semakin mendukung kegiatan ritual yang terus dilakukan oleh keluarga Pardan dan Pardin untuk menolak datangnya balak di dusun itu.

*

     Murami yang schok berat tak kuat menahan rasa pedih dan perasaannya. Kesadarannya  hilang. Ia tak lagi ingat siapa dirinya. Murami terus berteriak - teriak dan tak keruan ucapannya. Kadang menangis meraung - raung, kadang tertawa terbahak - bahak. Murami sudah tak ingat jati dirinya. Berlari kesana - kemari dan tak lagi mau dikenakan baju di tubuhnya. Murami tak lagi merasakan dingin. Tak lagi merasakan panas. Murami membuat repot seluruh warga. Tak ada yang bisa menenangkan Murami. Keluarganya telah kehabisan akal. Murami menjadi tontonan anak - anak. Murami membuat sedih teman - teman gadis dusun sebayanya. Murami yang pernah sedih tak terhingga ketika Pardan meninggal, tidak kuat lagi menahan rasa ketika ditinggal Damijan yang dicintainya. Murami menjadi gila.
      Ahkirnya Murami dipasung. Di pasunganpun Murami terus meronta. Tak mau makan. Tak mau tidur. Yang dilakukannya hanya menangis, berteriak, menyanyi dan tertawa. Memanggil - manggil nama Damijan. Murami telah kehilangan cantiknya. Karena tak lagi mandi. Mulutnya tak lagi mengunyah tebu. Murami kencing di tempat. Berak di tempat. Murami menjadi bau. Murami yang berambut panjang sebahu tak beraturan awut -awutan telah terlihat seperti setan. Murami menakutkan. Tak ada lagi warga yang mau mendekat. Murami sangat membuat susah keluarganya.
      Nyi Ranu warga dusun yang banyak menghabiskan kegiatannya di kota kecamatan sebagai pedagang yang memiliki kios di pasar kecamatan, menemui keluarga Murami. Nyi Ranu berniat membawa Murami ke rumahnya untuk disembuhkan. Nyi Ranu meminta kedua orang tua Murami untuk tidak kawatir ketika Murami berada di rumah Nyi Ranu. Nyi Ranu berjanji Murami akan sembuh. Murami akan pulih seperti sediakala. Nyi Ranu juga meminta kedua orang tua Murami untuk setuju jika nanti Murami telah pulih akan dinikahkan dengan anak laki - laki Nyi Ranu yang sekarang menjadi wiraswastawan di kota. Tanpa ragu - ragu dan sangat suka hati kedua orang tua Murami menyetujui permintaan Nyi Ranu.
     Aneh dan sangat mengejutkan, Murami yang selalu ingin memberontak dan mengancam akan melukai siapa saja yang mendekatinya, luluh di hadapan Nyi Ranu. Murami tidak berdaya di tangan Nyi Ranu. Tatapan mata Nyi Ranu telah meluluhkan perasaan Murami. Bagai diguyur air es Murami tiba - tiba sejuk dan damai ditatap Nyi Ranu. Tanpa mengadakan perlawanan Murami mudah dilepas dari pasungan. Nyi Ranu memandikan Murami dengan air kembang setaman. Murami bersih, wangi dan kembali cantik. Murami dibawa ke rumah Nyi Ranu.
     Nyi Ranu janda kaya. Orang terkaya kedua di dusun setelah pak Samino. Nyi Ranu jarang pulang ke rumah di dusun. Nyi Ranu banyak tinggal di kota kecamatan, di toko kelontongnya. Nyi Ranu memiliki rumah besar di dusun yang dikelilingi tembok tinggi, tidak seperti rumah - rumah warga dusun lainnya yang sederhana dan tidak berpagar tembok. Rumah besar Nyi Ranu terletak di ujung dusun. Tidak banyak warga yang tahu apa yang dikerjakan Nyi Ranu di saat - saat pulang ke dusun. Dan Jarang pula orang tahu kapan Nyi Ranu  berada di dusun. Nyi Ranu tidak banyak bergaul dengan warga. Nyi Ranu pernah bersuami. Suaminya meninggal dunia ketika Nyi Ranu mengandung anaknya. Sejak ditinggal suaminya Nyi Ranu terus menjanda.
     Hari bertambah. Murami kembali sehat. Nyi Ranu merawat Murami dengan kebisaannya. Badan Murami telah pulih. Tidak lagi kurus. Sudah kembali sintal. Murami justru tampak lebih cantik dari sebelumnya. Murami belum diperbolehkan oleh Nyi Ranu ke luar rumah. Warga mengira Murami masih gila. Dan sedang dikurung untuk disembuhkan oleh Nyi Ranu. Di rumah Nyi Ranu Murami ditemani Waruni. Waruni tidak berasal dari dusun dimana Murami tinggal. Waruni dibawa oleh Nyi Ranu dari dusun yang jauh letaknya dari dusun Murami lahir dan tinggal. Waruni sudah sangat lama menjadi pembantu rumah tangganya Nyi Ranu. Waruni dibawa Nyi Ranu sejak gadis belia. Tidak banyak warga dusun yang tahu tentang Waruni. Karena Waruni jarang sekali keluar rumah. Pekerjaan Waruni hanya memasak, mencuci, dan merawat rumah Nyi Ranu yang kelewat besar. Pekerjaan paling pokok Waruni sebenarnya adalah melayani keinginan biologis Nyi Ranu. Saat Nyi Ranu tidak pulang ke rumah, Waruni tinggal sendirian di rumah.
     Waruni yang diambil Nyi Ranu sejak kematian suami Nyi Ranu menjadi gadis belia yang selalu melayani Nyi Ranu apabila Nyi Ranu sedang ingin melampiaskan nafsu biologisnya. Wurani harus memijit seluruh tubuh telanjang Nyi Ranu. Dengan minyak zaitun yang wangi dan licin Waruni harus mengurut tubuh Nyi Ranu yang gempal, padat, dan kencang. Tubuh Nyi Ranu masih saja seperti tubuh perempuan di bawah tiga puluh tahun. Payudaranya masih sangat kenyal bagai buah dada gadis belasan tahun. Menjadi keusukaan Nyi Ranu jika Waruni sedang memijit - mijit buah dada dan meremas - remasnya. Dan apabila Wurani menghentikan meremas payudara Nyi Ranu marah. Nyi Ranu minta terus dan terus payudara dielus dan diremas Waruni. Sementara itu kedua tangan Nyi Ranu berada di kemaluannya sendiri. Disana jari - jari tangan Nyi Ranu mempermainkan kemaluannya sendiri. Dan pada puncaknya Waruni harus mengulum buah dada Nyi Ranu dan jari - jari tangannya ada di kemaluan Nyi Ranu. Dan ketika itu pula Wurani yang juga telanjang menjadi rabaan liar tangan Nyi Ranu. Tak jarang pula Wurani ikut - ikut menikmati kenikmatan orgasme karena tangan Nyi Ranu yang meraba seluruh tubuh telanjang Waruni. Tak luput kemaluan perawan Waruni juga menjadi sasaran tangan Nyi Ranu yang sangat menggelikan liang senggama kemaluan.
     Satu malam ketika Nyi Ranu tidak tidur di kota, meminta Waruni melayaninya. Waruni yang telah bertelanjang bulat tubuhnya diciumi Nyi Ranu yang juga telah tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Payudara Waruni diciuminya dengan ganas. Tak luput pula bibir tipis Waruni juga menjadi sasaran bibir Nyi Ranu yang wangi. Waruni hanya bisa menggeliat - geliat ketika jari - jari tangan Nyi Ranu telah hinggap di kemaluan. Nyi Ranu sangat pintar membuat kemaluan Waruni orgasme. Tahu Waruni telah orgasme Nyi Ranu meminta gantian diraba. " Ni, lakukan seperti aku melakukan tadi ". Kata Nyi Ranu sambil merebahkan dirinya di kasur yang beralas seprei sutra. Sebelum melaksanakan kegiatan Waruni menatap wajah Nyi Ranu. Aneh ! Seharusnya wajah itu sudah ada kerutan dan keriputnya ! Mengapa Wajah Nyi Ranu tetap kencang dan halus ? Bukankah Nyi Ranu telah berumur ? Waruni menelusurkan matanya ke seluruh tubuh Nyi Ranu. Kenapa tubuh itu tetap berisi ? Kenapa kulitnya tak ada keriput ? Ketika Nyi Ranu tersenyum giginya yang rata tersusun rapi di balik bibirnya yang tipis tak ada yang cacat. Kenapa Nyi Ranu tampak seperti seorang gadis ? " Lho kok malah melamun, Ni. Ayo mulai !" Pinta Nyi Ranu menyadarkan Waruni yang tertegun memandangi tubuh Nyi Ranu. Wurani mulai dari bibir Nyi Ranu yang wangi. Diciumnya dengan penuh nafsu. Nyi Ranu membalas ciuman Waruni. Mereka berpagut dengan ganas. Suara saling sedot lidah terdengar berkecipak. Napas mereka terus memburu. Waruni selesai mencium bibir Nyi Ranu meneruskan kegiatan di buah dada Nyi Ranu yang tidak terlalu besar tetapi sangat menyembul di dadanya. Meremas - remasnya dan menciuminya, menyedot - nyedot putingnya. Nyi Ranu melenguh - lenguh sambil menggelinjang. Pahanya mebuka - buka, ingin jari - jari Waruni yang baru sampai di elusan - elusan paha segera sampai di selangkangannya. " Ni....Ni....ayoo ......Ni.... pepekku ...Ni ... !" Dengus Nyi Ranu tak sabar. Waruni belum mau sampai kesana sebelum benar - benar Nyi Ranu kelabakan. " Aduh ......Ni....ayo.....Ni...pepekku...Ni...segera...!" Nyi Ranu mengangkat - angkat pantatnya. Dalam hati Waruni tertawa geli dengan sikap Nyi Ranu yang terus merengek. Dan setelah tangan Waruni sampai cerecah mulut Nyi Ranu tak mau berhenti. Seandainya rumah Nyi Ranu seperti halnya rumah - rumah yang ada di dusun, cerecahnya pasti  bisa didengar tetangga. " Aduh Ni....getarkan jarimu, Ni ! .....aaahhhh... Ni... masukkan dua jarimu...Ni... ! Kocok ...kocok...Ni....kocok cepat, Ni .....aaaaaaugghh....aaaah... Ni.... masukkan yang dalam Ni.....aaaaaaahhhhh ....Ni... ! Waruni menuruti kemauan Nyi Ranu. Dan tak lama kemudian Nyi Ranu merapatkan pahanya dan mengerang keras sambil menggelengkan kepalanya ke kiri - ke kanan dengan cepat. Mulutnya meringis menampakkan sebaris giginya yang putih utuh. Apabila sedang mencapai orgasme demikan wajah Nyi Ranu Tampa cantik sekali. Wajah yang merah merona dengan pipi - pipi yang padat. Dan dihiasi mata bulat yang terbeliak - beliak. Dan Waruni melihat seorang perempuan muda yang sedang orgasme. Sebentar kemudian Nyi Ranu terkulai lemas dan terengah - engah. Waruni merasakan jari - jarinya yang ada kemaluan Nyi Ranu sangat basah. Sampai disitu belum puas juga Nyi Ranu. Tangannya segera meraih tas yang ada di pinggir ranjang. Tebakan Waruni tidak meleset itu pasti buah terung yang telah dipasangi kondom. Benar ! Benda itu segera berpindah ke tangan Waruni. Nyi Ranu kembali telentang dan pahanya membuka lebar - lebar. " Ayo Ni seperti biasanya ! Masukkan ! " Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Waruni menempelkan buah terung terbungkus kondom di permukaan kemaluan Nyi Rani yang berambut lebat. Waruni menekan buah terung. Dan pelan - pelan masuk di liang senggama Nyi Ranu. Nyi Ranu mengangkat - angkat kaki pertanda geli nikmat. " Kocokan seperti biasanya, Ni !" Perintah Nyi Ranu yang dituruti Waruni. Wurani segera mengocokan buah terung terbungkus kondom dengan kuat dan cepat sambil mulutnya mengulum penthil Nyi Ranu. Nyi Ranu mendekap kuat tubuh telanjang Waruni sambil terus menggelinjang. Dan mulutnya tak berhenti bercerecah dan diahkiri dengan erangan yang sangat keras dan kedua kakinya membuat kain seprei menjadi awut - awutan.

bersambung ke bagian sepuluh ................... 
  
  
  
  


     

Minggu, 27 November 2011

Bau Lawean



Bau Lawean 


                                                                                          edohaput


Bagian delapan 

     Damijan telah melamar Murami. Bahkan keluarga Damijan dan keluarga Murami telah menentukan hari pernikahan antara Damijan dan Murami. Hari baik telah dipilih dan disepakati kedua keluarga. Hari baik itu akan segera sampai. Tinggal menunggu hitungan hari. Masing - masing keluarga telah siap mengadakan hajadan pernikahan. Di keluarga Murami hajadan pernikahan akan dilaksanakan semeriah mungkin. Keluarga Murami telah menghubungi pengusaha layar tancap. Layar tancap akan digelar semalaman untuk memeriahkan malam pernikahan Murami dengan Damijan. Dua judul film yang akan diputar pada malam pernikahan nanti telah ditentukan. Telah dipilih Nyi Blorong dan Bernapas Dalam Lumpur yang masing - masing dibintangi oleh Suzana. Layar tancap adalah hiburan mewah bagi warga dusun. Akan digelarnya layar tancap pada malam pernikahan Murami  telah tersiar sampai di tetangga dusun. Warga pasti akan tumpah ruah di halaman rumah Murami yang luas bagai lapangan untuk menyaksikan film yang disorotkan di layar tancap. Lima hari kemudian setelah hajadan dilaksanakan oleh keluarga Murami, di keluarga Damijan bakal tak kalah meriahnya dalam acara ngunduh mantunya. Keluarga Damijan akan menggelar pertunjukan ketoprak semalam suntuk. Kelompok ketoprak dari kota telah pula dihubungi oleh keluarga Damijan. Pada hari - hari pernikahan Damijan dan Murami dusun akan gegap gempita oleh tontonan. 
     Murami yang sangat berbahagia hari pernikahannya akan segera sampai merasakan hari - hari yang dilalui sangat berjalan lambat. Murami ingin hari - hari berjalan cepat. Murami ingin pagi segera berganti siang dan berganti sore dan kemudian malam dan seterusnya. Semakin hari - hari menunggu diharapkan cepat berlalu, semakin lambat rasanya hari berganti. Disiang hari Murami banyak gelisah, dan dimalam hari tidak bisa tidur. Satu - satu yang bisa membuat perasaannya tenang apabila sedang bersama Damijan. Dan ketika berpisah dengan Damijan lagi - lagi Murami gelisah dan ada perasaan was - was yang tidak beralasan. Dengan semakin dekatnya dengan hari pernikahan justru Damijan jarang menemui Murami. Ketika hari pernikahan belum ditentukan setiap dua hari sekali Damijan pasti menemui Murami dan mengajaknya ke gubuk. Tetapi menjelang hari pernikahannya karena Damijan memang disibukan oleh berbenah di rumahnya, maka kesempatan untuk menemui Murami menjadi tertunda. Apalagi Damijan jadi sering ke kota bersama keluarganya untuk ini dan itu terkait dengan hari pernikahannya nanti. 
      Perasaan was -was yang tidak beralasan selalu mengganggu Murami ketika akan berangkat tidur. Kegelisahan Murami yang semakin  menjadi - jadi saat malam tiba sangat menghantuinya. Bila sedang merasakan begitu Murami ingin malam cepat berlalu. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Malam berjalan lambat. Rasa kantuk tiba - tiba hilang. Berganti dengan perasaan yang gundah. Pikirannya hanya pada Damijan. Damijan sedang melakukan apa. Damijan sedang ada dimana. Jika sudah demikian rasanya Murami ingin berlari menemui Damijan. Tetapi itu tidak mungkin dilakukan. 
     Pagi hari cerah. Matahari bersinar tanpa tertutup kabut yang biasanya menyelimuti pedusunan. Murami dan Damijan di rumah Murami menunggu kedatangan juru rias pengantin dari kota yang memerlukan datang ke rumah Murami untuk menemui Murami dan Damijan agar bisa memilih pakaian pengantin mana yang nanti akan dikenakan pada hari pernikahan. Juru rias pengantin akan memperlihatkan foto - foto pakain pengantin yang bermacam - macam bentuk dan modelnya. Murami dan Damijan akan memilih yang cocok dengan selera mereka. Juru rias akan datang jam sepuluh. Murami dan Damijan menunggu sambil menikmati kue serabi yang dibuat Raminem mboknya Murami. " Kang, perasaanku kok selalu aneh bila aku jauh dari kang Damijan ". Kata Murami serius sambil mengunyah serabi. " Aneh gimana ta, Mi ? " Tanya Damijan yang juga sambil menguyah kue serabi yang empuk dah gurih. " Aku tu kalau lagi jauh sama kang Damijan ada perasaan was - was. Kayak mau kehilangan kang Damijan, gitu lho, kang ". Jawab Murami sambil membenahi sikap duduknya dari bersimpuh menjadi bersila. Dengan demikian maka roknya jadi tertarik ke atas pangkal paha. Sehingga Damijan yang duduk di depannya menjadi bisa melihat celana dalam Murami yang putih bersih. Dan di balik celana dalam itu ada sesuatu yang membusung dan terbelah di tengah. " Halah gitu saja kok aneh ta, Mi. Ya lumrah saja ta. Karena pernikahan kita tinggal menunggu hitungan hari dan kamu memikirkan aku terus ya itulah yang kemudian ada di pikiranmu. Was - was ". Kalimat Damijan menjadi panjang. " Iya ya, kang. Karena aku tiap detik mikirkan kang Damijan jadi aku was - was ya, kang. Tapi anehnya was - wasku itu kok rasanya aku ini mau ditinggalkan kang Damijan selama - lamanya ta, kang ". Kalimat Murami juga menjadi panjang juga. " Hus ...! Tidak usah aneh - aneh, Mi !". Damijan ingin menyudahi percakapan yang tidak mengenakan rasa.
     Juru rias yang cantik dan bahenol datang bersama pak Samino. Sudah lama juru rias pengantin yang cantik ini menjanda. Kemudian menjadi gendakannya pak Samino. Bagi warga dusun yang menyelenggarakan acara pernikahan pasti juru riasnya bu Sarinti ini. Selain murah pakaian dan dandanan temantennya sangat banyak macamnya. Pak Samino selalu mempromosikan bu Sarinti kemana - mana.  Semakin banyak order diterima bu Sarinti semakin banyak pula kesempatan bagi pak Samino untuk bersama bu Sarinti.  Bahkan pak Samino-lah yang menyuplai modal untuk bu Sarinti. Bu Sarinti yang berpayudara besar, berpantat sintal, berkulit kuning langsap, dan berparas cantik ini menjadi gula - gula pak Samino. Pak Samino sangat menyayangi bu Sarinti. Selain cantik dan selalu memberikan kepuasan, bu Sarinti tidak banyak merepotkan pak Samino. Bu Sarinti terampil mencari rejeki. Tanpa banyak keluar uang pak Samino sudah bisa mendapatkan mainan yang sangat menyenangkan.
     Pak Samino sangat dipuaskan oleh bu Sarinti dalam hal persenggamaan. Karena selain tubuh bu Sarinti yang memang aduhai juga bu Sarinti sangat pintar melayani lelaki. Pak Samino sangat ketagihan. Tiga hari tak ketemu dan bermain dengan bu Sarinti pak Samino sudah kelabakan. Isteri - isteri pak Samino yang rata - rata sudah berusia di atas lima puluh tahun tak lagi menjadi pemuas pak Samino yang masih sangat menggebu.
     Murami dan Damijan segera sibuk dengan melihat foto - foto pakaian pengantin yang macam dan gayanya banyak sekali. Murami dan Damijan yang hanya akan mengenakan satu macam pakaian sempat bingung memilih. " Sudah pilih yang mana jangan bingung, Mi ". Kata pak Samino yang duduk dempet dengan bu Sarinti. " Yang ini saja, Mi ". Kata Damijan sambil menunjuk foto pakaian temantin. " Ya sudah aku manut kang Damijan ". Kata Murami. " Nah gitu, jadi cepet rampung. Ini Bu Sarinti dan aku segera akan pergi lagi ". Kata pak Samino sambil tersenyum. " Pergi kemana pak ? " Tanya Murami. " Ah ...kamu Mi...Mi...mau tahu saja ....". Jawab pak Samino sambil tertawa lebar. Bu Sarinti menimpali : " Mas Samino ini kalau sudah tiga hari dak tak layani bingung, Mi ". Pak Samino yang dibuka rahasianya malah tertawa semakin lebar. Lalu katanya : " Maka kamu nanti kalau sudah menjadi isteri Damijan, jangan lupa layani terus Damijan sampai puas, Mi ". Kalimat Pak Samino ini membuat seisi ruangan menjadi tertawa lepas.
     Pak Samino dan bu Sarinti meninggalkan rumah Murami. Mereka berbocengan sepeda motor melaju meninggalkan dusun.
     Murami dan Damijan yang mengantar kepergian pak Samino dan Bu Sarinti di halaman segera kembali masuk ke rumah. Murami langsung menarik tangan Damijan dan diajak masuk ke kamar Murami. " Tenang kang, ini simbok dan bapak baru akan pulang siang nanti, ayo kang ! " Murami manja. Di dalam kamar mereka segera berpelukan. Damijan mencium Murami dengan lembut dan sayang. Tangan Damijan yang mengelus rambut Murami oleh Murami diturunkan ke arah dadanya. Dan tangan Murami yang satunya membuka kancing baju yang menutup dadanya. Dengan demikian dengan mudah tangan Damijan menelusup ke kain yang di kenakan Murami di bagian dada. Damijan segera mengelus dan meremas lembut payudara Murami berganti - ganti. Beberapa saat tangan Damijan di dada Murami segera meluncur turun ke arah paha Murami. Murami yang menaikkan kainnya setinggi paha dan mengambil posisi ngangkang. Membuat tangan Damijan mudah sekali menemukan kemaluan Murami yang sedikit belahan bibirnya membuka karena mengangkang. Jari tangan Damijan bermain di kemaluan Murami. Murami merasakan keenakan. Tangan Muramipun segera gerayangan mencari milik Damijan yang masih ada  di dalam sangkarnya. Reutsliting celana Damijan di buka Murami. Dan Murami berhasil merogoh burung Damijan dan mengeluarkannya dari celana. Burung yang kaku mencuat dari dalam celana menjadi mainan Murami yang mengasyikan. Karena burungnya terus dielus, dan diremas oleh tangan yang hangat dan lembut dan dirasakan sungguh nikmat, Damijan pun semakin gencar mempermainkan bibir, kelentit, dan liang kemaluan Murami. Murami hanya bisa terus melenguh nikmat. Sementara itu bibir mereka terus berpagut. Dan saling merasakan nikmat di kemaluannya masing. Burung Damijan mulai meneteskan madi. Madi adalah air mani yang pertama keluar sebelum air mani yang dibelakangnya menyemprot. Burung Damijan menjadi licin. Murami menjadi semakin asyik mempermainkannya. Begitu juga kemaluan Murami yang terus membasah membuat Damijan semakin terangsang untuk menggosok dan mengiliknya. Kedua menjadi semakin tidak tahan terhadap kenikmatan yang dirasakan. Mani Damijan menyemprot seiring dengan kedutan burungnya. Saat itu pula dua jari Damijan yang ada di dalam kemaluan Murami menekan semakin dalam dan menyentuh susuatu yang dirasakan Murami luar biasa enaknya. Maka Murami-pun segera matanya terbeliak dan kemudian mengatup rapat dan bibirnya menyedot kuat lidah Damijan dan segera melenguh hebat " Eeeeeeeemmmmmmmhhhhhhhgggg ......... ! " Dan kedua pahanya dirapatkan sehingga menjepit tangan Damijan.  Mereka segera ambruk di ranjang dan terengah - engah. Mereka berdua sangat bahagia bisa melepas rindu. Melepas rasa ingin selalu dekat. Melepas hasrat yang selalu menggebu.

bersambung ke bagian sembilan .........................



     

     

Selasa, 22 November 2011

Bau Lawean


Bau Lawean 


                                                                                          edohaput


Bagian Tujuh 

     Kesenian Tayub adalah kesenian yang paling disukai warga dusun. Kepala dusun yang sedang mempunyai hajadan mengkhitankan anak keduanya menggelar kesenian Tayub. Suara gamelan membedah suasana dusun yang selalu sunyi di malam hari. Warga tumpah di halaman rumah kepala dusun. Ledhek cantik yang berdandan menor mulai menari di atas panggung. Kain jarit membalut ledek cantik hanya sampai di batas dadanya, membuat penonton bisa melihat besarnya payudaranya yang dipoles bedak putih. Dada ledhek yang besar mengkilat tertimpa cahaya lampu - lampu  petromak yang bercahaya sangat terang. Para lelaki tua - muda mulai merangsek ke depan panggung. Mereka semakin ingin dekat melihat ledhek yang pantat besarnya mulai berputar - putar gemulai. 
     Tampilnya ledhek yang menari di panggung dengan memancing - mancing gairah kelelakian mengakhiri tembang - tembang campur sari dan dagelan yang sangat disukai anak - anak dan para perempuan. Saat mulai tampilnya ledhek para wanita dan anak - anak sudah tidak tertarik lagi. Mereka para perempuan berangsur meninggalkan halaman rumah kepala dusun. Kecuali sudah pada ngantuk karena malam sudah semakin larut,  juga karena mereka tidak suka dengan tampilan ledhek. Justru para lelakilah yang mulai panas. Mata mereka hilang kantuknya. Mereka membuka lebar - lebar matanya untuk menikmati keindahan tubuh ledhek yang gemulai menari dengan gaya yang kadang - kadang erotis memancing gairah kelelakian. Sebentar saja para perempuan dan anak - anak telah lenyap dari halaman rumah kepala dusun. Para lelaki mulai ikut berjoget. Dan lelaki yang berduit mulai naik panggung berjoget dengan ledhek. Tangannya melambai - lambaikan lembaran uang yang akan disawerkan ke ledhek. Biasanya para lelaki berduit berjoget dan mencoba mendekat ke tubuh ledhek. Kadang sempat juga mencium pipi ledhek sambil tangannya menelusupkan lembaran uang di belahan dada besar sang ledhek yang bibirnya terus tersenyum menyemangati para lelaki yang akan naik ke panggung untuk menyawer.
     Pak Samino orang terkaya di dusun naik ke panggung. Pak Smino langsung ngibing ledhek. Di tangan pak Samino terlambai - lambaikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Pak Samino terus menari mengitari ledhek. Sang ledhek semakin erotis saja menggoda pak Samino. Sonder atau selendang yang dipergunakan oleh ledhek untuk menambah indahnya gerak tari sudah melingkar di leher pak Samino. Oleh sang ledhek selandang ditarik - tarik sehingga wajah pak Samino semakin dekat dengan wajah sang ledhek. Pak Samino mulai menyawer. Menelusupkan uang lembaran lima puluh ribuan di belahan dada sang ledhek. Pak Samino bisa menyentuh buah dada sang ledhek yang besar menonjol di dadanya. Setiap ada kesempatan dan seirama dengan bunyi gendang dan gamelan pak Samino bisa mencium pipi sang ledhek dan kemudian menyelipkan lembaran uang di dada ledhek.
     Para lelaki yang juga ingin nyawer yang masih ada di bawah panggung tak ada yang berani naik ke panggung selama pak Samino masih berada disana. Mereka yang pada umumnya hanya menyawer dengan lembaran puluhan ribu takut tidak memperoleh tanggapan dari ledhek, karena ledhek pasti hanya melayani pak Samino yang di tangannya ada banyak lembaran lima puluhan ribu. Mereka menunggu pak Samino turun  dengan ledhek dan turun panggung.
     Pak Samino yang terus berjoget ngibing dengan ledhek mulai sudah sangat bergairah dan panas. Cara nyawer pak Samino semakin berani. Ada kalanya sempat pegang pantat. Merangkul, mencium pipi bahkan nekat memeluk ledhek. Sambil tetap berjoget pak Samino mulai menyampaikan maksudnya : " Ni, ayo kita sudahi saja joget kita ini " Kata pak Samino berbisik kepada ledhek yang bernama Parini di sela - sela nyawernya. Parini mengedipkan mata tanda setuju. Ia tahu maksud pak Samino. Pasti akan mengajaknya di tempat gelap. " Ni, nanti habis berjoget ini terus pamit sama kelompokmu kalau mau pipis. Aku sudah bilang Kadus agar kamu diantar ke kamar mandi belakang. Aku sudah menunggu disana ". Parini tidak menjawab hanya matanya berkedip - kedip tanda setuju. Pak Samino lalu turun dari panggung. Parini memberi kode kepada ledhek lain agar menggantikannya berjoget di panggung. Parini turun panggung digantikan ledhek lain yang tak kalah bahenolnya. Melihat pak Samino sudah tidak lagi di panggung para lelaki berebut naik panggung untuk nyawer. Suasana menjadi semakin meriah.
     Pak Samino yang sudah berada di kamar mandi belakang rumah pak kadus sudah melepaskan celananya panjangnya. Tinggal celana kolor yang dipakainya. Ia menunggu ledhek Parini datang. Kamar mandi belakang rumah pak kadus terpisah dengan rumah induk. Dari rumah pak kadus untuk sampai kesana melewati lorong dan halaman belakang rumah. Suasana disana gelap dan  sangat sepi. Tidak berapa lama dengan diantar pak kadus ledhek Parini datang. Pak Samino membukakan pintu kamar mandi untuk Parini. Pak kadus pergi. Pak kadus sangat tahu dengan kebiasaan pak Samino. Bahkan kesenian Tayub yang diselenggarakan ini adalah bekat bantuan sumbangan pak Samino.
     Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu minyak kecil dan berkedip karena tiupan angin, pak Samino langsung memeluk ledhek dan menggerayangi payudaranya. " Sabar, pak. Saya mau pipis dulu ". Sambil berkata begitu Parini ledhek menaikkan kain jarit sampai ke pangkal paha. Pak Samino menjadi bisa melihat paha gempal putih milik ledhek Parini. Pak Samino menelan ludah. Ledhek parini yang tidak mengenakan celana dalam berjongkok dan pipis. Pak Samino yang sudah tak tahan ikut juga berjongkok di depan ledhek Parini dan tangannya langsung menjulur menggerayang pepek ledhek Parini yang sedang mengeluarkan pipisnya. Tangan pak Samino merasakan hangatnya kucuran pipisnya ledhek Parini. Pak Samino menciduk air dengan gayung lalu menyiramkan di pepek ledhek Parini dan tangannya menceboki pepek Parini yang besar menggunung. Ledhek Parini yang berjongkok segera diberdirikan oleh Pak Samino dan di sandarkan di dinding kamar mandi. Dengan cepat dan tak sabar Samino mencopot celana kolornya dan burung yang sudah sangat kaku mengacung mengarah ke selakangan ledhek Parini yang sudah tidak tertutup kain jarit karena kain jarit telah ditarik ke atas sampai di atas pantatnya. Lagi - lagi dengan tidak sabar pak Samino yang bertubuh kekar segera merendahkan pantatnya dan mengarahkan burung ke selangkangan Parini yang sudah membuka. Dengan sekali tancap burung pak Samino telah amblas di pepek ledhek Parini. Burung pak Samino yang besar dan panjangnya di atas rata - rata milik orang pada umumnya, membuat mulut ledhek Parini mendesis dan menganga. Sambil mencengkeram kuat tubuh ledhek Parini dan menciumi bibir dan pipinya pak Samino terus menggenjot pepek ledhek Parini dengan burungnya. Pak Samino memang tidak lagi muda. Usianya sudah kepala enam. Namum pak Samino yang tetap gemar dengan bekerja di sawah ini tetap sehat mengalahkan pemuda yang umurnya belasan tahun dalam urusan senggama. Bahkan dalam semalam pak Samino kuat menggauli dua isterinya. Dan masing - masing isterinya sangat berbahagia karena bisa dipuaskan. Bahkan boleh dikata sangat puas. Pak Samino jago memberi kepuasan pada perempuan yang digaulinya. Ledhek Parini yang dengan gencarnya terus diserang oleh pak Samino hanya bisa melenguh - lenguh, mendesis - desis, dan matanya kadang - kadang terbeliak dan kadang menutup rapat tanda menahan rasa geli enak di pepeknya, di bibirnya , di lehernya, dan di payudaranya yang tanpa ampun diserang pak Samino yang ganas. Belum lima menit ledhek Parini telah dua kali sampai ke puncak. Setiap kali sampai ke puncak ledhek Parini yang tidak ingat sedang disenggamai dimana berteriak mengaduh cukup keras. Sehingga dengan terpaksa pak Samino harus membungkam mulut ledhek Parini dengan bibirnya agar teriakannya tidak didengar orang. Pak Samino juga tidak ingin berlama - lama mengingat tempat ia melakukan senggama bukan tempat semestinya. Pak Samino juga takut akan diketahui orang. Frekwensi genjotan burungnya di pepek ledhek Parini semakin diperapat dan semakin diperkeras. Diperbuat demikian ledhek Parini yang suaminya lumpuh karena stroke menjadi sangat senang dan memperoleh persenggamaan yang luar biasa menikmatkan. Maka dengan semangatnya ledhek Parini mengimbangi gerakan ganas pak Samino dengan menggoyang - goyangkan pantatnya. Pepek Parini yang bergoyang ke kiri ke kanan kadang berputar membuat burung pak Samino ketemu dengan keragaman kenikmatan  di kedalaman pepek ledhek Parini. Tak lama kemudian Pak Samino menggeram dan memeluk tubuh sintal ledhek Parini kuat - kuat dan burungnya  ditekankan kuat masuk sehingga tanpa tersisa masuk semua di dalam pepek dan segera menyemburkan maninya. Di saat itu pula pepek ledhek Parini yang disembur mani yang luar biasa banyak, kental, hangat tak kuasa menahan nikmat. Pepeknya meradang dan bergetar lalu seperti ada yang pecah dan kembali ledhek Parini lupa ia sedang senggama dimana berteriak keras : " Paaaaaaaaaaakkkk ! " Tubuhnya meronta - ronta di pelukan pak Samino.
     Gamelan terus mendayu dan jogetan ledhek di panggung semakin panas. Para lelaki yang nyawer berganti - ganti naik turun ke panggung. Para ledhek semakin malam semakin berani dan semakin membiarkan tangan - tangan lelaki nakal menjamahinya. Yang penting semakin banyak uang yang terselip di belahan buah dadanya. Tayub baru berahkir setelah malam begitu terasa dingin tanda malam telah berlalu jauh dari tengah malam.
     Didalam perjalanan pulang ke rumah dari menonton Tayub Paijo dan Samirin dikejutkan oleh tergeletaknya  tubuh Pardin  di pinggir jalan. Tangan Pardin menggapai - gapai tanda minta tolong. Tubuhnya lemas lunglai tak berdaya. Mulutnya tak lagi kuasa mengeluarkan suara. Paijo dan Samirin yang mendapati Pardin dalam keadaan demikian segera berteriak - teriak meminta pertolongan. Para lelaki yang belum pada sampai ke rumah masing - masing segera pada berlari menuju sumber suara permintaan tolong. Mereka lalu beramai - ramai mengangkat tubuh Pardin yang tak lama kemudian pingsan untuk dibawa ke rumahnya. Tidak lama kemudian setelah memperoleh berbagai pertolongan dan upaya dari warga Pardin yang pingsan tak bisa siuman dan meninggal dunia.
     Semalam warga bersukacita menikmati Tayub, pagi harinya mereka berdukacita. Pardin pemuda yang juga suka bekerja di sawah dan banyak berbuat untuk kemakmuran desun telah tiada. Meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga yang terus bertanya - tanya sebab musabab kematian Pardin, tidak menemukan jawabannya. Warga ahkirnya berkesimpulan Pardin meninggal karena sakit jantung. Seperti meninggalnya Pardan kakaknya. Di tubuh Pardin tidak ditemukan kalau ia dianiaya orang. Tubuhnya lemas lunglai saat ditemukan, seperti ketika Pardan kakaknya meninggal. Tubuh Pardin juga pucat pasi seperti tubuh Pardan ketika meninggal. Seolah Tubuh Pardin tak berdarah. Kulitnya menjadi putih sangat pucat.
     Warga yang mencoba menghubung - hubungkan kematian Pardin dengan kegiatan - kegiatan yang dilakukannya juga tidak menemukan jawaban. Pardin tidak mempunyai musuh. Ia pemuda baik yang selalu rukun dengan pemuda lainnya. Dengan para pemuda tetangga dusunpun Pardin tidak memiliki masalah. Hanya saja Pardin semalam memang tidak lama berada di acara kesenian Tayub. Pardin hanya nampak sebentar saja ketika acara Tayub masih diisi lagu - lagu campursari dan dagelan. Kemana perginya Pardin tak ada yang tahu. Keluarganya juga menyatakan kalau Pardin sejak sore hari sampai tubuhnya ditemukan terkapar di pinggir jalan belum pulang ke rumah. Sejak sore memang Pardin berada di rumah pak kadus ikut membantu mempersiapkan pagelaran kesenian Tayub. Para pemuda juga tidak ada yang merasa diajak omong - omong oleh Pardin malam Tayub itu Pardin mau kemana. Dengan Siapa. Berkegiatan apa. Tidak ada yang tahu.
     Bagi warga yang sudah berkesimpulan meninggalnya Pardin adalah karena sakit jantung tak lagi berpusing - pusing. Pengetahuan warga dusun yang dangkal dan tak banyak mengerti tentang penyakit, selalu mengambil kesimpulan setiap orang yang matinya mendadak adalah karena sakit jantung. Tetapi bagi keluarga meninggalnya Pardin menyusul meninggalnya Pardan kakaknya adalah sebuah misteri. Mengapa Pardan. Dan mengapa sekarang Pardin. Keluarga mencoba introspeksi. Kesalahan apa telah diperbuat keluarga. Tetapi juga tidak menemukan jawaban. Bahkan keluarga juga telah merunut - runut semua keturunan. Ternyata juga tidak pernah ada yang meninggal dengan cara mendadak. Mereka berkesimpulan bahwa di keluarga mereka tidak pernah ada yang sakit jantung. Lalu dari keturunan mana Pardan dan Pardin sakit jantung. Karena sudah mentok tak lagi ada jawaban yang ketemu logika, maka keluarga berkesimpulan meninggalnya Pardan dan Pardin karena diganggu makhluk halus. Itulah satu - satunya kesimpulan yang menyebabkan mereka kemudian pasrah dan segera melaksanakan kegiatan - kegiatan ritual untuk menolak balak yang mungkin akan terjadi lagi.

bersambung ke bagian delapan .....................


     

Minggu, 20 November 2011

Bau Lawean


Bau Lawean 


                                                                                               edohaput


Bagian Enam 

     Mendengar penuturan Murami tentang perlakuan Pardin terhadap dirinya malam itu digubuk Pardan, Damijan sangat marah. Namun kemarahan dipendamnya dalam - dalam. Damijan tidak ingin kemarahannya di ketahui Murami. Malahan dengan lembut Damijan menenteramkan hati Murami yang sangat gundah. Murami sangat menyesal mengapa malam itu ia menuruti kemauan Pardin. Murami takut merahasiakan kejadian malam itu terhadap Damijan. Murami takut apabila satu saat Damijan tahu peristiwa itu tidak dari mulutnya. Bisa - bisa Damijan mengira dirinya mengkhianati cintanya. Apapun resikonya Murami harus menceritakan kejadian malam itu kepada Damijan secara jujur. " Sudahlah, Mi itu bukan salahmu. Aku tahu kok,  kalau kamu tetap mencintai aku. Sudahlah anggap itu tak pernah ada. Tak pernah terjadi. Jangan diingat - ingat. Yang penting kau dan aku tetap saling mencinta ". Kalimat - kalimat Damijan yang lembut sangat menenteramkan hati Murami. " Kang Damijan tidak marah kan, kang ?" Tanya Murami sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Damijan. Damijan mengelus rambut Murami dan mencium rambut Murami yang wangi karena habis dikeramas dengan abu merang dan kembang melati. " Buat apa aku marah, Mi ? Tidak ada gunanya kan ?"  Damijan berbohong. Yang sebenarnya Damijan amat marah. Kekasihnya yang ia cintai dan sayangi dijamah - jamah. Pardin yang sudah mengerti kalau sekarang Murami adalah kekasih hatinya, dengan berbuat begitu berarti Pardin telah menantang keberadaannya sebagai laki - laki. Di mata Damijan, Pardin adalah orang yang patut tidak dikasihani. Di pikiran Damijan, Pardin bukan orang yang memiliki sopan santun berteman. Pardin telah melanggar tatakrama persahabatnya dengan dirinya. Sangat tidak patut Pardin melakukan itu. Apalagi Pardin telah berkata - kata yang sangat tidak pantas di depan Murami. Pardin telah mengatakan kalau dirinya adalah pembunuh Pardan. Pardin telah begitu tega merendahkan dirinya di depan Murami. Murami yang ada dipelukan Damijan dan sedang dielus - elus rambutnya, mendongakkan wajahnya. Damijan melihat air mata Murami mengalir. " Kenapa kamu menangis, Mi ?" Kata Damijan sambil mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya tangan kanannya . " Aku takut, kang. Aku takut kehilangan kang Damijan. Segara lamar aku, kang. Dan kita segera membeli layang ". Mendengar kalimat Murami ini Damijan tidak menjawab. Damijan memberikan senyuman dan menggangguk  yang membuat hati Murami sangat berbahagia. Jari telunjuk Damijan yang tadi mengusap air mata Murami kini berada di bawah dagu Murami dan dengam lembut mengangkat dagu Murami. Yang dagu diangkat menurut dan membuka bibir basahnya, karena Murami tahu Damijan akan mencium bibirnya. Damijan yang disediakan bibir merekah merah basah dengan lembut menyambutnya dengan bibirnya. Mereka berpagut dengan penuh kemesraan. Ciuman saling mencinta. Ciuman sayang dari kedua belah pihak. Murami merasakan kehangat bibir Damijan yang tidak lama kemudian sudah menikmati tambahan kenikmatan ketika lidah Damijan masuk di mulutnya dan menjulur menggelitik langit - langit mulutnya. Rasa geli nikmat di langit - langit mulutnya mengalir keseluruh bagian tubuhnya. Kulit murami menjadi merinding. Rasa geli yang membangkitkan gairah cinta mengalir sampai di kemaluannya. Murami merapat - rapatkan pahanya karena terasa ada yang mau menetes dari kemaluannya yang terasa nikmat. Damijan melepaskan ciumannya di bibir Murami. Dan mendekap tubuh Murami kuat - kuat serasa tak ingin dilepaskan. Murami yang sedang enak - enaknya menikmati ciuman Damijan marah manja ciuman Damijan dilepas. Murami mencubiti punggung Damijan yang dipeluknya. Damijan tahu itu. Kemudian tertawa. " Sebentar sayang, .... nanti aku cium lagi ... " Damijan menggoda Murami. Bibir Murami tetap menganga merekah basah menunggu Damijan menciumnya lagi. Damijan tidak segera mencium lagi Murami. Malah menatap mata Murami penuh cinta dan sayang sambil tersenyum. Murami yang tetap membuka mulutnya  menyediakan bibirnya untuk dicium jadi berganti memberengut dan memukuli manja dada Damijan dengan kepalan tangan kecilnya. Damijan kembali tertawa. Murami semakin memberengut manja. Dan Wajahnya ditundukkan. Rasa sayang Damijan bertambah - tambah apabila Murami sedang marah manja. " Sini aka cium lagi " Kata Damijan sambil mengangkat dagu Murami. Murami pura - pura tidak mau. Damijan kemudian mengelus punggung Murami dan tangan Damijan menyelusup masuk ke kain yang melekat di punggung Murami melalui celah bukaan baju bagian belakang. Damijan terus mengelus. Kehangat di punggung dirasakan Murami. Elusan tangan Damijan membuat kulit tubuhnya lagi - lagi merinding. Murami melenguh karena geli merinding dan mukanya kembali mendongak ke wajah Damijan. Bibirnya kembali disediakan untuk dicium. Damijan kembali menggoda Murami dengan tidak segera menempelkan bibirnya di bibir Murami yang telah terbuka. Kembali Murami marah manja dengan mencubiti punggung Damijan.  Damijan semakin menggoda Murami. Elusan tangannya merambat ke bawah ke pantat Murami. Disana tangan Damijan meremas - remas halus pantat Murami. Yang dielus dan diremas pantatnya menjadi semakin merinding. Murami megangkat sedikit pantatnya dengan maksud tangan Damijan segera berada di bawah pantatnya dan menyentuh kemaluannya. Tetapi Damijan tak segera melakukannya. Kembali Murami mencubiti punggung Damijan. Damijan tahu kalau Murami mengharap kemaluannya segera disentuh. Lagi - lagi Damijan menggoda. Tangan Damijan tidak segera merayap ke bawah pantat Murami  walaupun Murami sudah mengangkat - angkat pantatnya untuk memberi peluang. Murami menjadi sangat gemas. Kedua tangannya yang mendekap punggung Damijan segera beralih ke tengkuk Damijan dan menurunkan kepala dan wajah Damijan menjadi sangat dekat dengan wajahnya dan bibir Damijan menempel di bibirnya. Dengan gemasnya pula Murami menyambut bibir Damijan dengan bibirnya yang langsung melumat bibir Damijan. Dalam hati kasihan juga Damijan kepada Murami yang tadi telah memutus kenikmatan Murami. Lumatan bibir Murami dibalasnya dengan ciuman yang penuh sayang. Kembali langit - langit mulut Murami dirambah - rambah dan digelitik dengan lidahnya. Dan tangan Damijan yang sedari tadi hanya meremas - remas pantat, telah memanfaatkan peluang yang diberikan Murami dengan sedikit mengangkat pantatnya. Tangan Damijan telah berada di kemaluan Murami. Murami menggelinjang ketika kemaluannya telah dielus - elus Damijan dan bibir kemaluannya telah disibak - sibakkan oleh jari - jari Damijan untuk ditemukan liang senggamanya. Jari  Damijan berhasil menemukan liang senggama Murami yang sempit. Disana Jari Damijan menggelitik. Mencarai - cari yang biasanya kalau itu tersentuh jarinya Murami lalu melenguh dan menggelinjang hebat. Dan Damijan rupanya menemukannya.  Murami melenguh dengan tetap bibirnya di tutup oleh bibir Damijan. Murami kembali menggelinjang dan matanya sebentar merapat sebentar terbeliak ketika jari Damijan telah  bertemu dengan yang diinginkannya.  Murami medekap sangat serat tubuh Damijan dan kemaluannya menjadi sangat membasah. Murami orgasme. Damijan tahu itu. Sementara itu burung Damijan yang telah sangat membesar dan sangat kaku disodok - sodok ke paha Murami. Murami tahu kalau Damijan sudah begitu ingin burungnya dipeganggnya dan dikocoknya. Murami balas dendam. Murami menggoda Damijan dengan tidak segera memegangi burung Damijan. Damijan terus menyodokkan burungnya dan ciuman dibibirnya semakin ganas saja. Tetapi Murami sengaja membiarkan burung Damijan disodok - sodokan ke pahanya. Murami merasakan kemaluannya diremas Damijan dengan sedikit kuat. Murami tahu Damijan sedang memerintahnya untuk segera menggenggam burungnya. Murami terus menggoda Damijan dengan tidak segera tangannya ke burung Damijan. Damijan yang burung tidak segera di pegang Murami kelabakan. Dalam hati Murami tersenyum geli kekasihnya kelabakan. Dan Murami merasa senang bisa membalas Damijan yang tadi sempat pula menggodanya. Damijan yang semakin kelabakan segera merebahkan tubuh Murami dan segera ditindihnya. Dan tangan Damijan dengan sigap memelorotkan celana kolornya sendiri dan burungnya mencuat keluar. Murami yang menjadi rebah terlentang segera membuka selangkangannya dengan membuka kedua pahanya. Murami yang juga sudah kembali dirambati lagi gairah cintanya yang sempat tadi telah sekali sampai ke puncak menyediakan kemaluannya untuk burung Damijan. Damijan yang sudah diatas tubuh Murami menempelkan burungnya di kemaluan Murami dari luar celana dalam dan menekan - nekannya. Kehangatan basahnya kemaluan Murami dirasakan ujung burung Damijan. Murami menggoyang - goyangkan pantatnya dengan maksud agar burung Damijan terpeleset di celana dalamnya dan menusuk kemaluannya. Damijan tahu maksud Murami. Tetapi Damijan tidak mau melakukannya. Kemaluan Murami akan ditusuknya nanti di malam pengantin. Maka dengan kakinya Damijan segera merapatkan paha Murami. Dengan demikian maka burung Damijan terjepit oleh paha Murami tetapi masih bisa menyentuh permukaan kemaluan Murami ketika burungnya disodokkan. Damijan merasakan jepitan paha hangat Murami sungguh nikmat. Burung menjadi semakin membengkak dan serasa mau meledak. Mani menumpuk membuat burung berkedut - kedut untuk segera memuntahkan cairan kenikmatannya. Murami yang merasakan geli di pahanya yang tergesek oleh burung Damijan yang bergerak naik turun semakin mengangkat - angkat pantatnya agar permukaan kemaluannya bisa terus tersodok ujung burung Damijan. Kemaluan Murami merasakan sangat enak ketika burung Damijan menyodoknya. Murami merasakan kemaluannya begitu pegal meradang seolah ada yang mau pecah. Begitu Juga Damijan yang burung terjepit paha dan menyentuh - nyentuh celana dalam Murami tepat di permukaan kemluan Murami yang basah, semakin tidak tahan. Burungnya digerakkan semakin cepat dan semakin kuat. Dan Damijan mengejang sambil menekankan kuat - kuat burung dijepitan paha. Dan maninya muncrat meleleh - leleh di permukaan kemaluan Murami yang masih teralasi celana dalam. Kuat sekali Damijan mendekap tubuh Murami karena kenikmatannya tak terperikan. Sementara itu Murami celana dalam Murami yang terguyur oleh mani Damijan tepat di permukaan kemaluannya juga tiba - tiba dengan kuatnya menggelinjang membarengi kejangnyan Damijan. Murami merasakan permukaan kemaluannya sangat hangat oleh mani Damijan dan membuat rasa di kemaluannya yang sedari tadi meradang mau pecah tak lagi tertahankan. Muramai menggeliat - geliat dan mengangkat pantatnya dan mempertemukan kemaluannya yang masih tertutp celana dalam dengan burung Damijan yang masih terus mengucurkan mani. Keduanya saling mendekap. Ciuman bibirnya tak lepas. Masing - masing saling menggelenjotkan kakinya dan menimbulkan suara kresek - resek yang sangat keras di kasur ijuk gubuk Damijan.
     Rembulan yang belum genap separo telah menggelincir ke arah barat. Bintang dilangit abyor berkelip menambah indahnya larut malam. Udara pegunungan menjadi tambah dingin kekes. Dengan dituntun Damijan Murami menapaki pematang sawah untuk pelang ke rumah. Mereka bergandeng tangan. Bergandengan hati. Bergandengan rasa. Bergandengan dengan cinta - cinta yang ada di hati mereka masing - masing. Cinta dan kasih sayang yang menggelora. Yang membuat mereka saling berbahagia. Saling merindukan walau tangan mereka telah bergandengan. Saling ingin berdekat walaupun tubuh mereka telah tidak berjarak. Saling ingin memberi kasih walaupun mereka telah terus saling memberi dan menerima. Cinta mereka bagai laut dengan daratan yang sangat sulit dipisahkan. Cinta mereka sejuk bagai embun malam itu yang membasahi dedaunan tumbuhan di sawah.
     Damijan akan segera melamar Murami. Damijan telah siap segalanya. Rumah ada. Sawah ladan ada dan cukup. Damijan akan selalu membahagiakan Murami. Damijan tidak akan membuat Murami sedih. Damijan tidak akan membuat Murami kekurangan. Damijan  bercita - cita selalu menggembirakan Murami. Damijan akan meneteskan kasih sayang ke Murami yang akan melahirkan  anak - anak mereka di kelak hari nanti. Damijan akan hidup berdampingan selama - lamanya dengan Murami. Membesarkan dan membahagiakan anak - anak mereka. Damijan sungguh berbesar hati dan berbahagia bisa memiliki Murami. Murami tidak boleh lepas dari pelukkannya.
     Damijan sangat takut kehilangan Murami. Pardin teman  yang diakarabinya tiba - tiba telah meracuni Murami agar menjauhi dirinya. Pardin teman sedusun yang selalu bahu -  membahu dengan dirinya memajukan dusun telah mencoba merusak hubungan cintanya dengan Murami. Damijan yang akrab dengan siapa saja, sekarang menjadi membenci Pardin. Pardin yang telah menebar omongan - omongan jahat di depan Murami tentang dirinya tiba - tiba dibencinya. Pardin yang telah mencuri kesempatan ketika dia meninggalkan dusun beberapa hari telah berusaha mempengaruhi Murami agar manjauhinya. Bahkan Pardin telah nekat menjamah - jamah Murami. Wanita yang telah dicintainya. Wanita yang telah menyatu hati dengan hatinya. Dalam pikiran Damijan Pardin akan merusak hubungan dengan Murami. Pardin akan selalu menjahatinya. Pardin akan menjadi duri yang semasa - masa bisa menyakiti dirinya. Pardi adalah batu sandungan yang yang harus disingkirkan.
     Damijan mengantar Murami sampai di depan pintu rumahnya. Damijan memeluk Murami dan mencium pipi Murami dengan lembut dan penuh cinta. Kalimatnya lirih diucapakan : " Mi, jangan dengarkan omongan Pardin. Jangan dekati Pardin. Menjauhlah darinya. Pardin akan menjahati kita. Mi aku cinta padamu. Aku sangat menyayangimu " Sekali lagi Damijan mencium pipi Murami. " Ya, kang. Aku akan mematuhi kang Damijan. Aku selalu kangen kang Damijan. Besuk malam kita ke gubuk lagi kan, kang ?" Jawab Murami yang diahkiri dengan pertanyaan dan diucapkan dengan kemanjaannya sambil tersenyum cantik sekali. " Ya...ya...ya..Mi besuk kita ke gubuk lagi " Jawab Damijan sambil kembali mencium pipi Murami dan segera melepaskan pelukannya kemudian melangkah meninggalkan Murami di depan pintu rumahnya.

bersambung kebagian tujuh .............................
     
     

     

Jumat, 18 November 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                   edohaput 


Bagian Lima 

     Mengetahui Murami semakin hari semakin dekat saja dengan Damijan, Pardin adik Pardan kecurigaannya kepada Damijan semakin besar. Apalagi Pardin mendengar selentingan kalau Damijan segera akan melamar Murami, Pardin semakin meyakini kalau yang menyebabkan hilangnya nyawa kakaknya adalah Damijan. Pardin mengetahui kalau Damijan dan Murami hampir tiap malam berpacaran di gubuk. Pardin juga tahu kalau sebenarnya Damijan menyukai Murami sejak lama. Sejak Murami belum menjadi pacar Pardan kakaknya. Bahkan ketika Murami sudah menjadi pacar kakaknya pun Damijan masih terus mengharap Murami menjadi miliknya. Siapa lagi kalau bukan Damijan yang mencederai kakaknya sampai meninggal dunia. Damijan membunuh kakaknya demi mendapatkan Murami. Kecurigaan Pardin terhadap Damijan semakin hari semakin besar saja. 
     Satu siang Pardin menemui Murami. " Tumben kang Pardin nyari saya, ada apa kang ?" Sapa Murami ketika Pardin sudah duduk di lincak teras rumah Murami. " Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu, Mi " Jawab Pardin dengan muka sedikit masam. " Tapi tidak disini, Mi. Aku mau pembicaraan kita tidak didengar orang lain, Mi ". Lanjut Pardin. " Wah ... kok aku jadi deg - degan saja kang, apa ta yang mau dibicarakan kang Pardin ?" Tanya Murami. " Nanti malam saja, Mi. Kamu saya tunggu di gubuk kang Pardan ". Jawab Pardin serius. " Mbok disini saja sekarang, kang. Tidak ada orang kok. Bapak dan simbok lagi ke sawah kok, kang ". Pinta Murami. " Tidak, Mi. Ini penting. Kamu harus tahu. Nanti saja di gubuk. Tak tunggu ya, Mi, nanti malam ". Berkata begitu Pardin beranjak dari duduk dan segera meninggalkan Murami yang mau menolak ajakan Pardin tapi Pardin segera pergi meninggalkan Murami. 
     Apa yang akan diomongkan kang Pardin ? Murami penasaran. Sepertinya penting sekali. Tentang kang Pardan yang sudah meninggal ? Atau tentang hubungannya dengan kang Damijan. Atau barangkali justru kang Pardin mau menyukai dirinya ? Kenapa harus diomongkan di gubuk ? Kenapa kang Pardin tadi tidak mau ngomong langsung ? Apakah kang Pardin tahu kalau hari ini kang Damijan sedang pergi beberapa hari ke rumah saudaranya yang sedang mempunyai hajadan ? Sehingga mendapat kesempatan untuk mengajak dirinya ke gubuk ? Apa maksud kang Pardin sesungguhnya ? Untuk menemukan jawabannya dirinya harus datang ke gubuknya kang Pardan malam nanti. 
     Sore itu sehabis mandi dengan tubuh yang hanya dibalut handuk Murami masuk ke dalam kamarnya untuk ganti Baju. Malam ini ia harus mengenakan baju yang agak tebal agar nanti malam ketika menemui kan Pardin di gubuk tidak kedinginan. Tidak sengaja tiba - tiba handuk terbuka dan melorot ke bawah. Murami sengaja tidak meraih handuknya yang melorot. Tak ada yang melihat. Di dalam kamar sendirian. Murami telanjang. Murami tersenyum ketika melihat dirinya yang utuh telanjang di cermin lemari. Murami mengagumi tubuhnya sendiri. Lengannya panjang. Rambutnya sebahu. Di dadanya ada buah dada yang kecang berdiri menggunung dengan puting yang masih kecil memerah. Murami mengamati perutnya yang rata tanpa ada lipatan kulit sampai di pusarnya. Murami Mebalikkan tubuhnya memperhatikan pantatnya. Pantat yang menyembul dan terbelah. Murami Membungkuk. Terlihat oleh dirinya disela belahan pantatnya kemaluannya yang bibirnya mengatup. Murami membungkuk dan kakinya kangkang. Murami melihat bibir kemaluan sedikit terbuka dan ia melihat kemaluannya sendiri yang menyembul di selangkangan di antara dua belahan pantatnya. Kembali Murami menghadap ke cermin. Ia bisa melihat kemaluannya sendiri yang sudah ditumbuhi rambut. Ia perhatikan juga pahanya yang padat dan panjang. Aku ini cantik ! Pikirnya. Diperhatikan juga hidungnya yang tidak mancung tapi tidak pesek. Diperhatikan bibirnya yang tipis memerah. Ditampakan sebaris giginya yang rapi yang selalu dibersihkan dengan tebu sehabis makan. Kembali matanya ke payudaranya. Payudara yang sudah pernah diremas - remas kang Pardan. Dan sekarang menjadi kesayangan kang Damijan. Murami tersenyum. Tak jemu - jemunya Murami memandangi kencantikkannya sendiri.
     Malam mulai merambah dusun. Kegelapan membuat sunyi suasana. Tak lagi ada celoteh anak - anak. Suara kodok dan cengkerik mulai keras terdengar. Lampu - lampu minyak di depan masing - masing rumah tampak berkedip - kedip. Murami keluar dari rumah dengan membawa sentolop. Dengan diterangi lampu sentolop yang sebentar dinyalakan sebentar dipadamkan Murami melewati pematang menuju gubuknya Pardan untuk menemui Pardin. 
     Pardin menuangkan teh panas yang sengaja dibawa dari rumah  dicangkir  kaleng dan mengulurkan kepada Murami yang duduk menghadap dirinya. Murami tidak asing dengan gubuknya Pardan yang ketika Pardan masih hidup gubuk inilah saksi bisu cinta mereka berdua. Saksi bisu mengalirnya kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan ketika mereka saling meraba bagian - bagian sensitif di tubuhnya. Murami minum teh panas. Tubuhnya jadi hangat. Rasa dingin udara yang mengenai tubuhnya sedikit terusir. " Aku sudah siap mendengarkan apa yang akan diomongkang kang Pardin, kang. Aku sudah tak sabar untuk tahu, kang. Sebaiknya kang Pardin segera memulai saja ". Murami meminta Pardin agar segera membuka apa yang akan diomongkan. " Begini, Mi " Pardin memulai kalimatnya. " Aku sangat tidak setuju jika kamu berhubungan dengan Damijan. Terus terang aku mencurigai Damijan. Hilangnya nyawa kang Pardan, Damijan-lah yang melakukannya ". Kalimat Pardin ini benar - benar membuat kaget Murami. " Buktinya Mi, begitu kang Pardan meninggal Damijan-lah yang langsung mendekatimu. Bahkan ketika kamu masih berpacaran dengan kang Pardan, Damijan terus tetap mendekati kamu ". Sambil meluncurkan kalimat - kalimat itu Pardin sambil menatap Murami yang wajahnya hanya diterangi lampu minyak di dalam gubuk. " Mi. kang Pardan waktu itu tidak sakit. Kang Pardan selalu sehat dan kuat. Tapi tiba - tiba kang Pardan pulang dari bepergian entah dari mana jatuh tersungkur di depan rumah dan pingsan lalu meninggal. Coba kamu pikirkan kata - kataku ini  ". Kemudian Pardin terdiam. Matanya tak lagi menatap wajah Murami tetapi menatap kegelapan di luar gubuk. Mulut Murami terkunci rapat. Tak ada kata - kata yang bisa tersusun menjadi kalimat untuk menanggapi kalimat - kalimat Pardin. Murami bingung. Benarkah kecurigaan kang Pardin itu ? Kalau benar ketemu akal juga. Tetapi mungkinkah orang sebaik kang Damijan tega berbuat begitu terhadap kang Pardan. Rasanya tidak mungkin kang Damijan berbuat demikian. Itu hanya reka - reka pikiran kang Pardin. Tapi lalu siapakah yang mencederai kang Pardan ?  Kang Pardan memang tidak pernah mengeluh sakit. Tidak pernah nampak tidak sehat. Benarkah meninggalnya kang Pardan yang begitu mendadak itu karena dicederai orang ? Bukan karena sakit jantung seperti yang dikatakan warga ? Murami menjadi ingat akan sayangnya Pardan pada dirinya. Pardan Begitu mencintainya. Begitu menyanginya. Begitu mengasihinya.  Ingat itu Murami tidak bisa menahan menetesnya air mata. Murami hanya bisa menunduk. Air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Melihat Murami tertunduk dan menangis, Pardin menggeser duduknya dan segera memeluk Murami. Yang dipeluk tak merasakan apa - apa. Di dalam pikiran Murami berkecamuk antara Pardan dan Damijan. Pardan yang telah tiada dan yang pernah mencintainya. Damijan yang sekarang memacarinya dan begitu sayang pada dirinya. Dan Damijan yang sekarang dituduh Pardin telah membunuh Pardan yang pernah menjadi kekasihnya. Pikiran dan perasaan yang bercampur bawur mengobok - obok benaknya menyebabkan  Murami tak lagi menyadari tubuhnya yang dipeluk Pardin. 
     Pardin merasakan kehangatan tubuh Murami. Pardin merasakan payudara Murami menyentuh dan menekan dadanya. Pardin yang pernah berpacaran dengan Wunilah dan patah hati karena Wunilah dijodohkan orang tuanya dengan pemuda lain desa, dan pernah pula Pardin punya pengalaman berpacaran dengan Wunilah, Murami yang ada dipelukkanya tiba - tiba menyebabkan gairah kelelakiannya muncul. Pardin kemudian menempelkan bibirnya di pipi Murami. Tangannya mulai merayap menggerayangi buah dada Murami. Murami yang terus memikirkan antara Pardan dan Damijan tidak sadar kalau yang memeluknya adalah Pardin. Pardin yang bukan apa -apanya. Didalam pikirannya yang memeluknya adalah Pardan dan Damijan. Serasa Damijan sedang menyangnya. Sesaat dirasakan Pardan sedang mencium bibirnya. Dirasakannya payudaranya sedang diremas - remas Pardan dan rasanya lehernya sedang di endus - endus Damijan. Murami melenguh. Murami tidak menyadari kalau yang sedang melakukan itu Pardin. Murami begitu pasrah di pelukan Damijan dan tiba - tiba begitu pasrah di pelukan Pardan. Sementara itu Pardin semakin nekat karena Murami begitu pasrah dipelukkannya. Pardin tidak tahu apa yang sedang ada di bawah sadar Murami. Tangannya yang menelusup di dada Murami dan disana meremas - remas mulai turun ke bawah dan menuju selangkang Murami. Murami melebarkan bukaan pahanya untuk memberi kesempatan tangan Damijan menuju kemaluannya. Ketika tangan Pardin telah sampai di selangkangnya, Murami begitu menikmati dalam pikiran bawah sadarnya Pardan sedang mencoba memberi kenikmatan bagi dirinya. Pardin yang sudah mengelus, dan menekan - nekan kemaluan Murami, bahkan sudah sempat jarinya menerobos masuk ke dalam celana dalam dengan gencar terus menggelitik kemaluan Murami. Sementara itu burungnya dipepet - pepetkan di tubuh Murami yang kadang - kadang menggelinjang kenikmatan. Dan semakin lama semakin terasa enak dan berkedut maninya berontak menyentak segera akan keluar. Disaat Murami menggelinjang kedua kalinya disaat itulah Pardin mengejang dan memeluk tubuh Murami kuat - kuat dan burungnya memuntahkan mani di dalam celananya. Pardin yang berteriak menyebut namanya menyadarkan Murami dari keterlenaannya. Murami tersadar. Murami sangat kaget ternyata bukan Pardan yang mencubunya. Ternyata bukan Damijan. Dengan kuat Murami mendorong tubuh Pardin menyebabkan Pardin terjengkang dan jatuh. Murami segera meraih sentolop dan lari meninggalkan Pardin yang kebingungan tetapi puas karena maninya tumpah ruah membasahi celana dan selangkanganya sendiri. 
     Pardin yang baru saja bisa menikmati tubuh Murami, yang kemarin - kemarin tidak pernah ada rasa dengan Murami, tiba - tiba di hatinya terbit rasa cinta. Pikirannya melayang ingin memiliki Murami. Tiba - tiba jantungnya berdegup. Tiba - tiba ada rasa rindu pada Murami. Tiba - tiba ada rasa sayang yang sangat mendalam kepada Murami.

bersambung kebagian enam ..........................