Minggu, 27 November 2011

Bau Lawean



Bau Lawean 


                                                                                          edohaput


Bagian delapan 

     Damijan telah melamar Murami. Bahkan keluarga Damijan dan keluarga Murami telah menentukan hari pernikahan antara Damijan dan Murami. Hari baik telah dipilih dan disepakati kedua keluarga. Hari baik itu akan segera sampai. Tinggal menunggu hitungan hari. Masing - masing keluarga telah siap mengadakan hajadan pernikahan. Di keluarga Murami hajadan pernikahan akan dilaksanakan semeriah mungkin. Keluarga Murami telah menghubungi pengusaha layar tancap. Layar tancap akan digelar semalaman untuk memeriahkan malam pernikahan Murami dengan Damijan. Dua judul film yang akan diputar pada malam pernikahan nanti telah ditentukan. Telah dipilih Nyi Blorong dan Bernapas Dalam Lumpur yang masing - masing dibintangi oleh Suzana. Layar tancap adalah hiburan mewah bagi warga dusun. Akan digelarnya layar tancap pada malam pernikahan Murami  telah tersiar sampai di tetangga dusun. Warga pasti akan tumpah ruah di halaman rumah Murami yang luas bagai lapangan untuk menyaksikan film yang disorotkan di layar tancap. Lima hari kemudian setelah hajadan dilaksanakan oleh keluarga Murami, di keluarga Damijan bakal tak kalah meriahnya dalam acara ngunduh mantunya. Keluarga Damijan akan menggelar pertunjukan ketoprak semalam suntuk. Kelompok ketoprak dari kota telah pula dihubungi oleh keluarga Damijan. Pada hari - hari pernikahan Damijan dan Murami dusun akan gegap gempita oleh tontonan. 
     Murami yang sangat berbahagia hari pernikahannya akan segera sampai merasakan hari - hari yang dilalui sangat berjalan lambat. Murami ingin hari - hari berjalan cepat. Murami ingin pagi segera berganti siang dan berganti sore dan kemudian malam dan seterusnya. Semakin hari - hari menunggu diharapkan cepat berlalu, semakin lambat rasanya hari berganti. Disiang hari Murami banyak gelisah, dan dimalam hari tidak bisa tidur. Satu - satu yang bisa membuat perasaannya tenang apabila sedang bersama Damijan. Dan ketika berpisah dengan Damijan lagi - lagi Murami gelisah dan ada perasaan was - was yang tidak beralasan. Dengan semakin dekatnya dengan hari pernikahan justru Damijan jarang menemui Murami. Ketika hari pernikahan belum ditentukan setiap dua hari sekali Damijan pasti menemui Murami dan mengajaknya ke gubuk. Tetapi menjelang hari pernikahannya karena Damijan memang disibukan oleh berbenah di rumahnya, maka kesempatan untuk menemui Murami menjadi tertunda. Apalagi Damijan jadi sering ke kota bersama keluarganya untuk ini dan itu terkait dengan hari pernikahannya nanti. 
      Perasaan was -was yang tidak beralasan selalu mengganggu Murami ketika akan berangkat tidur. Kegelisahan Murami yang semakin  menjadi - jadi saat malam tiba sangat menghantuinya. Bila sedang merasakan begitu Murami ingin malam cepat berlalu. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Malam berjalan lambat. Rasa kantuk tiba - tiba hilang. Berganti dengan perasaan yang gundah. Pikirannya hanya pada Damijan. Damijan sedang melakukan apa. Damijan sedang ada dimana. Jika sudah demikian rasanya Murami ingin berlari menemui Damijan. Tetapi itu tidak mungkin dilakukan. 
     Pagi hari cerah. Matahari bersinar tanpa tertutup kabut yang biasanya menyelimuti pedusunan. Murami dan Damijan di rumah Murami menunggu kedatangan juru rias pengantin dari kota yang memerlukan datang ke rumah Murami untuk menemui Murami dan Damijan agar bisa memilih pakaian pengantin mana yang nanti akan dikenakan pada hari pernikahan. Juru rias pengantin akan memperlihatkan foto - foto pakain pengantin yang bermacam - macam bentuk dan modelnya. Murami dan Damijan akan memilih yang cocok dengan selera mereka. Juru rias akan datang jam sepuluh. Murami dan Damijan menunggu sambil menikmati kue serabi yang dibuat Raminem mboknya Murami. " Kang, perasaanku kok selalu aneh bila aku jauh dari kang Damijan ". Kata Murami serius sambil mengunyah serabi. " Aneh gimana ta, Mi ? " Tanya Damijan yang juga sambil menguyah kue serabi yang empuk dah gurih. " Aku tu kalau lagi jauh sama kang Damijan ada perasaan was - was. Kayak mau kehilangan kang Damijan, gitu lho, kang ". Jawab Murami sambil membenahi sikap duduknya dari bersimpuh menjadi bersila. Dengan demikian maka roknya jadi tertarik ke atas pangkal paha. Sehingga Damijan yang duduk di depannya menjadi bisa melihat celana dalam Murami yang putih bersih. Dan di balik celana dalam itu ada sesuatu yang membusung dan terbelah di tengah. " Halah gitu saja kok aneh ta, Mi. Ya lumrah saja ta. Karena pernikahan kita tinggal menunggu hitungan hari dan kamu memikirkan aku terus ya itulah yang kemudian ada di pikiranmu. Was - was ". Kalimat Damijan menjadi panjang. " Iya ya, kang. Karena aku tiap detik mikirkan kang Damijan jadi aku was - was ya, kang. Tapi anehnya was - wasku itu kok rasanya aku ini mau ditinggalkan kang Damijan selama - lamanya ta, kang ". Kalimat Murami juga menjadi panjang juga. " Hus ...! Tidak usah aneh - aneh, Mi !". Damijan ingin menyudahi percakapan yang tidak mengenakan rasa.
     Juru rias yang cantik dan bahenol datang bersama pak Samino. Sudah lama juru rias pengantin yang cantik ini menjanda. Kemudian menjadi gendakannya pak Samino. Bagi warga dusun yang menyelenggarakan acara pernikahan pasti juru riasnya bu Sarinti ini. Selain murah pakaian dan dandanan temantennya sangat banyak macamnya. Pak Samino selalu mempromosikan bu Sarinti kemana - mana.  Semakin banyak order diterima bu Sarinti semakin banyak pula kesempatan bagi pak Samino untuk bersama bu Sarinti.  Bahkan pak Samino-lah yang menyuplai modal untuk bu Sarinti. Bu Sarinti yang berpayudara besar, berpantat sintal, berkulit kuning langsap, dan berparas cantik ini menjadi gula - gula pak Samino. Pak Samino sangat menyayangi bu Sarinti. Selain cantik dan selalu memberikan kepuasan, bu Sarinti tidak banyak merepotkan pak Samino. Bu Sarinti terampil mencari rejeki. Tanpa banyak keluar uang pak Samino sudah bisa mendapatkan mainan yang sangat menyenangkan.
     Pak Samino sangat dipuaskan oleh bu Sarinti dalam hal persenggamaan. Karena selain tubuh bu Sarinti yang memang aduhai juga bu Sarinti sangat pintar melayani lelaki. Pak Samino sangat ketagihan. Tiga hari tak ketemu dan bermain dengan bu Sarinti pak Samino sudah kelabakan. Isteri - isteri pak Samino yang rata - rata sudah berusia di atas lima puluh tahun tak lagi menjadi pemuas pak Samino yang masih sangat menggebu.
     Murami dan Damijan segera sibuk dengan melihat foto - foto pakaian pengantin yang macam dan gayanya banyak sekali. Murami dan Damijan yang hanya akan mengenakan satu macam pakaian sempat bingung memilih. " Sudah pilih yang mana jangan bingung, Mi ". Kata pak Samino yang duduk dempet dengan bu Sarinti. " Yang ini saja, Mi ". Kata Damijan sambil menunjuk foto pakaian temantin. " Ya sudah aku manut kang Damijan ". Kata Murami. " Nah gitu, jadi cepet rampung. Ini Bu Sarinti dan aku segera akan pergi lagi ". Kata pak Samino sambil tersenyum. " Pergi kemana pak ? " Tanya Murami. " Ah ...kamu Mi...Mi...mau tahu saja ....". Jawab pak Samino sambil tertawa lebar. Bu Sarinti menimpali : " Mas Samino ini kalau sudah tiga hari dak tak layani bingung, Mi ". Pak Samino yang dibuka rahasianya malah tertawa semakin lebar. Lalu katanya : " Maka kamu nanti kalau sudah menjadi isteri Damijan, jangan lupa layani terus Damijan sampai puas, Mi ". Kalimat Pak Samino ini membuat seisi ruangan menjadi tertawa lepas.
     Pak Samino dan bu Sarinti meninggalkan rumah Murami. Mereka berbocengan sepeda motor melaju meninggalkan dusun.
     Murami dan Damijan yang mengantar kepergian pak Samino dan Bu Sarinti di halaman segera kembali masuk ke rumah. Murami langsung menarik tangan Damijan dan diajak masuk ke kamar Murami. " Tenang kang, ini simbok dan bapak baru akan pulang siang nanti, ayo kang ! " Murami manja. Di dalam kamar mereka segera berpelukan. Damijan mencium Murami dengan lembut dan sayang. Tangan Damijan yang mengelus rambut Murami oleh Murami diturunkan ke arah dadanya. Dan tangan Murami yang satunya membuka kancing baju yang menutup dadanya. Dengan demikian dengan mudah tangan Damijan menelusup ke kain yang di kenakan Murami di bagian dada. Damijan segera mengelus dan meremas lembut payudara Murami berganti - ganti. Beberapa saat tangan Damijan di dada Murami segera meluncur turun ke arah paha Murami. Murami yang menaikkan kainnya setinggi paha dan mengambil posisi ngangkang. Membuat tangan Damijan mudah sekali menemukan kemaluan Murami yang sedikit belahan bibirnya membuka karena mengangkang. Jari tangan Damijan bermain di kemaluan Murami. Murami merasakan keenakan. Tangan Muramipun segera gerayangan mencari milik Damijan yang masih ada  di dalam sangkarnya. Reutsliting celana Damijan di buka Murami. Dan Murami berhasil merogoh burung Damijan dan mengeluarkannya dari celana. Burung yang kaku mencuat dari dalam celana menjadi mainan Murami yang mengasyikan. Karena burungnya terus dielus, dan diremas oleh tangan yang hangat dan lembut dan dirasakan sungguh nikmat, Damijan pun semakin gencar mempermainkan bibir, kelentit, dan liang kemaluan Murami. Murami hanya bisa terus melenguh nikmat. Sementara itu bibir mereka terus berpagut. Dan saling merasakan nikmat di kemaluannya masing. Burung Damijan mulai meneteskan madi. Madi adalah air mani yang pertama keluar sebelum air mani yang dibelakangnya menyemprot. Burung Damijan menjadi licin. Murami menjadi semakin asyik mempermainkannya. Begitu juga kemaluan Murami yang terus membasah membuat Damijan semakin terangsang untuk menggosok dan mengiliknya. Kedua menjadi semakin tidak tahan terhadap kenikmatan yang dirasakan. Mani Damijan menyemprot seiring dengan kedutan burungnya. Saat itu pula dua jari Damijan yang ada di dalam kemaluan Murami menekan semakin dalam dan menyentuh susuatu yang dirasakan Murami luar biasa enaknya. Maka Murami-pun segera matanya terbeliak dan kemudian mengatup rapat dan bibirnya menyedot kuat lidah Damijan dan segera melenguh hebat " Eeeeeeeemmmmmmmhhhhhhhgggg ......... ! " Dan kedua pahanya dirapatkan sehingga menjepit tangan Damijan.  Mereka segera ambruk di ranjang dan terengah - engah. Mereka berdua sangat bahagia bisa melepas rindu. Melepas rasa ingin selalu dekat. Melepas hasrat yang selalu menggebu.

bersambung ke bagian sembilan .........................



     

     

Selasa, 22 November 2011

Bau Lawean


Bau Lawean 


                                                                                          edohaput


Bagian Tujuh 

     Kesenian Tayub adalah kesenian yang paling disukai warga dusun. Kepala dusun yang sedang mempunyai hajadan mengkhitankan anak keduanya menggelar kesenian Tayub. Suara gamelan membedah suasana dusun yang selalu sunyi di malam hari. Warga tumpah di halaman rumah kepala dusun. Ledhek cantik yang berdandan menor mulai menari di atas panggung. Kain jarit membalut ledek cantik hanya sampai di batas dadanya, membuat penonton bisa melihat besarnya payudaranya yang dipoles bedak putih. Dada ledhek yang besar mengkilat tertimpa cahaya lampu - lampu  petromak yang bercahaya sangat terang. Para lelaki tua - muda mulai merangsek ke depan panggung. Mereka semakin ingin dekat melihat ledhek yang pantat besarnya mulai berputar - putar gemulai. 
     Tampilnya ledhek yang menari di panggung dengan memancing - mancing gairah kelelakian mengakhiri tembang - tembang campur sari dan dagelan yang sangat disukai anak - anak dan para perempuan. Saat mulai tampilnya ledhek para wanita dan anak - anak sudah tidak tertarik lagi. Mereka para perempuan berangsur meninggalkan halaman rumah kepala dusun. Kecuali sudah pada ngantuk karena malam sudah semakin larut,  juga karena mereka tidak suka dengan tampilan ledhek. Justru para lelakilah yang mulai panas. Mata mereka hilang kantuknya. Mereka membuka lebar - lebar matanya untuk menikmati keindahan tubuh ledhek yang gemulai menari dengan gaya yang kadang - kadang erotis memancing gairah kelelakian. Sebentar saja para perempuan dan anak - anak telah lenyap dari halaman rumah kepala dusun. Para lelaki mulai ikut berjoget. Dan lelaki yang berduit mulai naik panggung berjoget dengan ledhek. Tangannya melambai - lambaikan lembaran uang yang akan disawerkan ke ledhek. Biasanya para lelaki berduit berjoget dan mencoba mendekat ke tubuh ledhek. Kadang sempat juga mencium pipi ledhek sambil tangannya menelusupkan lembaran uang di belahan dada besar sang ledhek yang bibirnya terus tersenyum menyemangati para lelaki yang akan naik ke panggung untuk menyawer.
     Pak Samino orang terkaya di dusun naik ke panggung. Pak Smino langsung ngibing ledhek. Di tangan pak Samino terlambai - lambaikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Pak Samino terus menari mengitari ledhek. Sang ledhek semakin erotis saja menggoda pak Samino. Sonder atau selendang yang dipergunakan oleh ledhek untuk menambah indahnya gerak tari sudah melingkar di leher pak Samino. Oleh sang ledhek selandang ditarik - tarik sehingga wajah pak Samino semakin dekat dengan wajah sang ledhek. Pak Samino mulai menyawer. Menelusupkan uang lembaran lima puluh ribuan di belahan dada sang ledhek. Pak Samino bisa menyentuh buah dada sang ledhek yang besar menonjol di dadanya. Setiap ada kesempatan dan seirama dengan bunyi gendang dan gamelan pak Samino bisa mencium pipi sang ledhek dan kemudian menyelipkan lembaran uang di dada ledhek.
     Para lelaki yang juga ingin nyawer yang masih ada di bawah panggung tak ada yang berani naik ke panggung selama pak Samino masih berada disana. Mereka yang pada umumnya hanya menyawer dengan lembaran puluhan ribu takut tidak memperoleh tanggapan dari ledhek, karena ledhek pasti hanya melayani pak Samino yang di tangannya ada banyak lembaran lima puluhan ribu. Mereka menunggu pak Samino turun  dengan ledhek dan turun panggung.
     Pak Samino yang terus berjoget ngibing dengan ledhek mulai sudah sangat bergairah dan panas. Cara nyawer pak Samino semakin berani. Ada kalanya sempat pegang pantat. Merangkul, mencium pipi bahkan nekat memeluk ledhek. Sambil tetap berjoget pak Samino mulai menyampaikan maksudnya : " Ni, ayo kita sudahi saja joget kita ini " Kata pak Samino berbisik kepada ledhek yang bernama Parini di sela - sela nyawernya. Parini mengedipkan mata tanda setuju. Ia tahu maksud pak Samino. Pasti akan mengajaknya di tempat gelap. " Ni, nanti habis berjoget ini terus pamit sama kelompokmu kalau mau pipis. Aku sudah bilang Kadus agar kamu diantar ke kamar mandi belakang. Aku sudah menunggu disana ". Parini tidak menjawab hanya matanya berkedip - kedip tanda setuju. Pak Samino lalu turun dari panggung. Parini memberi kode kepada ledhek lain agar menggantikannya berjoget di panggung. Parini turun panggung digantikan ledhek lain yang tak kalah bahenolnya. Melihat pak Samino sudah tidak lagi di panggung para lelaki berebut naik panggung untuk nyawer. Suasana menjadi semakin meriah.
     Pak Samino yang sudah berada di kamar mandi belakang rumah pak kadus sudah melepaskan celananya panjangnya. Tinggal celana kolor yang dipakainya. Ia menunggu ledhek Parini datang. Kamar mandi belakang rumah pak kadus terpisah dengan rumah induk. Dari rumah pak kadus untuk sampai kesana melewati lorong dan halaman belakang rumah. Suasana disana gelap dan  sangat sepi. Tidak berapa lama dengan diantar pak kadus ledhek Parini datang. Pak Samino membukakan pintu kamar mandi untuk Parini. Pak kadus pergi. Pak kadus sangat tahu dengan kebiasaan pak Samino. Bahkan kesenian Tayub yang diselenggarakan ini adalah bekat bantuan sumbangan pak Samino.
     Di dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu minyak kecil dan berkedip karena tiupan angin, pak Samino langsung memeluk ledhek dan menggerayangi payudaranya. " Sabar, pak. Saya mau pipis dulu ". Sambil berkata begitu Parini ledhek menaikkan kain jarit sampai ke pangkal paha. Pak Samino menjadi bisa melihat paha gempal putih milik ledhek Parini. Pak Samino menelan ludah. Ledhek parini yang tidak mengenakan celana dalam berjongkok dan pipis. Pak Samino yang sudah tak tahan ikut juga berjongkok di depan ledhek Parini dan tangannya langsung menjulur menggerayang pepek ledhek Parini yang sedang mengeluarkan pipisnya. Tangan pak Samino merasakan hangatnya kucuran pipisnya ledhek Parini. Pak Samino menciduk air dengan gayung lalu menyiramkan di pepek ledhek Parini dan tangannya menceboki pepek Parini yang besar menggunung. Ledhek Parini yang berjongkok segera diberdirikan oleh Pak Samino dan di sandarkan di dinding kamar mandi. Dengan cepat dan tak sabar Samino mencopot celana kolornya dan burung yang sudah sangat kaku mengacung mengarah ke selakangan ledhek Parini yang sudah tidak tertutup kain jarit karena kain jarit telah ditarik ke atas sampai di atas pantatnya. Lagi - lagi dengan tidak sabar pak Samino yang bertubuh kekar segera merendahkan pantatnya dan mengarahkan burung ke selangkangan Parini yang sudah membuka. Dengan sekali tancap burung pak Samino telah amblas di pepek ledhek Parini. Burung pak Samino yang besar dan panjangnya di atas rata - rata milik orang pada umumnya, membuat mulut ledhek Parini mendesis dan menganga. Sambil mencengkeram kuat tubuh ledhek Parini dan menciumi bibir dan pipinya pak Samino terus menggenjot pepek ledhek Parini dengan burungnya. Pak Samino memang tidak lagi muda. Usianya sudah kepala enam. Namum pak Samino yang tetap gemar dengan bekerja di sawah ini tetap sehat mengalahkan pemuda yang umurnya belasan tahun dalam urusan senggama. Bahkan dalam semalam pak Samino kuat menggauli dua isterinya. Dan masing - masing isterinya sangat berbahagia karena bisa dipuaskan. Bahkan boleh dikata sangat puas. Pak Samino jago memberi kepuasan pada perempuan yang digaulinya. Ledhek Parini yang dengan gencarnya terus diserang oleh pak Samino hanya bisa melenguh - lenguh, mendesis - desis, dan matanya kadang - kadang terbeliak dan kadang menutup rapat tanda menahan rasa geli enak di pepeknya, di bibirnya , di lehernya, dan di payudaranya yang tanpa ampun diserang pak Samino yang ganas. Belum lima menit ledhek Parini telah dua kali sampai ke puncak. Setiap kali sampai ke puncak ledhek Parini yang tidak ingat sedang disenggamai dimana berteriak mengaduh cukup keras. Sehingga dengan terpaksa pak Samino harus membungkam mulut ledhek Parini dengan bibirnya agar teriakannya tidak didengar orang. Pak Samino juga tidak ingin berlama - lama mengingat tempat ia melakukan senggama bukan tempat semestinya. Pak Samino juga takut akan diketahui orang. Frekwensi genjotan burungnya di pepek ledhek Parini semakin diperapat dan semakin diperkeras. Diperbuat demikian ledhek Parini yang suaminya lumpuh karena stroke menjadi sangat senang dan memperoleh persenggamaan yang luar biasa menikmatkan. Maka dengan semangatnya ledhek Parini mengimbangi gerakan ganas pak Samino dengan menggoyang - goyangkan pantatnya. Pepek Parini yang bergoyang ke kiri ke kanan kadang berputar membuat burung pak Samino ketemu dengan keragaman kenikmatan  di kedalaman pepek ledhek Parini. Tak lama kemudian Pak Samino menggeram dan memeluk tubuh sintal ledhek Parini kuat - kuat dan burungnya  ditekankan kuat masuk sehingga tanpa tersisa masuk semua di dalam pepek dan segera menyemburkan maninya. Di saat itu pula pepek ledhek Parini yang disembur mani yang luar biasa banyak, kental, hangat tak kuasa menahan nikmat. Pepeknya meradang dan bergetar lalu seperti ada yang pecah dan kembali ledhek Parini lupa ia sedang senggama dimana berteriak keras : " Paaaaaaaaaaakkkk ! " Tubuhnya meronta - ronta di pelukan pak Samino.
     Gamelan terus mendayu dan jogetan ledhek di panggung semakin panas. Para lelaki yang nyawer berganti - ganti naik turun ke panggung. Para ledhek semakin malam semakin berani dan semakin membiarkan tangan - tangan lelaki nakal menjamahinya. Yang penting semakin banyak uang yang terselip di belahan buah dadanya. Tayub baru berahkir setelah malam begitu terasa dingin tanda malam telah berlalu jauh dari tengah malam.
     Didalam perjalanan pulang ke rumah dari menonton Tayub Paijo dan Samirin dikejutkan oleh tergeletaknya  tubuh Pardin  di pinggir jalan. Tangan Pardin menggapai - gapai tanda minta tolong. Tubuhnya lemas lunglai tak berdaya. Mulutnya tak lagi kuasa mengeluarkan suara. Paijo dan Samirin yang mendapati Pardin dalam keadaan demikian segera berteriak - teriak meminta pertolongan. Para lelaki yang belum pada sampai ke rumah masing - masing segera pada berlari menuju sumber suara permintaan tolong. Mereka lalu beramai - ramai mengangkat tubuh Pardin yang tak lama kemudian pingsan untuk dibawa ke rumahnya. Tidak lama kemudian setelah memperoleh berbagai pertolongan dan upaya dari warga Pardin yang pingsan tak bisa siuman dan meninggal dunia.
     Semalam warga bersukacita menikmati Tayub, pagi harinya mereka berdukacita. Pardin pemuda yang juga suka bekerja di sawah dan banyak berbuat untuk kemakmuran desun telah tiada. Meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga yang terus bertanya - tanya sebab musabab kematian Pardin, tidak menemukan jawabannya. Warga ahkirnya berkesimpulan Pardin meninggal karena sakit jantung. Seperti meninggalnya Pardan kakaknya. Di tubuh Pardin tidak ditemukan kalau ia dianiaya orang. Tubuhnya lemas lunglai saat ditemukan, seperti ketika Pardan kakaknya meninggal. Tubuh Pardin juga pucat pasi seperti tubuh Pardan ketika meninggal. Seolah Tubuh Pardin tak berdarah. Kulitnya menjadi putih sangat pucat.
     Warga yang mencoba menghubung - hubungkan kematian Pardin dengan kegiatan - kegiatan yang dilakukannya juga tidak menemukan jawaban. Pardin tidak mempunyai musuh. Ia pemuda baik yang selalu rukun dengan pemuda lainnya. Dengan para pemuda tetangga dusunpun Pardin tidak memiliki masalah. Hanya saja Pardin semalam memang tidak lama berada di acara kesenian Tayub. Pardin hanya nampak sebentar saja ketika acara Tayub masih diisi lagu - lagu campursari dan dagelan. Kemana perginya Pardin tak ada yang tahu. Keluarganya juga menyatakan kalau Pardin sejak sore hari sampai tubuhnya ditemukan terkapar di pinggir jalan belum pulang ke rumah. Sejak sore memang Pardin berada di rumah pak kadus ikut membantu mempersiapkan pagelaran kesenian Tayub. Para pemuda juga tidak ada yang merasa diajak omong - omong oleh Pardin malam Tayub itu Pardin mau kemana. Dengan Siapa. Berkegiatan apa. Tidak ada yang tahu.
     Bagi warga yang sudah berkesimpulan meninggalnya Pardin adalah karena sakit jantung tak lagi berpusing - pusing. Pengetahuan warga dusun yang dangkal dan tak banyak mengerti tentang penyakit, selalu mengambil kesimpulan setiap orang yang matinya mendadak adalah karena sakit jantung. Tetapi bagi keluarga meninggalnya Pardin menyusul meninggalnya Pardan kakaknya adalah sebuah misteri. Mengapa Pardan. Dan mengapa sekarang Pardin. Keluarga mencoba introspeksi. Kesalahan apa telah diperbuat keluarga. Tetapi juga tidak menemukan jawaban. Bahkan keluarga juga telah merunut - runut semua keturunan. Ternyata juga tidak pernah ada yang meninggal dengan cara mendadak. Mereka berkesimpulan bahwa di keluarga mereka tidak pernah ada yang sakit jantung. Lalu dari keturunan mana Pardan dan Pardin sakit jantung. Karena sudah mentok tak lagi ada jawaban yang ketemu logika, maka keluarga berkesimpulan meninggalnya Pardan dan Pardin karena diganggu makhluk halus. Itulah satu - satunya kesimpulan yang menyebabkan mereka kemudian pasrah dan segera melaksanakan kegiatan - kegiatan ritual untuk menolak balak yang mungkin akan terjadi lagi.

bersambung ke bagian delapan .....................


     

Minggu, 20 November 2011

Bau Lawean


Bau Lawean 


                                                                                               edohaput


Bagian Enam 

     Mendengar penuturan Murami tentang perlakuan Pardin terhadap dirinya malam itu digubuk Pardan, Damijan sangat marah. Namun kemarahan dipendamnya dalam - dalam. Damijan tidak ingin kemarahannya di ketahui Murami. Malahan dengan lembut Damijan menenteramkan hati Murami yang sangat gundah. Murami sangat menyesal mengapa malam itu ia menuruti kemauan Pardin. Murami takut merahasiakan kejadian malam itu terhadap Damijan. Murami takut apabila satu saat Damijan tahu peristiwa itu tidak dari mulutnya. Bisa - bisa Damijan mengira dirinya mengkhianati cintanya. Apapun resikonya Murami harus menceritakan kejadian malam itu kepada Damijan secara jujur. " Sudahlah, Mi itu bukan salahmu. Aku tahu kok,  kalau kamu tetap mencintai aku. Sudahlah anggap itu tak pernah ada. Tak pernah terjadi. Jangan diingat - ingat. Yang penting kau dan aku tetap saling mencinta ". Kalimat - kalimat Damijan yang lembut sangat menenteramkan hati Murami. " Kang Damijan tidak marah kan, kang ?" Tanya Murami sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Damijan. Damijan mengelus rambut Murami dan mencium rambut Murami yang wangi karena habis dikeramas dengan abu merang dan kembang melati. " Buat apa aku marah, Mi ? Tidak ada gunanya kan ?"  Damijan berbohong. Yang sebenarnya Damijan amat marah. Kekasihnya yang ia cintai dan sayangi dijamah - jamah. Pardin yang sudah mengerti kalau sekarang Murami adalah kekasih hatinya, dengan berbuat begitu berarti Pardin telah menantang keberadaannya sebagai laki - laki. Di mata Damijan, Pardin adalah orang yang patut tidak dikasihani. Di pikiran Damijan, Pardin bukan orang yang memiliki sopan santun berteman. Pardin telah melanggar tatakrama persahabatnya dengan dirinya. Sangat tidak patut Pardin melakukan itu. Apalagi Pardin telah berkata - kata yang sangat tidak pantas di depan Murami. Pardin telah mengatakan kalau dirinya adalah pembunuh Pardan. Pardin telah begitu tega merendahkan dirinya di depan Murami. Murami yang ada dipelukan Damijan dan sedang dielus - elus rambutnya, mendongakkan wajahnya. Damijan melihat air mata Murami mengalir. " Kenapa kamu menangis, Mi ?" Kata Damijan sambil mengusap air mata Murami dengan punggung jari telunjuknya tangan kanannya . " Aku takut, kang. Aku takut kehilangan kang Damijan. Segara lamar aku, kang. Dan kita segera membeli layang ". Mendengar kalimat Murami ini Damijan tidak menjawab. Damijan memberikan senyuman dan menggangguk  yang membuat hati Murami sangat berbahagia. Jari telunjuk Damijan yang tadi mengusap air mata Murami kini berada di bawah dagu Murami dan dengam lembut mengangkat dagu Murami. Yang dagu diangkat menurut dan membuka bibir basahnya, karena Murami tahu Damijan akan mencium bibirnya. Damijan yang disediakan bibir merekah merah basah dengan lembut menyambutnya dengan bibirnya. Mereka berpagut dengan penuh kemesraan. Ciuman saling mencinta. Ciuman sayang dari kedua belah pihak. Murami merasakan kehangat bibir Damijan yang tidak lama kemudian sudah menikmati tambahan kenikmatan ketika lidah Damijan masuk di mulutnya dan menjulur menggelitik langit - langit mulutnya. Rasa geli nikmat di langit - langit mulutnya mengalir keseluruh bagian tubuhnya. Kulit murami menjadi merinding. Rasa geli yang membangkitkan gairah cinta mengalir sampai di kemaluannya. Murami merapat - rapatkan pahanya karena terasa ada yang mau menetes dari kemaluannya yang terasa nikmat. Damijan melepaskan ciumannya di bibir Murami. Dan mendekap tubuh Murami kuat - kuat serasa tak ingin dilepaskan. Murami yang sedang enak - enaknya menikmati ciuman Damijan marah manja ciuman Damijan dilepas. Murami mencubiti punggung Damijan yang dipeluknya. Damijan tahu itu. Kemudian tertawa. " Sebentar sayang, .... nanti aku cium lagi ... " Damijan menggoda Murami. Bibir Murami tetap menganga merekah basah menunggu Damijan menciumnya lagi. Damijan tidak segera mencium lagi Murami. Malah menatap mata Murami penuh cinta dan sayang sambil tersenyum. Murami yang tetap membuka mulutnya  menyediakan bibirnya untuk dicium jadi berganti memberengut dan memukuli manja dada Damijan dengan kepalan tangan kecilnya. Damijan kembali tertawa. Murami semakin memberengut manja. Dan Wajahnya ditundukkan. Rasa sayang Damijan bertambah - tambah apabila Murami sedang marah manja. " Sini aka cium lagi " Kata Damijan sambil mengangkat dagu Murami. Murami pura - pura tidak mau. Damijan kemudian mengelus punggung Murami dan tangan Damijan menyelusup masuk ke kain yang melekat di punggung Murami melalui celah bukaan baju bagian belakang. Damijan terus mengelus. Kehangat di punggung dirasakan Murami. Elusan tangan Damijan membuat kulit tubuhnya lagi - lagi merinding. Murami melenguh karena geli merinding dan mukanya kembali mendongak ke wajah Damijan. Bibirnya kembali disediakan untuk dicium. Damijan kembali menggoda Murami dengan tidak segera menempelkan bibirnya di bibir Murami yang telah terbuka. Kembali Murami marah manja dengan mencubiti punggung Damijan.  Damijan semakin menggoda Murami. Elusan tangannya merambat ke bawah ke pantat Murami. Disana tangan Damijan meremas - remas halus pantat Murami. Yang dielus dan diremas pantatnya menjadi semakin merinding. Murami megangkat sedikit pantatnya dengan maksud tangan Damijan segera berada di bawah pantatnya dan menyentuh kemaluannya. Tetapi Damijan tak segera melakukannya. Kembali Murami mencubiti punggung Damijan. Damijan tahu kalau Murami mengharap kemaluannya segera disentuh. Lagi - lagi Damijan menggoda. Tangan Damijan tidak segera merayap ke bawah pantat Murami  walaupun Murami sudah mengangkat - angkat pantatnya untuk memberi peluang. Murami menjadi sangat gemas. Kedua tangannya yang mendekap punggung Damijan segera beralih ke tengkuk Damijan dan menurunkan kepala dan wajah Damijan menjadi sangat dekat dengan wajahnya dan bibir Damijan menempel di bibirnya. Dengan gemasnya pula Murami menyambut bibir Damijan dengan bibirnya yang langsung melumat bibir Damijan. Dalam hati kasihan juga Damijan kepada Murami yang tadi telah memutus kenikmatan Murami. Lumatan bibir Murami dibalasnya dengan ciuman yang penuh sayang. Kembali langit - langit mulut Murami dirambah - rambah dan digelitik dengan lidahnya. Dan tangan Damijan yang sedari tadi hanya meremas - remas pantat, telah memanfaatkan peluang yang diberikan Murami dengan sedikit mengangkat pantatnya. Tangan Damijan telah berada di kemaluan Murami. Murami menggelinjang ketika kemaluannya telah dielus - elus Damijan dan bibir kemaluannya telah disibak - sibakkan oleh jari - jari Damijan untuk ditemukan liang senggamanya. Jari  Damijan berhasil menemukan liang senggama Murami yang sempit. Disana Jari Damijan menggelitik. Mencarai - cari yang biasanya kalau itu tersentuh jarinya Murami lalu melenguh dan menggelinjang hebat. Dan Damijan rupanya menemukannya.  Murami melenguh dengan tetap bibirnya di tutup oleh bibir Damijan. Murami kembali menggelinjang dan matanya sebentar merapat sebentar terbeliak ketika jari Damijan telah  bertemu dengan yang diinginkannya.  Murami medekap sangat serat tubuh Damijan dan kemaluannya menjadi sangat membasah. Murami orgasme. Damijan tahu itu. Sementara itu burung Damijan yang telah sangat membesar dan sangat kaku disodok - sodok ke paha Murami. Murami tahu kalau Damijan sudah begitu ingin burungnya dipeganggnya dan dikocoknya. Murami balas dendam. Murami menggoda Damijan dengan tidak segera memegangi burung Damijan. Damijan terus menyodokkan burungnya dan ciuman dibibirnya semakin ganas saja. Tetapi Murami sengaja membiarkan burung Damijan disodok - sodokan ke pahanya. Murami merasakan kemaluannya diremas Damijan dengan sedikit kuat. Murami tahu Damijan sedang memerintahnya untuk segera menggenggam burungnya. Murami terus menggoda Damijan dengan tidak segera tangannya ke burung Damijan. Damijan yang burung tidak segera di pegang Murami kelabakan. Dalam hati Murami tersenyum geli kekasihnya kelabakan. Dan Murami merasa senang bisa membalas Damijan yang tadi sempat pula menggodanya. Damijan yang semakin kelabakan segera merebahkan tubuh Murami dan segera ditindihnya. Dan tangan Damijan dengan sigap memelorotkan celana kolornya sendiri dan burungnya mencuat keluar. Murami yang menjadi rebah terlentang segera membuka selangkangannya dengan membuka kedua pahanya. Murami yang juga sudah kembali dirambati lagi gairah cintanya yang sempat tadi telah sekali sampai ke puncak menyediakan kemaluannya untuk burung Damijan. Damijan yang sudah diatas tubuh Murami menempelkan burungnya di kemaluan Murami dari luar celana dalam dan menekan - nekannya. Kehangatan basahnya kemaluan Murami dirasakan ujung burung Damijan. Murami menggoyang - goyangkan pantatnya dengan maksud agar burung Damijan terpeleset di celana dalamnya dan menusuk kemaluannya. Damijan tahu maksud Murami. Tetapi Damijan tidak mau melakukannya. Kemaluan Murami akan ditusuknya nanti di malam pengantin. Maka dengan kakinya Damijan segera merapatkan paha Murami. Dengan demikian maka burung Damijan terjepit oleh paha Murami tetapi masih bisa menyentuh permukaan kemaluan Murami ketika burungnya disodokkan. Damijan merasakan jepitan paha hangat Murami sungguh nikmat. Burung menjadi semakin membengkak dan serasa mau meledak. Mani menumpuk membuat burung berkedut - kedut untuk segera memuntahkan cairan kenikmatannya. Murami yang merasakan geli di pahanya yang tergesek oleh burung Damijan yang bergerak naik turun semakin mengangkat - angkat pantatnya agar permukaan kemaluannya bisa terus tersodok ujung burung Damijan. Kemaluan Murami merasakan sangat enak ketika burung Damijan menyodoknya. Murami merasakan kemaluannya begitu pegal meradang seolah ada yang mau pecah. Begitu Juga Damijan yang burung terjepit paha dan menyentuh - nyentuh celana dalam Murami tepat di permukaan kemluan Murami yang basah, semakin tidak tahan. Burungnya digerakkan semakin cepat dan semakin kuat. Dan Damijan mengejang sambil menekankan kuat - kuat burung dijepitan paha. Dan maninya muncrat meleleh - leleh di permukaan kemaluan Murami yang masih teralasi celana dalam. Kuat sekali Damijan mendekap tubuh Murami karena kenikmatannya tak terperikan. Sementara itu Murami celana dalam Murami yang terguyur oleh mani Damijan tepat di permukaan kemaluannya juga tiba - tiba dengan kuatnya menggelinjang membarengi kejangnyan Damijan. Murami merasakan permukaan kemaluannya sangat hangat oleh mani Damijan dan membuat rasa di kemaluannya yang sedari tadi meradang mau pecah tak lagi tertahankan. Muramai menggeliat - geliat dan mengangkat pantatnya dan mempertemukan kemaluannya yang masih tertutp celana dalam dengan burung Damijan yang masih terus mengucurkan mani. Keduanya saling mendekap. Ciuman bibirnya tak lepas. Masing - masing saling menggelenjotkan kakinya dan menimbulkan suara kresek - resek yang sangat keras di kasur ijuk gubuk Damijan.
     Rembulan yang belum genap separo telah menggelincir ke arah barat. Bintang dilangit abyor berkelip menambah indahnya larut malam. Udara pegunungan menjadi tambah dingin kekes. Dengan dituntun Damijan Murami menapaki pematang sawah untuk pelang ke rumah. Mereka bergandeng tangan. Bergandengan hati. Bergandengan rasa. Bergandengan dengan cinta - cinta yang ada di hati mereka masing - masing. Cinta dan kasih sayang yang menggelora. Yang membuat mereka saling berbahagia. Saling merindukan walau tangan mereka telah bergandengan. Saling ingin berdekat walaupun tubuh mereka telah tidak berjarak. Saling ingin memberi kasih walaupun mereka telah terus saling memberi dan menerima. Cinta mereka bagai laut dengan daratan yang sangat sulit dipisahkan. Cinta mereka sejuk bagai embun malam itu yang membasahi dedaunan tumbuhan di sawah.
     Damijan akan segera melamar Murami. Damijan telah siap segalanya. Rumah ada. Sawah ladan ada dan cukup. Damijan akan selalu membahagiakan Murami. Damijan tidak akan membuat Murami sedih. Damijan tidak akan membuat Murami kekurangan. Damijan  bercita - cita selalu menggembirakan Murami. Damijan akan meneteskan kasih sayang ke Murami yang akan melahirkan  anak - anak mereka di kelak hari nanti. Damijan akan hidup berdampingan selama - lamanya dengan Murami. Membesarkan dan membahagiakan anak - anak mereka. Damijan sungguh berbesar hati dan berbahagia bisa memiliki Murami. Murami tidak boleh lepas dari pelukkannya.
     Damijan sangat takut kehilangan Murami. Pardin teman  yang diakarabinya tiba - tiba telah meracuni Murami agar menjauhi dirinya. Pardin teman sedusun yang selalu bahu -  membahu dengan dirinya memajukan dusun telah mencoba merusak hubungan cintanya dengan Murami. Damijan yang akrab dengan siapa saja, sekarang menjadi membenci Pardin. Pardin yang telah menebar omongan - omongan jahat di depan Murami tentang dirinya tiba - tiba dibencinya. Pardin yang telah mencuri kesempatan ketika dia meninggalkan dusun beberapa hari telah berusaha mempengaruhi Murami agar manjauhinya. Bahkan Pardin telah nekat menjamah - jamah Murami. Wanita yang telah dicintainya. Wanita yang telah menyatu hati dengan hatinya. Dalam pikiran Damijan Pardin akan merusak hubungan dengan Murami. Pardin akan selalu menjahatinya. Pardin akan menjadi duri yang semasa - masa bisa menyakiti dirinya. Pardi adalah batu sandungan yang yang harus disingkirkan.
     Damijan mengantar Murami sampai di depan pintu rumahnya. Damijan memeluk Murami dan mencium pipi Murami dengan lembut dan penuh cinta. Kalimatnya lirih diucapakan : " Mi, jangan dengarkan omongan Pardin. Jangan dekati Pardin. Menjauhlah darinya. Pardin akan menjahati kita. Mi aku cinta padamu. Aku sangat menyayangimu " Sekali lagi Damijan mencium pipi Murami. " Ya, kang. Aku akan mematuhi kang Damijan. Aku selalu kangen kang Damijan. Besuk malam kita ke gubuk lagi kan, kang ?" Jawab Murami yang diahkiri dengan pertanyaan dan diucapkan dengan kemanjaannya sambil tersenyum cantik sekali. " Ya...ya...ya..Mi besuk kita ke gubuk lagi " Jawab Damijan sambil kembali mencium pipi Murami dan segera melepaskan pelukannya kemudian melangkah meninggalkan Murami di depan pintu rumahnya.

bersambung kebagian tujuh .............................
     
     

     

Jumat, 18 November 2011

Bau Lawean

Bau Lawean 


                                                                                   edohaput 


Bagian Lima 

     Mengetahui Murami semakin hari semakin dekat saja dengan Damijan, Pardin adik Pardan kecurigaannya kepada Damijan semakin besar. Apalagi Pardin mendengar selentingan kalau Damijan segera akan melamar Murami, Pardin semakin meyakini kalau yang menyebabkan hilangnya nyawa kakaknya adalah Damijan. Pardin mengetahui kalau Damijan dan Murami hampir tiap malam berpacaran di gubuk. Pardin juga tahu kalau sebenarnya Damijan menyukai Murami sejak lama. Sejak Murami belum menjadi pacar Pardan kakaknya. Bahkan ketika Murami sudah menjadi pacar kakaknya pun Damijan masih terus mengharap Murami menjadi miliknya. Siapa lagi kalau bukan Damijan yang mencederai kakaknya sampai meninggal dunia. Damijan membunuh kakaknya demi mendapatkan Murami. Kecurigaan Pardin terhadap Damijan semakin hari semakin besar saja. 
     Satu siang Pardin menemui Murami. " Tumben kang Pardin nyari saya, ada apa kang ?" Sapa Murami ketika Pardin sudah duduk di lincak teras rumah Murami. " Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu, Mi " Jawab Pardin dengan muka sedikit masam. " Tapi tidak disini, Mi. Aku mau pembicaraan kita tidak didengar orang lain, Mi ". Lanjut Pardin. " Wah ... kok aku jadi deg - degan saja kang, apa ta yang mau dibicarakan kang Pardin ?" Tanya Murami. " Nanti malam saja, Mi. Kamu saya tunggu di gubuk kang Pardan ". Jawab Pardin serius. " Mbok disini saja sekarang, kang. Tidak ada orang kok. Bapak dan simbok lagi ke sawah kok, kang ". Pinta Murami. " Tidak, Mi. Ini penting. Kamu harus tahu. Nanti saja di gubuk. Tak tunggu ya, Mi, nanti malam ". Berkata begitu Pardin beranjak dari duduk dan segera meninggalkan Murami yang mau menolak ajakan Pardin tapi Pardin segera pergi meninggalkan Murami. 
     Apa yang akan diomongkan kang Pardin ? Murami penasaran. Sepertinya penting sekali. Tentang kang Pardan yang sudah meninggal ? Atau tentang hubungannya dengan kang Damijan. Atau barangkali justru kang Pardin mau menyukai dirinya ? Kenapa harus diomongkan di gubuk ? Kenapa kang Pardin tadi tidak mau ngomong langsung ? Apakah kang Pardin tahu kalau hari ini kang Damijan sedang pergi beberapa hari ke rumah saudaranya yang sedang mempunyai hajadan ? Sehingga mendapat kesempatan untuk mengajak dirinya ke gubuk ? Apa maksud kang Pardin sesungguhnya ? Untuk menemukan jawabannya dirinya harus datang ke gubuknya kang Pardan malam nanti. 
     Sore itu sehabis mandi dengan tubuh yang hanya dibalut handuk Murami masuk ke dalam kamarnya untuk ganti Baju. Malam ini ia harus mengenakan baju yang agak tebal agar nanti malam ketika menemui kan Pardin di gubuk tidak kedinginan. Tidak sengaja tiba - tiba handuk terbuka dan melorot ke bawah. Murami sengaja tidak meraih handuknya yang melorot. Tak ada yang melihat. Di dalam kamar sendirian. Murami telanjang. Murami tersenyum ketika melihat dirinya yang utuh telanjang di cermin lemari. Murami mengagumi tubuhnya sendiri. Lengannya panjang. Rambutnya sebahu. Di dadanya ada buah dada yang kecang berdiri menggunung dengan puting yang masih kecil memerah. Murami mengamati perutnya yang rata tanpa ada lipatan kulit sampai di pusarnya. Murami Mebalikkan tubuhnya memperhatikan pantatnya. Pantat yang menyembul dan terbelah. Murami Membungkuk. Terlihat oleh dirinya disela belahan pantatnya kemaluannya yang bibirnya mengatup. Murami membungkuk dan kakinya kangkang. Murami melihat bibir kemaluan sedikit terbuka dan ia melihat kemaluannya sendiri yang menyembul di selangkangan di antara dua belahan pantatnya. Kembali Murami menghadap ke cermin. Ia bisa melihat kemaluannya sendiri yang sudah ditumbuhi rambut. Ia perhatikan juga pahanya yang padat dan panjang. Aku ini cantik ! Pikirnya. Diperhatikan juga hidungnya yang tidak mancung tapi tidak pesek. Diperhatikan bibirnya yang tipis memerah. Ditampakan sebaris giginya yang rapi yang selalu dibersihkan dengan tebu sehabis makan. Kembali matanya ke payudaranya. Payudara yang sudah pernah diremas - remas kang Pardan. Dan sekarang menjadi kesayangan kang Damijan. Murami tersenyum. Tak jemu - jemunya Murami memandangi kencantikkannya sendiri.
     Malam mulai merambah dusun. Kegelapan membuat sunyi suasana. Tak lagi ada celoteh anak - anak. Suara kodok dan cengkerik mulai keras terdengar. Lampu - lampu minyak di depan masing - masing rumah tampak berkedip - kedip. Murami keluar dari rumah dengan membawa sentolop. Dengan diterangi lampu sentolop yang sebentar dinyalakan sebentar dipadamkan Murami melewati pematang menuju gubuknya Pardan untuk menemui Pardin. 
     Pardin menuangkan teh panas yang sengaja dibawa dari rumah  dicangkir  kaleng dan mengulurkan kepada Murami yang duduk menghadap dirinya. Murami tidak asing dengan gubuknya Pardan yang ketika Pardan masih hidup gubuk inilah saksi bisu cinta mereka berdua. Saksi bisu mengalirnya kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan ketika mereka saling meraba bagian - bagian sensitif di tubuhnya. Murami minum teh panas. Tubuhnya jadi hangat. Rasa dingin udara yang mengenai tubuhnya sedikit terusir. " Aku sudah siap mendengarkan apa yang akan diomongkang kang Pardin, kang. Aku sudah tak sabar untuk tahu, kang. Sebaiknya kang Pardin segera memulai saja ". Murami meminta Pardin agar segera membuka apa yang akan diomongkan. " Begini, Mi " Pardin memulai kalimatnya. " Aku sangat tidak setuju jika kamu berhubungan dengan Damijan. Terus terang aku mencurigai Damijan. Hilangnya nyawa kang Pardan, Damijan-lah yang melakukannya ". Kalimat Pardin ini benar - benar membuat kaget Murami. " Buktinya Mi, begitu kang Pardan meninggal Damijan-lah yang langsung mendekatimu. Bahkan ketika kamu masih berpacaran dengan kang Pardan, Damijan terus tetap mendekati kamu ". Sambil meluncurkan kalimat - kalimat itu Pardin sambil menatap Murami yang wajahnya hanya diterangi lampu minyak di dalam gubuk. " Mi. kang Pardan waktu itu tidak sakit. Kang Pardan selalu sehat dan kuat. Tapi tiba - tiba kang Pardan pulang dari bepergian entah dari mana jatuh tersungkur di depan rumah dan pingsan lalu meninggal. Coba kamu pikirkan kata - kataku ini  ". Kemudian Pardin terdiam. Matanya tak lagi menatap wajah Murami tetapi menatap kegelapan di luar gubuk. Mulut Murami terkunci rapat. Tak ada kata - kata yang bisa tersusun menjadi kalimat untuk menanggapi kalimat - kalimat Pardin. Murami bingung. Benarkah kecurigaan kang Pardin itu ? Kalau benar ketemu akal juga. Tetapi mungkinkah orang sebaik kang Damijan tega berbuat begitu terhadap kang Pardan. Rasanya tidak mungkin kang Damijan berbuat demikian. Itu hanya reka - reka pikiran kang Pardin. Tapi lalu siapakah yang mencederai kang Pardan ?  Kang Pardan memang tidak pernah mengeluh sakit. Tidak pernah nampak tidak sehat. Benarkah meninggalnya kang Pardan yang begitu mendadak itu karena dicederai orang ? Bukan karena sakit jantung seperti yang dikatakan warga ? Murami menjadi ingat akan sayangnya Pardan pada dirinya. Pardan Begitu mencintainya. Begitu menyanginya. Begitu mengasihinya.  Ingat itu Murami tidak bisa menahan menetesnya air mata. Murami hanya bisa menunduk. Air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Melihat Murami tertunduk dan menangis, Pardin menggeser duduknya dan segera memeluk Murami. Yang dipeluk tak merasakan apa - apa. Di dalam pikiran Murami berkecamuk antara Pardan dan Damijan. Pardan yang telah tiada dan yang pernah mencintainya. Damijan yang sekarang memacarinya dan begitu sayang pada dirinya. Dan Damijan yang sekarang dituduh Pardin telah membunuh Pardan yang pernah menjadi kekasihnya. Pikiran dan perasaan yang bercampur bawur mengobok - obok benaknya menyebabkan  Murami tak lagi menyadari tubuhnya yang dipeluk Pardin. 
     Pardin merasakan kehangatan tubuh Murami. Pardin merasakan payudara Murami menyentuh dan menekan dadanya. Pardin yang pernah berpacaran dengan Wunilah dan patah hati karena Wunilah dijodohkan orang tuanya dengan pemuda lain desa, dan pernah pula Pardin punya pengalaman berpacaran dengan Wunilah, Murami yang ada dipelukkanya tiba - tiba menyebabkan gairah kelelakiannya muncul. Pardin kemudian menempelkan bibirnya di pipi Murami. Tangannya mulai merayap menggerayangi buah dada Murami. Murami yang terus memikirkan antara Pardan dan Damijan tidak sadar kalau yang memeluknya adalah Pardin. Pardin yang bukan apa -apanya. Didalam pikirannya yang memeluknya adalah Pardan dan Damijan. Serasa Damijan sedang menyangnya. Sesaat dirasakan Pardan sedang mencium bibirnya. Dirasakannya payudaranya sedang diremas - remas Pardan dan rasanya lehernya sedang di endus - endus Damijan. Murami melenguh. Murami tidak menyadari kalau yang sedang melakukan itu Pardin. Murami begitu pasrah di pelukan Damijan dan tiba - tiba begitu pasrah di pelukan Pardan. Sementara itu Pardin semakin nekat karena Murami begitu pasrah dipelukkannya. Pardin tidak tahu apa yang sedang ada di bawah sadar Murami. Tangannya yang menelusup di dada Murami dan disana meremas - remas mulai turun ke bawah dan menuju selangkang Murami. Murami melebarkan bukaan pahanya untuk memberi kesempatan tangan Damijan menuju kemaluannya. Ketika tangan Pardin telah sampai di selangkangnya, Murami begitu menikmati dalam pikiran bawah sadarnya Pardan sedang mencoba memberi kenikmatan bagi dirinya. Pardin yang sudah mengelus, dan menekan - nekan kemaluan Murami, bahkan sudah sempat jarinya menerobos masuk ke dalam celana dalam dengan gencar terus menggelitik kemaluan Murami. Sementara itu burungnya dipepet - pepetkan di tubuh Murami yang kadang - kadang menggelinjang kenikmatan. Dan semakin lama semakin terasa enak dan berkedut maninya berontak menyentak segera akan keluar. Disaat Murami menggelinjang kedua kalinya disaat itulah Pardin mengejang dan memeluk tubuh Murami kuat - kuat dan burungnya memuntahkan mani di dalam celananya. Pardin yang berteriak menyebut namanya menyadarkan Murami dari keterlenaannya. Murami tersadar. Murami sangat kaget ternyata bukan Pardan yang mencubunya. Ternyata bukan Damijan. Dengan kuat Murami mendorong tubuh Pardin menyebabkan Pardin terjengkang dan jatuh. Murami segera meraih sentolop dan lari meninggalkan Pardin yang kebingungan tetapi puas karena maninya tumpah ruah membasahi celana dan selangkanganya sendiri. 
     Pardin yang baru saja bisa menikmati tubuh Murami, yang kemarin - kemarin tidak pernah ada rasa dengan Murami, tiba - tiba di hatinya terbit rasa cinta. Pikirannya melayang ingin memiliki Murami. Tiba - tiba jantungnya berdegup. Tiba - tiba ada rasa rindu pada Murami. Tiba - tiba ada rasa sayang yang sangat mendalam kepada Murami.

bersambung kebagian enam ..........................





     

Selasa, 15 November 2011

Bau Lawean

cerita dewasa edohaput

Bau Lawean 

                                                                                            edohaput


Bagian empat

     Memenuhi permintaan Murami, dalam dua hari Damijan telah menyelesaikan bangunan gubuknya di sawah. Murami ingin menikmati pacarannya di gubuk, seperti ketika berpacaran dengan Pardan. Damijan menuruti dan memenuhi permintaan Murami. Gubuk di sawah yang dibuat Damijan lebih baik dari gubuk yang dibuat Pardan. Pardan membuat gubuk dengan tujuan untuk istirahat ketika lelah bekerja di sawah. Sementara Damijan membuat gubuk dengan tujuan untuk menikmati pertemuannya dengan Murami. Dengan demikian Damijan melengkapi gubuk dengan kasur ijuk, dan gubuk dibuat lebih dari sekedar gubuk. Gubuk dilengkapi dengan pintu sehingga tidak terbuka seperti gubuk yang dibuat Pardan. Gubuk lebih rapat, dan kuat. Atap gubuk yang dibuat Pardan dibuat dari jerami yang dianyam. Gubuk Damijan beratapkan genting. Gubuk yang dibuat Pardan berangka bambu dan Damijan membuatnya  dengan rangka kayu. 
     Murami pulang dari pasar kecamatan yang jauhnya dari desa  dua puluh lima kilometer. Pardan sengaja menunggu Murami di perempatan jalan desa. " Capai ya, Mi ". Sambut Pardan sambil menerima barang bawaan yang diansurkan Murami ke Damijan agar dibantu membawakan. " Ya capai banget ta, kang. Ini tadi tak ada mobil tumpangan, kang. Jadi dari pasar naik andong. Turun di pasar desa terus jalan kaki , kang ". Murami berceritera. Dari dusun ke pasar desa atau pun ke pasar kecamatan jarang sekali ada kendaraan angkutan. Yang ada hanya ojek, dan andong dan itupun harus dicarter. Kadang - kadang pada ketika hari - hari pasaran ada kendaran bak terbuka pengangkut sayuran turun naik ke desa dari pasar kecamatan. Kendaraan angkutan itulah yang sering dimanfaatkan orang desa dimana Murami tinggal untuk ke pasar kecamatan.  " Ya sudah nanti tak pijeti. Tu gubuknya sudah jadi. Nanti tak pijeti di gubuk ya, Mi ". Damijan menggoda Murami. Yang digoda hanya melirik yang menggoda dan tersenyum cantik sekali. 
      Malam mulai merangkak. Damijan sudah berada di gubuk menunggu kedatangan Murami. Rembulan separo menggantung di atas gunung. Angin malam bertiup perlahan dan hanya bisa sedikit menggoyang - goyangkan pohon jagung manis yang ditanam Damijan. Jagung bakar yang baru saja diangkat dari  api diletakkan Damijan di atas daun jati dan dibawa masuk ke gubuk. Kemudian Damijan menjerang air di atas tungku yang dibuat dari batu - batu yang ditata di samping gubuk. Api kayu bakar yang menyala menerangi gubuk. Terangnya api dilihat Murami dari kejauhan. Murami yang tahu kalau Damijan telah menunggu di gubuk berjalan agak bergegas melewati pematang yang sengaja oleh Damijan telah dibersihkan dari rerumputan. Damijan ingin Murami melawati pematang dengan nyaman. Tidak harus terserimpet rerumputan. Pematang yang bersih dari rumput dijauhi serangga, katak dan ular. Damijan ingin Murami berjalan di pematang tanpa rasa takut - takut. Damijan tidak ingin kaki Murami kena duri perdu putri malu yang banyak tumbuh di pematang yang tidak dipelihara. Damijan tidak ingin ada yang melukai Murami. 
     " Baunya jagung bakar sedep banget lho, kang ". Kata Murami setelah sampai di gubuk dan berdiri di belakang Damijan yang sedang berjongkok membenahi kayu bakar agar menyala besar untuk mendidihkan air. " Tu jagung bakarnya di dalam gubuk. Makan saja, ini airnya segera mendidih nanti tak buatkan teh " Jawab Damijan sambil menoleh ke Murami yang tersenyum manis sekali. Murami masuk ke gubuk yang di dalam diterangi lampu minyak yang menyala terang. Murami duduk dan merasakan empuknya kasur ijuk yang di pasang Damijan. " Kasurnya empuk tenan, kang !" Kata Murami manja dari dalam gubuk. Damijan tidak menanggapi komentar Murami. Ia segera mengangkat cerek dari atas tungku  dan dibawa masuk ke gubuk untuk membuat teh. " Ni, kang. Aku bawakan onde - onde oleh - oleh dari pasar tadi ". Kata Murami sambil membuka bungkusan yang berisi onde - onde. Damijan yang sejak dari kedatangan  Murami tidak begitu memperhatikan Murami, sangat terkesima setelah melihat Murami di dalam gubuk yang terang. Murami sudah melepas kain jaritnya yang tadi membalut tubuhnya bagian atas untuk menahan dininginnya udara gunung. Sehingga Damijan bisa melihat Murami yang memakai kain yang berbahan tipis transparan warna cerah. Murami yang tidak mengenakan kutang begitu terlihat payudaranya yang ada di dalam kain tipisnya. Dua buah dada yang menggunung yang mendorong maju kainnya. Damijan menjadi lupa akan keadaan. Ia menatap agak lama dada Murami. Pikirannya melayang. Ingin rasanya Damijan menutupi payudara itu agar tidak terlihat jelas. Ingin rasanya Damijan menutupkan kain jarik di pundak Murami agar buah dada itu tidak kedinginan. Damijan tidak ingin payudara Murami yang sangat indah di matanya itu dilihat semut - semut yang berbaris di tiang gubuk. Damijan ingin payudara itu hanya dia yang boleh melihatnya. Jangan ada makhluk lain ikut - ikut menikmati pemandangan yang sangat indah ini. " Kenapa kang, ada yang aneh ? " Tanya Murami yang menyadarkan Damijan dari lamunannya. Damijan gelagapan, tidak menjawab kalimat Murami, dan segera membuat teh. 
     Murami menikmati jagung bakar, Damijan menikmati onde - onde sambil sesekali menyerutup teh panas manis. " Mi, besuk Sabtu depan keluargaku akan datang melamarmu ? Gimana Mi, kamu siap ? " Kalimat Damijan memecah kesunyian di dalam gubuk yang sedari tadi hanya terdengar air teh diserutup dan jagung bakar dan onde - onde di kunyah. Yang ditanya begitu hanya tersenyum dan membusungkan dadanya karena jagung bakar yang telah menumpuk di mulut sulit ditelan karena mendengar kalimat yang begitu menyenangkan. Murami yang membusungkan dadanya karena terasa sesak di dada dilihat Damijan begitu cantiknya. Mukanya memerah, matanya terbelalak, mulutnya yang penuh jagung bakar tersenyum, dan payudaranya terangkat. Damijan menjadi melihat puting susu yang begitu mendorong kain tipis Murami. Puting susu yang kecil memerah. " Gimana, Mi ? Kamu siap ? ". Sekali lagi Murami tidak menjawab. Ia berusaha menelan jagung bakar yang di mulut. Dan kemudian menyerutup teh. Murami menatap mata Damijan yang begitu teduh dan mengharapkan jawaban ya dari dirinya. Kembali Murami tersenyum dan dari sudut matanya mengalir air matanya. Air mata kebahagian. Kemudian Murami menunduk. Air matanya meleleh di pipinya yang ranum memerah. Air mata yang tiba - tiba deras mengalir. Ada perasaan yang bahagia di hati Murami. Tetapi ada juga perasaan sedih ketika Murami ingat Pardan yang beberapa bulan yang lalu pernah juga mengucapkan kalimat serupa di dalam gubuknya. Melihat Murami begitu Damijan begitu trenyuh. Rasa sayangnya pada Murami menjadi - jadi. Rasa cintanya begitu menggelembung. Damijan beringut duduknya mendekati Murami yang tertunduk dan sedikit terisak. Damijan kemudian memeluk tubuh Murami. Dab mengusap air mata Murami dengan kain sarungnya. Murami terkulai di pelukan Damijan. Persaannya begitu damai. Begitu tenteram di pelukan lelaki yang menyintainya. " Mi ..... ". Damijan membisikan nama Murami dengan lembut di telinga Murami. Hangatnya napas Damijan dirasakan daun telinga Murami, menjadi tubuh Murami merinding nikmat. Murami mendongakkan wajah dan matanya yang basah menatap mata Damijan. Sorot mata Damijan yang begitu menenteramkan kalbunya. " Murami .... aku cinta padamu ... ".  Kalimat Damijan meluncur menambah sejuknya hati. " Kang .... aku sangat bahagia ...kang... ". Kalimat Murami yang diterjemahkan oleh Damijan sebagai tanda setuju dan siap dilamar membuat Damijan sangat berbesar hati. Maka dengan tanpa ragu - ragu segera diciumnya bibir Murami dengan penuh perasaan sayang dan perasaan cinta. Murami sangat menikmati ciuman Damijan yang dilakukan dengan lembut penuh dengan perasaan. Ingin rasanya Murami berlama - lama berciuman. Ciuman yang nikmatnya mengalir keseluruh bagian tubuhnya. Nikmatnya dirasakan pula di tengkuknya yang menyebabkan bulu romanya berdiri, di payudaranya  yang menyebabkan puting susunya menjadi kaku, bahkan dirasakannya pula di kemaluannya yang serasa bibirnya jadi membuka - buka dan di dalam kemaluannya ada yang bergetar - getar. Murami menjadi begitu terangsangnya birahinya. Murami menarik bibirnya dari mulut Damijan yang terus mengulum dan menyedot - nyedot serta menjulur - njulurkan lidahnya. " Kang aku jadi dipijeti endak kang ? " Berkata begitu Murami sambil tersenyum lebar dan sedikit keluar suara tawanya. Kalimat Murami yang ceria ini tiba - tiba mencairkan kesyahduan yang sempat mengental. Damijan tertawa juga karena ia ingat tadi siang berjanji mau mijeti Murami. Suasana menjadi sangat mencair. " Ya sudah ayo aku pijeti. Sini tengkurep !" Perintah Damijan yang juga terus diikuti dengan tengkurepnya Murami di depan Damijan duduk. Damijan begitu mengagumi pantat Murami yang menyembul. Dan celana dalamnya begitu kentara terlihat di balik kain tipis yang dikenakan Murami. Damijan memijat - mijat pantat Murami. " Lho kok pantat, kang yang dipijet ? " Kata Murami sambi tertawa. " Lho yang persis di depanku kan pantatmu, Mi " Jawab Damijan sambil tertawa. " Ya kaki dulu ta, kang. Baru nanti naik - naik ke pantat ". Kata Murami sambil tertawa juga. Damijan mulai memijit kaki Murami. Setiap ketemu otot yang kaku Damijan memijitnya agak keras. Murami mengaduh dan menggelinjang menyebabkan kain yang dikenakan Murami tersingkap - singkap dan menyebabkan juga pahanya menjadi sangat terbuka. Damijan mengelus elus paha Murami. Murami terangsang. Kemudian membalikkan tubuhnya jadi terlentang di depan Damijan duduk. " Sekarang yang depan, kang ". Pinta Murami manja. Kembali Damijan memijit kaki Murami. Naik, naik, naik ahkirnya sampai ke paha Murami. Tak urung tangan Damijan menyentuh - nyentuh kemaluan Murami yang ada dibalik celana dalamnya. Murami merasakan nikmat. Tubuhnya menggelinjang setiap kali telapak tangan Damijan menekan kemaluannya. Murami terus menggelinjang dan mendesah. Dadanya terangkat - angkat membuat buah dadanya semakin menyembul. Mulutnya mendesah desah dan terbuka basah. Melihat ini Damijan tidak tahan. Damijan segera membungkuk dan menempelkan bibirnya di bibir Murami.  Mereka berpagut penuh dengan gairah birahi bercinta. Damijan terus mencium bibir Murami. Sementara itu jari tangannya telah menelusup ke dalam celana dalam Murami dan menemukan kemaluan Murami yang menggunung kecil. Damijan menusukkan jarinya di liang senggama kemaluan Murami yang sempit dan digerak - gerakkan. Murami terus menggelinjang. Bibir Damijan terus bergerak ke telinga Murami, ke leher, bahkan ke payudara Murami. Tangan Murami yang sudah berada di dalam sarung dan merogoh burung yang sudah membesar menggelembung kaku. Murami mempermainkannya. Murami ingin burung Damijan di tusukkan di selangkangannya. Murami ingin Burung Damijan ada di dalam kemaluannya. Dan menyodok - nyodoknya. Murami yang baru merasakan jari saja nikmatnya bukan kepalang apalagi kalau yang masuk itu burung Damijan pasti nikmat luar biasa. Murami berkelenjotan. Kakinya mengejang dan bergetar. Jari Damijan yang yang ada di dalam kemaluan Murami merasakan kejepit - jepit dan ada yang bergetar - getar. Dan sesaat kemudian kemaluan Murami sangat basah diiringi dengan kaki Murami yang menendang - nendang karena kenikmatannya di kemaluan. " Kang aku sudah kang ....kang ...aku sudah...aduh kang geli banget ... ". Damijan yang merasakan burungnya siap menumpahkan mani terus menciumi Murami dan jarinya semakin gencar saja mengilik kemaluan kekasihnya. Dan tiba - tiba Damijan mengejang dan melenguh. " Mi ..... kapan ....Mi.....aduh .....Miiiiiiiiiii ...!!" Damijan memuntahkan maninya di tangan Murami.  Murami sangat bahagia melihat kekasihnya memeluknya dengan penuh nikmat. Tak urung karena juga kemaluannya terus diserang jari Damijan Murami lagi - lagi orgasme. " Kang ... cepat ...lamar ....aku ....aduh....kaaaaaaaangggg !" Kembali tubuh Murami mengejang merasakan kenikmatan di kemaluannya.

                        bersambung ke bagian lima ...................                    

Minggu, 06 November 2011

Bau Lawean

cerita dewasa edohaput

Bau Lawean 

                                                                                             edohaput

Bagian tiga 

     Malam itu telah larut. Sepulang dari berpergian Pardan jatuh lemas di teras rumahnnya. Suara ambruknya tubuh Pardan yang menjatuhi tumpukan kayu di teras rumah di dengar Pardin adik Pardan. Pardin bergegas keluar rumah dan mendapati tubuh Pardan terkulai di tumpukan kayu bakar. Pardin segera membangunkan seisi rumah dan bersama - sama menggotong tubuh Pardan untuk dibawa masuk ke rumah. Pardan ditidurkan di tempat tidurnya. Seisi rumah malam itu gaduh. Pardan tidak bisa bicara. Tubuhnya lemas. Sorot matanya kosong. Napasnya satu - satu seperti akan terputus. Kegaduhan di rumah Pardan membangunkan para tetangga termasuk Murami. Murami datang tergopoh - gopoh dan langsung menggoyang - goyang tubuh Pardan yang tidak bergerak dengan mulut yang bergetar. " Kena apa, kang ? Kang Pardan napa, kang ? Ada apa ta, kang ? Bicara, kang ? Omong, kang ! " Murami kebingungan. Pardan hanya bisa menggerakkan manik matanya dan memandang Murami. Kemudian dari kedua matanya melelehkan air mata. Bibirnya  bergerak - gerak, tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Pardan ingin berkata - kata. Tetapi tidak ada kekuatan untuk bersuara. Yang dirasakan Pardan sudah tidak lagi memiliki daya. Semuanya lemah. Pikiran Pardan masih waras, tetapi tenaganya semuanya hilang. Pardan ingin berteriak minta tolong. Pardan ingin berkata - kata. Pardan ingin mengungkapkan sesuatu yang menyebabkan dirinya begini. Tetapi daya tidak ada. Bahkan pandangannya semakin kabur. Murami yang didekatnya yang tadi sempat diliriknya semakin tidak terlihat oleh matanya. Kesadaran Pardan-pun semakin hilang.
     Para tetangga yang datang melihat Pardan pada keheranan. Tubuh Pardan begitu pucat. Pardan yang biasanya kulitnya memerah, kini terlihat pucat pasi seolah tanpa darah. Dan semakin lama semakin membiru. Orang - orang yang mencoba menolong Pardan merasakan tubuh Pardan sangat dingin. Mereka ada yang menyiapkan arang dibakar untuk menghangatkan tubuh Pardan. Ada yang mengompres kaki Pardan dengan air panas. Ada yang berusaha meminumkan air hangat ke mulut Pardan. Pardan tidak bereaksi. Napas Pardan semakin lambat. Murami yang tetap di dekat tubuh Pardan dan berteriak - teriak : " Kang, sadar kang ! Sadar ! Kang omong, kang ! Eling, kang.......eling.....! " Murami terus berteriak - teriak di telinga Pardan. Pardan tidak lagi mendengar suara Murami. Napasnya semakin sulit. Dan tiba - tiba kepala Pardan terkulai dan napasnya berhenti. Murami menjerit : " Kang ......jangan.....kang .....kaaaaaang..... kang.... Pardan.......!" Murami memeluk tubuh Pardan. Tubuh calon suaminya yang sangat dicintainya. Murami menjerit - njerit menangisi tubuh Pardan yang telah tidak bernyawa.
     Kematian Pardan yang begitu mendadak menjadi tanya besar bagi para tetangganya. Pardan yang sehari sebelumnya sehat segar bugar. Pardan yang tidak pernah terdengar mengidap penyakit. Pardan yang tidak suka aneh - aneh, tiba - tiba meninggal tanpa sebab yang jelas. Warga hanya bisa kebingungan dan saling bertanya - tanya. Saling menerka. Mereka hanya bisa menghubung - hubungkan dengan kejadian - kejadian dan kegiatan - kegiatan Pardan pada ahkir - ahkir menjelang kematiannya. Namun warga tidak bisa menemukan alasan mengapa Pardan begitu mendadak meninggal.  Pardan yang sudah menyelesaikan pembangunan rumah barunya. Pardan yang tinggal sebulan lagi naik ke pelaminan mempersunting Murami.
     Warga sangat menyesalkan meninggalnya Pardan. Pardan dikenal sebagai pemuda dusun yang baik hati. Pardan yang suka menolong. Pemuda yang trampil dan trengginas dalam bekerja. Anak muda yang tidak suka  berbuat aneh - aneh. Remaja dusun yang lugu, yang tekun menggarap sawah ladangnya. Pardan yang selalu tampil di depan ketika dusun sedang punya kerja. Pardan yang telah berhasil memimpin teman - temanya membangun bendungan untuk mengairi sawah - sawah. Warga merasakan sangat kehilangan dengan meninggalnya Pardan. Warga hanya bisa menyesalkan kematian Pardan, tanpa bisa menemukan jawaban penyebab meninggalnya Pardan. Ahkirnya warga hanya bisa ngawur dengan menyimpulkan kematian Pardan karena sakit jantung atau karena angin duduk.
     Warga hanya bisa menduga malam itu Pardan pulang dari sawah mungkin sedang menengok padinya yang sudah menguning. Atau Pardan malam itu seperti biasanya mencari belut di kali. Karena kedinginan Pardan terkena angin duduk. Dan kesimpulan warga atas kematian Pardan itu ahkirnya menyebabkan warga tenang tak banyak lagi menduga yang aneh - aneh. Dan kesimpulan itu juga membuat keluarga Pardan menjadi iklas dan tak banyak mempersoalkan kematiannya. Dusun segera bisa melupakan kematian Pardan.
    
**
     Sebulan lamanya Murami mengurung diri di rumah. Selama sebulan pula Murami tidak menampakkan batang hidungnya di luar rumah. Murami tidak pergi ke sawah. Murami enggan bekerja. Murami lewatkan kesedihannya dengan hanya tidur dan bermalas - malas di rumah. Hasrat hidupnya tak lagi menyala. Harinya hanya diisi dengan meratapi nasibnya yang tidak menyenangkan. Selama sebulan pula Murami tidak menikmati indahnya alam pegunungan yang selalu berkabut di pagi hari, di siang hari penuh celoteh bocah bermain kejar - kejaran,  bahkan di malam hari ketika rembulan sangat indah menggantung di atas gunung. 
     Dusun ada kegiatan pesta paska panen. Pada paska panen inilah dusun mengadakan keramaian sehari semalam. Di siang hari diadakan tumpengan di sawah. Semua warga tanpa kecuali datang ke sawah yang sudah ditentukan untuk berdoa dan berterima kasih ke pada Tuhan atas panen yang berlimpah dan kemudian makan bersama. Di malam harinya diadakan kesenian tayuban. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga terutama para pemuda dan pemudinya. Di saat itulah Murami terpaksa harus keluar rumah,  bersama dengan para perawan dusun lainnya membantu mempersiapkan kegiatan keramaian. Murami merasa terhibur setelah kembali berkumpul dan bercengkerama dengan teman - teman remajanya di dusun. Murami bisa kembali tertawa. Murami beransur bisa melupakan Pardan. 
     Gamelan kesenian Tayub menggema. Dengan jaket tebal karena udara begitu dingin Murami mendatangi tempat keramaian. Ia mendapat jatah mengurusi jamuan makan bagi para tamu undangan seperti pak Lurah, para kepala dusun dan para tokoh masyasarakat yang malam itu hadir ikut menyaksikan Tayub. Malam itu Murami tak lepas dari tatapan mata Damijan yang malam itu menjadi pemimpin para pemuda dan pemudi untuk menyelenggarakan keramaian. Murami ceria dan lincah bersama perawan - perawan lainnya mengerjakan tugasnya. Hanya saja ketika Pardin lewat di depannya, Murami menjadi sekilas ingat Pardan. Namun ingatannya pada Pardan segera hilang ketika guroan teman - temannya memaksa dirinya untuk ikut nimbrung bercengkerama.
     Tayub usai. Malam telah larut. Damijan menawarkan jasa mengantar Murami pulang. Murami menyambut tawaran Damijan. Mereka berjalan melewati jalan yang hanya diterangi lampu panjeran di masing - masing rumah yang rata - rata hanya lima wath. Jalanan sepi, karena warga bubar dan pulang mendahului para remaja yang menjadi panitya kegiatan.  Damijan menggandeng tangan Murami. Yang di gandeng juga erat memegangi tangan Damijan. Hati Damijan berbunga - bunga. Sangat bahagia. Damijan merasakan ada gayung bersambut. Belum pernah sebelumnya Damijan menyentuh tangan Murami sejak mereka dewasa. Rasa cinta dan sayang Damijan kepada Murami mendadak sontak menjadi begitu sangat besar. Damijan membimbing Murami di jalan berbatu yang licin. Damijan merangkul Murami sampai di depan rumah Murami. Mereka berhenti di depan rumah Murami. Udara begitu dingin. " Mi.... aku sangat mencintaimu, Mi ...." Kalimat Damijan begitu berat dan bergetar. Murami membalikkan badan dan memeluk Damijan. Matanya menatap mata Damijan. " Sungguh, kang ? " Murami terus menatap mata Damijan. Damijan ditatap begitu hatinya sungguh trenyuh. " Mi ..... sudah sangat lama aku ingin seperti ini bersamamu. Bukankah aku dulu pernah juga menyatakan cintaku kepadamu, Mi ?"   Berkata begitu kedua tangan Damijan sambil memeluk Murami. Murami menempelkan wajah di dada bidang Damijan. Ada perasaan tenteram di hati Murami. Kesedihannya ditinggal Pardan tertindih oleh rasa bahagia di pelukan Damijan. " Kang .... " Wajah Murami mendongak dan mulutnya tak bisa meneruskan kalimatnya karena keburu dicium Damijan. Murami menikmati hangatnya bibir Damijan. Murami merasakan buah dadanya tergencet dada Damijan yang hangat. Murami menikmati buah dadanya yang tergencet karena Damijan memeluk Murami begitu ketat. Ciuman Damijan semakin menjadi ketika Murami membalas ciuman Damijan dengan menjulurkan lidahnya. Murami merasakan juga tepat di depan pusarnya ada tonjolan yang besar dan kaku yang berasal dari dalam celana Damijan. Murami menjadi nakal. Perutnya digesek - gesekkan tepat dimana ada tonjolan yang kaku. Damijan merasakan kenikmatan di burungnya yang masih di dalam celana karena gesekkan dan gerak perut Murami. Damijan Mengendorkan Pelukan dan tangannya nekat masuk ke dalam rok Murami yang longgar. Damijan langsung ke selangkangan dan menemukan gundukan kecil di dalam celana dalam. Murami melepas ciuman dan : " Kang ...... ". Kalimatnya kembali tak bisa diteruskan karena lagi - lagi Damijan menyerang mulutnya dengan bibir. Tangan Damijan telah berhasil mengelus - elus kemaluan Murami. Karena dijalari rasa nikmat di kemaluannya yang terus dielus dan di tekan - tekan oleh Damijan, maka Murami memepetkan perutnya ke burung Damijan. Damijan yang sejak jadi perjaka baru pertama kali memeluk, mencium perempuan, apalagi yang sedang dipeluknya adalah perempuan yang dirindukannya, maka Damijan tak kuat menahan gejolak dan berontak burungnya. Damijan merasakan burungnya begitu enak, nikmat tak tertahankan. Murami kembali menjauhkan bibirnya dari bibir Damijan dan mendesah karena nikmat di kemaluannya. " Aduuuuuh....kang ....kang.... "  Murami menggoyang - goyangkan pantatnya dan terus menekan burung Damijan dengan perutnya. Tangan Damijan yang di kemaluan Murami merasakan kebasahan Murami. Damijan tahu kalau Murami menikmati. Maka Damijan menjadi nekat. Perut Murami yang menggesek - gesek kelelakiannya dibarengi oleh Damijan dengan semakin menekankan burungnya di perut Murami. Dan Damijan tak kuat menahan muntahnya mani. " Mi ....aku cinta ..... cin...ta.. pada...padumu ......Miiiiiii .... !" Damijan memeluk Murami sangat erat dan maninya tumpuh ruah di dalam celana.
     Angin bertiup dari lembah dan membuat pohon - pohon bergoyang - goyang. Damijan meninggalkan Murami yang telah memperoleh pintu dari maknya. Damijan sangat bahagia. Yang dirindukannya kini telah dekat dengannya. Yang dicintainya kini telah pernah dipeluknya, diciumnya, bahkan dicumbunya. Yang ingin disayangnya telah dapat dielus rambutnya. Damijan sangat bahagia. Rasanya Damijan malam itu tak ingin meninggalkan Murami. Ingin terus memeluknya. Menyayangnya. Dan menatap wajahnya yang selalu membayang dan menggangggu tidurnya. Hati Damijan sangat bahagia. Dalam pikirannya segera akan melamar Murami. Murami harus menjadi isteriny

bersambung kebagian empat .........................

Rabu, 02 November 2011

Bau Lawean

cerita dewasa edohaput - edohaput

Bau Lawean 

                                                                                                 edohaput

Bagian Dua

      Damijan yang sudah lama mememdam rasa cinta kepada Murami dengan semakin dekatnya acara nikahan antara Murami dengan Pardan perasaannya semakin nelangsa. Cintanya kepada Murami yang lama terpendam tak kesampaian. Walaupun Damijan telah banyak melakukan pendekatan dengan Murami, tetapi tak pernah mendapat sambutan. Bahkan lama sebelum Pardan melamar Murami, Damijan juga pernah menyatakan cintanya kepada Murami. Tetapi Murami tak pernah menanggapi maksud Damijan. Murami telah menjatuhkan pilihannya. Dan Pardan-lah yang dicintai Murami. Damijan bertepuk sebelah tangan. Damijan sangat sadar kalau apa yang dicita - citakan hidup berdampingan dengan Murami tidak mungkin terlaksana. Tetapi cintanya pada Murami, sukanya pada Murami,  inginnya selalu melihat Murami, dan harapannya bisa mendampingi Murami selama - lamanya menghilangkan akal sehatnya. Sudah sangat jelas hanya menunggu hitungan bulan Murami bakal naik ke pelaminan bersama Pardan, masih saja Damijan punya harapan untuk bisa hidup bersama Murami. Damijan ingin sekali nikahan antara Murami dan Pardan batal. Damijan ingin sekali Murami kecewa terhadap Pardan yang tidak lebih kaya dari dirinya. Damijan pernah menghitung - hitung kekayaan Pardan tidak melebihi separuh kekayaannya. 
     Damijan begitu mengagumi Murami. Murami yang terus ada di dalam pikirannya. Murami yang cantik. Murami memiliki mata bulat, hidung mancung, bibir tipis selalu memerah basah. Murami yang memilki wajah bersih tanpa jerawat. Murami yang berambut pajang sebahu. Murami yang bertubuh semampai dengan buah dada yang menonjol. Murami yang memiliki pantat gempal padat. Murami yang memiliki kaki panjang. Murami yang manja. Murami yang mudah tersenyum. Jauh sebelum Murami menjadi pacar Pardan, Damijan pernah mengutarakan cintanya. Murami tidak secara terang - terangan menolak cinta Damijan, tetapi Murami juga tidak pernah memberi harapan pada Damijan. Sikap Murami yang demikian itu menyebabkan Damijan selalu menaruh harapan. 
       Seperti halnya Pardan, Damijan juga hanya tetangga rumah dengan Murami. Sehingga Damijan selalu bisa melihat kegiatan sehari - hari yang dilakukan Murami. Apa yang dilakukan Murami, Damijan banyak tahu. Bahkan berapa pakaian yang dimilki Murami-pun Damijan hafal. Berapa celana dalam Murami yang berwarna hitam, putih, biru dan kuning, Damijan bisa menghitungnya karena Damijan selalu melihat jemuran di belakang rumah Murami. Bahkan ukuran beha Muramipun Damijan bisa memperkirakan.
     Siang bolong panas Murami berada di depan rumah, sedang mengawasi jemuran padi yang selalu diganggu ayam tetangga dan ayamnya sendiri. Karena hari panas Murami sengaja mengenakan pakain yang longgar agar tubuhnya bisa mudah kena angin. Murami tidak mengenakan beha. Murami duduk dengan posisi seenaknya sehingga pahanya dapat terlihat. Roknya yang longgar menyingkap sampai ke pangkal paha. Kemunculan Damijan yang biasa lewat di depan rumahnya tidak disadari Murami. Murami yang sedang membungkuk mengambil batu kecil untuk dilemparkan ke ayam yang mendekati jemuran padinya dilihat Damijan. Pada saat Murami membungkuk itulah Damijan bisa melihat payudara Murami yang berada dibalik roknya yang longgar. Dan sebelumnya mata Damijan telah sesaat sempat pula menikmati paha Murami yang tampak sampai ke pangkal. Sehingga Damijan bisa melihat celana dalam Murami. Jantung Damijan berdegup keras. Begitu menyadari Damijan lewat Murami gugup membetulkan sikapnya. Berdiri tegak dan menyapa Damijan : " Siang - siang kemana, kang. Ke sawah, ya ? " Damijan yang jantungnya terkesiap dan berdegup keras hanya menjawab sambil berlalu : " Ya, Mi. Mau dangir kacang ". Damijan seolah tak melihat apa - apa pada diri Murami. Damijan terus berjalan. Tetapi pikirannya terus memikirkan apa yang baru saja dilihatnya. Tak urung kelelakiannya menggeliat. Mengembang dan membesar. Damijan bernafsu. Sampai di sawah pun bayangan payudara dan paha serta celana dalam Murami terus mengganggunya. Dan kelelakiannya tak mau diam. Terus meronta dan membesar kaku. Pikiran Damijan menjadi kacau. Damijan tak bisa melupakan apa yang baru saja dilihat. Sabit digerakkan untuk motong rumput. Dilihatnya rumput yang menghijau. Pikirannya mencoba lari menjauh dari ingatannya tentang Murami. Tidak bisa. Burungnya malah semakin kaku dan mendesak celana kolornya. Tak urung celana kolornya bagian depan menjadi terdorong. Damijan ke parit di pinggir sawahnya. Berjongkok dan mengeluarkan burungnya dari balik celana kolornya. Diguyurkan air di burungnya. Maksud Damijan agar burung mau mengecil. Tidak berhasil. Apa yang ada di pikirannya tak bisa dibuang. Damijan memutuskan untuk onani. Ia segera mencari tempat tersembunyi. Darman menemukan tumpukan jerami. Di situ Damijan lalu merebahkan diri. Dikeluarkan burungnya dari balik celana. Kemudian digenggamnya burungnya, lalu tangannya mulai mengocok. Semakin dikocok burung semakin mengembang. Ujung burungnya semakin memerah. Damijan membayangkan sedang menyentuhkan burungnya pada paha Murami yang tadi dilihatnya. Dibayangkan pula burungnya sedang disodokan di kemaluan Murami. Tangannya terus mengocok dan ketika dirasakan ada rasa enak yang bertambah - tambah di burungnya Damijan semakin cepat mengocok. Damijan berkhayal burungnya telah masuk di kemaluan Murami. Dan Damijan tak mampu lagi menahan mani yang sudah memenuhi saluran. Dengan kuat dan cepat burungnya dikocok. " Murami ....Mur....Murami .......Miiiiiiiiiii ...aku cinta ....Mur....aku cinta kamu ....Mur... Muramiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii ..... !" Damijan berteriak tertahan. Maninya mucrat - muncrat membasahi jerami. Damijan jatuh rebah di tumpukan jerami. Seiring dengan mengecilnya burung yang sudah terpuaskan oleh kocokkan. Damijan beransur bisa melupakan paha, payudara, dan celana dalam Murami. Sesuatu yang tadi membuat kacau pikirannya sudah tidak lagi mengganggu. Damijan perjaka ting ting. Belum pernah merasakan nikmatnya burung berada di dalam kemaluan perempuan. Setiap kali hasratnya menggebu bayangan Murami-lah yang ia pakai berkhayal bersama kegiatan onaninya. Damijan cukup puas dengan onani saja. Ia bercita - cita perjakanya akan dipersembahkan buat isterinya nanti. Ia sangat mendambakan Murami-lah nantinya yang akan menerima perjakanya.
     Damijan tidak pernah berputus asa walaupun Murami telah dipacar Pardan. Bahkan dalam hitungan bulan Murami sudah akan disanding Pardan di pelaminan. Sepertinya sudah tidak mungkin Damijan bersanding dengan Murami. Tetapi aneh dipikiran Damijan. Ia sabar dan menunggu keajaiban. Keajaiban yang membatalkan pernikahan Murami dengan Pardan. Mungkinkah ? Damijan tidak berharap. Tetapi Damijan akan menunggu itu terjadi. Pernikahan belum terjadi. Siapa tahu bisa batal. Mungkinkah ? Damijan tidak tahu. Tetapi di alam pikirannya ia akan bisa mempersembahkan perjaka kepada Murami yang selalu dirindukannya. Murami begitu lekat di hatinya. Begitu menempel di benaknya. Dan begitu menggaggu di kala - kala sepi. Begitu menggoda ketika akan berangkat tidur. Dan di dalam mimpinyapun Murami-lah yang selalu menghiasnya.
     Gadis dusun tidak hanya Murami. Ada Raminem, ada Tuminah, Rujiyah, dan lain - lain. Dan gadis - gadis itu juga sebaya dengan Murami. Dari segi wajah Tuminah malahan lebih cantik dari Murami. Tuminah tubuhnya tinggi. kakinya panjang. Hanya saja Tuminah ini tidak memiliki payudara seperti Murami. Pantat Tuminah tidak sebahenol kaya punya Murami. Payudara Tuminah kecil.
     Raminem juga gadis seusia Murami. Ia tidak lebih cantik dari Murami. Tubuhnya sedikit lebih pendek dari Murami. Tetapi payudara dan pantatnya tak kalah seksi dengan punya Murami. Raminem memiliki buah dada yang begitu menonjol. Buah dada yang jarang dikenakan kutang, tetapi tidak menggantung dan lembek tetap menggunung tegak di dadanya. Pantatnya yang padat sintal sangat menggoda perjaka ketika Raminem berjalan. Suatu ketika ketika Raminem membungkuk karena sedang mengambil air di kali sempat juga membuat Damijan menelan ludah melihat bokong Raminem yang begitu gempal sintal. Dibayangkan oleh Damijan di dekat pantat itu juga pasti ada sesuatu yang sangat indah. Seandainya saja waktu itu Raminem tidak mengenakan kain ketika membungkuk, pasti sesuatu yang sangat indah itu nampak walaupun Damijan ada di belakangnya. Tetapi Damijan tidak tertarik terhadap Raminem. Ia hanya sebatas mengaguminya saja. Murami-lah segala - galanya bagi Damijan.
     Lain lagi dengan Rujiyah. Rujiyah yang selalu mukanya memerah jika sedang bekerja di sawah. Rujiyah tinggi besar. Dada lebar dengan buah dada sedang. kaki dan lengan panjang. Kulit cenderung putih. Rambut juga sebahu seperti rambut Murami. Satu hari ketika Rujiyah sedang membersihkan badan di pancuran sawah setelah bekerja menanam padi, sempat pula membuat jantung Damijan berdegup. Damijan yang tidak sengaja melewati sawah Rujiyah menyaksikan Rujiyah yang sedang setengah telanjang. Hanya bagian dada kebawahlah yang tertutup kain. Itu saja hanya sampai ke pinggul. Sehingga pahanya bisa menjadi santapan mata Damijan. Damijan dengan leluasa bisa melihat payudara Rujiyah. Buah dada Rujiyah yang masih perawan. Saat itu Damijan juga membayangkan milik Rujiyah yang berada di antara pangkal kedua pahanya. Milik Rujiyah juga pasti indah seperti milik perawan - perawan dusun lainnya. Tetapi Damijan tidak pernah tertarik dengan Rujiyah. Ketertarikannya telah terlanjur dijatuhkan pada Murami. Murami yang mencintai Pardan. Murami yang menganggap Damijan sebagai teman biasa.
     Lain lagi dengan Tuminah. Tuminah memang tidak lebih cantik dari Murami. Tuminah yang memilki kemancungan hidung di atas rata - rata gadis dusun pada umumnya ini, bertubuh semampai. Kulitnya hitam manis. Matanya bulat lebar. Bibirnya agak tebal tetapi sangat menggoda karena selalu basah memerah terutama sehabis Tuminah makan sambel. Rambutnya yang lebat sengaja dipotong pendek. Damijan juga pernah dibuat kelabakan ketika Tuminah mandi telanjang dan berenang - renang di kali yang airnya tenang bening. Damijan dengan penuh kagum melihat tubuh perawan telanjang berenang di air kali yang transparan. Tidak ada bagian tubuh Tuminah yang tidak disaksikan Damijan. Rambut yang tumbuh subur di bawah pusarpun bisa dilihat Damijan. Gundukan di bawah pusar dan tertutup rambut yang terbuka - buka ketika Tuminah berenang dan menggerakkan kaki pun dapat dilihat dengan jelas oleh Damijan. Saat itu kelelakian Damijan menjadi tegak berdiri kaku. Damijan sangat berhasrat. Ahkirnya Damijan tak mampu menahan gejolak. Nafsunya ia lampiaskan dengan onani sambil terus melihat tubuh telanjang Tuminah. Tetapi Damijan tidak bisa tertarik untuk menyayangi Tuminah. Ia hanya sebatas bernafsu melihat tubuh telanjangnya.

                                       bersambung kebagian tiga ........................